My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Menjadi Istrimu ?



Entah mengapa situasi kafe yang ramai ini seolah terasa hening saat kami saling memandang satu sama lain, tak tau sampai kapan adegan ini berlangsung, aku benar-benar canggung, sesaat kemudian akhirnya Tuan muda ini buka suara.


"Apa kabar Ana?" tanyanya sebelum meminum cappuccino buatanku.


"Baik Pak, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyaku, sebenarnya aku cukup ragu menanyakan ini padanya tetapi rasa penasaran yang telah mendorongku.


"Apa kau tidak mengenaliku sama sekali? " tanyanya sambil tidak melepaskan pandangannya padaku.


"Apa maksud Bapak?" tanyaku, aku benar-benar tidak mengerti, bukankah ini kali pertama kami bertemu.


"Baiklah, apa kau masih sanggup membayar hutang orang tuamu?" katanya sambil mendekatkan wajahnya kepadaku. Aku sangat terkejut dengan ini, tentu saja kita pernah bertemu. Ya dia lah rentenir itu, seketika kupalingkan wajahku darinya.


"Jadi kau adalah lintah darat itu?" tanyaku, seketika kulihat Bu Lia memelototkan matanya padaku. Ini membuatku sangat takut, takut kalau beliau memecatku saat itu juga.


"Jaga bicaramu Ana!" kata Bu Lia, suaranya pelan tetapi nadanya terdengar sangat mengancam.


"Maaf Bu" kataku pada Bu Lia, seketika aku menundukkan kepalaku.


Sekilas aku menangkap senyuman tersungging di sudut bibir pria itu, untukku itu benar-benar memuakkan.


"Tuan tolong maafkan Ana, dia memang baru di kafe ini, sekali lagi kami meminta maaf untuk ketidaknyamanan yang telah Tuan terima." Kata Bu Lia sambil membungkukkan badannya yang membuatku memutar mata malas menyaksikan semua ini.


"Tak masalah, tahukah kau jika dia adalah calon istriku?" kata Yoshi sambil menatapku dari atas hingga bawah, benar-benar seperti tatapan mata keranjang.


Tentu saja pernyataan itu membuat Bu Lia tercengang tak percaya namun dengan sigap bodyguard si rentenir ini membawa Bu Lia pergi sebelum ia menanyakan lebih detail hal absurd itu.


Aku tak tahu apa yang bodyguard itu bicarakan dengan Bu Lia di ruangannya, yang jelas jangan tanyakan bagaimana ekspresiku mendengar dia menyebutku dengan kata 'calon iistriku' yang baru saja keluar dari mulutnya, kalimat itu membuatku melongo dan ingin sekali meninju wajahnya.


"Apa maksudmu?" tanyaku sambil bangkit dari tempat dudukku. Sejurus kemudian asisten pria ini menahanku agar tetap duduk. Aku mengenali orang ini, dia adalah David seseorang yang mendatangi rumahku dan memberi pinjaman pada Ibuku dulu.


"Tenangkan dirimu Ana, mari kita bicara secara profesional," katanya sambil tetap dengan posisi duduknya yang karismatik itu.


Dan apa katanya? profesional? bagaimana mungkin seorang lintah darat berbicara tentang profesionalisme, aku menghembuskan nafasku dengan kasar dan terpaksa terduduk kembali di kursiku.


"Sebenarnya apa maumu ha?" tanyaku, kupandang mata hitam itu lekat-lekat.


"Menikahimu" jawabnya singkat, lagi-lagi dia mendekatkan wajahnya kepadaku, aku bisa merasakan adanya aura dendam di kedua mata itu yang membuat bulu kuduku seketika meremang.


"Bicaralah dengan benar tuan, jika kau memang ingin agar aku segera melunasi hutangku maka berhentilah menggangguku!" kataku, aku mulai kehilangan kendali.


"Tenang Nona, jangan menutupi rasa letihmu itu, aku tau kau sangat lelah dengan semua ini, menikahlah denganku dan hutangmu akan kuanggap lunas." Katanya sambil meminum kopi yang mulai dingin itu.


Aku sungguh tak percaya, bagaimana mungkin pria ini bisa berkata seperti itu, dia cukup tampan dan kaya. Lalu untuk apa dia harus memilih gadis sepertiku yang sama sekali tidak sepadan dengannya.


Aku mulai bisa menebak, tentu saja aku akan menjadi istri kesekian untuknya, ya itu pasti bahkan statusku nanti bukanlah menjadi istri melainkan hanyalah seorang selir. Astaga Ini sangat menjijikan untukku.


"Aku pasti akan melunasi hutang kedua orang tuaku Tuan Yoshi, anda tak perlu repot-repot 'membeli diriku' sebagai pelunas hutang" kataku sambil mengepalkan tanganku.


"Tentu saja Aku akan membelimu, karena Ibumu lah yang telah menjualmu padaku." Jawabnya dengan suara yang lirih tetapi itu cukup menyayat hatiku.


Dengan sigap aku membuka map tersebut. Aku Ingat ini adalah surat perjanjian yang ditandatangani oleh Ibuku dulu.


Aku masih ingat halaman halaman yang berisi perjanjian konyol itu, satu persatu kubaca lembaran itu, isinya masih sama seperti dulu, tak ada satupun yang berubah tentu saja pihak kami yang paling dirugikan dari perjanjian ini.


***


Pria itu bangkit dari tempat duduknya dan menghampiriku, lalu berdiri di belakangku, kedua tangannya tepat berada di kanan kiri lenganku, apa yang ingin dia lakukan sebenarnya.


Posisi kepalanya persis di samping kiriku saat ini, aku bahkan bisa melirik wajahnya dari samping, sebenarnya tak ada satu cacatpun dari wajah ini, jika saja pertemuan kita tidak seperti ini mungkin aku akan tertarik padanya.


Tentu saja, wanita mana yang akan menolak pria tampan dan mapan sepertinya, sayangnya aku sudah terlalu muak padanya. Dia telah membuatku dan Ibuku menderita seperti ini.


Lintah Darat ini benar-benar sedang menghisap darahku dan darah Ibuku secara bersamaan dengan memberikan bunga pinjaman yang terus-menerus naik setiap bulannya.


"Baca lembaran terakhir ini," katanya, sambil menunjukkan halaman terakhir dari lembaran-lembaran kertas yang sekarang berpindah ke tangannya.


Aku sangat tidak nyaman dengan posisi ini, bahkan dadanya nyaris menempel sempurna di punggungku, aku bisa merasakan detak jantungnya. Ritmenya begitu kencang tetapi bagaimana bisa Dia tetap setenang ini.


Bahkan ekspresi wajahnya pun tidak berubah sama sekali tetap saja datar dan dingin. Suara itu menyapu telingaku dengan lembut, kutatap halaman terakhir yang ditunjukkannya padaku.


...Pihak pertama selaku pemberi pinjaman akan melakukan penyitaan Tanah dan Bangunan milik Pihak kedua selaku Penerima Pinjaman apabila gagal melunasi pinjaman dalam waktu yang telah ditentukan , Namun bila terjadi masalah dalam proses pelunasan maka Pihak Pertama berhak mengajukan persyaratan lain, sesuai kehendak Pihak Pertama....


Bukankah tidak ada yang berubah dalam surat perjanjian ini tetapi aku melihat ada surat pernyataan lain yang ditulis oleh Ibuku di balik lembaran ini


...Saya Larissa Aditama, Pihak Kedua selaku Penerima Pinjaman dengan ini menyatakan persetujuan untuk persyatatan apa pun yang di ajukan oleh Pihak Pertama bila terjadi masalah dalam proses pelunasan pinjaman yang Saya lakukan dengan penuh kesadaran, surat pernyataan ini Saya tulis dengan sebenar-benarnya tanpa paksaan dari Pihak manapun....


^^^Tertanda^^^


^^^Larissa Aditama^^^


^^^(Pihak Kedua)^^^


Tulisan ini membuatku berhenti bernafas dalam sekejap, bagaimana mungkin Ibu se-teledor ini, dan untuk apa halaman kosong di bawah surat pernyataan ini? mengapa terdapat materai dan tanda tangan Ibuku, padahal sama sekali tidak ada tulisan yang tertera.


"Dan halaman kosong ini...." Kataku terputus.


"Tentu saja aku akan menuliskan apa pun yang kumau dalam halaman kosong ini" jawab Pria bernama Yoshi itu sambil menatap wajahku dengan intens.


"Bagaimana bisa begini?" kataku terbata sambil masih terus menatap kertas itu.


Aku tak percaya, bagaimana ini bisa terjadi, betapa liciknya orang ini.


"Apa Kau memiliki ide untukku? kira-kira apa hal unik yang akan kutulis di sini? " katanya sambil tersenyum licik.


Aku ingin segera pergi dari tempat ini, berada di dekatnya membuat dadaku sesak meskipun harus kuakui aroma parfum di tubuhnya itu sangat memabukkanku.