My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Aku suka alis dan matamu



"Apa? coba ulangi?" Kataku pura-pura tidak mendengar ucapannya.


"Panggil aku Mas, Sayang atau Papa.. Gitu kek An." Katanya tanpa ragu. Aku justru tertawa mendengar semua itu. Sejak kapan Yoshi se-uwu ini, batinku.


"Aduh Yosh.. " kataku tak mampu memberi respon berlebih.


"Apa masalahnya An, bukankah aku suamimu?" tanyanya sambil tetap fokus menyetir.


"Aku masih sangat canggung dengan hubungan ini Yosh." Kataku dengan serius.


"Maka dari itu hapuslah kecanggungan ini dimulai dengan panggilan sayang." Ucapnya sambil menaikkan satu alisnya. Lagi-lagi alis itu menarik perhatianku, mata dan alis itu sudah menjadi bagian favoritku entah sejak kapan.


"Yosh, aku suka mata dan alismu." Ucapku tanpa sadar. Aku langsung membekap mulutku tetapi sepertinya terlambat, Yoshi sudah mendengarnya.


"A-pa An ?" Tanyanya tanpa ragu sambil menghentikan mobil dengan mendadak.


"Bukan apa-apa." Kataku singkat. Aku tak ingin membuatnya semakin besar kepala.


"Tidak, kau tadi mengatakan sesuatu. Coba ulangi lagi," ucapnya sambil mendekatkan wajahnya.


"Bukan apa-apa, sudah lajukan lagi mobilnya." Kataku tak berani menatap sorot mata tajamnya.


"Katakan atau aku akan... " Kata Yoshi menggantung. Aku benci kalimat menggantung seperti ini.


"Atau apa... " Tanyaku semakin menghindari himpitan wajah berseri itu.


"Atau aku akan mengulangi kejadian semalam di sini, lihatlah bukankah tempat ini cukup sepi dan romantis?" ucapnya sambil melihat ke arah luar jendela. Benar, jalanan ini sangat indah tetapi sepi hanya ada pohon-pohon cemara di sekitar.


"Ya-ya baiklah. Aku akan jujur. Aku suka mata dan alismu, " Kataku dengan sigap. Aku tak ingin berlama-lama dalam kungkungan Yoshi seperti ini, apa lagi untuk mengulangi kejadian semalam di sini, yang benar saja.


"Kau menyukai alis dan mataku? Hanya itu?" Ucapnya seperti kurang puas dengan pengakuanku.


"Iya memangnya apa lagi. Sudah jalankan mobilnya." Jawabku.


"Tak apa, ini awal yang bagus. Pertama mata dan alis, selanjutnya bagian mana lagi yang akan kau suka dariku An?" Tanyanya lagi, sambil mengarahkan tanganku ke miliknya yang berada di bawah kemudi. Astaga aku tak habis pikir, sempat-sempatnya dia melakukan ini.


"Sudahlah Yosh, hentikan semua ini. Dasar mesum." Dengusku kesal.


"Panggil sayang dulu baru aku lanjutan perjalanan ini." Katanya, dia masih saja ingin menggodaku.


"Yosh cepatlah.. aku mulai bosan dengan ini." Kataku setengah berteriak.


"Panggil sayang dulu, apa susahnya ha?" Ucapnya lagi masih saja tak bergeming.


"Sayang lajukan mobilnya... " Ucapku lirih.


"Aku tidak dengar." Kata Yoshi sambil mendekatkan telinganya ke arahku. Benar-benar menyebalkan.


"Yoshi Sayang.. Kita lanjutkan perjalanannya yuk.. " Kataku dengan mendekatkan bibirku ke telinganya.


"Siap sayang! " Jawabnya sambil tertawa.


Cupp..


Satu ciuman mendarat di bibirku. Ciuman singkat tetapi terasa hangat. Membuatku terdiam sesaat sebelum akhirnya ia melajukan mobilnya kembali.


Akhirnya perdebatan tak penting tadi terlewati juga. Meskipun ia berhasil mencuri satu ciuman dariku, tapi tak apa ini bukan pertama kalinya dia melakukannya padaku.


****


Akhirnya kami sampai di sebuah café, sekilas ini seperti café biasa seperti kedai-kedai lain. Entah mengapa Yoshi membawaku ke mari.


"Turun sayang." Ucapnya sambil meraih tanganku keluar dari mobil.


Tanpa bertanya aku pun hanya mengikutinya saja. Memasuki café yang memiliki desain minimalis tersebut.


"An, ini café favorit Mama. Ada makanan Asia juga di sini. Mau mencobanya?" tanya Yoshi sambil memperlihatkan daftar menu kepadaku.


Melihat café ini. Sekilas aku teringat saat awal pertemuanku dengannya dulu. Saat aku masih menjadi seorang Barista café Kopitayo di Jogjakarta.


Saat itu seorang pria angkuh memesan cappuccino with art dengan gaya sombongnya. Aku bahkan sempat membayangkan bagaimana jika aku menjadi istrinya. Akankah dia masih sesombong itu kepadaku.


Kemudian dia membuat kegaduhan di kedai itu, membuatku dimarahi habis-habisan oleh kedua bosku. Aku sangat kesal padanya saat itu, sebelum akhirnya aku tahu bahwa dia lah investor café tempatku bekerja, sekaligus rentenir yang selama ini memerasku.


Dia mengancam akan menikahiku dengan paksaan jika Ibuku tidak dapat melunasi hutangnya.


Ya, pria itu adalah Yoshi, dan lihatlah sekarang dia benar-benar menikahiku. Sungguh tak dapat kupercaya saat itu aku sangat membenci dirinya. Bahkan untuk melihatnya lagi saja aku tak mau.


Namun takdir berkata lain, rasa benci itu kini mulai terkikis, aku mulai merasakan adanya getaran aneh dalam hatiku setiap kali berdekatan dengannya.


"Sayang, mau pesan apa?" Ucap Yoshi membuyarkan lamunanku.


"Makan atau minum? Ada jasmine tea juga di sini, benar-benar teh melati Indonesia An." Kata Yoshi, tetapi sepertinya aku tidak ingin memesan itu.


"Yosh aku mau teh camomile saja." Kataku sambil menunjuk pada menu.


"Sejak kapan kau menyukai camomile?" tanya Yoshi dengan heran.


"Sejak bekerja di kapal, aku biasa mengonsumsinya sebelum tidur." Kataku sambil melihat-lihat menu.


"An, apa boleh bertanya?" Ucap Yoshi.


"Apa? Jangan menggodaku lagi. Aku sedang ingin bersantai sekarang." Ucapku malas.


"Aku serius An, apa selama ini aku sangat menyusahkanmu?" Tanyanya dengan raut wajah datar.


"Apa aku perlu menjawabnya?" tanyaku. Sudah tau selama ini dialah yang membuat hidupku berantakan tetapi masih saja bertanya.


"Jadi aku benar-benar membuatmu menderita?"tanya Yoshi lagi.


"Iya Yoshi.. Sangat!" jawabku singkat.


"Maafkan aku An. Bahkan kau harus bekerja di kapal itu hanya untuk mengembalikan uangku." Ucapnya lirih aku bisa melihat raut penyesalan tersirat dalam wajah itu.


"Sudahlah Yosh.. Lagipula aku sangat senang selama bekerja di sana. Bahkan aku bertemu dengan teman-teman yang sangat menyenangkan." Kataku mencoba membuatnya berhenti merasa bersalah.


"Benarkah kau mau memaafkanku An?" tanyanya yang sepertinya tulus.


"Iya. Tetapi mengapa dulu kau menyusulku ke kapal itu Yosh?" tanyaku. Aku memang cukup penasaran dengan ini sejak lama.


"Karena aku mencintaimu An. Aku tak ingin berada jauh darimu." Ucap Yoshi sambil memegang tanganku.


"Omong kosong!" Kataku sambil menepis genggaman tangan itu.


"Sungguh An, aku tak suka melihatmu dekat dengan si setrip cacing Reza itu." Kata Yoshi, Astaga kenapa dia membawa-bawa nama Reza di sini.


"Jangan mengada-ada. Jika memang itu alasanmu kenapa kau masih saja memerasku dan menerima semua uang yang kubayarkan setelah itu. Dasar mata duitan!" ucapku dengan kesal. Yoshi benar-benar keterlaluan.


"Siapa bilang An? Lihat ini." Ucap Yoshi sambil mengeluarkan sebuah kartu debit berwarna gold.


"Apa ini?" tanyaku sambil melihat kartu itu.


"Kartu debit sayang.. " Ucapnya sambil memutar mata malas.


"Iya aku tau, ini kartu debit tetapi untuk apa kau menunjukannya padaku?" tanyaku.


"Ini milikmu." Ucapnya singkat.


"Bicara yang jelas Yoshi, aku tak butuh kartu ini aku masih punya uang. Aku bukan mata duitan sepertimu." Kataku kesal.


"Sayang dengar. Aku menyimpan semua uang yang selama ini kau bayarkan kepadaku selama bertahun-tahun itu di sini." Ucapnya sambil menyerahkan kartu itu kepadaku.


"APAA?!" Ucapku heran.


"Benar sayang, semua hasil kerja kerasmu selama ini aku menyimpannya di sini. Aku sama sekali tidak menggunakan uang itu sepeserpun jika kau tau." Katanya tanpa ragu.


"Omong kosong apa lagi ini Yoshi? Bukankah selama ini kau yang memerasku dan Ibuku dan sekarang apa lagi ini?" Kataku menuntut penjelasannya.


"Ya benar. Maafkan aku An." Ucap Yoshi, lagi-lagi ia meminta maaf kepadaku.


"Yosh, mengapa kau tak menggunakan uang ini untuk sesuatu? Bukankah ini memang sudah menjadi hakmu? " tanyaku heran.


"Sudah kubilang, aku jatuh hati padamu An. Mana mungkin aku menggunakan uang seseorang yang kucintai demi kepentinganku sendiri." lagi-lagi Yoshi membuatku kebingungan.


"Tapi kenapa? Apa alasanmu Yosh. Jangan sangkut pautkan ini dengan cinta. Ini tak ada hubungannya sama sekali dengan itu." Kataku mulai kesal.


"Ada alasan lain An." ucap Yoshi lirih.


"Apa?" tanyaku.


"Aku belum bisa memberitahumu sekarang." Kata Yoshi sambil menggenggam erat tanganku. Aku mulai melihat urat kehijauan itu mulai muncul di permukaan kulit putihnya. Sudah sangat lama aku tak melihat tangan kekar itu dipenuhi otot kehijauan.


Sekarang aku mulai bisa memahami. Setiap kali Yoshi seperti ini pasti ada sesuatu yang benar-benar mengguncang jiwanya. Tidak, aku tidak akan melanjutkan perbincangan ini sebelum suamiku berubah menjadi Hulk dan membuat kekacauan di café ini.


Sementara genggaman tangan itu mulai berubah menjadi cengkraman dan terasa sangat menyakitkan.


"Yosh.. Yoshi.. " ucapku membuyarkan lamunannya. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat itu.


"An, apapun yang terjadi jangan pernah untuk meninggalkanku." Ucap Yoshi, aku merasa seperti ada luka dalam ucapan itu. Semacam luka yang selama ini ia pendam sendirian.