My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Berfoto Denganmu



Hari berganti, bulan berlalu tak terasa sudah hampir setahun aku belajar di sekolah ini. Ujian kenaikan sekolah pun sudah kulewati.


Hari ini tidak ada pelajaran sama sekali di sekolah dan aku memutuskan untuk membantu Devi berjaga di Warnet dekat sekolah. Berjaga warnet merupakan pekerjaan sampingan Devi, katanya hasilnya lumayan bisa untuk membeli Skincare.


Oleh sebab itu aku pun tertarik untuk melakukannya juga.


Devi memberi tahuku bahwa hari ini dia sangat sibuk hingga tidak dapat melakukan pekerjaan sampingannya itu dan memintaku untuk menggantikannya, tentu saja aku sangat senang atas permintaanya itu.


***


Tanpa berfikir panjang aku bergegas pergi ke warnet yang letaknya di dekat sekolah tersebut.


Setibanya di sana pemilik warnet menjelaskan tentang apa saja tugasku.


Dengan cepat aku mengerti apa saja tugas yang harus kukerjakan yang ternyata tak ubahnya hanya seperti tugas seorang kasir, yaitu menunggu para pengguna komputer untuk membayar setelah selesai menggunakan PC.


Tak jarang juga mereka memintaku untuk mengetikkan tugas sekolah atau kadang hanya mengeprintnya saja.


***


Semakin siang warnet semakin ramai pengunjung. Dan aku mulai kewalahan. Di tengah kesibukanku itu, tiba-tiba saja pangeranku yang tampan masuk ke warnet.


Dan itu sempat membuatku duniaku berhenti berputar, namun aku masih bisa mengendalikannya. Aku kembali fokus dengan pekerjaanku.


Astaga, ternyata dia mengambil cubical tepat di samping mejaku. Hanya sekat kayu tipis ini saja yang menjadi penghalang antara kami berdua sekarang.


Ya Tuhan bahkan tanganku mulai gemetaran tidak terkendali, tidak dapat mengetik sama sekali.


Dalam diam aku bersandar di dinding pemisah itu. Bahkan bisa terdengar suara tangan Mas Ikau sedang mengetik di keyboard.


Ya, mulai sekarang aku akan memanggilnya sesuai dengan namanya.


Sesekali terdengar suara berdeham dari cubicalnya. Entah Dia ini sedang batuk atau kenapa.


Saat aku kembali menyandarkan kepalaku di dinding, tiba tiba suara merdu memanggil namaku.


"Emm Ana, cubical nomor satu berapa tagihannya? " katanya, ya ampun dia menyebutkan namaku. Mas Ikau sudah tau namaku.


Saat itu juga duniaku kembali berhenti berputar tetapi aku berusaha untuk tetap tersadar.


"Iy-iya, nomor satu ya Mas, no ___ nomor satu tagihannya sepuluh ribu Mas " jawabku aku benar-benar mengutuk lidahku yang kelu ini.


"Ini ya An uangnya," katanya sambil menyodorkan uang sepuluh ribu itu,aku sama sekali tidak berani menatap wajahnya karena terlalu gugup mendengarnya memanggil namaku berulang-ulang.


Hingga akhirnya dia meletakkan selembar uang itu di atas printerku sebelum akhirnya pergi meninggalkan warnet.


Oh lihatlah aku yang bodoh ini yang masih saja mematung sambil menatap selembar uang darinya tersebut, apa yang akan dia pikirkan tentangku sekarang.


***


Di perjalanan pulang sekolah aku terus memikirkan kejadian tadi. Hingga suara motor Vespa berhenti di hadapanku


"Woy An.. Ayo pulang." Seperti yang kuduga pasti ini Devi.


"Lah kamu udah di sini aja Dev?" tanyaku sambil menaikki boncengan motor Devi.


"Gue mah bisa di mana aja sesuka hati An." Katanya sambil menyalakan mesin motor.


"Jadi gimana tadi jaga warnet bisa?" Tanyanya sambil menatapku dari kaca spion.


"Bisa gila Dev," jawabku spontan tanpa berfikir dulu yang terang saja membuat Devi penasaran dan menyuruhku untuk menceritakan apa saja yang terjadi tadi.


Akhirnya aku menceritaka adegan tidak pentingku di warnet tadi, yang berhasil membuatnya terbahak hingga hampir menabrak angkot.


Dalam perjalanan pulang aku terus menceritakan kejadian tadi dan tentang bagaimana perasaanku yang sebenarnya pada Mas Ikau.


Hal itu ditanggapi Devi dengan serius. Dia orang yang pandai bersikap dalam dalam situasi apapun. Dia tau kapan harus becanda dan kapan harus serius dalam menanggapi sesuatu.


***


Beberapa hari setelahnya , diselenggarakan acara pensi di sekolah sebelum liburan semester dimulai dan aku naik ke kelas XI.


Acara diisi dengan sambutan kepala sekolah, Drama musikal dan terakhir Band Performance.


Aku cukup menikmati acara tersebut. Namun tidak dengan Devi, dia seperti anak ayam yang sedang mencari induknya.


Celingak celinguk, mondar mandir ke sana ke mari seperti mencari sesuatu.


"An, ayo ikut gue," kata Devi sambil menarik tanganku paksa.


"Kemana?" tanyaku bingung. Tapi aku tetap menuruti dan mengikutinya.


***


Devi membawakuku ke Area dimana kakak kelas berkumpul, terang saja itu membuatku malu untuk berada disana.


"Noh, liat demenan lu lagi foto-foto tuh!" Kata Devi. Seketika mata ini langsung tertuju pada Mas Ikau yang sedang berfoto ria dengan teman-temannya .


"Dev, mau ngapain?" tanyaku bingung. Sedikit curiga, Devi akan melakukan hal konyol yang akan membuatku malu lagi


"Udah ayo ikut!" kata Devi membuatku semakin khawatir. Khawatir akan ditaruh mana mukaku nanti kalau Devi membuat ulah. Dan ternyata benar sesuai dugaanku. Devi memanggil nama mas ikau.


***


"Mas Ricko, boleh minta foto bareng nggak? " kata Devi kepada Mas Ikau. Seketika mas ikau langsung menghampiri kami.


Astaga aku benar-benar ingin menampar Devi sekarang juga.


"Tentu saja boleh" jawab Mas Ikau. Sambil membawa kameranya dengan santai sepertinya kami orang kesekian yang meminta untuk berfoto dengannya hari ini


"Wah makasih Mas," kata Devi sambil menyenggol lenganku. Ya ampun dari mana dia mendapat ide gila ini batinku.


Karena jumlah kami hanya bertiga akhirnya Devi yang menjadi fotografernya dulu.


"Mas Ricko foto sama Ana dulu ya biar aku yang motoin habis itu nanti gantian." Kata Devi sambil mengambil kamera Mas Ricko.


Ya ampun apa lagi ini. Devi benar-benar keterlaluan. Aku yakin setelah itu dia tidak akan meminta untuk difotokan dengan Mas Ikau Karena targetnya adalah aku.


"Iya boleh," jawab Mas Ikau dengan santainya. Berbeda denganku yang entah bagaimana lagi harus bersikap.


Akhirnya Mas Ikau menghampiriku, entah dia melihat wajahku atau tidak yang jelas aku tidak berani melihat wajahnya sedikitpun.


Posisi kami sangat dekat sekali sekarang bahkan lenganya hampir menyentuh lenganku. Jangan tanyakan bagaimana kondisi jantungku saat ini. Yang jelas jantungku masih berada di tempatnya saja itu sudah bagus.


Pengambilan foto pun berakhir dan Devi mengmbalikan kamera mas Ikau.


"Mas, makasih ya nanti kalo fotonya udah jadi kasih tau ya," kata Devi kepada Mas ikau yang dijawab dengan anggukan olehnya sebelum kami berdua pergi.


***


Aku menarik kasar tangan Devi dan mengajaknya pulang. Astaga anak ini benar-benar kurang ajar sekali.


Sepanjang perjalanan pulang aku terus memarahinya. Tetapi dia malah tertawa puas.


"Harusnya lu tuh berterima kasih sama gue An, "kata Devi mengejekku.


"Ah males ah sama kamu Dev," kataku sambil memalingkan muka darinya.


"Alah seneng kan lu An?" kata Devi dia masih saja terus mengejekku


Tentu saja aku sangat bahagia hari ini sampai sampai aku harus repot-repot ke selatan saking tidak bisanya diutarakan.