
Liburan berakhir, saat ini aku sudah naik di kelas XI. Aku mengambil jurusan Bahasa karena aku sangat menyukai belajar bahasa asing.
Sementara Devi mengambil jurusan IPS, karena dia sangat menyukai Akuntansi dan Bisnis. Benar-benar melambangkan kepribadiannya.
Karena perbedaan kelas,kami jadi sangat jarang sekali bertemu. Jujur aku sangat merindukannya. Namun meskipun demikian kami tetap berkirim pesan melalui whatsapp.
Bapakku yang sangat kusayangi itu membelikanku handphone baru demi untuk menunjang kebutuhanku. Meskipun sebenarnya aku heran darimana bapak mendapatkan uang untuk membelikanku handphone ini.
Ketika kutanya jawabannya selalu sama yaitu handphone tersebut adalah pemberian dari teman baiknya di kota, kegiatan Bapak pun masih tetap sama , bolak balik ke luar kota untuk bertemu teman baiknya tersebut, kadang seminggu kadang hingga dua minggu baru kembali pulang. Aku heran sebenarnya masalah pertanian apa yang mereka bahas hingga selama itu.
Setiap kali kutanyakan tentang bapak pada ibuku , selalu saja bukan jawaban yang kudapatkan melainkan omelan bertubi-tubi. Sungguh melelahkan. Akhirnya kuputuskan untuk menyerah dan berhenti untuk menyelidiki ayahku sendiri.
Selama liburan, kegiatanku tetap sama, yaitu menjaga toko kelontong, membantu Ibu dan terkadang juga merawat diri. Tak kusangka lotion pemberian bapak beberapa bulan lalu sangat berpengaruh untuk kulitku, kulitku tak lagi kusam tetapi bertambah cerah dan lembut. Benar-benar ajaib.
Apalagi vitamin A yang juga diberikan oleh bapak itu sangat besar manfaatnya untuk mataku yang minus 0,25 ini. Bahkan kini aku tak perlu lagi menggunakan kacamata karena rutin mengkonsumsi vitamin tersebut.
***
Hari ini adalah hari pertamaku masuk di kelas XI. Sangat senang rasanya, mendapat teman baru juga. Kukenakan pita rambut cantik dari bapak sebab rambutku kini terlalu panjang untuk digerai.
Kelas baru, teman baru namun tetap Devi lah sahabat terbaikku, kami masih sering berangkat dan pulang sekolah bersama.
Selama di kelas XI ini aku jarang sekali melihat Mas Ikau. Entah di mana kelasnya sekarang. Tempat duduk di dekat jendela pun sudah bukan milikku lagi karena teman sebangkuku juga menyukai spot tersebut sehingga aku mengalah.
***
Beberapa bulan berlalu dengan sangat cepat hingga munculah pengumuman bahwa akan diadakan Study Tour ke Bali, jelas dengan biaya yang sangat mahal bagiku.
Aku memutuskan untuk tidak ikut saja meskipun dalam hati sangat ingin tetapi apa daya. Aku tak mau membebani kedua orang tuaku yang tanpa kubebani sekalipun mereka sudah sangat terbebani.
Lagi pula uang sebanyak itu bukankah lebih baik digunakan untuk keperluan lain dari pada hanya untuk liburan yang berbalut study tour.
***
Hari H pun tiba. Kulihat teman-temanku berangkat naik bus sekolah termasuk Devi. Dia melambaikan tangannya dari kaca jendela bus.
"Anaaaa, gue tinggal dulu ya jangan nakal!! " teriaknya, dan seluruh mata memandangku, astaga bukankah dia lah yang nakal selama ini.
"Iya Dev, have fun yaa!!" kubalas dengan lambaian tangan juga.
Merasa tak ada lagi kegiatan di sekolah aku pun memutuskan untuk pulang.
***
Dua hari kemudian kegiatan di sekolah kembali normal, teman-temanku terlihat sangat fresh setelah liburan dari Bali seperti handphone yang baru saja di charge
Mereka bersenda gurau menceritakan kegiatan selama liburan, dan aku memutuskan untuk menjadi pendengar yang baik saja.
***
Jam istirahat pun tiba. Aku memutuskan untuk tetap berada di kelas saja, tiba-tiba suara lembut yang sangat kuingat muncul.
"Hai Ana, sedang apa?" kata anak laki-laki itu yang ternyata adalah Mas Ikau, astaga ini seperti Deja Vu. aku berusaha untuk setenang mungkin. Tidak akan kubiarkan hal bodoh yang dulu terjadi terulang kembali.
"Ana, apa kau baik-baik saja?" Kata Mas Ikau sambil mengambil tempat duduk di depanku.
"Iya- iya Mas Ikau, ada apa ya?" jawabku dengan masih terbata. Tapi berhasil kukendalikan.
Kami duduk berhadapan sekarang, benar benar berhadapan. Aku ingin melihat wajahnya tetapi aku tak mampu. Seperti ada batu beton yang menimpa tengkukku sekarang yang membuatku tetap tertunduk.
Mas Ikau menatapku dengan heran, aku bisa merasakan hal itu tanpa melihat wajahnya.
"Ana, aku punya sesuatu untukmu semoga kau mau menerimanya," kata mas Ikau sambil menyodorkan kotak merah ke arahku.
Astaga tangan putihnya itu ada di depan mataku sekarang, benar-benar di depan mata. aku masih terdiam terpaku, bingung harus menjawab apa, sebelum akhirnya dia benar benar pergi dari sisiku.
"Ana, aku pergi dulu ya, semoga kamu menyukai barang ini," katanya sambil bangkit dari tempat duduk, mungkin dia bosan karena menganggapku tak menanggapinya.
***
"Mas Ikau, terima kasih ya." Seketika bibirku mengucapkan kata itu, begitu dia berjalan menjauh.
"Sama-sama Ana." Katanya dari kejauhan. Astaga ternyata dia masih mendengarku. Untuk pertama kalinya aku benar-benar melihat wajahnya dengan seksama.
Senyumannya itu membuat perutku sangat geli seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitiki.
Andai saja ini bukan di kelas aku pasti sudah melompat kegirangan sekarang.
Aku masih belum bisa membedakan apakah yang barusan itu tadi nyata ataukah mimpi.
Segera kuraih kotak merah itu dan kuperhatikan baik-baik, ini nyata ya, ini sangat nyata batinku.
Dengan pelan kubuka kotak tersebut, tali emas mengelilingi kotak merah itu. Terlihat cantik dan elegan.
Kubuka perlahan dan isinya adalah sebuah gelang, gelang yang terbuat dari lima macam warna tali, sederhana tetapi cantik .
Aku masih tidak mengerti mengapa Mas Ikau memberikan ini kepadaku.
Sejurus kemudian kulihat teman sekelasku masuk, dan duduk di bangku sebelahku. Dia memakai gelang yang sama dengan yang diberikan mas Ikau kepadaku tadi.
"Sarah, gelang kamu bagus," aku mencoba memuji gelangnya dan ingin melihat bagaimana jawaban temanku yang bernama Sarah itu.
"Oh iya An, ini namanya gelang pancawarna. Ini dari Bali An, " kata Sarah menjelaskan bahwa gelang tersebut dibeli di Bali.
Itu berarti Mas Ikau memberikan gelang ini sebagai oleh-oleh dari Bali. Ya, tentu saja , Dia pasti mengikuti study tour ke Bali kemarin, buktinya dia membelikan ini untukku.
Bukankah mudah baginya jika untuk bepergian kemana saja yang Dia mau mengingat statusnya sebagai anak orang kaya seperti yang dikatakan Devi dulu.
Namun ada sedikit kekhawatiran di hatiku. Apakah memang Mas Ikau membelikan ini hanya untukku seorang atau memang dia membelikan ini untuk semua siswa di Sekolah.
Tanpa kusadari ternyata hampir semua teman sekelasku memakai gelang seperti ini. Bukan tidak mungkin jika dia membagi bagikan oleh oleh khas Bali ini kepada semua warga sekolah.
Aku terlalu besar kepala, menganggap hal ini sebagai sesuatu yang spesial. Tapi terlepas dari berbagai spekulasi di otakku setidaknya hari ini aku bisa bertemu dengannya dan menatap wajahnya dengan jelas meskipun hanya sebentar.
Dan untuk gelang ini, persetan jika dia hanya memberikan untukku atau untuk orang lain juga, Itu tidak akan menjadi masalah untukku.
Aku akan menjaga benda mungil ini untuk selamanya di hidupku.