My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Segera Terbebas Darimu



Masa training berakhir. Dan aku pun lulus dari Universitas Pariwisata di Jogjakarta tersebut. Setumpuk sertifikat hasil On The Job Training sudah berada di tanganku.


Mulai dari Sertifikat Food and Beverages hingga Housekeeping Department semua aspek di dua d**epartment itu berhasil kukuasai.


Kurasa ini lebih dari cukup bagiku untuk melamar pekerjaan di bidang yang terkait.


Aku pun mencoba memasukkan lamaran ke beberapa hotel berbintang di Kota Surabaya namun belum juga ada panggilan untuk wawancara.


Berbagai penolakan tak membuatku patah arang, aku harus bisa mendapatkan pekerjaan karena jika tidak masalah penulasan hutang itu akan mencekik leherku sendiri.


Aku membuka medsosku dan kulihat kampusku memposting sebuah job vacancy atau lowongan pekerjaan.


Ada dua Lowongan pekerjaan yang tertera di sana, yang pertama adalah dari Maskapai penerbangan Lokal dan yang kedua adalah dari Perusahaan Kapal Pesiar Internasional.


Keduanya sama-sama sesuai dengan background edukasi yang kumiliki.


Aku memutuskan untuk mencoba mengirim CV ke perusahaan yang pertama yaitu sebagai Flight Attendants atau Pramugari.



Aku rasa penampilan fisikku tidak terlalu buruk untuk menjadi seorang pramugari, lagi pula tinggi badanku juga masih dalam batas aman untuk memenuhi persyaratan.


Seminggu berselang, sebuah panggilan datang dari Perusahaan tersebut, mengabarkan bahhwa mereka telah menerima CV yang kukirim dan Aku harus mengikuti interview dalam waktu yang ditentukan.


Aku pun datang ke Kantor yang terletak di Kota Surabaya bagian Timur itu untuk mengikuti tes wawancara.


Tiba di Kantor ternyata antrean sangat panjang.


Aku pun menunggu panggilan, sambil menunggu kami diharuskan untuk tes fisik terlebih dahulu.


Berupa pengukuran tinggi dan berat badan. Setelahnya adalah tes kesehatan, seorang staf mengambil sampel darahku untuk dibawa ke laboraturium untuk diperiksa


Selanjutnya tes performa. Di sini ada lima orang juri. Yang semuanya mengenakan seragam Flight Attendants bisa kupastikan mereka semua adalah pramugari senior


Aku diminta untuk berjalan ke depan, lalu ke belakang, ke samping dan ke kiri setelan kemeja putih dan rok di atas lutut menempel indah di tubuhku aku bisa melihat pantulan tubuhku melalui cermin yang terpasang di sekeliling ruangan.


Sepatu heels hitam dengan tinggi 5 cm menghiasi kaki jenjangku, rambut cepol rapi dan ma**ke up natural tetapi flawless sangat menambah keindahan tampilanku .


Maaf jika ini terlalu narsistik tetapi aku memang secantik itu untuk hari ini dan semoga untuk hari-hari ke depannya pun juga demikian.


Juri memintaku untuk mendekat ke arahnya, menatap wajahku dalam-dalam, memintaku untuk menoleh ke kanan dan ke kiri.


Agak sedikit nervous sebenarnya diperhatikan sedalam ini oleh mereka. Tapi apa boleh buat *s*how must go on.


Sepanjang tes performa berlangsung, aku terus memasang senyuman terindahku. Aku tau Hospitality Industry sangat menjunjung tinggi keramah-tamahan.


Terakhir adalah tes wawancara, terang saja ini adalah tes penentuan diterima atau tidaknya lamaranku.


Sangat singkat pertanyaan yang diajukan oleh juri, hanya seputar pengalaman kerja sebelumnya dan tentang background edukasi yang kumiliki.


Tes pun berakhir.


****


Keesokan harinya sebuah e-mail masuk ke inboxku.


Satu e-mail dari perusahaan maskapai tempatku menjalani tes kemarin memberiku kabar yang menggembirakan.


Aku bersorak gembira, kubaca berulang kali pesan tersebut. Sebuah pesan yang berisi bahwa mereka telah menerimaku untuk bergabung dengan perusahaan mereka.


Dan mereka memintaku datang besok pagi ke kantor untuk melakukan konfirmasi pukul 7 pagi tepat. Untuk itu kupastikan tidak akan datang terlambat


Dan tak lupa kukabari ibuku perihal kabar ini, tentu saja Ibuku sangat bahagia. Begitu juga dengan bapak. Meskipun kesehatannya masih belum pulih betul tetapi setidaknya sebuah kabar baik akan membantu meningkatkan imun tubuhnya.


***


Keeseokan harinya


Secepat kilat aku beranjak dari tempat tidurku, saat ini masih pukul 5 pagi tetapi aku terlalu bersemangat untuk hari ini.


Mengingat ini akan menjadi pekerjaan bonafit pertamaku. Aku harus bersungguh-sungguh.


Motifasi terbesarku untuk perkerjaan ini tentu saja agar pelunasan hutang keluargaku cepat terselesaikan dan juga untuk memenuhi kebutuhan keluargaku, biaya pengobatan bapak tidak bisa dipungkiri nominalnya memang cukup besar.


Bayangan tentang kebebasan dari cengkraman Rentenir arogan itu begitu memenuhi kepalaku.


"Tenang saja Yoshi aku pasti bisa terbebas darimu, kejarlah aku semampumu. Mungkin Kafe dan Hotel tempatku magang dulu memanglah milikmu tetapi perusahaan maskapai sebesar itu tidaklah mungkin kau pemiliknya, aku akan segera terjauhkan dari Drakula penghisap darah sepertimu," kataku tersenyum lepas.


Aku sudah berada di pinggir jalan saat ini menunggu taksi jemputanku datang.


Aku memang sengaja memesan taksi untuk mengantarku hari ini, karena jika aku menggunakan angkot tentu saja berdesak-desakan akan membuat penampilanku yang sudah tertata rapi ini menjadi kacau balau.


Sudah sepuluh menit berlangsung tetapi taksi online yang kupesan tak kunjung datang juga.


Hingga sebuah mobil sport berlambang empat lingkaran yang saling mengait satu sama lain berhenti di depanku. Sempat berfikir bahwa ini mobil taksi pesananku tetapi rasanya tak mungkin mobil seperti ini digunakan sebagai taksi, ini terlalu mewah untuk sebuah taksi.


Pintu otomatis terbuka dan seseorang keluar dari dalam sisi kemudi mobil, menghampiriku saat itu juga. Aku mengenal orang ini. Dia adalah David asisten lintah darat itu. Apa yang dilakukannya di sini, batinku.


"Nona, Tuan meminta saya untuk menjemput Anda sekarang juga," kata David sambil menarik lenganku.


"Tu-tunggu, kenapa memangnya bukankah ini belum masuk tanggal pelunasan?" tanyaku sambil bersikukuh menahan lenganku dari tarikannya.


"Sebaiknya Nona ikut saja, saya tidak ingin bertindak kasar pada Nona," kata David melepaskan pagutan tangannya dariku.


"Tapi aku tidak ingin bertemu dengannya," kataku. Aku masih saja tetap dengan pendirianku.


"Tapi Nona, ...." jawab David. Belum selesai dia berbicara aku sudah berancang-ancang untuk lari darinya.


Kuambil langkah seribu, persetan dengan sepatu berhak tinggi yang tengah kupakai. Jujur ini sangat menyiksa tumitku tetapi aku tetap berusaha untuk berlari sekencang-kencangnya. Aku tak ingin terlambat untuk menghadiri panggilan konfirmasiku .


Hingga seseorang menarik tanganku dari belakang, tarikan tangannya sangat kencang hingga tubuhku terjatuh menghantam tepat di dada bidangnya.


Rambutku yang sudah tercepol indah seketika terlepas berhamburan ke wajahnya.


Wajah dan tubuhku benar-benar berada dalam pelukannya saat ini, Jika Orang melihat adegan ini mungkin mereka akan berkomentar


"*P*asangan yang serasi sama-sama tampan dan cantik yang tidak serasi adalah mengapa Mereka harus berpelukan di tengah-tengah hiruk pikuk jalanan seperti ini . Ini sangatlah tidak estetik jika mereka tahu"


Aroma parfum maskulin semerbak memenuhi indera penciumanku. Perlahan kulihat ke arah atas, tentu saja aku sangat mengenali dagu ini.


Dagu putih dengan ditumbuhi rambut-rambut halus, hidung mancung dan kacamata hitam berlogo R menghiasi wajah tampannya.


Aku sempat terkesima olehnya. Namun beberapa detik kemudian aku tersadar bisa-bisanya drakula ini ada di sini, kukira asistennya saja yang berada di sini.