My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Yoshi POV - Membuatku kewalahan



Sejak hari itu aku mulai sibuk dengan project pemasangan software dengan para kru dari departmen IT. Sehingga membuatku tidak ada waktu untuk menemui Ana lagi.


Hingga di hari David menyatakan jika project telah selesai dan kami harus meninggalkan kapal ini untuk pergi ke kapal yang lain dalam project yang sama.


"Tuan, besok lusa kita sudah harus disembarking dari kapal ini menuju kapal selanjutnya." Kata David sambil membawa laporan yang menyatakan misi dan survey lapangan telah usai.


"Apa? Usai?" kataku. Aku sangat terkejut. Mungkin jika misiku di sini hanya untuk kepentingan bisnis, tak akan jadi masalah. Masalahnya misiku di sini juga untuk mengejar cintaku.


Membayangkan dia bersama Reza si cacing itu membuat mood ku turun drastis. Bahkan kemarin si cacing itu memberikan satu karton mie instan bermerk lokal untuk Ana.


Hah memang apa hebatnya, jika Ana mau aku juga bisa membelikannya berkarton-karton mie instan seperti itu bahkan lengkap dengan pabriknya sekaligus.


"Benar Tuan, mengingat status tuan di sini adalah seorang coorperate dan rekan bisnis perusahaan ini jadi kita tidak diperbolehkan untuk terus berada di sini." Kata David, menjelaskan.


Setelah kupikir-pikir, perkataan David ada benarnya juga. Bagaimanapun kami hanyalah seorang visitor di sini atau pengunjung bukanlah kru.


Haruskah aku melamar untuk bekerja di sini, agar tetap bisa bersama dengan Ana. Tetapi bagaimana caranya. Sedangkan Ana tak mungkin bersedia untuk ikut bersamaku untuk berpindah-pindah kapal.


"David, aku ingin bekerja di sini. Bagaimana menurutmu? " tanyaku pada David.


"Apa Tuan bercanda? Lalu bagaimana dengan perusahaan?" Ucap David yang sangat terkejut dengan rencanaku.


"Tenang ini tidak akan lama. Untuk sementara kau yang harus memantau perusahaan." Ucapku tegas.


"Tapi Tuan. Bagaimana caranya agar Tuan bisa menjadi karyawan di sini mengingat banyaknya prosedur yang harus dijalani untuk menjadi seorang kru?" Tanya David.


"Jangan khawatir, aku akan berbicara pada First President. Aku cukup mengenalnya dengan baik." Ucapku dengan tenang.


"Sesuai perintahmu Tuan." Jawab David yang masih agak ragu.


Akhirnya hari itu juga aku menemui Mr.Orlando yaitu presiden utama perusahaan ini. Kukatakan padanya bahwa diriku ingin melamar sebagai kru di perusahannya. Tentu dia sangat terkejut bagaimana mungkin rekan bisnisnya memuntuskan untuk menjadi bawahannya. Dan mengatakan bahwa aku sudah gila.


Ya benar aku memang sudah gila karena Ana. Aku berusaha meyakinkan Mr. Orlando tentang keseriusanku untuk bergabung di perusahaan ini. Dan tentu saja etos kerja yang kumiliki sama sekali tidak diragukan olehnya.


Akhirnya dia menerimaku sebagai kru baru di kapal ini dengan posisi sebagai IT manager sesuai dengan keahlianku. Setelah mengikuti beberapa prosedur dan kepengurusan dokumen selama dua minggu.


Aku pun resmi direkrut menjadi seorang crewmember. Ini sangat menakjubkan, bagaimana tidak. Yoshi Aricko Luby seorang IT Manager , sebuah posisi yang tidak mudah untuk didapatkan.


Kukenakan seragam officer atas namaku lengkap dengan setrip tiga di pundak. Dalam hatiku bersorak. Melihat pangkatku lebih tinggi dari pada pangkat Reza si setrip cacing itu.


Seragam ini membuat bentuk tubuhku terlihat jelas. Bahkan lebih maskulin dari pada setelan tuxedo yang sering kukenakan sehari-hari.


Beberapa kru mulai mengenalku dan menyapa diriku setiap kali berpapasan. Aku tak sabar untuk bertemu dengan Ana dan melihat bagaimana tanggapannya atas pencapaianku ini.


****


Hari berganti. Aku dan beberapa officers lain mengikuti meeting tentang rating tinggi yang diperoleh kapal ini. Sepertinya para guest memberikan tanggapan positif untuk pelayanan yang kami suguhkan.


Akhirnya Kapten memutuskan untuk mengadakan Crew Party atau pesta untuk kru. Sebagai apresiasi atas kinerja hebat kami semua.


****


Malam ini pesta kru itu akan diselenggarakan, tetapi aku tidak begitu tertarik. Aku tak suka keramaian, dentuman musik keras dapat membuat kepalaku pusing.


Akhirnya kuputuskan untuk tetap berada di kaamarku saja. Tiba-tiba aku ingin menemui Ana. Setelah beberapa kali menelepon ke kamarnya dan tak ada jawaban, aku meminta David untuk mengecek ke lokasi, khawatir terjadi sesuatu pada Ana.


Dalam hitungan menit David pun datang.


"Tuan, Nona tidak ada di kabinnya. Menurut informasi yang saya dapat. Nona sedang berada di party bersama teman-temannya." Ucap David.


Mendengar hal itu aku langsung tersedak ludahku sendiri. Bagaimana bisa Ana datang ke pesta. Sejak kapan dia mengenal dunia malam seperti itu.


"Benarkah? Apa kau sedang berbohong?" Tanyaku pada David.


"Benar Tuan, bahkan Nona juga terlihat sedang meminumm segelas red wine berusia tua." Ucap David dengan detail.


"APA ?!! " Tanyaku pada David lagi. Sejak kapan Ana suka 'minum'. Bahkan tidak tanggung-tanggung. Dia meninun wine berusia puluhan tahun. Apa dia sudah gila.


"Benar Tuan. Saya bersungguh-sungguh. Sebenarnya saya khawatir, Nona sudah terlihat mulai tidak sadar saat ini, ditambah lagi dengan penampilannya yang mempesona itu, saya takut bila ada pria yang akan _________" Ucap David terputus.


Mendengar kata-katanya kepalaku mulai pusing. Darahku mendidih Bisa-bisanya Ana seceroboh itu. Tanpa pikir panjang aku pun segera keluar kamar tanpa memperdulikan penampilanku yang hanya mengenakan kaos putih dan celana pendek.


Tatapan kru-kru wanita yang kulalui di sepanjang koridor sangat membuatku risih. Apa mereka tidak pernah melihat pria tampan dan six-pack mengenakan outfit seperti ini sebelumnya.


Pikiranku terfokus pada Ana. Aku sangat mengkhawatirkan bagaimana kondisinya sekarang. Aku terus berjalan menuju lantai teratas di mana pesta itu digelar.


Letakknya yang lima tingkat dari kamarku membuatku harus naik tangga sebab aku tap ingin terlalu lama menunggu elevator yang selalu penuh oleh kru dari pesta itu.


Tibalah aku di lantai 12. Yaitu lantai teratas. Aku berlari dengan terengah-engah karena harus menaiki lima tingkat anak tangga. Di mana di setiap tingkatnya berisi dua tingkatan juga.


Aku terus berjalan cepat hingga menabrak beberapa kru, belum sampai di tempat pesta kulihat Ana berjalan sempoyongan dengan berpegangan pada hand rails.


"Berani kau pegang dia, akan kupatahkan tanganmu!" Kataku pada seorang kru yang hampir menyentuh Ana.


"Sorry Chief, saya hanya ingin membantu Kakak ini saja. Dia hampir saja pingsan." Jawab pria itu yang entah berasal dari departmen mana. Tapi sepertinya dia mengenal siapa diriku.


"Sudah pergi sana. Dasar modus!" Kataku padanya dengan emosi. Dan dia pun berlalu.


Sementara Ana sudah tergeletak di lantai dengan lemas. Astaga aku panik sekali.


"An, bangun An! " Kataku sambil menepuk-nepuk pipinya. Ini seperti dejavu saat dulu aku mencoba menolongnya saat dia pingsan di seberang jalan.


Dan kutempelkan plaster spiderman di pelipisnya. Entah Ana masih mengingat itu atau tidak karena saat itu kondisinya juga sedang tidak sadarkan diri.


Aku terus mencoba membangunkannya tetapi tidak berhasil juga. Akhhirnya aku pun menggendongnya ala Bride style. Sungguh romantis jika saja Ana tidak pingsan seperti ini.


Dia mengeratkan kedua tangannya pada leherku. Seakan takut terjatuh. "Mana mungkin aku menjatuhkanmu Sayang." Bisikku di telinganya yang tentu saja tidak dia dengar.


Dalam perjalanan ke kamarku, beberapa kali Ana mengalami muntah dan membasahi kaos putihku. Astaga anak ini. Jika memang tidak biasa minum mengapa harus minum. Membuatku kewalahan saja.


Lihatlah sekarang bagaimana dirinya. Lagi-lagi Ana memuntahkan isi perutnya. Bisa kurasakan pasti dia mengalami sakit kepala yang hebat hingga membuatnya terus mual seperti ini.


Jika bukan karena cinta sudah pasti akan turunkan dia sejak tadi. Berani-beraninya memberiku cairan muntahan seperti ini.


Aku membawanya ke kamarku dan David juga ikut membantuku. Ana masih belum sadar juga. Aku pun berganti pakaian dan mandi. Setelah itu aku membersihkan sisa muntahan di tubuh Ana.


Kuambil air hangat dan cairan disinfectant untuk menyeka tubuhnya. Perlahan kuusap tangannya, lalu naik ke atas hingga ke lengannya. Gaun peach ini sangat menempel cantik pada tubuhnya.


Aku menyibakkan rambut ikal yang menutupi dadanya. Tentu saja karena banyak percikan sisa muntahan pada spot itu. Jujur tangan ini gemetaran saat aku melakukan itu. Tetapi aku berusaha untuk mengendalikan pikiran liarku.


Dengan telaten aku membersihkan tubuh Ana tanpa mengubah sedikitpun posisi gaun yang ia pakai. David yang merasa tidak dibutuhkan lagi akhirnya meminta izin untuk kembali ke kabinnya.


Aku pun selesai mengurus tubuh tak berdaya Ana. Sesekali dia mengeliat dan berpindah posisi membelakangiku yang sedari tadi duduk di sampingnya. Astaga mataku terbelalak saat punggung mulus itu terekspos di hadapanku.


Jadi sejak tadi dia menutupi punggung mulusnya itu dengan rambut panjangnya. Aku sangat geram melihat ini. Bagaimana mungkin dia seberani ini. Bagaimana jika pria lain yang melihatnya. Lihat saja aku akan memberinya pelajaran berharga setelah ini.


Sepanjang malam aku terus terjaga, aku takut jika tiba-tiba terjadi sesuatu padanya jika sampai aku tertidur.


Wajah teduh itu sangat mendamaikan hatiku. Bulu mata lentik, hidung mungil dan pipi meronanya. Dia terlihat seperti Putri tidur yang menunggu pangeran untuk membangunkannya dengan ciuman.


Betapa aku ingin mencicipi bibir yang sejak kemarin aku incar itu. Tetapi aku berusaha keras untuk menahannya.


Sinar mentari memenuhi stateroom mewah ini. Dan aku sudah bersiap diri untuk on duty. Sambil menunggu Ana terbangun aku pun menyeduh kopi dan kembali duduk di sofa. Di seberang tempat tidur Ana.


"Sudah sadar? Atau mau disadarkan?" Ucapku pada Ana yang mulai membuka matanya. Cahaya sunrises yang mengenai wajahnya, sangat menambah kecantikannya.


Akhirnya dia pun terbangun dari tidur panjangnya. Beberapa kali dia menanyakan bagaimana dia bisa berada di sini. Tetapi aku sengaja tidak mengatakan kebenarnya dan membiarkan pikirannya kacau.


Ini sangat seru melihatnya panik seperti itu padahal aku tidak melakukan apa-apa padanya semalam jika dia tahu. Biarkan ini menjadi pelajaran untuknya agar lebih berhati-hati lagi lain kali.


Yoshi POV end.