My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Canggung



"Selamat pagi sayang," ucap mama kepadaku dan Yoshi. Kulihat beliau sedang membuat adonan kue croissants di dapur. Aroma butter dan cokelat 99% itu begitu menggoda indera penciuman.


"Pagi ma." Ucapku sambil menuruni anak tangga. Sebenarnya aku masih sangat kesulitan untuk berjalan apa lagi tangga ini didesain curam untuk menghemat space di apartemen yang kecil.


Aku tak bisa menyembunyikan rasa ngilu yang masih ada akibat melangkahkan kaki terlalu lebar. Sementara Yoshi terus saja memperhatikan gerak gerikku.


"An, apa kau baik-baik saja?" tanyanya sambil memegang lenganku.


"Iya," jawabku singkat. Sungguh sentuhan itu mengingatkanku kembali pada kejadian semalam. Aku sangat malu padanya. Jika saja bisa, aku tak ingin melihat wajahnya dulu untuk sementara waktu.


Aku ingat, aku yang lebih dulu menggodanya kemarin. Entah bagaimana bisa aku melakukan itu. Yang jelas, semuanya terjadi begitu saja. Tanpa ada paksaan dan keraguan. Jika biasanya Yoshi yang selalu menggodaku, kemarin akulah yang melakukannya dengan penuh kesadaran. Aku sungguh mengutuk diriku untuk hal itu.


Meskipun aku tau melayani suami adalah kewajiban istri. Tetapi, bukankah ini terlalu cepat sedangkan aku belum yakin dengan perasaanku padanya, begitu juga dengan perasaannya padaku.


"Sayang, mau mama buatkan minuman herbal seperti kemarin?" Kata mama membuyarkan lamunanku.


"Ja-jangaan ma!" jawab Yoshi dengan cekatan mendahuluiku.


"Mama tanya sama Ana bukan sama kamu." Jawab mama sambil mengajakku ke meja makan.


"Ma, please.. " Kata Yoshi dengan wajah memohon. Namun mama sama sekali tidak memperdulikannya. Sungguh ibu dan anak yang lucu, batinku.


"Ana mau kan mama buatkan minuman lagi biar cepet.... " kata mama terputus.


"Biar cepat sehat An." Sahut Yoshi menyambung perkataan mama yang terputus.


"Nanti aja ma, sekarang masih terlalu pagi." Kataku. Aku sungguh tak tau apa yang sedang mereka berdua pikirkan, sejak tadi mama dan Yoshi terus saja saling melempar kode.


"Yosh, ajaklah istrimu jalan-jalan menikmati atmosfer kota London." Kata mama sambil membawa beberapa croissants yang baru saja keluar dari oven.


"Oh iya, An mau jalan-jalan hari ini?" tanya Yoshi kepadaku.


"Iya boleh. Aku akan bersiap dan mengambil tas di atas?" kataku sambil beranjak dari tempat duduk.


"Jangan An, biar aku saja yang ambil. Katakan apa yang perlu kau bawa?" Kata Yoshi seakan tau kalau aku masih kesulitan untuk naik turun tangga.


"Hanya tas Yosh." Ucapku. Dan Yoshi pun pergi ke kamar meninggalkanku hanya berdua dengan mama.


"Sayang, apa Yoshi sangat menyusahkanmu selama ini?" tanya mama secara tiba-tiba.


"Tidak ma. Mengapa mama tiba-tiba saja bertanya seperti itu?" tanyaku heran. Apakah Yoshi mengatakan bagaimana awal pertemuan kami kepada mama selama ini.


"Sayang, jujurlah. Ceritakan pada mama bagaimana awalnya?" Tanya mama sambil menggenggam tanganku. Membuatku gugup untuk berkata bohong.


"Semua berawal karena hutang Ma. Keluarga Ana mempunyai hutang pada Yoshi. Hingga akhirnya Yoshi ingin agar Ana menikah dengannya jika hutang itu tidak lunas dalam waktu yang ditentukan." Ucapku jujur.


"Anak itu benar-benar!" Kata mama sambil mengepalkan tangannya.


"Ana berhasil melunasi hutang itu. Tetapi Ibu Ana sangat menyukai Yoshi hingga akhirnya ibu meminta Ana untuk menikah dengan Yoshi. " Kataku sambil menggenggam erat tangan mama agar emosinya mereda.


"Ja-jadi besanku menyukai Yoshi?" ucap mama dengan senyuman yang mengembang.


"Benar ma, sebab beberapa kali Yoshi membantu keluarga Ana tanpa embel-embel hutang lagi." Jawabku.


"Baguslah.. kalau begitu. Mama sempat berfikir jika anak itu benar-benar kurang ajar. Memaksamu untuk menikahinya begitu saja." Ucap mama.


"Tidak ma, bagaimanapun awalnya, sekarang Ana sudah menjadi istri Yoshi," kataku dengan yakin.


"Sayang terimakasih ya, sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Sejak papa meninggal dan opa sakit. Keluarga ini begitu sepi tanpa ada kehangatan sama sekali." Kata mama dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.


"Terimakasih sayang, berjanjilah untuk tetap bersama kami. Dan ada yang lebih penting lagi.. " Kata mama terputus.


"Iya Ana janji. Apa yang lebih penting lagi ma?" tanyaku penasaran.


"Segera berikan mama cucu yang lucu-lucu ya.. " bisik mama di telingaku. Sungguh ucapan mama membuat badanku panas dingin lagi karena mengingat kejadian semalam.


"Sayang.. mau berangkat sekarang?" Kata Yoshi sambil membawa tas di tangannya.


"Boleh.. " Ucapku seraya berdiri. Entah mengapa panggilan sayang darinya itu terasa lebih tulus dari biasanya.


Kami pun berpamitan pada mama.


Di dalam mobil, suasana kembali canggung. Yoshi yang sibuk menyetir dan aku hanya sibuk menatap ke luar jendela, sesekali aku menatapnya begitupun dengan dia. Namun saat mata kami bertemu masih saja tak ada kata yang terucap.


"An, kenapa hanya diam?" tanyanya sambil tetap fokus menyetir.


"Tidak apa-apa Yosh." Jawabku, aku bingung harus berkata apa.


"An, apa kau menyesal?" tanyanya.


"Menyesal untuk apa?" jawabku pura-pura tidak tau. Tentu saja aku sangat mengerti kemana arah pembicaraan ini.


"Menyesal untuk kejadian semalam. Maafkan aku An." Ucap Yoshi sambil menatapku. Aku tak tau mengapa Yoshi meminta maaf bukankah aku yang sudah memulainya terlebih dulu.


"Yosh. Itu sudah kewajibanku sebagai istri. Mengapa harus meminta maaf, bukankah aku yang telah memulainya?" Jawabku dengan terbata karena menahan malu.


"Jadi kau tidak menyesalinya An?" tanyanya dengan senyuman.


"Tentu tidak," Ucapku asal.


"Kau sangat hebat semalam jika kau tau!" katanya dengan tertawa terbahak.


Astaga apa katanya? perkataan itu sangat membuatku ingin bersembunyi di lubang semut kerena menahan malu.


"Kau! "kataku sambil memukul lengannya.


"Aku serius An, kau sangat agresif." Katanya lagi.


"Yosh, bisakah tidak membahas ini?" kataku. Aku sungguh akan keluar dari mobil jika dia terus saja seperti ini.


"Memangnya kenapa? Jangan malu An, katakan apa pendapatmu tentang performaku semalam?" tanyanya lagi sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku merasa Yoshi sudah kembali seperti biasanya.


"Yosh, ayolah jangan membuatku kesal." kataku.


"An, apakah sesakit itu rasanya? tetapi kau juga menikmatinya kan?" kata Yoshi, masih saja ingin membahas hal itu. Dia sudah kembali menjadi Yoshi yang mesum seperti biasanya.


"Yoshi!!! "kataku sambil berteriak.


"Iya iya baiklah. Aku akan berhenti membahasnya. Tapi nanti malam lagi ya. wkwk. " katanya menggodaku.


"Aku akan turun dari mobil jika kau tidak berhenti mengulang-ulang hal itu Yoshi." kataku semakin kesal. Apa dia tak tau jika aku sangat malu untuk mengingat-ingat kejadian semalam. Apa lagi untuk membahasnya sedetail ini.


"Iya-iya. Yash Yosh.. Yash Yosh.. Aku ini lebih tua dua tahun darimu An." Katanya mengingatkan selisih umur kami.


"Lalu?" tanyaku.


"Panggil Mas dong... " Katanya sambil mencubit daguku dengan gemas.