My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Yoshi POV - Maafkan aku



Hari itu setibanya kami di mansion, aku mengurung Ana seharian di kamar dan menunjukkan dekorasi kamar kami yang baru, meskipun bukan aku yang menyiapkannya secara langsung tetapi akulah yang memilih desain interior untuk kamar kami itu.


Dia cukup senang melihat kamar yang dilengkapi dengan hiasan baby shower itu. Berkali-kali aku menciumi calon anak kami yang masih dalam kandungan Ana.


Sesekali Ana memanggilku dengan sebutan Mas terkadang juga Papa, aku sangat senang mendengarnya, gadis pujaanku dari masa remaja itu akhirnya bisa kumiliki seutuhnya sekarang tanpa ada rasa takut akan kehilangan lagi, tak ada rahasia apa pun di antara kami saat ini.


Sungguh tak dapat kupercaya bahkan sekarang dia tengah mengandung anakku, darah dagingku. Aku berjanji tidak akan melepasnya, apa pun alasannya bahkan bila nanti Pramuja tak ingin kami bersama, aku tak akan perduli.


Aku akan mempertahankan istri dan anakku.


Selama satu bulan lebih kami berpisah, aku tak dapat menahan rasa rinduku ini, aku ingin melepas segala kerinduanku pada Ana. Bibir tipis manis itu sangat menggodaku.


Aku pun memulai apa yang sudah lama tidak kudapatkan, saat adegan panas itu berlangsung tiba-tiba Ana menghentikanku, kukira dia masih belum memaafkanku tetapi aku salah, bukan itu alasannya menolakku.


Ternyata Ana sangat memikirkan buah hati kami, aku mengutuk diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku tega membahayakan baby dengan nafsuku, tentu saja dia akan terguncang-guncang di dalam sana.


Untung saja Ana mengingatkanku akan hal itu. Satu yang sangat membuatku gemas padanya. Ana terus saja menggodaku, menciumiku dan bahkan memainkan milikku. Astaga, dia ini kerasukan arwah mesum dari mana, pikirku.


Aku terus menahan hasrat yang ada tetapi seakan Ana tidak ingin berganti mengerjaiku, lihat saja nanti. Tunggu pembalasanku.


***


Keesokan harinya.


Saat aku akan berangkat ke kantor, tiba-tiba aku teringat kejadian satu bulan yang lalu saat Ana menghilang ketika aku meninggalkannya di mansions sendirian. Bahkan para pelayan pun tak dapat diandalkan.


Akhirnya kuputusan untuk mengunci kamar kami dari luar, agar Ana tidak kabur lagi, aku tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya tetapi lebih baik mencegah dari pada mencari.


Dia terus saja memintaku untuk membuka pintunya tetapi aku tidak memperdulikannya. Aku sungguh trauma akan kejadian itu, Ana adalah tipe orang yang nekat dan aku harus lebih nekat darinya. Sekarang tak ada lagi alasan baginya untuk meninggalkanku.


***


Setibanya di kantor, para clients produk software yang berhasil kuciptakan tengah menantiku di ruang meeting untuk presentasi pengenalan produk baru dan David selalu membantuku dalam segala hal.


Tak kusangka rapat yang seharusnya berjalan dengan cepat ternyata memakan waktu cukup lama hingga sore hari. Padahal aku ingin pulang lebih cepat hari ini agar segera bertemu dengan istriku dan baby .


Selesai meeting, aku pun beristirahat. Kucoba untuk menghubungi Niluh untuk menanyakan keadaan Ana, sejak pagi aku memintanya untuk memeriksa Ana setiap sejam sekali. Dan melaporkannya kepadaku.


"Semuanya baik-baik saja tuan. Nona juga sudah makan, minum vitamin dan minum susu sesuai perintah tuan." Ucapnya dari telepon.


"Apa yang sedang Nyonya kerjakan saat ini Niluh?" tanyaku. Aku penasaran dengan apa yang bumilku lakukan saat ini, pasti dia sangat kesal padaku. Entah mengapa sejak dulu membuatnya kesal adalah hobiku.


"Nyonya sedang bermain ponsel, tuan." Ucap Niluh.


Aku pun segera menutup telepon. Awalnya aku tak begitu memikirkan kegiatan Ana tetapi tiba-tiba entah bagaimana aku sangat kepo dengan aktifitasnya saat aku tak berada di dekatnya.


Sudah lama aku tak memeriksa ponsel Ana dari aplikasi sadap yang telah kubuat. Dari email, panggilan telepon tak ada yang mencurigakan. Namun saat kuperiksa pesan SMS, ternyata ada nomor asing masuk, aku tau ini nomor dari luar negeri.


Ana, apa kabar?


An, gimana kabar lu?


Evelyn dah ngasih titipan dari lu buat gue


Makasih ya An, bahagia selalu.


Reza


Aku meremas ponselku dengan geram. Masih saja si cacing itu mengganggu istriku. Ada beberapa pesan darinya dan tak satupun yang dibalas atau bahkan dibaca olehnya Ana.


Aku lega, Ana tidak menanggapi pesan darinya ini. Namun, otakku terus befikir titipan apa yang telah diberikan Ana untuk Reza melalui Evelyn. Aku mencoba berfikir tenang, tetapi hal kecil ini cukup menggangguku.


Hingga saat kubuka whatsapp Ana, ternyata dia sedang asik mengobrol dengan teman-temannya. Ada sedikit rasa kecewa di hatiku mengapa Ana tidak memulai obrolan atau paling tidak menanyakan kegiatanku melalui chat.


Padahal dia tau aku tengah online, awalnya aku bersikap biasa saja. Hingga mataku menangkap bahwa Reza si cacing itu juga berada di grup itu.


Dia memberi ucapan selamat pada Ana atas kehamilannya tetapi yang aku tidak suka adalah mengapa Ana harus menanggapinya bahkan menanyakan keadaan Reza padahal dia tau jika Reza menyukainya.


Ana sangat perduli pada cacing itu, aku bisa merasakan dari ketikan tangannya. Sungguh rasanya seperti kembali ke masa remaja. Aku seperti seorang pacar yang sedang memata-matai pacarku.


Mungkin ini terlalu kekanak-kanakan karena kami telah melewatkan masa pacaran saat SMA dulu hingga akhirnya seperti ini, itulah sebabnya aku mudah sekali terbawa perasaan.


Dalam perjalanan pulang aku terus saja memikirkan tentang barang yang Ana berikan untuk Reza melalui Evelyn itu dan juga mengapa Ana tidak memberitahuku.


Aku sangat kesal dengan pikiran-pikiranku sendiri hingga begitu tiba di rumah pun, aku tetap saja murung dan kesal. Kulihat Ana sangat antusias menyambutku dan mengatakan bahwa dirinya telah lama menunggu.


Bahkan saat malam tiba pun aku memutuskan untuk langsung tidur saja, tanpa menyapanya sama sekali. Sebenarnya aku tak tega pada Ana. Tetapi bayangan obrolannya dengan Reza di grup itu membuatku kehilangan semangat.


Bahkan aku juga melewatkan rutinitas setiap malamku untuk mengobrol dengan baby. Entah apa yang sedang kulakukan saat ini, aku hanya ingin Ana sedikit peka pada perasaanku. Aku sangat tidak suka pada Reza, sangat tidak suka!


Beberapa kali telah kukatakan pada Ana, jangan pernah berhubungan lagi dengannya. Tetapi tetap saja, seperti yang terjadi pada hari ini. Hingga pagi tiba, aku masih mengacuhkannya. Sungguh Ana terlihat sangat sedih tetapi tidak sedikitpun menyadari apa kesalahannya.


***


Aku pun berangkat ke kantor tanpa memperdulikannya lagi, aku sempat mendengar ia memanggil namaku beberapa kali tetapi aku tetap tidak memperdulikan itu, semoga saja nanti setelah pulang dari kantor perasaanku sudah membaik dan rasa cemburu ini pun hilang.


Beberapa meter mobil melaju, namun suara panggilan telepon dari Niluh menghentikan laju mobil.


"Halo, tuan. Nyonya kesakitan sepertinya mengalami kontraksi !" ucap Niluh dengan panik. Tanpa menjawab perkataannya aku langsung meminta David kembali ke mansion.


"David cepat putar balik! kita kembali ke mansion!"


"Baik tuan!" ucap David tanpa bertanya alasannya.


***


Aku langsung berlari menaikki tangga dan kulihat Ana sedang terduduk di lantai bersama Niluh. Seketika jantungku terasa ingin terlepas dari tempatnya saat itu juga. Aku paling tak bisa melihat Ana kesakitan.


Aku tak ingin terjadi sesuatu pada Ana dan baby, kuangkat tubuh lemah itu dan segera menuju rumah sakit. Dalam perjalanan Ana terus merintih kesakitan. Ya Tuhan, ini salahku, aku telah mengacuhkan Ana sejak kemarin.


Yoshi bodoh! selalu saja bodoh! kataku dalam hati. Aku terlalu mementingkan egoku padahal Ana sama sekali tidak bersalah dalam hal ini.


"Astaga bagaimana ini.. Sayang, bertahan ya. Maafkan aku.. " Ucapku masih dengan mendekapnya erat.


"Yoshi, sakit. Aku takut terjadi sesuatu pada baby." Ucap Ana irih sambil memegangi perutnya.


Aku sangat bingung saat itu, aku tak tau harus berbuat apa. Ana sangat kesakitan aku tak tahan melihat ini.


"Noo sayang, tidak akan terjadi apa-apa padamu dan baby, maafkan aku. Nak, maafkan papa sayang." Kataku mulai panik lagi.


"Yoshi.. Jangan marah padaku.. " Ana terus saja mengucapkan kalimat itu, bagaikan disambar petir. Aku telah melakukan kesalahan lagi pada Ana dan juga pada bayi kami.


"Tidak sayang, aku tidak marah padamu. An, maafkan aku.. Jangan tutup matamu sayang, tetaplah terjaga. Kita akan segera sampai di rumah sakit!"


Sungguh aku sangat ketakutan saat melihat Ana mulai memejamkan matanya.


Tiba di rumah sakit. Dokter dan para perawat membawa Ana masuk ke ruang tindakan. Sementara aku, jangan tanyakan lagi keadaanku. Aku kembali kacau dan menyesali tindakan bodohku.


Aku terlalu egois dan kekanak-kanakan hingga membuat istri dan anakku dalam bahaya, bahkan kulihat cairan bening keluar banyak sekali. Aku tak tau itu apa, tetapi aku yakin Ana dan bayi kami sedang tidak baik-baik saja.


Beberapa menit berlalu namun dokter belum juga keluar.


30 menit berlalu akhirnya dokter keluar dan meminta untuk pergi ke ruangannya. Aku yakin ada masalah serius pada istri dan anakku.


"Dok, bagaimana keadaan istri dan anak saya?" tanyaku.


"Silahkan duduk dulu pak Yoshi." Ucapnya dan aku pun menarik kursi lalu duduk.


"Dok, cepat katakan apa yang terjadi?" tanyaku dengan tak sabaran.


"Pak, istri anda mengalami kontraksi dini dan merembesnya air ketuban." Ucap dokter dan aku masih menunggu penjelasan selanjutnya.


"Pak, banyak faktor yang dapat memicu hal ini, salah satunya adalah stress. Hormon ibu hamil itu tidak selalu stabil, terkadang naik terkadang turun. Maka dari itu mereka sangat sensitif."


"Lalu apakah istri saya dan anak kami akan selamat dok?"


"Untuk kali ini anda beruntung, mereka selamat tapi jika ini terjadi lagi saya yakin kemungkinan buruk akan mengancam keselematan mereka Pak." Jelas dokter itu, menunjukkan sorot mata tajamnya seakan mengancamku.


***


Aku memasukki ruangan Ana, lagi-lagi istriku ini harus menderita karenaku, bahkan hampir saja kehilangan buah cinta yang telah menyatukan kami kembali.



"Sayang, maafkan aku." Ucapku lirih sambil meraih tangannya.


"Sayang, aku tak bermaksud mengacuhkanmu." Kutatap wajah sendu yang masih terlelap itu." Aku sungguh bodoh, bahkan mungkin semalaman Ana tidak tidur karena sibuk memikirkanku.


"Mas Ikau... Jangan marah padaku..." Ucap Ana lirih tetapi masih belum tersadar. Aku sangat sakit mendengarnya memintaku untuk tidak marah seperti ini. Aku sungguh tak berniat seperti ini.