
"An, Ibu mau bicara." Kata Ibuku dengan nada serius.
"Apa Buk?" jawabku sambil duduk di samping Luna.
"Sebenarnya Ibu tidak tega melihatmu seperti ini." Kata Ibu mulai menampakkan ekspresi sedihnya.
"Seperti ini bagaimana maksud Ibuk?" tanyaku mencari penjelasan.
"Sebenarnya Ibu tidak tega bila kamu harus bekerja di maskapai. Itu terlalu beresiko untukmu," kata Ibu. Mendengar pernyataan itu aku merasa ada angin segar yang menerpa hatiku yang sejak tadi panas.
"Sebenarnya, Ana tidak jadi diterima di perusahaan penerbangan itu Buk," kataku dengan meremas jari tanganku. Aku cukup gugup mengatakan hal ini takut Ibuku merasa kecewa.
"Apa yang terjadi An?" tanya Ibu.
"Panjang sekali ceritanya Buk, dan Ana minta maaf ya kalau ini membuat Ibu kecewa "jawabku.
Aku sengaja tidak inginkan menceritakan kisahku dengan si Lintah darat yang telah membuatku gagal mendapat pekerjaan kemarin.
"Tidak, tentu tidak Ibuk tidak kecewa sama sekali," jawab Ibu dengan mantap seperti sangat mendukung kegagalanku itu.
"Tapi Buk, sekarang kita harus bagaimana? Kita harus melunasi hutang itu secepat mungkin atau jika tidak ...." jawabku terputus.
"Jika tidak kau harus menikah dengan Tuan Yoshi." Jawab Ibuku sambil menatap wajahku. Bagaimana Ibu bisa mengetahui hal ini.
Hatiku yang tadinya mulai merasa tenang sekarang kembali memanas mendengar ucapan Ibu.
"Apa maksud Ibuk?" tanyaku padanya, aku berpura-pura tidak tahu.
"Menikahlah dengan Tuan Yoshi, An." Kata Ibu sekali lagi kalimat itu membuat hatiku bergejolak kepanasan.
"Bagaimana bisa Ibuk berkata seperti itu, Ibu meminta Ana untuk menikah dengan laki-laki yang telah membuat keluarga kita terpontang-panting seperti ini? Ibuk ini sadar atau tidak sebenarnya? " tanyaku sedikit berteriak.
"Bukan seperti itu maksud Ibu An," jawab Ibu sambil memejamkan matanya seperti bingung ingin mengucapkan apa.
"Lalu apa Buk? selama bertahun-tahun Ana bekerja keras lari kesana-kemari demi utuk melunasi hutang kita, dan sekarang Ibuk minta Ana untuk menyerah begitu saja?" kataku bertubi-tubi hingga Ibu kewalahan.
"Dengarkan Ibuk dulu An." Kata Ibuk masih saja bingung harus berkata apa.
"Lalu apa Buk? Apa Ibuk rela melihat Ana harus menikah dengan pria yang egois seperti Dia?
Bagaimana jika Ana akan dijadikan sebagai istri ke-sekiannya? Bagaimana bila Ana tidak bahagia? Bukankah menikah itu bertujuan menyatukan dua hati yang saling mencintai. Sementara Ibuk tau Ana tidak mencintainya, begitupun juga Dia yang tidak mungkin mencintai Ana ," jawabku dengan lemas.
Lagi-lagi aku harus menangis, terlalu banyak air mata yang kukeluarkan sejak kemarin dan penyebabnya hanya satu yaitu Yoshi.
Tidak tega juga sebenarnya berkata demikian pada Ibu, meskipun aku sering berargumen degannya tetapi tak pernah sekalipun aku membantah perkataannya selama ini.
*Bagiku Ibu adalah makhkuk paling mulia di muka bumi ini dan Dia hadir untuk menjadi sosok yang patut untuk dimuliakan oleh anak-anaknya**❤*
Luna mencoba menenangkan diriku dengan memelukku dari samping. Adikku ini sudah dewasa rupanya kataku dalam hati.
"Justru itu An, Ibu sudah lelah melihatmu harus bekerja keras seperti ini. Secara tidak langsung kau telah menggantikan posisi Ayahmu sebagai tulang punggung keluarga. Cukup An, cukup Ibu sudah tidak tega lagi." Jawab Ibu, kali ini Ibu mulai meneteskan air matanya.
"Sudah Buk, tidak apa biar Ana yang memikirkan semua ini, Ana sanggup kok. Tidak merasa terbebani sama sekali," jawabku sambil memeluknya, aku tau Ibu juga sudah sangat lelah dengan semua ini tetapi bukan berarti ini saatnya untuk menyerah.
"An, apa Kau ingat tentang surat perjanjian itu?" tanya Ibuk kepadaku.
"Iya tentu saja Ana ingat Buk, " jawabku tentu saja aku mengingat perjanjian konyol yang menjadi akar dari semua masalah ini.
"Tentang surat kuasa kosong yang telah Ibu tanda tangani, apa kau juga ingat?" tanya Ibuku lagi sambil membenarkan posisi duduknya.
"Iya Buk. Memangnya ada apa? Bukankah si rentenir itu belum menuliskan apa-apa pada lembaran kosong bermaterai itu?" tanyaku memastikan.
"Sudah An, Tuan Yoshi sudah mengisi surat itu? " jawab Ibu dengan mantap.
"Iya An, Ibu serius. Tuan Yoshi menuliskan jika Dia sudah tidak menginginkan Toko lagi kita sebagai jaminannya." Kata Ibu sambil menepuk pundakku mencoba menguatkanku untuk mendengar kata-kata selanjutnya dari mulutnya.
"Lalu Buk?" tanyaku. Perasanku mulai tidak enak.
"Lalu, Dia menggantinya dengan menikahimu sebagai jaminan yang baru. Dia menginginkanmu An," kata Ibu lirih tapi sangat menusuk hati.
Jadi Yoshi benar-benar serius dengan ucapannya. Dia ingin menikahiku. Selama ini aku mengira bahwa ini hanya gertakan darinya.
Tak kusangka dia benar-benar menuliskannya pada lembaran surat perjanjian itu. Sementara aku tau ada tanda tangan Ibu di sana, bahkan surat kuasa itu adalah tulisan Ibu sendiri.
Jika aku menolaknya tentu saja Ibu akan berurusan dengan hukum. Tidak, tidak akan kubiarkan itu terjadi. Aku harus bertindak.
"Buk, Ana tau ini hal yang sulit untuk kita. Tetapi kita harus tetap berjuang Buk, Ana masih memilikki waktu satu tahun untuk mendapatkan uang agar terhindar dari pernikahan tak masuk akal ini." Jawabku sambil menghela napas panjang.
"Tapi An, setelah Ibu pikir-pikir sepertinya Yoshi itu Pria yang baik, " kata Ibuk entah mendapat wangsit dari mana sehingga membuatnya berkata demikian.
"Apa maksud Ibuk, masih kurang jahat apa dirinya hingga Ibuk membelanya?" Kataku yang justru membuatnya tersenyum .
"Coba deh An, kita lupakan dulu urusan hutang piutang itu, coba perhatikan Yoshi secara dalam. Bukankah dia sangat tampan?" ucap Ibu sambil mencubit daguku.
Astaga sejak kapan Ibu tersihir oleh Iblis itu.
"Lupakan hutang bagaimana Buk? Jelas-jelas Dia dan hutang itu adalah satu paket komplit mana mungkin bisa terpisah begitu saja?" kataku sambil memutar mata malas.
"Tapi An, bukankah seorang Pemberi hutang memang harus seperti itu, memberikan bunga untuk setiap nasabahnya. Itu bukan kesalahannya menurut Ibu." Kata Ibuk, sepertinya Ibu benar-benar sudah tersihir olehnya.
"Ibuk ini kenapa sebenarnya, Ana lapar buk dari pagi belum makan." Kataku sengaja memutus percakapan ini.
"Astaga Ibuk sampek lupa. Sebentar ya Ibuk ambilkan makan dulu." Kata Ibu sambil menepuk dahinya.
Akhirnya berbincangan ini berakhir juga. Setidaknya ini bisa berakhir untuk sementara waktu.
"Mbak Ana mau nikah memangnya?," tanya Luna yang sejak tadi hanya menjadi pendengar budiman di antara Aku dan Ibu.
"Apa sih Bocil mau tau aja." Jawabku sambil mencubit hidungnya.
"Serius Mbak, beneran ganteng gak calon suamimu itu?" tanyanya lagi.
"Dih kamu kepo banget loh." Jawabku sambil mengacak-acak rambutnya.
"Eh Mbak tau nggak, yang pas Luna mau berangkat ke pesantren dulu itu?" tanya Luna dengan wajah serius.
"Iya kenapa memang? " tanyaku padanya.
"Waktu itu kan ada paket tuh di meja. Ya kayak map gitu sih, itu ternyata paket untuk Mbak loh." Jawab Luna sambil mengingat-ingat.
"Oh iya? Lalu di mana paket itu sekarang Lun?" tanyaku sedikit penasaran .
"Emm itu dia masalahnya Mbak. Paket itu kebawa sama Luna ke Pondok waktu itu," jawab Luna.
"Lalu sekarang di mana paketnya?" tanyaku lagi.
"Di kos-an Luna Mbak. Hehe." Jawabnya sambil menggaruk kepalanya.
"Ya ampun kamu nih gimana sih, inget nggak paket itu dari siapa?" tanyaku lagi. Luna memang seperti ini selalu saja teledor. Aku sangat mengkhawatirkannya sebenarnya.
"Ntar deh ya Mbak. Luna bawain kalo Luna udah balik ngampus lagi. Luna juga nggak baca siapa pengirimnya yang jelas tujuannya atas nama Mbak Ana," jawab adikku yang menggemaskan itu .
"Iya-iya nggak apa-apa kok. Besok jangan lupa lagi ya." Jawabku.