
Ana POV
Setelah selesai sarapan aku pun kembali ke kamar sedangkan baby masih berada di ruang makan bersama Niluh dan mama. Kulihat suamiku itu masih tertidur. Aku tau dia sangat lelah tetapi ini sudah waktunya sarapan.
"Mas, sarapan yuk," ucapku sambil menepuk lengannya. Namun, ia sama sekali tidak bergerak.
"Mas, bangun sebentar untuk sarapan, setelah itu kau bisa kembali tidur," ucapku.
"Sayang, aku kedinginan," ucap Yoshi lirih.
"Apa kau sakit Mas?" tanyaku sambil memeriksa dahinya.
"Ah ya, kau demam Mas!" Aku pun mengambil thermoter untuk mengetahui berapa suhu badannya.
"Ya ampun, 40 derajat!"
"Mas, minum obat ya. Atau aku panggilkan dokter," ucapku masih dengan memegangi dahinya.
Aku pun turun ke bawah dan memberi tahu mama. Jika Yoshi tengah sakit.
"Ya sudah sayang, mama akan menjaga baby ya. Jadi, kau bisa merawat suamimu dengan tenang."
Mama pun melihat keadaan Yoshi dan memintaku untuk mengompresnya saja. Sebab, dokter keluarga sedang berada di luar negeri sejak kemarin.
"Mas, apa yang kau rasakan?" tanyaku.
"Aku kedinginan sayang, butuh kehangatan," ucapnya dengan bibir bergetar.
"Baiklah, aku akan mengambil selimut lagi untuk menghangatkanmu," ucapku.
Wajah tampan itu, kian memucat. Aku sungguh kasihan padanya. Yoshi tidak pernah selemah ini sebelumnya. Apa Shian benar-benar mengerjai papanya kemarin.
"Bukan kehangatan itu yang kumaksud, An."
"Lalu apa? apakah minuman hangat maksudmu Mas?" terkaku.
"Bukan, tapi dirimu.."
"Astaga Mas, kau ini sedang sakit tetapi masih saja ya!" Dia pun tersenyum saat melihatku kesal, sebenarnya aku tau dua bulan bukanlah waktu yang sebentar untuknya.
"Sungguh sayang, tolong aku," ucapnya dengan suara parau sementara suhu tubuhnya masih tinggi.
"Apa kau tidak kasihan pada suami gantengmu ini?" tanya Yoshi memelas.
"Iya Mas, tentu saja aku akan menolongmu. Bukankah aku ini istrimu?" jawabku.
"Baiklah, mari kita mulai, aku akan membuka bajumu dulu," ucapku sambil membantunya untuk duduk.
"Ha? Benarkah?" tanya Yoshi terkejut.
"Iya benar, tentu saja."
"An, kau sungguh akan melakukannya?" tanya Yoshi seperti tidak percaya.
"Iya, aku akan menghangatkanmu agar demammu bisa segera turun,"
"Kau serius sayang?"
"Ya ampun Mas, kau tidak percaya padaku?"
"Iya, aku percaya. Tapi, ini seperti bukan dirimu," kata Yoshi masih saja meragukanku.
"Mas, ini aku istrimu. Apa yang ada di otakmu sebenarnya ha?"
"Tidak sayang, aku kira kau kerasukan sesuatu. Pelan-pelan ya, sungguh aku takut ini bukan dirimu!"
"Iya, aku akan melakukannya dengan hati-hati, Mas," ucapku, ya ampun suamiku ini khawatir sekali dan tidak percaya jika aku benar-benar akan menghangatkan tubuhnya.
Hening...
Dia memperhatikan diriku dari atas hingga bawah, memeriksa kedua mataku. Ya ampun, apa yang sedang dilakukannya.
"An, apa kau baik-baik saja?" tanya Yoshi sambil menyentuh dahiku. Mengapa jadi diriku yang diperiksanya.
"Aku baik-baik saja Mas, sudahlah cepat buka bajumu."
"Buka baju? sekarang?" ucap Yoshi terkejut hingga mulutnya menganga, sungguh menggemaskan.
"Iya Mas, katanya mau dihangatkan?"
"Ah iya baiklah," ucapnya tersenyum sambil duduk, lalu aku membantunya menarik baju atasannya.
"Lalu? Aku harus bagaimana?" tanya Yoshi, entah mengapa wajah yang tadinya lemas kini menjadi lebih bersemangat.
"Diam saja, biar aku yang melakukan."
"Ha? serius? apa kau salah minum sesuatu hari ini?" tanya Yoshi sambil memperhatikan wajahku lagi.
"Tidak, aku hanya minum air putih hari ini."
"Apa kau yakin?"
"Iya Mas, kenapa kau terlihat sangat bingung? sudah diamlah, aku akan mempersiapkan semuanya," ucapku.
"Ini hanya sangat aneh, bukankah selama ini aku yang selalu mengajak? sungguh kau seperti sedang kerasukan sesuatu sayang," ucap Yoshi
"Iya, kali ini aku yang akan mengajakmu menghangatkan diri. Jangan bertingkah aneh bukankah ini hal yang wajar?" tanyaku sambil menonyor bibir seksinya yang melongo itu.
"Umm, baiklah. Aku akan diam saja sayang. Aku ingin lihat bagaimana permainanmu," ucap Yoshi, permainan apa sebenarnya yang sedang ia pikirkan.
Kini tubuh sixpack itu pun terpampang jelas di hadapanku. Saat tanganku menyentuhnya, entah mengapa mata Yoshi terus saja menatapku dengan intens, dan bibir itu juga terus tersenyum sejak tadi.
Apakah demamnya sungguh sangat mengganggu pikirannya. Ah, biarkan saja. Semoga setelah ini suhu tubuh suamiku akan turun dan kami tidak perlu bertemu dengan dokter.
"Sayang, kau belum membuka celanaku," ucap Yoshi.
"Biarkan saja Mas, yang atas saja dulu. Sebentar ya, aku akan kembali lagi setelah ini," kataku sebelum meninggalkan kamar.
Ana POV End
***
Aku tak pernah menyangka jika demam yang kualami sejak semalam akan memberikan keuntungan bagiku di pagi hari ini. Bahkan, Ana dengan suka rela mengajakku untuk melakukannya.
Awalnya aku merasa aneh, apakah istriku itu sedang kerasukan roh halus atau salah minum perangsang atau apapun itu, yang jelas saat ini aku sedang menunggunya untuk memulai permainan.
Dia berkata akan menghangatkan tubuhku yang kedinginan ini. Ah, bahkan dia sendiri yang memintaku untuk melepaskan pakaianku. Sungguh, ini seperti mimpi setelah dua bulan berpuasa.
(😪😪😪)
"Sayang, sudah siap?" terdengar suara Ana dari arah pintu. Lihatlah, bahkan panggilan sayang itu begitu lembut kudengar.
"Sudah sayang," jawabku.
"Mas, aku akan membalurkan minyak ini sekarang ya," ucap Ana dan apa katanya? minyak? minyak apa? apa dia menggunakannya sebagai pelumas? Astaga, apa istriku sudah mulai bisa berfantasi.
"Ya sayang, terserah padamu," jawabku. Aku tak sabar ingin melihat aksinya.
"Hmm, katakan padaku. Jika ini terlalu panas ya Mas, maka aku akan menguranginya," kata istriku. Oh Neptunus, makhluk apa yang sedang merasuki Ana sebenarnya. Bahkan dia bisa berkata seperti itu kepadaku. Dia takut permainannya terlalu panas? Ya Tuhan.
Tangan lembut itu mulai menyapu punggungku. Tetapi, mengapa aroma minyak ini seperti tidak asing bagiku. Aku terus mengingat-ingat, sementara Ana sibuk membalurkannya.
"Sayang, minyak apa ini?" tanyaku.
"Apa kau menyukainya Mas? Apa tubuhmu mulai menghangat?"
"Iya, tubuhku memang menghangat, tetapi mengapa ini seperti aroma minyak telon milik baby?" tanyaku. Sungguh, perasaanku mulai tidak enak.
"Ini minyak kelapa dicampur dengan minyak urut, minyak telon dan minyak kayu putih, Mas."
"Ah, ada irisan bawang merah juga, agar demammu cepat turun," ucap Ana.
Jeng jeng jeng..
"Astaga, jadi ini yang kau maksud dengan menghangatkan tubuhku?" tanyaku, terkejut.
"Iya, benar. Memangnya apa lagi Mas?"
"Tapi kau bilang, kau akan melakukannya?"
"Bukankah aku sedang melakukannya saat ini?"
"I-iya, kukira kau akan melakukan hal lain untuk membuatku hangat," ucap Yoshi.
"Iya Mas, setelah ini aku akan melakukan hal lain juga,"
"Benarkah?" tanya Yoshi lagi.
"Benar Mas, aku akan memijatmu dan mengompresmu, seperti kata Mama," jawab Ana.
"Oh.. Jadi mama yang berada di balik semua ini ya?"
"Iya benar. Mama juga memintaku untuk mungurusmu dan beliau yang akan menjaga baby, bukankah itu bagus? Apa kau ingin mama saja yang mengurusmu Mas?"
"No sayang! tidak, kau saja yang merawatku. Biarkan mama dengan si gendut itu!" ucapku, biarkan saja nenek tua itu kelabakan mengurus baby, berani-beraninya dia mengajari Ana untuk memberiku harapan palsu.
"Ya sudah Mas, sekarang aku akan memijatmu, berbaringlah." Aku pun berbaring dan Ana mulai memijat tanganku lalu naik ke lenganku. Sungguh tekanan yang ia berikan terasa sangat nikmat, terutama pada lenganku yang kemarin terasa pegal karena harus membopong baby semalaman.
"Apa kakimu juga pegal?" tanya Ana.
"Iya sayang, tolong pijat kakiku juga ya," pintaku.
Ana mulai memijat bagian bawah tubuhku, mulai dari telapak kaki lalu naik ke betis, bahkan ia meletakkan kakiku pada kedua pahanya. Rasanya otot kaki yang tadinya kaku sekarang mulai lemas.
"Mas, apa pijatanku terlalu keras? atau minyaknya terlalu panas?"
"Tidak sayang, ini sudah cukup. Aku sangat menikmatinya, apa mama juga yang telah mengajarimu?" tanyaku.
"Iya Mas dan sebenarnya aku juga sering melakukan ini pada bapak."
"Sepertinya mulai saat ini, aku akan ketagihan pijatanmu," ucapku dan sukses membuatnya tersipu.
Dia mulai memijat kepalaku, dan menyandarkannya pada dadanya, sungguh terlepas dari segala macam pikiran liarku, aku sangat menikmati sentuhan tangan lembut ini.
Dia memijit pelipisku, leher dan kembali ke lengan hingga wajah kami berdekatan. Mata dengan bulu lentik itu menatapku dengan intens, aku mencoba mempertahankan kontak yang mulai terbentuk hingga bibir kami mulai mendekat satu sama lain.
Dalam hatiku berkata
"Akhirnya apa yang sejak tadi berputar-putar akan terjadi juga, sungguh awal yang bagus,"
Tok
Tok
Tok
Sial, jika ini bukan Niluh pasti si nenek sihir itu yang telah mengacaukan acaraku.
"Sayang, baby haus! apakah memijatnya sudah selesai? Jika belum biar mama yang menggantikanmu!"
Ana berniat untuk.bangkit dari tempat tidur tetapi aku menahannya.
"Mas, baby mencariku," ucapnya panik.
"Biarkan saja, di freezer ada Asi biarkan mama yang mengatur,"
"Tapi Mas, kasihan Mama,"
"Biarkan saja neneknya kan pintar!" dengusku kesal.
Namun, terdengar suara dari balik pintu.
"Yoshi!! Mama mendengar semuanya ya!!"
**Maaf ya genk telat up, masih sibuk mijet soalnya wkwk 😂😂
Mampir juga ke karya temanku yang keren satu ini**.