My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Yoshi POV - Aku memesanmu



Setelah cukup lama bercengkrama dengan mama di Kota kelahiranku itu. Aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia, sebenarnya aku masih ingin merawat mama dan opa.


Namun urusan bisnis di tanah air mulai meresahkanku, dan juga aku harus menghadiri acara wisudaku seorang diri.


Entah mengapa aku mulai memikirkan Ana, bukankah ini juga akan menjadi tahun terakhir untuknya dalam mengenyam pendidikan di Universitas Pariwisata dan Perhotelan itu.


Satu tahun berlalu sejak pertemuan terakhirku dengannya di Kafe itu membuatku sedikit merindukannya.


Aku mencoba menghubungi David, untuk sekedar menanyakan bagaimana keadaan Ana di Jogjakarta.


"David, bagaimana keadaan Ana? Apa Dia berulah? " tanyaku pada David yang sepertinya sedang berada di keramaian.


"Ma-maaf Tuan, Saya tidak dapat mendengar suara Tuan, " jawabnya dengan nada terputus-putus.


"David, apa kau mendengarku?" Aku mencoba memanggil-manggil namanya tetapi tidak ada jawaban.


"Halo David,.. David.. " Aku tetap berusaha menjangkaunya , entah apa yang dilakukannya di tempat ramai seperti itu.


Sebuah notif pesan masuk


"T**uan, Saya sedang berada di Pasar. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, ada yang bisa Saya lakukan untuk Tuan?"


Berikut isi pesan Whatsapp dari David.


Entah apa yang sedang dia lakukan di Pasar. Karena tidak mungkin untuk meneleponnya lagi, akhirnya aku membalas pesan darinya.


"Aku butuh Ana sekarang," ketikku tanpa sadar.


"Baik Tuan, setelah ini saya akan langsung membawa Nona Ana ke tempat Tuan." balas David secepat kilat.


Aku membaca pesan balasan dari David , kubaca berulang kali, tapi mengapa David ingin membawa Ana ke mari.


Kulihat lagi pesan terakhirku untuknya yang baru saja terkirim beberapa menit yang lalu . Tidak, mengapa aku mengetik seperti itu


"Aku membutuhkan Ana?" bisa-bisanya aku berkata demikian pada David.


Tanpa waktu lama segera kuhapus pesan tersebut, terapi percuma mengapa aku harus menghapusnya bukankah pesan itu sudah terbaca oleh David.


"David, jangan membawa Ana kepadaku. Aku hanya ingin mengetahui keadaannya saja "


Seperti itulan isi pesan yang kukirim untuk David.


"*T*uan, jika memang begitu mengapa Tuan tidak menelepon Nona Ana sendiri saja ." Balas David, aku membuang nafasku kasar saat membaca balasan David.


Berani-beraninya dia memerintahku seperti itu, ini tidak bisa dibiarkan.


"A**pa maksudmu ha? Apa kau sudah berani melawan perintahku? " kataku kasar, yang benar saja, Haruskah aku menelepon Ana? atau melakukan panggilan video call.


"Ma-maaf Tuan, saya hanya mengusulkan saja. Baiklah saya akan menelepon Nona Ana sekarang juga untuk mengetahui keadaanya" balas David.


Astaga apa-apaan ini, tinggal datang ke tempat Ana dan lakukan pengintaian seperti biasa, apa susahnya untuk David, mengapa harus berbelit-belit seperti itu.


"J**angan menelepon Ana tanpa izin dariku, " aku membalas pesan David secepat mungkin.


Tanpa menunggu balasa darinya aku langsung mendial nomor Ana.


.


Melakukan panggilan video


.


Tersambung


.


Tut..


.


Tut


.


" Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan"


Terdengar suara operator, sepertinya Ana tidak ingin menjawab telepon dariku.


Akhirnya Aku menulis pesan untuknya.


"Angkat teleponku sekarang juga" pesanku untuknya


Beberapa menit berselang


Pesan tersebut pun terkirim dan dibaca olehnya tetapi tak kunjung ada balasan.


" Jika tidak ingin suku bunga pinjamanmu naik lg dua kali lipat, cepat balas pesanku " Aku mengirim pesan lagi untuknya dengan nada mengancam .


Sebuah panggilan masuk dengan nama Ana, Ini kali pertama Dia meneleponku. Sungguh hatiku kecilku merasa bahagia. Tetapi hanya sedikit


" Apa Kau tidak bisa bicara dengan sopan sedikit saja pada calon suamimu ini? " jawabku sedikit menggodanya.


" Cepat katakan ada apa? Aku sedang sibuk " jawab Ana dengan nada ketus, ini sangat lucu tanpa melihat wajahnya secara langsung Aku sudah tau bagaimana saat ini ekspresi kesalnya.


" Memangnya Kau sedang apa? " tanyaku. Entah mengapa tiba-tiba pertanyaan itu muncul dengan sendirinya.


"Tentu saja Aku sedang bekerja untuk melunasi hutangku padamu. Sudah ya Aku sedang sibuk jangan meneleponku lagi " jawab Ana dan panggilan pun terputus.


Ini bukan kali pertama Aku melepon dirinya, namun sepertinya Ana sedang berada di tempat yang tidak biasanya.


Aku bisa mendengar suara telepon berdering di sekitar Ana, seperti di area Resepsionis sebuah Hotel


Sial, jika saja Ana mau menerima video call dariku pasti saat ini Aku sudah tau dimana keberadaannya.


Segera Aku menelepon David


"David, aku tidak peduli dengan urusanmu di pasar itu,cepat lakukan pengintaian terhadap Ana. Ini perintah," kataku bernada sarkas.


"Baik Tuan, saya sudah pulang dari pasar. Setelah ini saya akan langsung mengawasi Nona lagi," jawab David patuh, entah mengapa akhir-akhir ini dia suka sekali pergi ke pasar.


***


Tak kurang dari satu jam, David meneleponku lagi.


"Tuan, nona sedang menjalani On the Job Training di Hotel Y. A Luby Hotels and Resort Jogjakarta," lapor David, tapi tunggu bukankah itu salah satu nama hotelku.


"Bukankah itu Hotel yang sudah kubeli waktu itu?" tanyaku pada David


"Tepat sekali Tuan, ada yang perlu saya lakukan lagi?" tanya David.


"Pesankan tiket ke Jogja untukku, sekarang." jawabku. Aku akan pergi ke Hotel itu hari ini juga. Lagi pula sudah lama Aku tidak memeriksa perkembangan Bisnisku di Jogja.


****


Tiba di Bandara Adisucipto pukul 16.00 .


Jarak Hotel dari Bandara tidak terlalu jauh, hanya sepuluh menit perjalanan.


Aku memasukki Lobby, Seorang Doorman berwajah friendly menyapaku.


"Selamat sore Pak Yoshi selamat datang." Sapa Doorman yang masih berusia remaja tersebut.


Kuanggukan kepalaku menanggapi greeting darinya. Aku menuju resepsionis untuk melakukan reservasi. Tentu saja tak perlu berlama-lama menunggu karena akulah Owner tempat ini.


"Tuan Yoshi, ini kunci kamar anda. Sesuai pesanan kamar bertipe Suite di lantai enam sudah kami siapkan untuk anda."


Aku sengaja memilih kamar itu karena setelah kulakukan pengecekan di bagian Housekeeping Departemen Area itu merupakan Area dimana Ana in charge atau bertugas.


Aku memasuki kamar itu menggunakan kunci berbentuk kartu yang telah diberikan oleh resepsionis, terlihat bed atau ranjangnya baru saja di kerjakan oleh Roomboy kamar itu, yaitu seseorang yang bertanggung jawab atas kamar-kamar di lantai ini.



Kemudian aku menelepon resepsionis untuk disambungkan dengan Supervisor Housekeeping.


"Selamat sore Pak Yoshi, ada yang bisa kami bantu?" Jawab staf Resepsionis itu dengan sopan.


"Saya ingin Bed di kamar saya ini dikerjakan lagi. Siapa nama *r*oomboy yang bertugas di area ini?" tanyaku berpura-pura tidak tau.


"Baik Tuan Yoshi, lantai enam saat ini sedang di maintain oleh Roomboy Bernard dan Seorang Trainee bernama Ana" jawab Resepsionis.


"Baik, saya ingin anak magang itu saja yang mengerjakan agar saya tau bagaimana kinerjanya," jawabku.


"Baik Tuan, kami akan menghubungi Housekeeping Supervisor untuk meminta Lanthana datang ke kamar Anda. Mohon menunggu," ucap resepsionis sebelum akhirnya aku menutup telepon.


***


Kusandarkan tubuhku di kursi fancy yang menghadap di jendela, pemandangan yang hijau ini sangat menyejukkan mata.


Sesorang mengetuk pintu. Aku mengenali suara tersebut. Senyum tipis tersungging di sudut bibirku tak sabar melihat ekspresinya saat mengetahui keberadaanku di sini.


"Housekeeping, Make up the Room! " teriaknya setelah beberapa kali mengetuk pintu kamarku.


Ceklek


Pintu Terbuka


Kulihat Ana berdiri di depan pintu dengan membawa peralatan yang dia butuhkan untuk making up the Bed.


Sesuai dugaanku Dia sangat kaget melihatku ada di sini. Setelah seragam berwarna krem dan celana bahan berwarna hitam sangat kontras dengan kulit putihnya.


Tadinya dia tersenyum manis sebelum benar-benar melihatku. Tetapi senyuman itu hilang seketika saat mengetahui bahwa akulah tamu yang sedang memesannya untuk datang ke mari.


Jika saja ini bukan tempat umum, pasti aku sudah menariknya ke dalam kamar dan apa yang akan terjadi selanjutnya hanya Tuhan yang tau.


Sayangnya aku masih memiliki harga diri sebagai Owner Hotel ini. Dengan berat hati harus kutahan sekuat tenaga hasrat di dada.