
Pagi itu aku terbangun dengan Ana yang masih terlelap dalam dekapanku. Aku terus saja tersenyum teringat aksi konyolku semalam, bagaimana bisa aku menculik istriku sendiri dari Ibuku.
Terlihat dari wajahnya sepertinya ia sangat kelelahan hingga tidak sadar jika aku telah memindahkan tubuhnya, mata cantiknya itu masih tertutup rapat bahkan sesekali dia mendengkur pelan.
"Maafkan aku sayang," ucapku sambil mencium keningnya. Entah kenapa sangat sulit bagiku untuk menahan diri agar tidak menyentuhnya.
Padahal, aku tau Ana tengah hamil muda dan itu masih rawan untuk keguguran, rasanya aku ingin mengutuk diriku sendiri untuk tidak terlalu ganas dalam bermain, tetapi lagi-lagi instingku ini menginginkan tubuhnya lagi dan lagi.
"Baby, maafkan papa ya, jangan mengutuk ayahmu ini Nak, papa sangat menyayangimu." Ucapku sambil mencium perut Ana.
Kupandangi tubuh polos itu, betapa Ana yang malang. Hampir setiap centi kulit mulusnya dipenuhi dengan tanda kepemilikan dariku. Hingga berwarna merah keunguan. Jika nanti Mama melihat ini, tamatlah riwayatku.
Puas menatapnya, aku pun berniat untuk mengambil air hangat dan membasuh tubuh Ana, namun saat aku membuka pintu, langkahku terhenti dengan tiba-tiba.
"Bagus Yoshi ! Bagus sekali, sejak kapan kau pintar mencuri?" ternyata mama tengah berada di depan pintu dan berniat untuk masuk ke kamar. Dan apa katanya? Aku mencuri? mencuri istriku sendiri maksudnya? Dasar nenek tengik ini.
"Ma, jangan masuk! Ana masih tertidur pulas. " Ucapku sambil menarik tubuh mama dan menjauh dari kamarku.
"Lepaskan! Jangan dorong-dorong Mama Yoshi!" Ucap mama sambil menjewer telingaku.
"Akkh ampun Ma, ampunn!" pekikku menahan rasa sakit karena jeweran.
"Rasakan! Dasar anak nakal! Jam berapa kau membawa Ana semalam?" tanya Mama mengintimidasi.
"Ampun ma!"
"Ampun, kenapa mama sangat kasar ha?"
"Kau yang keterlaluan Yosh, tidak pernah mau mendengarkan apa kata mama Katakan jam berapa kau membawa kabur Ana semalam?"
"Jam sebelas ma, saat Mama sudah tidur." Lagi-lagi mama menjewerku.
"Jam sebelas? Lalu jam berapa Ana tidur Yoshi?"
"Jam tiga pagi, ma." Ucapku jujur.
"APA?! Jadi kau mengerjainya dari jam sebelas malam hingga jam tiga pagi?! Dasar nakal! Kau apakan menantu mama ha?" kini mama mulai menjambak rambutku.
"Aduh ampun ma! Ampun sakit!" teriakku. Aduh bagaimana ini, bisa-bisanya aku keceplosan.
"Kau ini benar-benar ya! Awas saja jika sampai cucu mama kenapa-kenapa."
"Ma, tidak bisakah mama sedikit dewasa, mana mungkin Yoshi tega membahayakan baby."
"Ngeles saja terus kamu Yoshi!" kini mama melepaskan jambakannya.
"Ya sudah, sana cepat ambil air hangat untuk Ana."
Akhirnya aku terlepas dari cengkraman penyihir kejam ini. Aku pun pergi ke dapur untuk mengambil air dan baskom. Tak lupa segelas jus untuk Ana.
***
Di kamar kulihat mama sedang duduk bersama Ana, ternyata istriku itu sudah terbangun dan telah berpakaian dengan rapi. Aku bisa membayangkan bagaimana wajah merah padam itu muncul lagi jika mama menangkap basahnya masih tertidur tanpa busana.
"Sayang, sudah mandi?" tanyaku pada Ana.
"Sudah mas," Jawabnya sambil tersenyum malu. Aku tau dia terpaksa memanggilku dengan sebutan 'mas' sekarang karena ulahku semalam.
"Yoshi, apa itu?" tanya mama sambil menunjuk segelas jus berwarna ungu.
"Ini kopi ma," jawabku.
"Bukankah itu jus?" tanyanya, sungguh mamaku ini bodoh atau apa, sudah tau jus masih saja bertanya.
"Sudah tau kenapa masih bertanya, Oma cantik?" jawabku, menggodanya.
"Dasar! "
"Sayang, minum jusmu." Kataku sambil menyodorkannya minuman itu.
"Makasih." Jawabnya, entah mengapa dia terlihat kaku sekali.
"Ana, tunggu. Jangan diminum dulu!" teriak mama sambil meraih jus itu.
"Yoshi, ini jus apa?" tanya mama kepadaku.
"Itu jus buah bit dan sayur kesukaan Ana, ma." Ucapku mencoba menjelaskan.
"Kau yakin, ini hanya jus?"
"Tentu saja Mama, astaga!" Entah mengapa sepertinya mama tidak mempercayaiku.
"Tidak ada bubuk hijau di dalamnya kan?" tanya Mama menatap mataku, pandangan yang begitu mencurigaiku.
"Tidak ma, bubuk hijau apa maksudnya?"
"Bubuk perangsang dari mama dulu, Yoshi!"
"Astaga Mama! Kami sudah membuangnya sejak lama, lagipula mana mungkin Yoshi tega menaruh bubuk ajaib itu di situ, Ana sedang hamil ma." Aku benar-benar tak habis pikir, bisa-bisanya ibuku ini mencurigaiku.
"Bisa saja, menculik Ana saja kau bisa. Apalagi jika hanya membuatnya terangsang!"
"Astaga ma! Yoshi tidak setega itu," aku mulai kesal pada mama, yang benar saja. Hanya karena satu kesalahan kini ia mulai menuduhku untuk kesalahan lain yang tidak kulakukan. Bagaimana pun aku tau batasanku.
"Oh iya sayang, minum ini. Kasian menantu mama ini, ckck" Ucap mama mengelus tanda-tanda keuanguan di sekitar lengan, tangan dan leher belakang Ana.
Sungguh tatapan mata mama padaku itu seperti tatapan seekor elang pada mangsanya. Seakan dia menuntut penjelasan dariku tentang cupangan-cupangan di sekujur tubuh Ana.
Untung saja Ana sedang bersama kami saat ini, jika tidak pasti mama sudah menjambak dan menjewer kupingku seperti tadi.
"An, apa perutmu baik-baik saja?" tanya Mama pada Ana.
"Iya ma, baik-baik saja." Jawab Ana.
"Ya sudah kalau begitu. Mama keluar dulu ya." Kata mama, akhirnya nenek ini keluar juga.
"Yosh, ingat pesan mama!"
"Iyaaa mama bawel." Dia pun keluar dari kamar kami sambil menjewer pelan telingaku lagi.
"Kau ini hot seperti papamu!" bisik mama sambil melirik ke arah kissmarks di sekujur tubuh Ana dan aku pun hanya tersenyum menahan malu.
Kini tinggal aku dan Ana di dalam kamar, tanpa makhluk pengganggu itu lagi.
"Sayang, apa kau lapar?" tanyaku pada Ana yang masih minimum jus itu.
"Tidak mas, hanya masih mengantuk saja." Jawabnya.
"An, apa ada yang sakit?" tanyaku.
"Tidak ada," lagi-lagi dia seperti sedang menghindar dariku.
"Sayang, kau kenapa?"
"Kenapa bagaimana maksudnya mas?" tanya Ana.
"Seperti sangat kaku."
"Aku hanya teringat kejadian semalam."ucapnya lirih.
"Mau lagi?" tanyaku menggodanya.
"Dasar Yoshi!" ucapnya sambil memelukku sebentar. Aku pun melingkarkan tanganku pada pinggangnya.
"Kau ini sebentar-sebentar panggil mas, sebentar-sebentar panggil Yoshi!"
"Aku malu setiap memanggilmu dengan sebutan itu, membuatku selalu teringat masa lalu, pasalnya Mas ikau yang dulu sangatlah pendiam sedangkan Mas Ikau yang sekarang sangat mesum dan agresif seperti ini." Ucapnya jujur. Tak kusangka Ana benar-benar memperhatikan perubahanku.
"Jadi kau suka mas Ikau yang mana sayang?" tanyaku.
"Humm yang sekarang!" Ucapnya sambil menutup wajahnya karena malu.
"Baiklah ayo kita ulangi lagi yang kemarin!" aku pun membawanya ke tempat tidur.
"Dasar mesum! pantas saja mama terus memarahimu." Ucap Ana.
"An, aku ingin bertanya."
"Hmm ya, tentang apa?" tanyanya.
"Apa kau benar tidak mengenaliku kemarin, apa kau benar-benar tidak tau jika aku itu ikau?" sungguh selama ini aku sangat penasaran.
"Ya, mas. Kau sangat berbeda bila dibandingkan dengan dirimu yang dulu." Ucapnya.
"Aku tambah ganteng ya sayang?"
"Iya," ucap Ana tersipu malu.
Tok
Tok
Tok
Seseorang mengetuk pintu dan akupun membukanya, yang pasti ini bukan mama karena mama tidak aman mengetuk melainkan langsung menerobos masuk. Aku harus waspada mulai sekarang.
"Tuan, ada tamu." Ucap Niluh, berdiri di sepan pintu.
"Siapa?" tanyaku.
"Beberapa orang tuan, tiga wanita dan satu pria mirip wanita." Ucap Niluh.
"Baiklah aku akan turun setelan ini. Suruh mereka tunggu ya."
"Mas, ada tamu?" tanya Ana.
"Ya sayang, mau turun juga?"
Kami pun turun ke ruang tamu. Dan ternyata genk Ana di kapal dulu yang datang.
"Haii kalian?? Benarkah ini kalian?" Ana berlari dan berhambur pada teman-temannya itu. Merekapun saling berpelukan.
Mataku terus menelisik, ada si banci Jen, si gadis Bali Dian dan ada si mata sipit Evelyn. Tetapi aku tidak melihat si setrip cacing Reza.
"Apa Reza tidak ikut??" tanyaku pada mereka.
"Ikuut!! " jawab mereka bersamaan.