My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Kau Jahat !



Bagaikan tersengat aliran listrik, sekujur tubuhku yang tadinya kaku menjadi lemas kembali.


Sungguh drakula ini seperti mempunyai sihir agar aku tetap merasa nyaman dalam dekapannya.


Betapa ini kenyamanan yang semu, rasa tak nyaman di jantungku kembali hadir setelah bertahun-tahun hilang.


Terakhir kali aku merasakan dentaman genderang perang seperti ini adalah saat-saat aku berhadapan langsung dengan Mas Ikau dahulu.


Bahkan aku hampir lupa dengan perasaan seperti ini, perasaan mati rasa dalam sesaat, perasaan geli di bagian perutku karena ribuan kupu-kupu sedang menggelitik manja di sana.


Aku ingin segera tersadar dari adegan ini, tetapi insting nakal di otakku berusaha untuk tetap bertahan dalam posisi ini.


Jika saja rentenir tak berperikemanusiaan ini adalah Mas Ikauku. Maka dengan suka rela aku akan semakin mengeratkan tanganku di pelukannya.


Ingatan tentang konfirmasi Form dari pekerjaan baruku tiba-tiba menyadarkanku dari dekapan hangat pria Ini.


Segera kujauhkan tubuhku darinya, kurapikan rambutku yang tadinya berhamburan dadanya. Aku berhasil memisahkan diri darinya namun tidak dengan tanganku yang sedari tadi masih ada dalam genggamannya.


"Kukira kau tidak akan melepaskan pelukanku," katanya sambil tetap menggenggam pergelangan tanganku.


Aku tahu di balik kacamata hitam itu ada sepasang mata yang sedang menatapku dengan intens.


Aku mencoba melepaskan cengkraman erat tanganku dari tangan berotot kehijauan itu.


Hingga Jam tangan bermerk Tissot di tangannya bergetar, namun tetap tak mampu membebaskan tanganku dari cengkramanya.


"Lepaskan aku! " Kataku dengan kasar.


"Tidak akan!" Jawabnya masih menggenggam tanganku.


"Lepaskan! Aku harus pergi ke tempat kerjaku yang baru!" Kataku sebenarnya aku sangat khawatir bagaimana bila aku sampai terlambat datang ke kantor itu.


"Tidak, kau tidak akan pergi ke sana Ana!" Jawabnya.


"Kau sangat keterlaluan, biarkan aku pergi! " kataku sambil mengibas-ngibaskan tanganku agar terlepas dari cengkramannya.


"Ikut aku!" katanya sambil menarik tubuhku dan memasukkanku ke dalam mobilnya.


Aku tak mampu memberontak rasanya tubuhku seperti lemas tak berdaya.


Aku terduduk di jok mobil yang berlapis beludru itu, tanpa menunggu lama dia pun ikut masuk dan duduk di sampingku.


"Apa maumu sebenarnya ha? Sudah kukatakan aku harus pergi untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik agar kau bisa mendapatkan uangmu kembali." Kataku sebenarnya saat ini mataku sudah berkaca-kaca ingin rasanya aku menangis.


Aku sangat takut kehilangan pekerjaan baru yang bahkan belum kukonfirmasi tersebut.


Bagaimana jika mereka membatalkan perekrutanku, bagaimana jika mereka memecatku. Bukankah ini sangat konyol bila harus kehilangan pekerjaan yang bahkan belum kumulai sedikitpun.


"Kau tidak bisa bekerja di sana." Kata Yoshi sambil menatap ke arah depan.


"Tapi kenapa? jelaskan padaku. Apa kau tahu, kau sangat tidak masuk akal," kataku. Aku berusaha menahan air mataku.


"Pokoknya tidak bisa, tidak usah tanya alasannya. Jadilah calon istri yang baik,itu saja." Katanya masih dengan wajah datar yang tetap fokus menatap depan.


"Harus berapa kali kukatakan aku tak ingin menikah denganmu, aku akan menulasi hutang keluargaku. Jadi kau Tuan muda yang sombong tidak perlu repot-repot menikahi rakyat jelata seperti diriku ini." Kataku.


"Katakan apa alasanmu menolak pria yang nyaris sempurna sepertiku," jawabnya sambil melirikkan matanya padaku.


Sejak masuk ke dalam mobil dia sama sekali tidak menatapku seperti sedang menahan sesuatu, aku bisa melihat otot-otot kehijauan itu mulai menyembul ke permukaan kulitnya lagi.


Aku ragu apakah dia ini benar-benar manusia atau bukan. Mengapa aku sering sekali melihat otot kehijauan di kulit putihnya itu. Dia ini manusia atau Hulk sebenarnya.


Sepertinya manusia es ini sering sekali menahan emosinya. Dan aku tau itu pasti karena hidupnya setidakbahagia itu sebab terlalu sibuk mencari wanita untuk dinikahi. Benar-benar pria hidung belang.


"Aku tidak mencintaimu, aku tidak ingin menikah dengan pria seperti dirimu!" kataku dengan menatap matanya.


"A-apa? Coba katakan lagi," katanya. Kali ini dia melepas kacamata hitam yang sedari tadi ia pakai.


"Aku tidak mencintaimu Yoshi! Aku mencintai orang lain! " kataku dengan lantang.


Aku bisa melihat tubuhnya bergetar. Dia mencoba memalingkan wajahnya dariku.


"Kau munafik Ana, banyak gadis di luaran sana yang mengingkanku," katanya masih dengan mata yang tak mau menatapku.


Membuatnya seketika menatapku. Mata itu begitu tajam seperti banyak luka yang tertancap di sana. Entah apa yang terjadi dalam hidupnya selama ini. Hingga aura kebencian selalu menghiasi wajah itu setiap kali kita bertemu.


"Apa katamu? Beraninya kau?" katanya sambil mendekatkan dirinya kepadaku.


"Ya, pria sepertimu memang tak pantas untuk dicintai? apa ini masih kurang jelas? " kataku.


Aku tak perduli jika memang ini akan menyulut emosinya.


"Jadi kau ingin mengujiku Ana?" Dia semakin mendekat ke arahku. Menghimpit tubuhku hingga ke ujung pintu. Aku sangat tertekan.


"Menjauh dariku!! " Aku berusaha memukul-mukul dada bidangnya. Namun bagaikan kesia-siaan, tenaga terkuatku itu tak mampu mengimbanginya.


"Coba katakan siapa pria yang kau cintai itu?" katanya, suaranya cukup tenang tetapi tekanan tubuhnya pada tubuhku semakin kuat. Aku memejamkan mataku, tak kuat menahan serangan ini.


Inginku berteriak tetapi aku ragu itu akan sia-sia bukankah mobil sport ini didesain kedap suara.


"Kau tak perlu tau, yang jelas dia tidak seperti dirimu." Kataku sambil tetap menahan tubuhnya dengan tanganku.


Astaga lagi-lagi perasaan geli di perutku itu muncul kembali, bahkan ritme detak jantungku semakin tak beraturan.


"Katakan siapa dia? Biar kupatahkan tulang-tulangnya, " katanya sambil berhenti memberi tekanana pada tubuhku.


Tetapi sorot mata tajam itu tetap menelanjangi tubuh dan wajahku membuatku semakin tak karuan dibuatnya.


"Apa katamu? Kau pikir siapa dirimu ha? Ingat hubungan kita hanya sebatas pemberi dan penerima pinjaman. Tak ubahnya seperti Bank dan nasabahnya. Sejak kapan kau mempunyai izin untuk ikut campur dalam urusanku !" Kataku dengan tegas.


"Apa kau lupa dengan surat kuasa dari Ibumu untuk menyetujui apapun yang akan kutulis di surat kuasa kosong itu? " katanya dengan suara pelan, lagi-lagi dia mengingatkanku dengan surat perjanjian konyol itu lagi.


"Tapi itu hanya terjadi jika terjadi masalah dalam pelunasan pinjaman, bukankah selama ini kami tidak pernah telat dalam pembayaran?" Kataku mencoba mengingatkannya lagi.


"Apa kau lupa dengan Toko yang nyaris terlalap api yang Kau gunakan sebagai jaminan?" Katanya ,sepertinya ini akan menjadi senjata untuk menjatuhkanku.


"Memangnya kenapa? Toko itu masih sangat layak untuk dipakai bukan? Jangan mengada-ada seperti itu, " jawabku tak mau kalah.


"Tidak, aku sudah tidak menginginkan jaminan cacat seperti itu. Sudah kuputuskan. Waktumu habis," katanya sambil mengelus daguku pelan.


Sangat tidak sopan.


"Jangan semaumu sendiri . Dasar lintah darat! Sudah tertulis bahwa aku masih memiliki waktu satu tahun lagi untuk melunasi hutangku, " jawabku sambil menepis tangannya yang menyentuh daguku.


"Tidak, waktumu kurang dari satu tahun jika kau lupa. Lagi pula apa yang bisa kau lakukan? Maskapai bonafitmu itu tidak akan pernah menerima pegawai yang tidak disiplin sepertimu." Katanya sambil tersenyum licik.


Aku baru sadar. Kulihat jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 Itu berarti aku sudah terlambat satu setengah jam dari waktu yang ditentukan.


Apakah dia sengaja melakukan semua ini? Dia sengaja membuatku agar datang terlambat dalam perekrutan pekerjaan baruku.


"Kau___ Kau benar-benar jahat! Kau sengaja melakukan ini! " kataku padanya.


Namun dia hanya tersenyum tanpa melihat wajahku.


Aku benar-benar tidak habis pikir. Betapa liciknya manusia ini.


"Kenapa kau melakukan semua ini? Apa sebenarnya maumu ha?" kataku sambil memukul-mukul lengannya.


Lagi-lagi dia hanya tersenyum sinis tak memperdeulikan seranganku.


"Sudah kubilang, menikahlah denganku dan segala maslah hidupmu akan terselesaikan, mulai sekarang jadilah gadis yang pintar." Katanya sambil kembali memakai kacamata hitamnya.


"Turunkan aku!" kataku dengan air mata yang tak dapat kubendung lagi.


Aku sudah sangat lelah, aku harus menelepon Perusahaan itu setelah ini.


"Turunkan aku sekarang juga!" kataku dengan air mata yang mulai mengalir deras.


Sejenak kulihat rona kesedihan di wajah rentenir itu. Apakah dia bersedih untukku. Tentu saja tidak. Kemenangan seperti ini tentu akan membuatnya bahagia.


"Hapus air matamu dan keluarlah dari mobilku." Katanya sambil memberikan beberapa lembar tissue untukku.


"Aku tidak selemah itu ! jangan berpura-pura perduli padaku!" Kuraih tissue itu dan melemparkannya tepat ke wajahnya.


Kendaraan itu pun berhenti dan aku segera keluar dari mobil neraka itu.