
Ana POV
Yoshi masih berdiri, bersandar pada dinding sambil melipat kedua tangannya, menunggu penjelasanku atas segala kejadian hari ini. Ekspresi wajahnya sangat tidak bisa ditebak, namun tatapan mata itu menunjukkan keseriusannya.
Dia terus saja menatapku seolah aku telah melakukan sebuah dosa besar, meskipun hatiku berontak dan ingin membela diri, tetapi mulutku kelu untuk mengucapkan kata, aku bingung harus memulainya dari mana. Rasanya aku ingin sekali kabur dari kamar ini.
"An, aku menunggu pejelasanmu," ucapnya masih dengan nada dingin.
"Mas, aku.. "
"Aku hanya... " Astaga, ini lebih menegangkan dari pada menghadap kapten karena suatu kesalahan saat aku masih bekerja dulu.
"Kau tau apa kesalahanmu?" tanya Yoshi mulai kehilangan kesabaran. Aku pun mengangguk pelan. Tanpa menatap wajahnya.
"A-aku sudah mengerjaimu Mas, aku telah membuatmu kecewa," jawabku mengingat kejadian di kantor tadi.
"Kecewa kenapa?" tanyanya sarkas.
"Aku telah membohongimu," jawabku.
"Hmm.. Lalu? " Lagi-lagi dia hanya berderham dan menunggu penjelasan selanjutnya dariku.
"Aku kabur saat kita tengah.. " Aku tak sanggup meneruskannya. Karena tatapan mata Yoshi begitu menyeramkan.
Hening..
Dia masih menunggu ucapanku selanjutnya.
"Aku kabur saat kita tengah.. akan... hampir.. mmm... " Aku benar-benar tak sanggup melanjutkan kalimat ini. Seharusnya Yoshi sudah paham apa maksudku.
"Mas, haruskah aku menjelaskannya?" tanyaku.
"Ya, aku memang kesal padamu tentang hal itu. Tetapi apa kau tau apa yang lebih membuatku lebih kecewa lagi?" tanyanya, seakan masih ingin mengintrogasi diriku.
Aku tak mampu berkata, sambil masih sibuk membetulkan pakaianku. Ingin sekali mengganti baju ini. Kemeja yang lengannya terkoyak dan rok yang belahannya sudah tak karuan karena pergerakkanku saat menendang penjahat tadi.
Ayo An, katakan sesuatu. Bukankah kau masih kesal pada Yoshi ! lawan dia An! ah dasar lemah.
Gumamku dalam hati.
"Karena aku telah membawa kabur aset berhargamu Mas," ucapku sambil merem*s jariku karena rasa takut.
Yoshi memijat keningnya frustrasi saat mendengar jawabanku.
"Mas, aku minta maaf. Aku akan mengembalikan semua yang telah kucuri hari ini," ucapku merasa bersalah.
Yoshi masih terdiam dengan sesekali melihatku, entah apa yang ada di pikiran suamiku itu.
"An, kenapa kau bisa seceroboh itu?!"
"Aku masih tidak habis pikir jika istriku bisa melakukan hal seperti itu!" kata Yoshi mulai menaikkan intonasinya.
"Mas, aku minta maaf. Bukankah aku telah berhasil menyelamatkan semua aset berharga itu?!"
"Tapi kenapa kau masih saja memarahiku Mas?!" ucapku mulai terbawa emosi.
"Ana! berhenti membahas aset-aset tidak penting itu. Aku tidak sedang membicarakan hal itu!" bentak Yoshi.
"Lalu apa yang sedang kau permasalahkan Mas?!"
"Apa tentang kegiatan panas kita yang sudah kurusak itu?!"
"Baiklah aku akan melanjutkannya jika kau mau!" kataku, kesal sekali melihat Yoshi bertele-tele seperti ini.
"Kemarilah Mas!" ucapku sambil menariknya ke tempat tidur.
"An! cukup!" bentak Yoshi menepis tanganku yang menggenggamnya.
"Kenapa kau masih belum tau kesalahanmu juga ha?"
"Apa aku yang harus menjelaskannya?"
"Dengar, kukira setelah menjadi seorang ibu kau bisa lebih bertanggung jawab pada Shian, padaku juga."
"Tetapi, setelah melihat tingkahmu siang ini. Aku kecewa padamu!" ucap Yoshi menghela nafas panjang.
Aku masih belum mengerti dengan perkataan Yoshi, jika bukan karena kegiatan panas yang telah gagal dan aset kekayaannya yang hampir saja dirampas. Lalu apa lagi kesalahanku? Dan kenapa dia membawa-bawa nama baby.
"Mas, katakan apa kesalahanku yang lain?" ucapku, akhirnya aku menanyakannya langsung padanya.
"Kau tau siapa Albertus?" bentaknya.
"Ya, tentu aku tahu. Dialah penjahat itu bukan?"
"Jika kau tau kenapa kau harus melakukan hal seperti tadi?" Yoshi mulai mendekat padaku.
"Dia itu penjahat Ana! dan dia itu gila!"
"Kenapa kau melawannya ha?"
"Bagaimana jika tadi dia berhasil menggoreskan pisaunya pada lehermu?! Sedangkan aku tak mampu menolongmu. Aku terlalu takut kejadian saat penangkapan Nathan Lee dulu terulang!"
"Bagaimana jika dia benar-benar melukaimu An?"
"Apa kau yakin bisa selamat dari sayatan pisau di lehermu?"
"Apa kau yakin bisa selamat saat pisau tajam itu merobek pembuluh darah besar di lehermu?"
"Lalu bagaimana jika tadi kau tak selamat? Bagaimana dengan Shian? Denganku?"
"Bagaimana dengan keluarga kita?"
"Apa kau tau? Seorang Ibu tidak akan bertindak bodoh seperti tadi jika dia perduli dengan anaknya!"
"Apa kau pikir kami sanggup hidup tanpamu?"
"Kenapa tak kau serahkan saja aset-aset sampah tadi? Kenapa kau harus membahayakan dirimu demi harta An?"
"Mas, aku hanya ingin mempertanggungjawabkan perbuatanku karenaku hampir saja hartamu hilang," ucapku. Berharap Yoshi tidak marah lagi.
"Ya, kau hampir saja menghilangkan hartaku. Kau hampir saja membunuh hartaku. Karena dirimulah harta itu Ana!"
Yoshi memejamkan matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam. Perkataan itu sukses membuat air mataku keluar menerobos pertahannya.
Mas, maafkan aku...
"An, hapus air matamu dan ganti pakaianmu," ucap Yoshi sambil keluar dari kamar kami. Sungguh aku tak bermaksud menyaikitinya atau bahkan meninggalkan dirinya dan anak kami.
Aku pun menuju kamar mandi, kulihat ada beberapa goresan pisau di tangan dan lenganku, juga di bagian leherku.
Benar kata Yoshi, sedikit saja pisau tadi menusuk leherku maka darah pada pembuluh ini akan memancar dan tak dapat berhenti lalu matilah aku.
Kau bodoh Ana, kau ibu dan istri yang bodoh..
Batinku.
Setelah selesai membersihkan diri, aku pun berganti baju, dan keluar dari kamar mandi. Sedikit terkejut saat melihat Yoshi masih berada di kamar, bukankah tadi ia sudah keluar.
"Mas, masih di sini?" tanyaku.
"Hmm ..." Yoshi hanya berdeham. Mungkin ia masih sangat kesal padaku.
Dia pun menghampiriku dan mendudukanku di sofa. Kulihat di tangannya ada kotak P3K. Dan dia pun mulai memeriksa luka-luka kecil pada tubuhku.
Yoshi membersihkan luka-luka itu lalu mengobatinya satu-persatu. Aku merasa dia sangat mengkhawatirkanku di balik sikap dinginnya ini.
"Ada lagi yang sakit?" tanyanya.
"Tidak Mas, semuanya sudah terobati."
"Baiklah, sekarang istirahat saja, biar aku dan mama yang mengurus baby," ucap Yoshi sambil berlalu.
***
Pagi pun tiba, tetapi Yoshi belum juga kembali ke kamar. Aku bertanya pada mama saat beliau sedang bermain bersama Shian.
"Selamat pagi Mama, baby.." Aku menyapa mereka berdua.
"Hey sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya mama khawatir.
"Ana baik Ma, apa Yoshi sudah berangkat ke kantor?"
"Belum sayang, semalaman ia berada di ruang kerjanya. Oh iya, mama minta maaf ya An."
"Karena mama, kalian harus ribut seperti ini," kata mama menyesal.
"Ma, Ana juga salah kok. Lupakan semuanya ya," ucapku sambil memeluk ibu mertuaku itu.
"Sayang, urus dulu suamimu. Biar Shian mama yang urus ya. Ingat pakai baju yang seksi."
"Ah mama, Ana sudah jera Ma," ucapku. Bisa-bisa Yoshi akan semakin marah padaku.
"Haha, iya mama hanya bercanda sayang."
Aku pun pergi ke ruang kerja Yoshi sambil membawa sarapan untuknya.
"Mas, ini sarapannya," ucapku sambil meletakkan nampan di meja.
"Mas..."
"Iya, An," ucapnya sambil tetap sibuk pada laptopnya.
"Mas, sarapan dulu lah."
Aku mendekatinya dan melihat apa yang ia sedang kerjakan. Mataku pening melihat deretan angka dan simbol pada layar laptop itu.
"Mas, apa kau lelah?"
"Hmm," jawabnya. Sungguh dia masih saja kesal padaku.
"Aku akan memijitmu," ucapku sambil meletakkan tanganku pada pundaknya.
"Apa kau sedang menggodaku An?" tanyanya datar.
"Tidak mas, aku ingin memijatmu saja. Bukan menggoda."
"Apa baby sudah makan?" tanyanya.
"Belum. Tapi, mama sedang menyuapinya mungkin saja."
Yoshi menghela nafas panjang, sepertinya aku membuatnya kembali marah. Tanpa menunggu lama aku pun langsung keluar untuk melihat baby.
"Aku akan melihatnya dulu Mas!" ucapku sambil melangkah keluar ruangan namun, tiba-tiba Yoshi menarik tanganku hingga kini aku terjatuh dalam pangkuannya.
"An, aku sangat mencintaimu. Tolong jaga dirimu baik-baik."
"Aku tidak akan memaafkanmu jika sampai terjadi sesuatu seperti kemarin, aku bahkan masih membayangkannya. Saat pisau itu melukai lehermu."
"Sungguh, aku akan sangat membencimu jika sampai kau melukai Lanthanaku!"
Suara itu terdengar sangat menyayat hatiku. Membuka luka lama Yoshi, luka di saat ayahnya pergi karena ulah Nathan Lee ayah Albert.
Haloo genk maaf ya baru bisa Up.
Terimakasih atas dukungannya untuk Yoshana 😍😍🤗