
"Kita akan pulang hari ini, apa semuanya sudah siap?" tanyaku kepada Ana yang sedang duduk di atas bed nya. Ini kali pertamaku masuk ke kabin kecilnya ini.
Kamar kecil dengan dua orang penghuni dan dipenuhi bunga-bunga mawar pemberianku beberapa hari yang lalu.
"Iya" kata Ana, dia terlihat sangat murung. Aku bisa mengerti ini, tapi apa boleh buat semuanya sudah terjadi dan mau tidak mau Ana harus mau.
"Hey jangan seperti itu. Menikah denganku tidak akan seburuk yang kau kira An." Kataku sambil duduk di lantai bersimpuh di hadapannya, benar-benar bukan seperti Yoshi yang biasanya.
Ana masih saja terdiam dan buliran air mata mulai menetes di pipinya. Jujur saja hatiku merasa sakit melihat ini. Seburuk itukah aku untuknya. Atau memang dia benar-benar mencintai pria itu. Hingga menikah denganku merupakan sebuah mimpi buruk untuknya.
Haruskah kubatalkan pernikahan kami, lalu bagaimana dengan perjuanganku selama bertahun-tahun ini. Jika saja Ana memiliki sedikit saja rasa untukku, aku berjanji akan mengatakan padanya siapa diriku sebenarnya.
Aku merasa seakan hatinya begitu jauh dari jangkauanku. Terkadang ingin kutanyakan padanya apakah waktu itu dia pernah mencintai Ikau atau hanya sekedar menyukainya mungkin.
Sayangnya nyaliku begitu ciut aku takut mendengar jawabannya bahwa bukan wujudku sebagai Ikau yang selama ini ada di hatinya melainkan orang lain.
"Jangan seperti itu, bangunlah. Jangan bersimpuh seperti pengemis cinta. Itu bukan gayamu." Ucap Ana, akhirnya dia mau bicara juga.
"Baiklah aku akan memeriksa dokumen kita untuk disembark." Ucapku padanya sambil keluar dari kamar Ana.
Di ruang crew office tempat kepengurusan kru. Kulihat Reza sedang duduk dan disibukkan dengan berbagai document di mejanya. Sepertinya ini saat yang tepat untuk menyatakan kekalahannya.
"Morning Pak Reza, apakah dokumen disembark atas nama Yoshi dan Lanthana sudah siap?" tanyaku dan dia pun menoleh ke arahku.
"Good morning Pak Yoshi, jadi anda dan Ana akan pulang hari ini? Mengapa mendadak sekali kalau boleh tau?" Tanya Reza masih dengan ketidaktahuannya tentang hubunganku dan Ana.
"Jadi anda belum tau rupanya?" tanyaku bersiap untuk memberinya bom.
"Tidak Pak, Ana sama sekali tidak memberitahu apa pun tentang ini. Apakah ada masalah?" tanyanya dengan polos. Sungguh kasihan.
"Kami akan menikah. Dan entah kapan akan kembali setelah cuti. Mungkin Ana tidak akan kembali untuk bekerja setelah ini." Ucapku dengan santai.
"Me-menikah? Ana dan Anda akan menikah?" Ucapnya dengan terbata, aku bisa menangkap raut keterkejutan di wajah blasteran itu.
"Ya, menikah. Kami sudah menjalin hubungan selama sepuluh tahun lebih." Kataku, memastikan keraguannya.
"Ta-tapi mengapa Ana sama sekali tidak pernah menceritakan apa pun tentang ini kepada saya selama ini?" tanyanya lagi. Seperti sedang menahan rasa sakit.
"Iya, calon istriku itu memang bukan orang yang suka mengumbar masalah pribadi kepada teman-temannya." Kataku dengan bangga.
Tanpa menunggu tanggapannya darinya, segera kuraih dokumen itu dan meninggalkan dirinya yang masih mematung dengan segudang pertanyaan.
****
Di kabin Ana, kulihat dia sudah bersiap untuk disembarking. Dua koper kami tengah menunggu di depan pintu dengan David yang bersiap akan membawanya.
Ana pun berpamitan pada teman-temannya termasuk teman sekabinnya. Mereka saling berpelukan dan menangisi satu sama lain dan Itu sangat berlebihan menurutku, seperti tidak tidak akan pernah bertemu lagi saja.
Padahal jika Ana mau, aku bisa membawanya kembali ke kapal pesiar ini lagi dan itu sebagai Guest bukan sebagai kru seperti sekarang. Sebenarnya aku berencana untuk resign dari jabatanku di sini, mengingat niatku bekerja di sini hanyalah demi Ana.
Namun, karena Ana memutuskan untuk cuti, dan tidak resign. Akhirnya aku pun melakukan hal yang sama. Setelah melalui pengecekan luggage di Marshalling Area. Kami pun keluar dari kapal menuju Airport.
Dalam langkah keluar dari kapal. Ana terus saja menatap seonggok besi terapung itu. Aku bisa merasakan bagaimana perasaannya saat ini. Pasti berat untuknya untuk berpisah dari teman-temannya yang telah menemani hari-harinya selama ini.
Tiba di Schipol Airport.
Setelah boarding, kami pun langsung menuju gate sesuai yang tertera pada tiket kami.
Bahkan dia sama sekali tidak memakan makan siangnya. Padahal aku tau jika dia sudah sangat lapar.
"An, makan makananmu." Kataku sambil menyodorkan lunch dish untuknya.
"Aku tidak lapar." Ucapnya sambil menepikan dish tray itu.
"An, makan.. atau.... " kataku terpotong.
"Atau kau akan memakanku? Begitu kan?" ucapnya dengan kesal membuatku tertawa saja.
"Sudah hafal ya?" ucapku sambil mengedipkan sebelah mataku.
Aku senang akhirnya dia mau memakan makanan itu. Sepertinya perutnya yang sudah terisi itu membuatnya jadi mengantuk dan akhirnya tertidur. Tanpa sadar dia terlelap di pundakku.
Ada perasaan gembira di hatiku, ingin sekali rasanya untuk mengabadikan momen ini, mengingat jika Ana tersadar semua ini akan berlalu begitu saja.
Di sela rambut yang menutupi telinga Ana kubisikkan padanya.
"An, will you marry me? aku sangat mencintaimu. Jika kau tahu bahwa aku adalah ikau, apakah sikapmu padaku akan tetap sedingin ini? enam tahun berlalu rasaku padamu tak pernah berubah.
Maafkan aku An, api dendamku lah yang menyebabkan hubungan kita menjadi sepelik ini. Maafkan aku Lanthana. Maafkan aku" Bisikku pada telinga Ana sambil menggenggam tangannya.
Seakan mendengar suaraku, Ana pun menggeliat. Namun tidak mengubah posisinya, ia tetap tertidur pulas di pundakku. Aku sangat menyukai ini. Setidaknya dia bisa setenang ini saat berada di dekatku meskipun dalam kondisi tidak sadar.
Aku yakin, suatu saat Ana akan mengetahui semuanya dan akan memaafkan segala kesalahanku selama ini. Untuk saat ini biarkan seperti ini dulu.
Bagiku Ana hanya membuthkan adaptasi saja, hanya perlu waktu untuk membiasakan diri bersamaku. Rasanya aku tak ingin berfikir negatif untuk saat ini.
Aku hanya ingin pernikahanku besok berjalan dengan lancar, bagaimana pun setelahnya aku tak perduli. Aku harus mengikat Ana sebelum ayahnya merebutnya dariku.
Aku putuskan untuk tidak mengabari Mama dulu tentang acara pernikahan besok. Aku tak ingin hal buruk terjadi, bukankah lebih baik untuk mengantisipasi sebelum rencana yang kita susun menjadi gagal.
Dalam hening, Ana meracau lirih.
"Mas Ikau... " Ucap Ana. Apa aku tidak salah dengar? kenapa dia menyebut namaku dalam tidurnya.
"Mas... " Ucap Ana lagi. Aku pun segera mendekatkan telingaku pada mulutnya. Aku yakin bahwa dia menyebut namaku baru saja .
"Ya, Ana. Aku Mas Ikau, " bisikku di telinganya. Aku sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakannya selanjutnya. Orang bilang, seseorang akan berkata jujur saat mereka sedang tertidur.
"Mas Ikau... " Katanya lagi. Kali ini aku yakin Ana benar-benar menyebut namaku dalam mimpinya.
"Ya, An. Katakan padaku, apa kau mencintai Mas Ikau?" Bisikku lagi pada telinganya.
"Yoshi.. Aku membencimu." Kata Ana dengan jelas. Astaga tadi dia menyebut Ikau sekarang Yoshi. Dan yang lebih menyebalkan lagi Ana bilang dia membenci Yoshi. Dia membenciku.
"Hey, bicara yang betul. Kau ini membenci Yoshi atau mencintai Ikau. Ataukah sebaliknya?" tanyaku lagi. Ya ampun, kenapa aku ini sangat konyol berbicara dengan orang yang sedang tidur.
"Bapak, cepatlah sembuh. Ana tidak ingin menikah dengan Yoshi." Ucapnya lagi yang membuatku semakin gemas.
Tadi dia menyebut nama Ikau, lalu Yoshi dan sekarang dia menyebut nama Bapaknya. Astaga ini mulai tidak jelas, akhirnya kuputuskan untuk ikut tidur saja.