My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Yang Terdalam



Pagi ini aku meminta ijin kepada kepala personalia untuk memberiku cuti karena sakit, entah mengapa demam itu lagi-lagi datang melanda. Seperti biasa flu mulai menyerangku lagi.


Sedangkan Devi sudah pergi bersama Dion sejak pagi buta tadi. Aku pun bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai bersiap, kuraih tasku dan pergi keluar penginapan. Aku harus pergi ke dokter untuk memeriksakan flu yang semakin membuat tubuhku menggigil ini.


Saat sedang menunggu taksi tiba-tiba seseorang menarikku dan memasukkanku ke dalam mobilnya. Aku mengenal tubuh ini dan aroma parfum ini juga sudah tertanam pada indera penciuamanku sejak lama.


Dia mendudukkanku di kursi mobilnya dan memelukku dengan sangat erat hingga membuatku merasa sesak nafas.


"Sayang, maafkan aku.. Tolong maafkan aku.. " Ucapnya sambil terus memelukku.


"Yoshi??" ucapku, sambil mencoba melepaskan pelukannya.


"Sayang.. Maafkan aku, aku akan menjelaskan semuanya padamu.. " Ucapnya dengan tubuh mulai gemetar.


"Lepaskan!! Lepaskan aku!! " Kataku sambil berusaha mendorong tubuhnya.


"An, tolong dengarkan aku." Katanya masih dengan posisi yang sama.


"Aku tidak mau melihatmu lagi!" Ucapku, sungguh hati ini masih merasakan sakit yang begitu hebatnya.


"Ana, aku tidak akan melepaskanmu!" ucap Yoshi.


"Dasar penipu! " ucapku, kurasakan tubuh itu bergetar seperti sedang menahan tangisan.


"An, aku tau aku salah tapi tolong biarkan aku bicara dulu." Ucap Yoshi mulai melonggarkan pelukannya.


Wajah itu terlihat sangat kusut begitupun dengan rambutnya. Tetapi meskipun begitu Yoshi tetaplah tampan. Seperti biasanya.


"Lepaskan aku Yoshi, aku membencimu!" ucapku sambil terisak. Aku tak dapat lagi menahan air mata ini. Dan bagaimana dia berada di sini. Bukankah saat itu aku dan Devi memesan tiket atas nama Devi agar Yoshi tidak dapat melacak jejakku.


"An, aku tidak akan melepaskan pelukan ini jika kau tetap tidak mau mendengarkan penjelasanku." Ucap Yoshi.


"Semuanya sudah jelas Yoshi!" ucapku, aku benar-benar muak padanya.


"Kau harus mendengarkanku Ana!" Kata Yoshi, mencengkram tubuhku, aku mulai merasa jika dia mulai di selimuti emosi.


"Kau jahat Yoshi! Kau itu monster !" aku terus saja mengumpatinya.


"Aku tak penduli dengan apapun yang kau katakan padaku An." Kata Yoshi.


"Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan padaku itu jahat Yoshi" aku mulai berteriak sementara kram di perutku semakin terasa, begitupun dengan demam ini.


Hening...


Yoshi terdiam selama beberapa detik.


"Aku berjanji akan melepaskanmu dan tidak akan pernah mengganggumu lagi setelah ini. Tapi tolong dengarkan aku dulu." Kata Yoshi, sambil memejamkan matanya.


"Baik, katakan.. " kali ini aku akan mendengarkannya, aku ingin tau sejauh apa lidahnya akan mempermainkan diriku lagi.


"An, badanmu masih demam. Kita ke dokter dulu ya?" tanyanya sambil menempelkan tangannya pada keningku.


"Tidak usah pura-pura perduli denganku. Cepat katakan apa yang ingin kau katakan.. " Jawabku.


"Sayang.. Aku sangat rindu padamu. Aku hancur tanpamu.." lagi-lagi Yoshi memelukku.


"Setelah semua yang kau lakukan padaku. Kau pikir aku masih bisa percaya padamu?" ucapku. Dan Yoshi hanya terdiam.


"Aku begitu diselimuti oleh dendam saat itu An, dan sekarang aku menyesal. Ternyata ayahmu tidak bersalah." ucap Yoshi lirih.


"Wah Yoshi !! Wah !! Kau sangat hebat, beraninya menghukum seseorang tanpa menyelidiki apa kesalahannya dengan benar." Aku sangat emosi saat ini, Yoshi benar-benar keterlaluan.


"Ana, aku sangat frustasi saat itu. Aku merasa begitu kehilangan.. " ucapnya sambil mengacak rambutnya.


"Lalu bagaimana denganku Yoshi? Apa aku pantas mendapatkan semua ini setelah apa yang sudah kulalui?" jawabku.


"An, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu." Ucap Yoshi sambil menggenggam tanganku.


"Cinta? Kau bahkan tidak pernah tau apa itu cinta, hidupmu hanya dipenuhi oleh dendam yang tidak jelas selama ini !" Ucapku membentaknya.


"Tidak sayang, aku mencintaimu sejak lama." Katanya, sungguh sandiwara apalagi ini.


"Kau sangat serakah Yoshi, kau jahat. Kau telah mempermainkan perasaanku, mengapa kau lakukan ini setelah aku mulai mencintaimu?"


"Sayangg maafkan aku. Aku mencintaimu.. Tolong cintai aku lagi.. "


"Terlambat Yoshi, kau terlambat!" Ucapku


"Sayang.. Tolong beri aku satu kesempatan lagi." kata Yoshi sambil bersimpuh di kakiku.


"Kau tak pernah mencintaiku Yoshi, kau hanya ingin membalaskan dendam tidak beralasanmu saja selama ini. Tak pernah ada cinta untukku. Tolong Yosh.. Tolong lepaskan aku, biarkan hidup tenang.."


"Kehidupan sudah terlalu kasar padaku, bahkan kedua orang tuaku pun telah menyembunyikan hal sepenting ini dariku. Aku kecewa Yoshi.. Aku kecewa pada semua orang terutama padamu!!"


Aku terus saja mengatakan hal itu berulang-ulang pada Yoshi.


"Baiklah Ana, aku mengakui bahwa kesalahanku memang tak termaafkan, aku tak pantas mendapatkan maafmu. Aku akan melepaskanmu tapi dengan satu syarat." Ucapnya lirih tapi sepertinya ini sangat dalam.


"Apa?" tanyaku.


"Tolong kembalikan gelang yang telah kuberikan padamu dulu." Kata Yoshi


"Gelang apa?" aku masih belum mengerti akan ucapannya.


"Gelang yang kau simpan di kopemu selama bertahun-tahun ini." Kata Yoshi menatap mataku.


"Apa maksudmu Yosh?"


Deggg...


Jantungku terasa berhenti berdetak tetapi anehnya aku masih bisa bernafas.


Apakah yang dimaksud oleh Yoshi gelang dari Mas ikau? tapi mengapa dia mengatakan bahwa dirinyalah yang telah memberikannya padaku.


"Dan foto ini, aku mencoba mengirimkannya ke alamatmu saat itu tapi mengapa kau tak menerimanya?" Kata Yoshi sambil mengeluarkan selembar foto dan menunjukkannya kepadaku.


Aku kembali terkena serangan jantung palsu, bukankah ini fotoku bersama mas ikau dulu saat acara pensi sekolah. Apakah Yoshi...


"Dan aku sempat menunggumu di jembatan saat itu tapi mengapa kau tak datang An?" Yoshi terus saja mengujaniku dengan pernyataan-pernyataan menyesakkan dada itu.


"Apa kau ingin tau siapa gadis yang fotonya kusimpan di dompetku selama sepuluh tahun ini?"


"Apa kau tau siapa dia? Coba lihat foto ini dengan baik,"


"Kaulah orangnya An, ini fotomu dan fotoku sepuluh tahun yang lalu.."


"Bahkan kau sempat cemburu pada dirimu sendiri saat malam pernikahan kita. Bukankah itu sangat lucu?"


"Aku mencintaimu Ana, Aku suamimu aku jugalah pengagum rahasiamu selama ini. Tapi mengapa kau masih saja tidak mengenali siapa diriku. Aku mas Ikaumu An, aku Ricko." Ucap Yoshi sambil kembali memelukku. Dan aku masih saja berusaha menelaah semua ini.


"Aku adalah Yoshi Aricko Luby, seorang anak lelaki yang selalu melewati depan kelasmu hanya untuk melihat wajah cantikmu melalui jendela kelasmu dulu. Apa kau lupa?"


"Apa kau ingat saat kau terjatuh di dekat tiang listrik di seberang tokomu dulu? Apa kau ingat plester Spiderman itu? Aku lah yang memasangkannya di pelipismu An. Bahkan kau membuatku tidak bisa tidur semalaman saat itu karena sibuk mengingat ingat kulit halusmu."


"Tentang tukang becak yang tiba-tiba memberimu tumpangan sepulang sekolah saat hujan deras. Tentang es teh gratis dari ibu kantin itu. Apa kau ingat? Akulah yang berada di balik itu semua An.."


"Aku orangnya. Aku berada di dekatmu sekarang An. Maaf telah membuatmu menunggu selama ini.. "


"Aku suamimu Lanthana, aku juga pengagum rahasiamu."


"Aku mas Ikaumu An, tolong perhatikan wajahku baik-baik."


"Apa ini Yoshi? Apa lagi ini ha?"


"Kenapa kau lakukan ini padaku. Kenapa?" Kataku, semua ini terlalu membuatku pusing. Aku menutup telingaku rapat-rapat tetapi Yoshi masih saja meneruskan perkataannya.


"An, saat itu aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu tetapi tiba-tiba Devi datang dan mengganggu kita. Akhirnya aku memintamu untuk datang ke jembatan baru, aku menunggumu di sana untuk mengatakan bahwa aku telah jatuh cinta padamu."


"Mungkin ini hanyalah cinta monyet tetapi sungguh perasaan itu masih tetap ada meskipun harus ternodai dengan dendam. Aku telah mengatakan semuanya padamu Ana."


"Aku mencintaimu, tolong pikirkan ini lagi sebelum kau benar-benar ingin terlepas dariku. Tolong An.." Yoshi masih berusaha menahan tubuhku yang mulai terasa lemas ini.


Aku masih tak percaya dengan apa yang kudengar, jadi Yoshi adalah mas Ikau. Jadi kemarin Dion benar2 menelepon Yoshi. Pantas saja suara mereka sama karena mereka memang satu orang yg sama.


Aku tak tau apa yang harus kukatakan. Aku masih sibuk mengingat masa lalu. Sungguh Ana yang bodoh ini tidak tau jika Yoshi adalah Mas Ikau.


Ana bodoh! ucapku dari dalam hati, pantas saja alis dan mata itu begitu familiar selama ini. Pantas saja mimpiku mengatakan jika selama ini Mas Ikau tidak pernah kemana-mana. Ternyata Yoshi lah yang selama ini kucari dan kutunggu.


Tetapi, bagaimana dengan segala perlakuannya padaku selama ini, jujur saja aku sangat bahagia mengetahui kebenaran ini tetapi mengapa Yoshi tidak mengakuinya sejak awal.


Bagaimana pun dia telah berbohong kepadaku, mempermainkan perasaanku, bahkan setelah kuberikan semua yang kumiliki untuknya.


Hidupku, tubuhku ,hatiku dan masa depanku. Semuanya telah kuberikan padanya dan itu masih belum cukup juga untuknya untuk berkata jujur padaku.


Tidak, aku tidak akan memaafkannya dengan semudah itu. Aku masih butuh waktu untuk membuat keputusan. Aku tak ingin Yoshi mempermainkanku lagi meskipun kini kuatau dia adalah Mas Ikau. Aku terlalu jera untuk mempercayainya.


"Beri aku waktu... " kataku, sambil melepaskan pelukannya.


"Waktu apa lagi An. Tolong jangan pergi dariku. Aku sangat mencintaimu." Ucap Yoshi, menahanku untuk tidak keluar dari mobil.


"Tapi aku butuh waktu.. " Sungguh air mata ini begitu sulit untuk kutahan.


"Baiklah, aku akan menerima semua keputusanmu Ana. Aku menunggu jawabanmu untuk tetap melanjutkan hubungan ini atau tidak." Ucap Yoshi, kulihat buliran air mata keluar dari sudut matanya saat melihatku keluar dari pintu mobilnya.


Author POV


...🎵🎵Kulepas semua yang kuinginkan...


...Tak akan kuulangi...


...Maafkan jika kau kusayangi...


...Dan bila kumenanti...


...Pernahkah engkau coba mengerti...


...Lihatlah aku di sini...


...Mungkinkah jika aku bermimpi...


...Salahkah tuk menanti...


...Takkan lelah aku menanti...


...Takkan hilang cintaku ini...


...Hingga saat kau tak kembali...


...Kan kukenang di hati saja🎵🎵...


Suara musik menemani laju mobil Yoshi, menjauh meninggalkan penginapan tempat pertemuannya dengan Ana baru saja.