
Dalam perjalanan pulang tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan mobil kami. David, asisten pribadi ayahku keluar dari mobil tersebut.
"Tuan muda, Anda tidak perlu pulang ke rumah sebab Tuan besar sudah berada di Bandara dan sekarang sedang menunggu kedatangan anda. " Kata David memberitahukan bahwa opa sedang menungguku di Bandara untuk segera terbang ke London.
"Baik, aku akan ikut bersamamu ke Bandara." Kataku kepada David. Sambil masuk ke dalam mobilnya.
Perasaanku sangat kacau saat ini. Aku membayangkan betapa opa sangat mengkhawatirkan keadaan ayahku. Sebenarnya aku lebih khawatir terhadap opa daripada kondisi Ayahku sendiri.
Mengingat usia opa yang sudah tidak muda lagi, pasti akan menjadi ancaman untuk kesehatannya apabila sesuatu yang buruk menimpa ayahku.
Aku terus berdo'a agar ayahku akan baik-baik saja, aku tak dapat membayangkan bagaimana nanti keadaan ibuku dan opa bila ayahku sampai tidak dapat diselamatkan .
Pikiranku mulai berkelana kemana-mana, membayangkan segala kemungkinan yang akan terjadi.
****
Tiga puluh menit berlalu. Sampailah aku di Bandara Juanda. Kulihat opa sudah menungguku di *g*ate khusus keberangkatan Internasional.
"Opaa!" Teriakku dari kejauhan. Kulihat opa sedang duduk termenung, raut wajahnya sungguh terlihat murung.
"*P*rince, kau sudah datang?" Jawab opa dengan suara lemah, sangat berbeda tidak seperti biasanya.
"Opa, janganlah murung seperti itu, lihatlah itu membuat kerutan di wajahmu semakin terlihat jelas." Jawabku untuk menggoda opa.
"*P*rince, apa kau juga memikirkan kondisi Papamu?" Tanya opa dengan serius.
"Tentu saja opa, bahkan aku sangat merindukan Papa saat ini." Jawabku sambil memeluk opa. Aku tak dapat menyembunyikan kesedihan dan kekhawatiran ini.
Opa sama sekali tidak menjawab perkataanku, sepertinya ada luka yang sangat mendalam di dalam hatinya saat ini, hingga membuatnya tak dapat berkata apa-apa .
Sambil menunggu boarding, kulihat seorang gadis yang sangat kukenal, bukankah itu Devi teman baiknya Ana. Sedang apa dia di sini dan akhirnya aku menghampirinya.
"Devi ya?" tanyaku kepadanya, dia cukup terkejut melihatku.
"Loh Mas Ricko ada di sini?" Jawabnya dengan ekspresi heran.
"Dev, dengarkan aku. Waktuku tak banyak sekarang aku harus segera boarding." Kataku kepadanya, sambil kulihat jam tangan yang menyatakan lima menit lagi aku harus segera boarding.
"Iya kenapa mas?" Tanya Devi dengan semakin heran.
"Bisakah aku meminta nomor telepon atau nomor whatsapp Ana?" Tanyaku berpacu dengan waktu.
"Oh ada Mas, sebentar aku catatkan, aku hafal kok nomor Ana berapa," katanya sambil menulis nomor pada selembar kertas.
Sejenak ekspresi Devi saat menulis terlihat meragukan seperti tidak yakin. Aku khawatir jika nomor yang ia tuliskan itu salah.
Kemudian dia memberikan secarik kertas itu kepadaku.
"Dev, apa kau yakin ini benar nomor telepon Ana?" tanyaku memastikan. Dan dia mengangguk dengan yakin.
Tak lupa kutitipkan selembar fotoku dengan Ana yang sudah kucetak kemarin.
"Dev, maaf satu lagi ya, aku titip ini buat Ana, tolong berikan ini padanya." Ucapku pada Devi sambil menyerahkan foto itu.
"Oke Mas, tapi aku juga mau terbang ke Bekasi sekarang, nanti aku kirim foto ini via pos ke alamat Ana." Jawab Devi yang ternyata dia juga sedang bersiap untuk meninggalkan kota ini.
Sebenarnya aku sangat ingin bertanya tentang Ana kepadanya tetapi waktunya sedang tidak tepat. Yang penting nomor kontak Ana sudah berada di tanganku saat ini. Sesampainya di London aku akan segera menghubunginya.
***
Aku dan opa bersiap untuk boarding sekarang, sejurus kemudian kami sudah berada di dalam pesawat, bersiap untuk take off.
Aku melihat ke arah jendela di kabinku, dalam hatiku berkata entah kapan aku akan bisa kembali ke kota ini lagi.
Kota di mana pujaan hatiku berada, yang bahkan belum sempat mengetahui perasaanku kepadanya. Aku sangat terluka sebenarnya mengingat betapa nasib belum merestui hubungan kami.
Hubungan kami? Yang benar saja, hubungan apa yang kumaksud, bahkan aku tak tau bagaimana perasaannya kepadaku. Jika memang dia juga menyukaiku sudah pasti dia datang untuk menemuiku hari ini.
Namun apa kenyataannya sekarang. Dia sama sekali tidak memiliki perasaan yang sama terhadapku.
"*P*rince, tenangkan dirimu," ucap opa sambil menepuk pundakku. Pasti opa sedang berfikir bahwa aku sangat mengkhawatirkan papa sekarang, namun kebenarannya adalah aku memang sedang memikirkan papa sekaligus Ana.
Aku tak menjawab perkataan opa aku hanya sibuk dengan pikiranku sendiri saat ini.
"*P*rince, opa tau Kau sedang memikirkan gadis itu. Dengarkan Opa, mulai saat ini Kau harus berusaha menata dirimu, menata karirmu, belajarlah dengan rajin. Pantaskanlah dirimu untuk bersanding dengannya, jika saatnya tiba nanti, dan jika kalian berjodoh pasti takdir akan menyatukanmu dengannya." Kata Opa sambil menatap mataku.
Tak kusangka opa benar-benar mengetahui isi hatiku, dan semua yang dikatakan opa tak satu pun yang salah, semuanya benar.
Baiklah Ana, mulai saat ini aku akan bersungguh-sungguh untuk menata masa depanku, aku akan berjuang agar aku pantas bersanding denganmu.
Terlepas dari bagaimana perasaanmu kepadaku, aku tak peduli lagi, bukankah cinta itu memang harus dikejar ,jika memang dia terus berlari, maka aku juga akan berlari, jika dia terus bersembunyi maka aku akan tetap mencarinya.
Bukankah hanya orang bodoh saja yang menyerah sebelum berjuang. Aku tak ingin menjadi orang yang bodoh.
Sejenak kemudian pikiranku tertuju pada keadaan ayahku lagi. Aku sangat mengkhawatirkan papa. Sementara Opa sedang memejamkan matanya sambil merebahkan kepalanya entah ia sedang tertidur atau sedang memikirkan sesuatu.
Sesekali pilot memberikan announcement untuk tetap stay di tempat duduk saat pesawat mengalami sedikit guncangan.
Aku merasa perjalanan ini sangat melelahkan. Bagaimana tidak, kami akan menempuh perjalan selama 16 jam, 55 menit. Tanpa transit ke bandara manapun.
Ini cukup bagus, dengan tiket direct seperti ini kami akan segera tiba di London dengan cepat.
Beberapa kali pramugari menyiapkan lunch untuk semua penumpang, terkadang juga menawarkan coffee or tea untukku.
Aku sama sekali tidak bernafsu untuk makan ataupun minum. Begitu juga dengan Opa yang sejak tadi hanya mendiamkan makanannya saja.
Akhirnya aku mencoba untuk memaksanya agar mau menyantap makanannya.
"Hey, Pria tua, cepatlah makan makananmu, jika kau sakit kau akan sangat merepotkan cucumu yang tampan ini." Kataku sambil menyodorkan makanan kepadanya.
Opa tetap saja tak menanggapiku, benar-benar seperti bukan opa yang kukenal, akhirnya aku mencoba untuk kembali menggodanya.
"Ehmm Tuan Darmawan Luby, baiklah jika kau tak mau makan ,maka aku juga tidak akan makan, biarlah kita mati bersama karena kelaparan." Kataku dengan serius dan kemudian Opa mulai tersenyum.
"Opa tidak akan sudi untuk mati bersamamu Cucu tengik." Kata Opa, sambil membuka penutup makanannya. Aku sangat senang akhirnya opa mau mengisi perutnya .
Akhirnya kami makan bersama.