My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Baby menangis



Ana POV


Pagi ini aku terlambat bangun, biasanya baby selalu membangunkanku dengan suara tangisannya. Sementara di sampingku Yoshi juga masih terlelap, bahkan dia mendengkur, tidak biasanya dia seperti ini. Lalu kulihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh.


Astaga, Yoshi terlambat ke kantor!


"Mas! bangun!" ucapku sambil menggoyangkan badannya.


"Mas! bangun dong, kamu terlambat tau!" teriakku tetapi suamiku itu tetap saja memejamkan matanya.


"Mas, kenapa susah sekali dibangunkan?" akhirnya aku mencubit lengan kekarnya.


"Akh, sayang. Kenapa dicubit sih?" kata Yoshi masih saja tidak mau membuka matanya.


"Mas!!" kali ini aku sedikit membentaknya. Akhirnya ia membuka matanya.


"Ya ampun sayang, kenapa berisik sekali pagi-pagi ha? apa asi-mu penuh lagi?"


"Iya ini mulai banjir lagi!" ucapku.


"Ha mana? yang mana?" ucap Yoshi sambil terbangun dari tidurnya.


"Uh dasar modus! giliran itu aja langsung bangun!" ucapku sambil memukulnya dengan bantal.


"Sayang, kenapa berbohong? Ah, sudahlah aku tidur lagi saja ya," ucap Yoshi sambil menutupi dirinya dengan selimut.


"Ya ampun Mas, ini sudah jam berapa? nanti telat ke kantor loh!"


"Tidak ada yang berani memarahiku An, tenanglah. Aku sangat lelah sayang!" ucapnya dari balik selimut.


Aku pun bangun dari tempat tidur menuju box baby, namun mataku terbelalak saat mendapati box bayi itu kosong, lalu kemanakah putraku. Pantas saja dari semalam aku sama sekali tidak mendengar tangisannya.


"Shiaann!!!" teriakku panik, hingga membuat Yoshi bangun seketika.


"Sayang, ada apa?"


"Yosh! Shiaan! Shiann, baby kita tidak ada di box-nya!" teriakku.


"Ya ampun sayang, tenanglah!" ucap Yoshi sambil menghampiriku sambil memgerjapkan matanya.


"Yosh, kemana baby? Shianku sama sekali tidak menangis semalam. Ternyata dia hilang!" ucapku, aku pun mulai menangis.


"Hey, kenapa menangis sayang, Shian tidak hilang, baby tidak hilang! tenang ya," kata Yoshi menenangkanku.


"Baby ada di kamar Mama, bukan hilang sayang!"


"Sungguh Yosh?"


"Sungguh, aku yang telah membawanya semalam," ucap Yoshi.


"Tapi kenapa?"


"Sayang, duduklah dulu. Ah, suaramu membuat kepalaku pusing sejak tadi tau!" ucap Yoshi sambil memegangi kepalanya.


"Yosh, katakan. Atau aku akan pergi ke kamar mama sekarang juga!"


"Eits, jangan sayang. Kau akan membangunkan mama dan baby jika kau kesana, semalaman baby terus saja menangis. Lalu aku membawanya keluar kamar agar kau tidak terbangun."


"Ya ampun Mas, tapi kenapa kau tidak membangunkanku saja?"


"Tidak sayang, aku tidak tega. Seharian kau sudah cukup kelelahan dengan dadamu yang bengkak itu."


"Astaga, aku sudah baik-baik saja. Dan aku sudah terbiasa untuk menjaga baby semalaman."


"Ya, dan itu cukup berat. Semalam aku merasakannya sayang!" ucap Yoshi sambil memejamkan matanya masih terkantuk.


"Lalu, apa dia terus menangis? Ah, aku harus memeriksanya sekarang!"


"Sayang jangan! aku dan mama baru pergi tidur jam 5 tadi, setelah baby benar-benar tertidur. Lalu mama membawa baby ke kamarnya karena dia ingin tidur bersama cucunya."


"Oh begitu, ya ampun sayang. Kau manis sekali," ucapku sambil mencium pipinya.


"Ayo tidur lagi, aku masih sangat mengantuk!" ucapnya sambil meraih tanganku.


"Mas, apa kau libur hari ini?" tanyaku sambil berbaring.


"Ya, aku bebas menentukan kapan aku libur dan kapan aku harus ke kantor," ucap Yoshi mulai memejamkan matanya lagi.


Sungguh kasihan, bisa kubayangkan betapa repotnya suamiku ini sangat mengatasi baby yang sedang rewel semalaman. Untung saja, mama membantunya.


Aku pun bangkit dari tempat tidur dan berniat untuk mandi. Namun tangan Yoshi lagi-lagi meraihku.


"Sayang, mau kemana sih? Temani aku tidur dulu ah!" ucap Yoshi lirih, tak kusangka dia masih tetap terjaga.


"Aku mau mandi Mas."


"Sebentar An, biarkan seperti ini dulu," kata Yoshi sambil melakkan kepalanya di atas pangkuanku.


"Oh kau manja sekali Mas Ikau," ucapku sambil membelai rambutnya. Wajah itu sungguh terlihat lelah. Padahal aku sudah tak sabar ingin menanyakan pada Niluh tentang apa yang terjadi semalam.


"Ini kesempatan, mumpung Shian sedang bersama neneknya sayang,"


"Ya Mas, tidurlah. Aku akan berada di sini sampai kau tertidur," kataku, sambil terus membelai kepalanya. Aku sadar sejak kelahiran baby, kami jarang sekali bisa seperti ini.


"Seandainya aku sedang tidak mengantuk. Sudah pasti akan terjadi sesuatu pagi ini, sayangnya si gendut itu membuatku kewalahan semalam hingga menjelang pagi," ucap Yoshi.


"Aku sungguh kehabisan tenaga. Dia sama sekali tidak mau turun dari gendongan,"


Yoshi terus saja berbicara dengan mata terpejam, entah dia sedang mengigau atau apa. Tetapi, suaranya terdengar lucu di telingaku.


"Mas, apa baby benar-benar menyusahkanmu semalam," tanyaku.


"Sangat! mungkin dia marah padaku."


"Karena aku telah ... "


"Telah apa?" tanyaku, sebab Yoshi tidak melanjutkan perkataanya.


"Telah ... "


"Telah apa?"


"Kau akan malu, jika aku mengatakannya."


"Ha, aku tau maksudmu! dasar modus!" aku mengingat kejadian kemarin lalu kupukul kepala Yoshi dengan pelan dan dia pun tertawa.


Sekian menit berlalu, Yoshi pun kembali tertidur. Kuletakkan kepalanya pada bantal dengan pelan, lalu aku pun pergi ke kamar mandi.


Tiba-tiba terdengar suara tangisan baby dari luar. Aku segera menyelesaikan ritual mandiku, sementara Yoshi masih terlelap. Kulihat mama masuk ke kamar dengan membawa baby yang sedang menangis sesenggukan.


"Tuh, itu mama tuh! uh dasar kamu ya, sama seperti Papamu. Maunya deket terus sama mama," ucap mama pada baby saat melihatku selesai merapikan diri.


"Halo baby Shian, pasti kau sangat merepotkan Oma ya semalam?" tanyaku pada mama sambil meraih baby.


"Tidak, hanya sesekali saja terbangun An. Dia sama seperti Yoshi, sangat candu terhadapmu. Haha," jawab mama tertawa.


"Ah mama bisa saja!"


"Ma, ayo kita keluar, Yoshi baru saja tidur. Ana takut membangunkannya," kataku dan kami pun keluar kamar.


Di ruang keluarga.


Niluh membawakan sarapan untuk kami. Tetapi saat kuperhatikan ternyata raut wajahnya hampir sama seperti mama dan Yoshi, mereka semua terlihat lelah dan mengantuk.


"Niluh, apa kau juga ikut begadang semalam?" tanyaku.


"Eh, iya nyonya. Bos kecil sangat aktif semalam. Hehe," ucapnya malu-malu mungkin karena dia merasa tidak enak padaku.


"Ya ampun, mama juga ikut begadang hingga pagi. Maaf ya Ma dan Niluh, Yoshi kecil ini sangat nakal!" ucapku sambil menciumi baby.


"Tidak apa Nyonya, saya senang bisa membantu," jawab Niluh.


"Jangan khawatir An, bahkan mama baru tau jika selama ini kau semalaman penuh menjaga baby seorang diri. Tanpa mengeluh sedikitpun."


"Belum lagi jika Yoshi mengganggumu, sudah lelah begadang. Masih harus begadang untuk hal yang lain pula, ckck," ucap mama berdecak.


"Tidak apa Ma, Yoshi tidak mengganggu kok."


"Apa kau paham maksud mama?" tanya mama berbisik. Tentu saja aku paham, aku tidak sepolos itu.


"Paham Ma, Yoshi memang tidak mengganggu sejak kelahiran baby," jawabku.


"Ah, tapi tumben sekali, bukankah selama ini dia sangat merepotkan?" tanya mama lagi. Astaga, mengapa mertuaku ini kenapa sebenarnya.


"Kan Ana masih nifas, Ma," ucapku.


"Ah haha. Iya, iya. Mama baru ingat, jadi apa masa nifasmu belum berakhir?"


"Sebenarnya sudah Ma, tetapi Ana tidak bilang pada Yoshi. Hehe," jawabku malu-malu. Lihatlah mertuaku ini terlalu sayang padaku atau terlalu kepo, aku tidak tau.


"Ya, bagus. Biarkan saja, lagi pula mengurus baby saja sudah sangat lelah apalagi ditambah mengurus papanya," ucap mama dan kami pun melanjutkan sarapan.


"An, apa mama boleh bertanya?"


"Ya, tentu boleh Ma, ada apa?" jawabku, jujur saja setiap seseorang meminta ijin untuk bertanya seperti ini. Perasaanku menjadi sangat tidak enak, tentu saja itu bukanlah pertanyaan biasa.


"Apa Yoshi meminum ASI-mu?" tanya mama dengan sangat pelan, seketika makanan di tenggorokanku tersangkut tidak mau turun ke lambung.


Uhukk..


Uhukk..


Aku tersedak, ini sangat sakit sekali. Bahkan sebagian air masuk ke saluran nafas saking terkejutnya diriku.


"Ya ampun sayang, minum ini." Mama langsung memberiku segelas air. Hingga aku bisa kembali bernafas dengan benar.


"Sudah, tidak perlu dijawab sayang, kau lanjutkan makan saja. Maafkan mamamu yang terlalu vulgar ini ya," ucap mama menyesali perkataannya. Sungguh membuatku tidak enak saja.


"Ma, sebenarnya apa yang Mama dengar itu benar, apa Yoshi bercerita kepada mama?" sungguh, bisa-bisanya Yoshi menceritakan semuanya pada mama. Dasar Yoshi!


"Ya, itu pun setelah mama memaksanya, apa kau tau? Sejak kecil dia alergi ASI Mama, tetapi kenapa kemarin dia baik-baik saja setelah meminum milikmu, mama sangat penasaran maka dari itu mama bertanya padamu langsung."


"Benarkah? Mama tidak sedang bercanda?" tanyaku. Aku pun terkejut saat mendengar pernyataan mama.


"Mama serius sayang. Bahkan dulu setiap kali menyusu, kulitnya langsung memerah dan gatal hingga muntah-muntah."


Astaga, bagaimana mungkin ASI bisa menyebabkan alergi seperti itu. Atau mungkin mama mengkonsumsi obat tertuntu hingga mempengaruhi air susunya.


Astagaa punya mertua satu candu banget ngurusin beginian, untung anda baik Bu!😘😘


Promo lagi ya genk, jangan lupa mampir ke karya temanku yang keren ini 😍



Hidup Dea tidak seperti kebanyakan remaja pada umumnya. Saat umur Dea 8 tahun ibunya meninggal. Ayahnya sudah menikah lagi. Setelah ibunya meninggal ia diasuh oleh neneknya bersama kedua sepupunya yang sama - sama kehilangan sosok ibu disaat mereka masih kecil. Tentu itu tidak mudah, ditambah sikap neneknya yang berat sebelah.


Namun semua hal menyedihkan tentang hidupnya terobati ketika Dea bertemu Dion, laki - laki misterius yang penuh kejutan yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Cinta manis keduanya pun dimulai.


Kepindahan gadis yang bernama Tiara ke sekolah mereka sempat membuat hubungannya dan Dion goyah. Dan yang tak pernah Dea sangka ia mengalami kasus pelecehan dan Videonya menyebar sehingga membuatnya hampir dikeluarkan dari sekolah.


Jangan lupakan kehadiran sosok Dean yang kembali membuat hubungannya dengan Dion goyah. 


Bagaimana akhir hubungan Dea dan Dion, apa mereka bertahan atau malah sebaliknya,?


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Malaikat Tak Bersayap, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1593132&\_language\=id&\_app\_id\=2