
Satu minggu berselang, suasana kapal semakin sibuk untuk mempersiapkan kedatangan Mr.Orlando, yaitu First President perusahaan ini.
Masing-masing departmen harus meningkatkan kinerjanya hingga harus mengikuti training setiap hari sebagai pengayaan pengetahuan.
Alister menghampiri stand ku dan memberiku tugas baru.
"Ana, mulai sekarang kamu in charge sebagai Room Service Stewardress juga ya," kata Alister dengan bahasa Indonesia. Yaitu suatu tugas untuk mengantar makanan ke kamar-kamar tamu sesuai dengan pesanan mereka pada Resepionis.
"Baik Chief, Saya harus bertugas di Deck berapa saja?" Tanyaku memastikan di lantai berapa saja aku harus in charge.
"Deck 6 and 7." Jawab Alister singkat. Tak masalah bagiku jika hanya menghandle dua lantai saja.
"All right Chief. " Jawabku patuh.
"Okay, good Ana." Kata Alister sambil meberikan sebuah ponsel khusus untuk menunjang tugasku.
Tiba-tiba ponsel khusus dari Alister itu berdering. Apakah secepat ini pesanan datang, kataku dalam hati.
Panggilan dengan nomor crew office muncul di layarnya. Segera kuangkat panggilan itu, takut bila ada hal penting dari kantor yang bertugas mengatur keperluan kru tersebut.
"Yes, Ana speaking. How may I assist you?" Jawabku menerima panggilan itu dan menanyakan apa yang bisa kubantu.
"Widih, ponsel baru nih ye!" Ucap pria di seberang sana.
"Kenapa Za? Jangan songong. Aku lagi sibuk." Jawabku malas.
"Dih, orang cuma mau mastiin aja lu udah bisa greeting di telepon apa belom, gitu doang kok." Jawab Reza usil.
"Bisalah, gitu doang." Jawabku singkat.
"Eh gue punya indimie satu karton. Udah gue taroh di depan kabin lu ya. Ditrima ya An biar lu gendutan," Kata Reza sebelum menutup teleponnya bahkan sebelum aku mengucapkan terimaksih.
Aku pun tersenyum menanggapi itu, dalam hati kecilku berkata mungkin Reza memang sering kali menyebalkan tetapi cukup banyak hal-hal kecil yang kupelajari darinya.
Ditambah dengan perhatiannya kepadaku meskipun tak begitu ditampakkan tapi aku bisa merasakannya, mirip seperti perhatian seorang kakak untuk adiknya.
Jam makan siang pun tiba, tetapi ketika aku hendak pergi, sebuah panggilan dari Front Office datang.
Aku pun mengangkatnya.
"Halo Ana, tolong antarkan pesanan makan siang untuk stateroom nomor 7001 atas nama Mr.Kennedy David. Terima kasih." Ucap staf resepaionis itu.
"Baik, segera diproses, saya akan mengambil list untuk orderannya." Jawabku sambil menutup telepon.
Aku pun pergi ke Front Desk atau resepsionis untuk mengambil daftar pesanan itu. Hanya ada satu orderan di sana .
Yaitu sebuah pesanan makan siang dengan menu. Salad, Lasagna, Spaghetti, fried rice dengan hidangan penutup es krim vanilla.
Tapi tunggu, tamu itu juga memesan nasi goreng dan es krim vanilla. Ini sangat lucu membuatku lapar saja.
Setelah itu aku pun pergi ke Galley, sama halnya dengan kitchen. Galley adalah istilah untuk dapur di kapal terdapat beberapa Chef dengan masing-masing tingkatannya di sana.
Seorang asisten Chef datang menghampiriku dan memberikan pesanan yang telah disiapkan sebelumnya.
Kuambil makanan tersebut dengan, ukuran loyangnya cukup besar membuatku sedikit kesulitan membawanya. Terang saja berat, tamu di kamar itu telah memesan begitu banyak makanan untuk makan siangnya.
Ada tanda kecil di bagian atas loyang itu. Bertuliskan Penthouse Guest.
Astaga jadi ini tamu penthouse yang telah menesan makan siang. Tanpa pikir panjang secepat kilat aku menuju lantai tujuh tempat kamar penthouse itu berada.
Aku tak ingin tamu itu mengajukan complain mengingat dia adalah tamu VVIP di sini. Stateroom atau kamar penthouse adalah kamar untuk tamu penting saja.
Bahkan di kapal hanya ada dua buah kamar bertipe ini. Tentu saja harga sewanya tidak murah mengingat fasilitas yang ada di dalamnya.
Sampai di lantai tujuh.
Aku berjalan di koridor Guests mencari stateroom tersebut. Kulihat lagi nomor kamar itu, sepertinya kamar ini ada di ujung paling depan.
Kamar demi kamar kulewati sambil kuperhatikan nomornya. Ini cukup melelahkan karena aku harus menyusuri koridor dari arah belakang ke depan dengan Tray berat di tanganku.
Hingga akhirnya suara bariton terdengar dari arah belakangku. Suara yang seseorang yang lama tak kudengar secara langsung tetapi sering kali hadir di mimpiku akhir-akhir ini.
Dia berdiri tepat di depanku sekarang, cahaya lampu fancy koridor menyinari kulit putihnya dan setelan jas dan kemejanya tak mampu menutupi dadanya yang bidang.
Sontak aku terkejut bagaimana lintah ini bisa ada di kapal ini.
Apakah dia juga kru, tetapi rasanya tidak mungkin, apakah dia guest tetapi mengapa aku baru melihatnya sekarang. Berbagai spekulasi memenuhi kepalaku.
Astaga apa yang harus kulakukan, bukankah ini sudah sangat terlambat untuk berlari.
Aku masih mematung di hadapannya saat ini dan masih tidak percaya dengan apa yang kulihat.
Betapa pelarianku selama ini sangat sia-sia, lagi-lagi aku harus tertangkap olehnya.
"Baiklah, jika kau tidak dapat menjawab. Maka aku akan menikahimu sekarang juga," katanya sambil mendekatkan wajahnya ke arahku.
Mata itu masih saja sama seperti terakhir kali aku melihatnya, ada duka di sana. Mungkin sorotnya tajam tetapi urat-urat kesedihan juga terpancar jelas di sana.
Hembusan nafas beraroma mint menerpa wajahku memberikan sensasi segar. Dan bibir merah itu juga begitu menggoda, aku sangat terpesona melihatnya.
Semakin lama menatap wajahnya semakin membuatku mengingat Mas Ikau. Kenapa aku baru menyadari bahwa mereka sangat mirip. Bedanya Yoshi adalah sosok Mas Ikau dewasa.
Bagaikan kerinduan yang lama tak terobati. Astaga apa yang kupikirkan ini.
"Hey, jangan melamun calon istriku. Jika memang rindu kau boleh memelukku sekarang juga," katanya masih tetap mendekatkan wajahnya ke arahku.
Setelah beberapa detik mematung, karena shock akhirnya aku mulai tersadar kembali.
"Kau, bagaimana bisa kau ada di sini?" kataku terbata.
"Tentu saja untuk mengejarmu. Memangnya apa lagi?" Jawabnya santai.
"Bohong, kau tak mungkin bisa menemukanku dengan semudah ini." Jawabku dengan membalas tatapannya.
"Masih mau berlari lagi atau menyerah saja? Pikirkan itu baik-baik." Kata Yoshi sambil berjalan pergi mendahuluiku meninggalkan aku yang masih tak percaya dengan apa yang terjadi.
Kuletakkan Tray berisi makanan untuk tamu penthouse itu pada meja yang berada di pantry deck 7.
Aku merasa linglung dan membutuhkan segelas air. Setelah meminum air mineral, aku kembali menata mood dan pikiranku.
Aku terduduk di bangku pantry, berusaha menengangkan diri. Ribuan kekhawatiran menghinggapiku. Yoshi sudah menemukanku dan apa yang harus kulakukan selanjutnya.
Tidak, aku masih punya waktu beberapa bulan lagi sebelum batas pelunasan. Aku masih punya cukup waktu untuk menghindari pernikahan itu.
Bunyi telepon dari resepsionis menyadarkanku. Mengingatkan untuk segera mengantar pesanan tamu penthouse itu.
Astaga aku hampir saja lupa. Segera kuraih tray itu dan membawanya kembali berjalan menuju empunya.
Tibalah aku di depan kamar bernomor 7001 itu, hiasan berlapis emas memenuhi pintu kamar yang bertuliskan penthouse.
Sangat estetik, segera kuketuk pintu kamar itu.
Tok...
Tok...
Tik...
"Good afternoon Mr. Kennedy." Sapaku dari luar dengan menyebut namanya.
"Mr.Kennedy excuse me your lunch is ready right now." Ucapku lagi namun tak ada jawaban dari dalam.
Hingga akhirnya kuputuskan untuk menelepon resepsionis lagi. Dan mereka memintaku untuk masuk ke dalam saja untuk menaruh makan siang itu di meja, mengingat tak apa tanda privacy sign yang tergantung di gagang pintu.
Privacy Sign biasanya digunakan untuk menyatakan jika tamu tidak ingin diganggu sehingga mereka menempelkan kertas tersebut pada gagang pintu.
Dengan menggunakan master key, aku pun masuk ke dalam kamar. Setelah meminta izin berkali-kali tanpa jawaban dari tamu itu. Kuletakkan Tray berisi makan siang tersebut di atas meja makan.
"Sedang berlatih menyiapkan makanan untuk suamimu?" Terdengar suara dari arah balkon.