
Pagi itu aku terbangun setelah mendengar suara ribut mama dan Yoshi di luar pintu. Kugerakkan tubuhku pelan untuk pergi ke kamar mandi. Astaga, aku terkejut saat melihat pola-pola abstrak keunguan di sekujur tubuhku di cermin.
Yoshi benar-benar keterlaluan, sudah menculikku dari kamar mama, mengerjaiku dari jam sebelas malam hingga dini hari. Kini aku harus memikirkan bagaimana cara menutupi cupangan-cupangan ini dari orang-orang.
Belum lagi rasa nyeri di area sensitive dan pingganku, untung saja perutku tidak mengalami kram lagi, aku pun membasuh seluruh tubuhku yang ternoda ini dengan pelan.
Setelah selesai, aku mengambil pakaian yang kurasa dapat menutupi noda-noda ciptaan suami mesumku itu. Kaos dan sweater tipis menjadi pilihanku.
Kulihat mama tengah duduk di sofa kamar kami. Dan beliau pun melihat ke arahku.
"Sayang, sudah mandi?" tanya Mama menghampiriku.
"Iya ma, mama kok sudah bangun?"
"Mama terbangun dan melihatmu telah hilang dicuri orang." Ucapnya sambil tertawa.
"Hehe, maafkan Ana ma." Ucapku.
"Mama tau Yoshi lah yang memaksamu untuk menurutinya bukan?"
"Tidak Ma, Ana juga ingin tidur bersama Yoshi semalam." Jawabku berbohong, aku tak ingin terus-terusan melihat ibu dan anak ini ribut dan membuat kepalaku pusing.
"Jangan bohong sayang, oh iya kenapa memakai sweater? Apakah kau kedinginan An?" tanya mama memperhatikanku.
"Mm tidak ma, hanya ingin saja."
"Benarkah? Coba mama mau lihat?" ucap mama sambil menarik sweaterku. Ya ampun, aku menutup mataku menahan rasa khawatir jika mama akan melihat tanda-tanda biru di balik sweater ini.
"Hmm, dasar anak nakal itu ! Apa ini sayang ?" benar saja, mama bisa mendeteksi kebohonganku. Akhirnya aku pun melepaskan sweater itu. Percuma saja memakainya, mama sudah mengetahuinya.
"Ma, Ana tidak apa-apa, jangan memarahi Yoshi lagi, Ana sangat pusing melihatnya." Ucapku jujur
"Oh sayang, maafkan mama ya. Sekarang jujurlah apa baby baik-baik saja? Apa terasa kram? Yoshi benar-benar keterlaluan An." Ucap mama.
"Tidak perlu khawatir ma."
Beberapa menit kemudian Yoshi pun datang dengan membawa air hangat dan jus di tangannya. Lagi-lagi Ibu dan anak ini bertengakar sebelum akhirnya aku meminum jus ungu itu dan mama pergi keluar kamar.
"Sayang, apa kau lapar?" tanya Yoshi.
"Tidak mas," jawabku singkat. Aku sangat canggung dengan panggilan ini. Dalam ingatanku dulu Mas Ikauku ini sangatlah pendiam dan sopan, tetapi lihatlah sekarang, entah apa yang menimpanya selama beberapa tahun terakhir hingga dia berubah menjadi sosok yang agresif, mesum dan pemaksa seperti ini, tapi jujur saja aku lebih menyukai dirinya yang sekarang. Hehe.
Cukup lama kami mengobrol hingga akhirnya Niluh memberitahukan jika ada tamu menunggu di bawah. Aku dan Yoshi pun segera turun ke ruang tamu.
"Hai kalian?? Benarkah ini kalian?" ucapku, melihat teman-temanku datang.
Ada Jenny, Dian dan Eve. Rasanya ini seperti sedang berada di kapal melihat teman-teman ABK ku berada di rumahku.
"Cyin yey tambah seksi aja.!" Ini suara Jenny.
"Iya tuh An, udah naik berapa kilo, bohay gitu sekarang ?" tanya Eve sambil memelukku.
"Gue juga mau peluk bumil dong!" Dian berlari dan memelukku juga.
Hanya Jenny yang tertinggal, dia juga hendak memelukku tetapi Yoshi memelototinya.
"Apa Reza juga ikut?" tanya Yoshi.
"Ikut!!" jawab mereka bersamaan.
"Di mana?"
"Masih di jalan,Chief." Ucap Evelyn. Masih terbawa suasana kapal dengan memanggil Yoshi chief.
Tak lama kemudian Reza datang dengan membawa boneka panda yang sangat besar.
"Selamat pagi!" Ucapnya.
"Selamat pagi Reza," ucap kami bersamaan. Dia pun menghampiri Yoshi dan memberi salam.
"Halo chief. Apa kabar?" tanya Reza.
"Baik, saya kira anda tidak datang Pak Reza." Ucap Yoshi, ketus tetapi tersenyum.
"Tentu saya datang untuk memberikan ucapan selamat untuk anda dan Ana."
"Reza, duduk yuk." Kataku.
"Makasih An, ini buat Lu." Kata Reza sambil menyodorkan boneka itu lalu bergabung bersama kami.
"Wah bagus banget bonekanya." Ucapku sambil memeluk boneka itu.
"Emangnya tau entar anak kami perempuan? Gimana kalo laki-laki, apa mau dikasih boneka?" ucap Yoshi, aku pun segera memelototinya. Sungguh tidak sopan.
"Oh, tenang pak Yoshi, saya juga membawakan mobil-mobilan. Barangkali bapak juga ingin bermain." Kata Reza terkekeh dan membuat Yoshi semakin kesal.
Di tengah-tengah perbincangan kami tiba-tiba David datang dan menghampiri Yoshi.
"Selamat pagi tuan," ucapnya.
"Pagi David, tumben sekali pagi-pagi sudah datang?" balas Yoshi, aku masih bisa merasakan raut kekesalan pada wajahnya. David mengarahkan pandangannya pada kami semua.
"Eh ada Dianna montok di sini." Ucap David secara tiba-tiba dan kami pun sangat shock. Tak terkecuali Yoshi, mulutnya bahkan menganga mendengar David asistennya yang polos dan lugu bisa berkata seperti itu pada Dian.
"Eh robot! di sini juga lu?" balas Dian, dan kamipun seketika melihat ke arah Dian.
"David kamu kenal Dian?" tanya Yoshi dan seketika David kembali seperti semula, lurus, tegap dan monoton.
Padahal aku masih penasaran dengan David dan Dian. Tetapi informasi penting itu membuatku lebih penasaran. Yoshi langsung berganti pakaian lalu berpamitan padaku.
"Sayang aku ke kantor dulu ya, jangan nakal." Ucapnya sambil melirik Reza.
"Hati-hati mas," jawabku dan melihatnya pergi bersama David.
***
"Eh An, gimana nih udah berapa bulan debay di perut?" tanya Reza.
"Empat bulan Za," jawabku.
"Duh gak sabar mau ketemu ponakan gue." Sahut Evelyn sambil mengelus perutku.
"Iya nih cyinn, little Jenny pasti kiyut banget. Iya kan Eza seyeengg?" kata Jenny sambil bergelayut manja pada Reza.
"Dih ogah itu bayi dipanggil little Jenny!" celetuk Dian.
"Wah si Dian ada main sama asisten Chief nih, ahayy." Ucap Eve sambil menaikkan alisnya.
"Apa? Gue? sama robot antik itu? yang bener aja woy!" Balas Dian.
"Ngaku aja Di, lumayan itu si David boleh juga buat koleksi lu, sekali-kali pake produk lokal dong jangan yang import mulu!" Ledek Reza sambil menjulurkan lidahnya.
"Dih bibir lu gue jambak ntar Za!" balas Dian sambil melempar asbak ke wajahnya.
"Dih gak pake asbak juga kali lemparnya, ngeri nih kena muka bisa ilang wajah bule gue!" Reza menampik asbak itu.
"Dasar sad boy!"
"Santai dong Di, jangan mengungkit luka lama. Haha, dia memang sad boy tapi jangan diingetin dong ah!" ini suara Evelyn di sampingku.
"Dian, kamu memang kenal sama David?"tanyaku.
"Emm iya An, dulu banget pas gue masih abg ketemu David di dekat rumah, waktu itu dia lagi nyari gelang Bali gak tau buat siapa. Eh pas di kapal ketemu lagi deh sama itu robot. Gak nyangka juga sih dia masih inget sama gue." Ucap Dian
Seketika aku ingat dengan gelangku dari Yoshi mungkin saja saat itu Yoshi yang meminta David untuk ke Bali demi membelikan gelang itu untukku. Jika itu benar, sungguh dunia ini memang sempit.
"Wah jodoh itu cyinn!" ucap Jenny.
"Ogah! gue gak suka sama orang kaku kek robot gitu. Gak akan jalan tanpa perintah bosnya. Jangan-jangan ada batre atau colokan cas itu di punggungnya." Ucap Dian kesal.
"Ogah ogah! entar bucin aja!" ucap Reza, meledek Dian lagi.
"Si sad boy ini meresahkan ya lama-lama hey!" kata Dian.
"Za, kenapa sih kamu dibilang sad boy dari kemarin. Emang kamu lagi patah hati?" tanyaku.
"Haha, bukan patah lagi hatinya Reza An, tapi juga hancur berkeping-keping!" ledek Dian tertawa.
"Diem lu montoknya David!" Jawab Reza.
"Za, emang kenapa sih?" aku masih saja penasaran.
"Nggak apa An, jangan dengerin Dian,"
"Gue bilang Ana ah!" lagi-lagi Dian mengejeknya.
"Di... Udah deh, gue telponin robot lu entar!" Kini Reza juga mengancam Dianna.
Kami terus saja berbincang, tanpa ingat waktu. Sesekali kutatap layar ponselku, mungkin saja ada pesan dari Yoshi.
Eh ini ada visual teman-temannya Ana yang rempong ya teman-teman 😍
Terimakasih dukungannya 😍😘
Evelyn Taw atau Eve
Ida Ayu Dianna atau Dian
Roosevelt Van Den Berg atau Reza Pahlevi
Taulah ini siapa. Hehe
i]
Dasar Yoshi encumm
Mampir juga dong ke karya temanku yang keren ini kak. Menjadi Janda Gara-Gara Janda karya Kak Tha_chika. 🙏😍😍
Sama satu lagi nih keren juga, karya kak Ara Nas, Judul Pilihan Hati Kiara 😍