My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Hampir Saja



Lagi-lagi suara itu kembali hadir, bahkan kali ini terasa begitu dekat. Aku sempat berfikir mungkinkah Yoshi adalah penghuni kamar penthouse ini. Tetapi jelas-jelas tertulis bahwa nama tamu itu adalah Kennedy David.


Sepertinya pertemuan yang terlalu tiba-tiba tadi telah membuatku terlalu berhalusinasi hingga hatiku merasakan kehadirannya di ruangan ini.


Aku tak memperdulikan suara itu, sebab sedari tadi memang tak ada satu orang pun yang terlihat di sini. Aku tetap fokus menata meja makan, meletakkan satu persatu hidangan untuk disajikan sesuai dengan susunan table manner.


Astaga perutku mulai menunjukkan aksi demonya, sebab ini sudah lewat dari waktu makan siang. Setelah semuanya telah beres dan siap, kuputuskan untuk bersiap keluar dari kamar tersebut.


"Sudah tertangkap tetapi masih berniat untuk kabur juga?" terdengar suara itu lagi dan sepertinya semakin mendekat.


Deg...


Jantungku kembali menunjukkan ketidak efektifannya dalam bekerja. Aku pun sadar bahwa ini bukanlah halusinasi, aku yakin ini Yoshi. Aku yakin suara dari balkon itu adalah suaranya. Ya, dia ada di sini, di kamar ini.


Terasa ada tangan kokoh yang meraih tanganku. Kupejamkan mata, sudah bisa dipastikan tangan siapakah ini. Ini bukan pertama kalinya adegan seperti ini terjadi.


"Apa sudah cukup acara lari-larianmu itu? Atau kau masih ingin melanjutkannya lagi?" tanya Yoshi kepadaku sambil memegang tanganku dengan sangat kuat.


Perkataan itu terasa lembut kudengar tetapi cengkraman tangan itu sangatlah sakit. Hingga membuat pergelangan tanganku mulai membiru.


"Mengapa diam saja, ha? Apa kaki jenjangmu yang mulus ini masih sanggup untuk membawamu kabur dariku?" kata Yoshi sambil melirik ke bawah ke arah kakiku yang berbalut seragam berupa rok bahan berwarna hitam di atas lutut.


"Lepaskan aku! Ini sakit!" kataku mencoba melepaskan genggaman tangannya. Jika saja ini bukan tempat kerjaku, pasti sudah kupukul kepalanya dengan tray berbahan besi putih yang masih dalam genggamanku ini.


"Ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit yang telah kurasakan selama ini!" kata Yoshi masih tetap tidak melepaskan genggamannya.


"Apa maksudmu?" tanyaku, aku tak mengerti mengapa dia berkata seperti itu.


"Sudah diamlah dan jangan memberontak, atau aku akan memakanmu sekarang juga." Kata Yoshi sambil membawaku ke arah meja makan.


Jujur saja aku sangat lelah hari ini, ditambah dengan perutku yang semakin keroncongan minta diisi.


"Duduklah dan pakai napkin mu." Kata Yoshi sambil mendudukanku di kursi dan memakaikan napkin di leherku.


"Tunggu, apa maksudmu? Apa kau akan memintaku untuk makan?" tanyaku padanya, tingkahnya sangat tidak masuk akal seperti biasanya.


"Tentu saja, memangnya apa lagi? atau kau yang ingin menjadi makan siangku hari ini?" Jawabnya sambil tersenyum mengggoda.


"Jangan mengada-ada, kau memintaku untuk makan di kamar tamu seperti ini, apa kau sudah gila?" dengusku kesal, yang benar saja. Jika atasan menangkapku, tamatlah riwayatku.


"Sudah, jangan banyak bicara. Turuti saja perintahku, duduk dan makanlah dengan tenang. Apa susahnya ha?" katanya dengan begitu mendominasi.


"Tidak, aku tidak mau !" Kataku sambil melepas napkin yang terpasang di leherku.


"An, jangan keras kepala! atau ___" katanya dengan nada tinggi.


"Atau apa? Atau apa ha?" jawabku tak mau kalah darinya.


"Atau aku akan melaporkanmu, jika kau sudah menggoda tamu VVIP seperti diriku." Jawabnya sambil mengedipkan sebelah matanya.


Benar-benar tidak bisa dibiarkan, tapi jika sampai itu terjadi, maka tamatlah riwayatku lagi. Aku akan terkena pasal sexual harassment .


Ya ampun, lama tidak bertemu kenapa dia semakin menyebalkan saja. Akhirnya kuturuti saja kemauannya, lagi pula kondisi perutku juga sudah sangat mengkhawatirkan.


"Ya baiklah, jangan mengancamku lagi." Kataku kesal. Aku pun kembali memakai napkin yang sudah kulepaskan tadi.


"Bagus, anak pintar!" katanya sambil tersenyum manis kepadaku. Astaga itu sangat tampan. Aku mencoba menggeleng-gelengkan kepalaku agar tetap sadar.


"Apa yang ingin kau makan?" tanyanya sambil menatap ke arah makanan yang berhasil kususun rapi.


"Apa saja." Jawabku asal.


"Mau kuambilkan?" Katanya lagi. Hah sejak kapan dia jadi sok perhatian seperti ini, batinku.


"Tidak usah, aku bisa sendiri," kataku sambil meraih nasi goreng seafood di depanku.


"Makan sendiri atau _______?" katanya terputus. Astaga kenapa Yoshi berisik sekali, tidak bisakah aku makan dengan tenang.


Aku pun memakan nasi goreng berukuran jumbo itu, ada beberapa seafood di dalamnya, sangat lezat. Aku memakannya dengan lahap, persetan dengan mata Yoshi yang terus menatapku itu, tak ada rasa malu yang ada hanyalah rasa lapar yang mulai terobati.


"Sudah, aku sudah kenyang! Berhenti melihatku seperti itu! " kataku sambil sebelum meminum segelas air mineral.


"Lihatlah dirimu, begitu menyedihkan. Kau pasti sangat tersiksa selama bekerja di sini, bahkan untuk makan saja kau tak punya waktu." Kata Yoshi sambil mencicipi sesendok es krim vanilla yang telah dipesannya.


"Apa maksudmu, kau yang sudah mengacaukan waktu istirahatku hari ini, bisa-bisanya memesan makanan di saat jam makan siangku." Jawabku tegas, jelas-jelas dia yang selama ini membuatku menderita.


"Bukan aku yang melakukannya, tetapi David." Jawabnya masih dengan es krim di mulutnya.


"David ?" tanyaku dengan heran.


"Ya, Kennedy David asisten kepercayaanku." Katanya dengan senyum mengembang di bibirnya.


Astaga, kenapa aku sebodoh ini. Jadi dia menempati kamar ini dengan menggunakan nama David. Ah menyebalkan sekali, jika saja aku menyadarinya dari awal.


"Kau lihat Ana, apa yang tak bisa dilakukan oleh seorang Yoshi? Masih ingin melawan?" tanyanya sambil berpindah tempat duduk di samping tempat dudukku.


"Jadi mari kita menikah, karena percuma saja takdirmu sudah ditentukan untuk menjadi milikku." Kata Yoshi sambil mengelus pipiku lembut.


Tanpa aba-aba atau peringatan, kemudian tangannya beralih ke daguku dengan pelan, wajah itu semakin mendekat ke wajahku.


Aku ingin sekali berontak tetapi mata hitamnya seperti membiusku untuk tetap tenang.


Jarak wajahku dan wajahnya semakin intim, sementara tangannya menahan kedua lenganku yang membuatku merasa terkunci dan tak dapat melakukan perlawanan.


Ritme jantungku semakin tak beraturan saat bibir merah itu mendekat ke bibirku. Ya Tuhan akankan ini terjadi, aku berusaha untuk tersadar namun lagi-lagi hembusan nafas beraroma mint itu kembali membuatku terhanyut hingga sulit untuk bernafas.


Bibir merah itu nyaris menyapu bibirku sebelum akhirnya suara ponsel membuyarkan adegan memalukan itu.


"Tililit.."


"Tililit..."


Aku segera tersadar dan menepis kedua tangannya dari lenganku. Yoshi menerima tepisan tanganku tersebut dan melepasnya dengan geram, sekilas dia memejamkan mata seperti menahan kekesalan, tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Dia beranjak dari tempat duduknya dan melihat layar ponsel, dengan raut wajah yang mulai tidak menampakkan kekesalan, dia pun mengangkat telepon yang sejak tadi berdering.


"Halo Mama, apa kabar? " kata Yoshi dengan senyuman lebar menunjukkan suasana hatinya yang sangat gembira dengan adanya panggilan tersebut.


"Yoshi baik Ma, sedang berada di kapal untuk survey lapangan. " Kata Yoshi lagi, entah apa yang mereka bicarakan terapi sepertinya itu adalah panggilan dari ibunya mengingat dia menyebutnya dengan sebutan Mama.


"Ya, dia ada di sini Ma, Yoshi sedang bersama calon mantu Mama. Tenang saja sebentar lagi Mama akan mendapatkan cucu yang lucu seperti yang Mama mau." Jawabnya lagi sambil tersenyum ke arahku, membuatku berpikir.


Apa katanya? Calon mantu? Cucu yang lucu? . Sepertinya dia sedang berbicara yang tidak-tidak pada Ibunya itu, membuatku semakin tidak tenang saja.


Dia terus saja berbicara banyak hal pada Ibunya, tentang pertunangan, tentang persiapan pernikahan. Apa sebenarnya maksudnya berbicara seperti itu di hadapanku. Sengaja mengerjaiku atau bagaimana.


Hingga pembicaraan mereka sampai di titik dimana Yoshi menawarkan Ibunya untuk berbicara kepadaku. Ini semakin konyol saja.


Tanpa pikir panjang, segera kuraih Tray ku dan membawanya pergi dari tempat ini.


"Ma, apa Mama ingin mengobrol dengannya? Ya, tentu saja mau, mana mungkin seorang menantu tidak ingin berbicara dengan ibu mertuanya sendiri." Kata Yoshi masih tidak sadar jika aku sudah di ambang pintu untuk keluar.


"Tunggu ya Ma, akan Yoshi sambungkan" Kata Yoshi sambil berjalan ke arah meja makan padahal aku sudah melarikan diri hingga ke luar pintu.


"Sayaang, Mama ingin _____" kata Yoshi dari dalam kamar.


Aku bisa mendengar samar-samar suaranya dari luar pintu.


"Apa katanya? Sayang? Sayang kepalamu itu. Silahkan lanjutkan saja permainanmu di depan Ibumu itu Tuan Yoshi." Gumamku sambil berlari secepat kilat.


Aku bernafas lega, akhirnya sampai juga diriku di kru area, setidaknya ini cukup melegakan untuk sementara, meskipun hari-hariku akan terasa berat setelah ini, mengingat Yoshi akan terus menggangguku.