
Yoshi POV
Rasanya kepalaku sangat pening karena menahan sesuatu yang seharusnya sudah bisa dikeluarkan. Lagi-lagi Ana berhasil menghindari seranganku. Bahkan saat kami hampir saja melakukannya tiba-tiba mama datang, awalnya aku masih bisa menguasai keadaan tetapi setelah itu, malah baby yang berganti mengganggu. Sungguh benar-benar kerja sama yang bagus antara seorang oma dan cucunya.
"Mas, Dianna memintaku untuk menjadi bridesmate-nya hari ini, aku harus pergi sekarang juga," ucap Ana meminta ijin kepadaku.
"Baiklah, pengawal akan mengantarmu Sayang," balasku.
Lihatlah, bahkan malam yang kutunggu-tunggu itu pun juga ikut serta mengkhianatiku karena sore ini kami harus menghadiri pernikahan asisten terbaikku, David.
Sudahlah, mungkin memang belum waktunya. Lagi pula masih banyak waktu lain. Bukankah masa nifas Ana sudah berakhir.
"Sabar ya Jun," ucapku pada juniorku yang masih sedikit tegang karena efek pemanasan yang gagal baru saja.
(wkwk sabar jun!!!)
Aku meminta mama dan Niluh untuk menjaga baby sementara aku dan Ana harus menghadiri acara itu. Aku pun berpamitan pada putra kesayanganku itu.
"Baby Shian, papa pergi dulu ya. Jangan nakal, menurutlah pada Oma dan Bibi Niluh!" ucapku pada Shian yang sedang mengulum jari tangannya. Sungguh sangat menggemaskan, jadi ingin segera membuatkannya adik yang tak kalah lucu.
(🤧🤧🤧)
"Bye papa! jangan lama-lama perginya dan cepat bawa mama pulang ya!" balas ibuku dengan suara yang dibuat-buat.
Aku pun melambaikan tanganku, menjauh dari pandangannya. Sungguh, di lihat dari sisi mana pun anakku itu tetap saja tampan, sama seperti ayahnya. Tidak sia-sia aku mengatur takaran saat memprosesenya.
(Kek mana tu Yosh cara ngatur takarannya? dasar ngadi-ngadi🤣)
Aku pun mengirim pesan kepada David, dan mengatakan jika diriku sedang berada dalam perjalanan ke acara pernikahannya. David pun membalas pesanku dan mengatakan jika istriku sudah berada di tempat itu dan sudah berdandan sebagai bridesmate bersama teman-temannya.
David meneleponku dan aku mengangkatnya.
"Tuan, nyonya sudah berada di sini. Sangat anggun dan cantik..."
"Ya, David. Bagus, sejak dulu istriku memang cantik," ucapku dengan bangga.
"Tuan, cepatlah datang. Dan lihat sendiri.."
Ada apa dengan David sebenarnya, aku pun menambah kecepatan agar cepat sampai di lokasi.
Tiba di lokasi.
"David, kau terlihat lebih tampan dari biasanya," ucapku menggodanya.
"Ah jangan berkata seperti itu tuan, terima kasih tuan telah bersedia menjadi pengiring saya hari ini," jawabnya.
"Tidak masalah, apa acara akan segera dimulai?" tanyaku.
"Sebentar lagi tuan, kami sedang menunggu Dianna dan para bridesmate-nya."
Tak berapa lama para tamu pun berdiri menyambut pengantin wanita bersama para pengiringnya. Dianna pun terlihat cantik sangat serasi dengan David. Akhirnya asistenku ini akan segera berganti status. Aku turut bahagia.
"David, lihatlah pengantinmu lumayan juga," ucapku dari kejauhan hanya untuk menggodanya.
"Ya tuan, tetapi lihatlah bridesmate yang berada di belakangnya, sungguh cantik dan anggun," bisik David. Dasar mata lelaki memang selalu seperti ini. Aku pun segera melihat bridesmate yang dimaksud oleh David.
"Bu-bukankah itu istriku.."
Aku melihat Ana berjalan sambil tersenyum bersama teman-temannya, dia terlihat sangat cantik hari ini, dia berhasil membuatku terpaku selama beberapa detik.
David terkekeh saat melihat ekspresiku. Sungguh kurang ajar, jadi sejak tadi ia sedang mengujiku. Sementara semua mata tertuju pada pengantin, tetapi tak sedikit pula tamu yang memperhatikan istriku.
Apalagi dengan pakaiannya yang seperti itu, Ana telihat anggun tetapi juga seksi. Gaun panjang berwarna silver itu sukses membentuk lekuk tubuhnya. Kaki jenjang favoritku memamg tertutupi tetapi tidak dengan punggung mulusnya.
Aku benar-benar emosi melihatnya. Entah apa maksud Ana melakukan ini, meskipun semua bridesmate mengenakan gaun yang serupa tatapi istriku itu terlihat lebih menoniol dari pada yang lain.
Bahkan orang tak akan menyangka jika Ana sudah memiliki anak. Sebab tanda-tanda melahirkan sama sekali tidak nampak, perutnysa pun terlihat rata. Ana terus berjalan mengikuti pengantin wanita.
Dalam diam aku mencengkeram tanganku sendiri saat mata para hidung belang itu memperhatikan tubuh istriku yang nyaris sempurna. Aku benar-benar tidak tahan. Ingin kutarik istriku saat ini juga dan membawanya ke kamar.
Namun, aku sadar. Aku tak mungkin mengacaukan acara pernikahan asisten sekaligus sahabatku ini. Akhirnya aku hanya bisa menahan emosi di dalam jiwa.
Acara pemotretan pun tiba, lagi-lagi Ana menunjukkan keindahannya pada tamu-tamu yang hadir, bahkan mereka juga sempat bersalaman dengan istriku.
Aku masih saja terdiam, lihatlah setelah ini aku pasti akan memberinya pelajaran berharga. Sama seperti dulu, saat ia memakai pakaian seperti ini pada acara crew party di kapal.
Pemotretan pun berakhir, Ana belum juga sadar bahwa aku telah memperhatikannya sejak tadi, ia berjalan menuju koridor hotel. Dan aku mengikutinya dari belakang. Namun, tiba-tiba terdengar suara Dianna memanggilku.
"Chief, terima kasih sudah hadir di acara kami. Dan terima kasih telah mengijinkan Ana untuk menjadi bridemate saya, ini kunci kamar anda dan Ana," ucap Dian, sambil memeberikan key card kepadaku.
Setelah memberikan ucapan selamat padanya, aku pun bergegas mengikuti Ana lagi, untung saja Dian memberiku kunci ini, karena jika tidak aku tak akan bisa masuk ke kamar istriku itu.
Ceklek
Kubuka pintu dan kemudian segera menguncinya. Kulihat Ana sedang mengambil sesuatu dari dalam lemari, begitu sadar akan kehadiranku, dia pun panik.
Aku berjalan mendekatinya, beberapa kali Ana bertanya kepadaku tetapi aku tidak menggubrisnya. Dia sudah membuatku kesal sejak kemarin dan puncaknya adalah hari ini.
Dia memundurkan langkahnya terbersit ada rasa takut pada wajah cantik itu. Aku pun menarik scarf yang ia gunakan sebagai penutup punggungnya yang menggoda itu.
"Kau terlalu mengujiku sejak kemarin An!" ucapku, menatap wajahnya yang terhiasi riasan glitter. Ana lebih cantik dari biasanya.
"Mas, aku hanya tidak enak pada Dian, aku tau kau pasti akan marah jika melihatku berpakaian seperti ini. Tetapi, acara telah usai Mas, dan aku akan mengenakan scarf ini untuk menutupi punggungku," ucap istriku dengan gugup.
"Lalu?" tanyaku sambil membelai kulit mulusnya. Rasanya begitu emosi saat mengingat mata para lelaki itu memperhatikan bagian tubuh ini.
"Aku minta maaf Mas, sungguh aku tak bermaksud untuk menggoda tamu-tamu pria. Lagi pula, bukankah aku langsung berlari kemari begitu acara pemotretan berakhir?"
Ini memang bukan kesalahan Ana, tetapi dia telah sukses membuatku merasa terbakar hari ini. Aku pun mencengkeram lengannya dengan kuat lalu menarik pengait gaun yang menggantung di lehernya.
Hingga tali pada gaun itu pun terlepas, Ana mencoba memegangi gaunnya agar dadanya tidak terekspose. Tetapi dengan sigap aku menarik kedua tangannya dan membiarkan baju satin itu merosot ke lantai dengan sendirinya.
Ana panik dan ketakutan karena merasa ada yang tidak beres pada diriku. Jujur saja, aku juga merasa aneh. Aku seperti sedang kepanasan entah karena rasa cemburu yang berlebih atau karena pengaruh minuman dari David.
Yang jelas, rasanya aku ingin segera menerkam dan menelan istriku bulat-bulat. (emang bola?🤣🤣🤣)
"Mas, kau mabuk?" tanya Ana saat menghirup hembusan nafasku yang mulai tidak beraturan.
"Ya, tadi aku minum sedikit hanya untuk menghargai David," ucapku.
"Kenapa kau minum Mas?!" tanya Ana menaikkan intonasi, ia terlihat marah.
"Sudah kubilang, aku hanya ingin menghargai David di acara pernikahannya. Sama seperti dirimu yang tidak ingin membuat Dian kecewa dengan memakai gaun seperti itu!" ucapku kasar, entah mengapa aku tak bisa mengontrol amarahku.
"Oh, jadi kau ingin membalasku?" ucap Ana sambil mengambil scarf dan menutupi tubuh atasnya.
Aku sama sekali tidak mendengarkan ucapan Ana, tangan ini secara otomatis mendorongnya hingga ke tempat tidur. Ana jatuh terlentang dan aku segera menindihnya.
"Sayang, mari saling menebus kesalahan!" ucapku mulai menghujaninya dengan kecupan.
"Mas, aku tidak mau melakukannya di sini. Aku ingin melihat keadaan baby dulu," ucap Ana.
"Baby aman di rumah, tenang saja. Jika kita pulang, maka kitalah yang tidak aman!"
Aku terus menikmati setiap centi tubuhnya hingga tak satupun yang terlewatkan. Rasanya aku ingin membalas semua tatapan mesum pria-pria tadi pada tubuh istriku dan menutupinya dengan tanda kepemilikan.
"Mas, kau sangat kasar!" ucap Ana memekik saat hisap*nku terlalu kuat. Dia pikir mudah bagi lelaki untuk menahan hasr*tnya selama dua bulan lebih.
Tanganku terus bergerilya terkadang membelai terkadang meremas segala sesuatu yang disuguhkan.
"Mas, asi-ku sudah penuh kita harus pulang!" ucap Ana membuyarkan permainanku.
Seketika mata ini membulat saat melihat dua buah itu membengkak dan sesekali terlihat cairan menetes membasahi area sekitar. Aku pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
(You knowlah Gaise!🤧🤧)
"Mas, apa kau gila? kau tak perlu melakukannya lagi, aku membawa pompa Asi bersamaku," ucap Ana sambil mendorong kepalaku yang tengah sibuk di area dadanya.
Ana meraih ponselnya berniat untuk menanyakan keadaan baby, tetapi dengan cekatan tanganku melempar ponsel itu. Benar-benar menyebalkan. Sudah kubilang baby aman bersama mama tetapi dia tetap tidak percaya.
"Mas! kau ini keterlaluan sekali ha?" dengusnya kesal sambil sesekali mendes*h akibat menerima perlakuanku.
Sungguh lucu, dia marah tetapi dia jg menikmati. Sangat sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.
"Mas, setidaknya biarkan aku berganti baju dulu," ucap Ana.
"Berganti baju apa, sudah tidak memakai apapun masih mau berganti. Jangan menipuku!" jawabku, Ana benar-benar menyebalkan.
"Mas, aku juga mengingiannya, dan aku juga membawa lingerie bersamaku hari ini," bisik Ana mencoba merayuku.
(jangan percaya Yosh, mau kabur itu dia!🤣)
"Benarkah?"
"Ya benar, aku selalu mempersiapkan apa pun yang menurutku penting di dalam tasku," jawab Ana. Membayangkannya mengenakan lingerie tipis sukses membuatku semakin memanas.
"Ayolah Mas, aku akan terlihat jauh lebih seksi dengan pakaian tipis itu," ucap istriku manja.
"Aku tau hanya sedang mencoba menunda-nunda kegiatan ini An,"
"Apa kau benar tidak ingin melihatku jauh lebih seksi dari pada saat ini? Padahal aku sengaja membelinya beberapa waktu lalu hanya untuk terlihat indah di matamu," ucap Ana sambil mengecup bibirku.
Aku tidak tahan lagi mendengar rayuan mautnya. Akhirnya aku pun melepaskan buruanku itu, tak sabar ingin melihatnya jauh lebih menggoda.
(Aduh Yosh, baru digituin aja udah letoy🤣. kabur tau rasa ntr!!)
"Baiklah, cepat ganti bajumu sayang!" aku pun melepaskan kungkunganku pada tubuh mulus itu.
(Seharusnya bukan ganti baju, tapi pakai baju lagi wkwk😂)
"Iya tunggu sebentar ya. Aku akan segera kembali," ucap Ana sambil membelai dadaku dan punggungku dengan mesra. Dia benar-benar telah belajar banyak tanpa aku mengajarinya. Tubuh indah itupun masuk ke ruang shower.
Yosh, kan Author sudah bilang jangan percayaaa! jangan percayaa!! jangan nanges ya nanti kalau gagal lagi wkwk