My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Blessing



Yoshi POV


Kulihat istriku sedang berbaring lemah dengan selang infus di tangannya.


"Mas, jangan pergi," ucapnya lirih.


"Iya sayang, aku akan selalu berada di sisimu sampai kapanpun,"


"Iya, jangan kemana-mana ya sampai baby lahir," ucapnya sambil mencengkeram tanganku. Aku bisa melihat ekspresi kesakitan itu.


"Apa bertambah sakit?"


"He'em," jawab Ana sambil memejamkan matanya.


Aku pun duduk di sampingnya sambil memeluknya dan mengelus perut Ana, sejak berada di mobil memang perut Ana sangatlah kencang. Mungkin ini yang dimaksud dengan kontraksi.


"Akkhh!" teriak Ana.


"Sayang! sakit ya? sebentar aku panggil dokter dulu," ucapku dan kutekan tombol darurat di samping tempat tidur Ana.


"Massss, rasanya semakin kencang!"


"Iya sayang, tahan ya. Dokter akan segera datang!" ucapku.


Dokter pun datang bersama para perawat dengan segala peralatan lengkap bersiap untuk menangani Ana.


"Dok, apa yang bisa kita lakukan agar istriku tidak terlalu merasakan sakit?"


"Sebenarnya ini normal Pak, ini baru pembukaan lima. Semakin banyak pembukaan maka semakin intens juga rasa sakitnya," ucap Dokter itu.


"Apa dok? memangnya sampai berapa pembukaan biasanya? saya tidak tega melihat istriku seperti ini Dok!"


"Sepuluh pak, jika pembukaan sudah lengkap maka bayi pun keluar,"


"Sepuluh? Baru pembukaan lima saja istriku sudah seperti ini. Tolong lakukan sesuatu, Dok."


Sementara kulihat Ana masih saja memejamkan matanya dan sesekali berteriak setiap kali kontraksi datang.


"Dok, cepat lakukan sesuatu!" ucapku lagi, dan dokter pun nampak berfikir.


"Sebenarnya tidak ada masalah pak, jika ibu Ana harus menjalani proses melahirkan secara normal," ucap dokter itu.


"Namun, jika bapak dan ibu menghendaki operasi SC itu juga tidak masalah."


Aku pun berfikir sejenak, apa lebih baik operasi saja dari pada harus melihat Ana tersiksa seperti ini. Bukankah operasi lebih singkat meskipun penyembuhannya memakan waktu lebih lama.


"Sayang, apa kita pilih opsi SC saja?" tanyaku.


"Tidak mas, jangan. Aku ingin melahirkan secara normal. Ini kehamilan pertamaku, Mas," ucap Ana seketika menolak tawaranku.


"Tapi sayang, aku tidak tega melihatmu seperti ini. sudah dua jam dan baru pembukaan lima," kataku.


"Biarkan saja Mas, dokter juga mengatakan bahwa ini tidak masalah kan?" ucapnya, kutatap mata indah itu. Sepertinya istriku ini memang benar-benar tidak bisa dibantah.


"Ya sudah, apa kau butuh sesuatu?" tanyaku.


"Tidak mas, aku ingin minum saja," ucap Ana sambil duduk, dan aku pun memberikannya segelas air.


Saat itu juga bapak, ibu, mama dan Luna datang memasukki ruangan kami.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya mama menghampiri Ana.


"Sakit ma, sakitnya hilang dan muncul secara bergantian," kata Ana.


"Uhh sayang, sabar ya. Apa mau SC saja?" tawar mama sependapat denganku.


"Jangan ma, Ana masih kuat. Jangan khawatir."


"Mbak, semangat! abaikan rasa sakit itu!" celetuk Luna.


"Dih kamu gak ngerasain sih Lun!" jawab Ana.


"Iya, pokoknya harus dikuat-kuatin Mbak, aku udah gak sabar mau ketemu baby," ucap Luna memberi semangat pada Ana.


Lagi-lagi Ana memekik menahan sakit yang entah bagaimana rasanya.


“Mbak, sakit ya? Apa mau operasi aja? Tapi, mahal loh mbak kalo SC, duitnya mending buat shopping aja kan? Haha,” ucap Luna mencoba menghibur Ana dengan bercanda.


“Bener Lun, hahaha,” balas Ana tertawa. Akhirnya istriku itu bisa tersenyum juga.


Beberapa menit kemudian dokter datang dan memeriksa tekanan darah Ana sekaligus detak jantung baby.


“Saya lihat pembukaannya dulu ya Bu,” ucap dokter itu. Ana meringis saat dokter itu melakukannya.


“Emmh..” Ana semakin mengeratkan genggaman tangannya padaku.


“Masih pembukaan tujuh Bu, sebentar lagi ya. Ibu Ana pasti bisa,” ucap dokter itu.


“Sayang, jika sudah tidak kuat lag, SC saja ya. Aku tak mau kau dan baby kenapa-kenapa.


“Tidak Mas, aku masih kuat,” ucapnya lirih dan aku pun memeluknya. Sungguh aku sangat tidak tega melihatnya seperti ini. Jika saja bisa, akan kugantikan rasa sakit itu.


Sementara bapak dan ibu hanya memperhatikan putrinya menahan rasa sakit. Bapak pun menghampiri Ana dan membelai pucuk kepalanya.


"Jadi, sekarang jika kau sudah tidak kuat lagi. bapak minta katakanlah Nak, melahirkan adalah suatu proses mengeluarkan manusia dari tubuh manusia dan itu tidak mudah. Jika memang kau merasa sangat tersiksa. Bapak minta sebaiknya kita melakukan SC saja."


Ana pun melepaskan pelukanku dan berpindah memeluk ayahnya. Aku bisa merasakan ikatan tak kasat mata itu, aku tau seorang ayah sangatlah terikat dengan putrinya. Maka dari itu bapak bisa merasakan jika Ana sedang menahan rasa sakit.


"Pak, berikan Ana semangat. Jangan membuat Ana ingin menyerah saja. Ana bisa dan Ana kuat untuk melahirkan cucu bapak ini secara normal."


Bapak pun tak dapat berkata apa-apa lagi, ia tau jika anaknya itu sangat keras kepala. Jadi percuma saja memaksanya.


"Akhh.. akhh.. Mas, sakit.." teriak Ana dan semua orang pun panik.


Luna keluar memanggil dokter. Saat itu juga dokter mengatakan jika pembukaannya sudah lengkap. Aku bukannya tenang tetapi semakin panik, kali ini Ana akan semakin tersiksa lagi, bagaimana mungkin lubang sekecil itu mengeluarkan seorang bayi. Bisa kubayangkan betapa sakitnya.


Mama menghampiriku lalu mencoba menenangkanku.


"Tenang papa muda, sebentar lagi juniormu akan terbit. Sudahlah jangan terlalu tegang seperti itu!" ucap mama menepuk pundakku.


"Ma, lihatlah Ana sangat tersiksa seperti itu. Bagaimana mungkin Yoshi bisa tenang?"


"Sudah, lihat saja pasti semuanya aman. Dokter tau apa yang harus dilakukan."


Aku pun merasa lebih baik setelah mendengar ucapan mama.


"Mas.."


"Ya sayang, aku di sini!" ucapku sambil memeluknya dari samping. Ana terus meligkarkan lengannya pada tubuku sambil mengikuti arahan dari dokter.


Aku bisa merasakan rasa sakit itu, cairan dan darah mulai keluar, volumenya begitu banyak. Apakah ini normal? Aku terus bertanya pada dokter tentang apa pun yang kulihat.


"Pak, tolong tetap tenang. Atau anda bisa keluar dari ruangan ini jika terus bertanya!" ucap dokter kepadaku.


Sungguh baru kali ini sesorang berani mengancamku seperti itu. Aku pun menurutinya untuk tetap diam. Bagaimana pun nasib istri dan anakku sedang berada di tangannya.


"Ayo Bu, terus ikuti arahan saya. Sedikit lagi Bu!" ucap dokter sambil terus membantu Ana.


"Mass sakit!" teriak Ana sambil menjambak rambutku.


"Iya sayang, sedikit lagi!"


Ana terus mengikuti arahan dokter untuk mebarik nafas dan mengeluarkannya.


"Ayo Bu, dorong! mengejan Bu!" ucap dokter itu.


Ana pun mengejan dengan sekuat tenaga hingga cengkraman tangannya semakin kuat. Dalam beberapa detik kemudian suara tangisan bayi pun memenuhi seluruh ruangan ini.


Oek..


Oek..


Tangisan yang semakin mengeras, Aku pun terperosot ke lantai, akhirnya buah hati kami lahir juga. Mama, bapak, ibu dan Luna sangat terharu, aku pun kembali berdiri. Tuhan sungguh sangat menyayangi kami. Malaikat kecil itu kini telah hadir.


Bayi kecil yang sudah lama dinanti oleh mama itu kini telah berada di tengah-tengah kami. Aku masih ingat beberapa tahun yang lalu ketika mama memintaku untuk segera menikah dan memiliki keturunan, saat itu juga Ana tengah menghilang dan bekerja di kapal. Namun kini bagaikan sebuah keajaiban, Ana telah kembali dengan memberikan anugerah terindah untukku dan keluargaku. Dia benar-benar telah menjadi istriku dan ibu dari anakku.


Demi apapun aku akan berterimakasih kepada Tuhan seumur hidupku atas hadiah ini.


"Baby, terima kasih sayang. Kaulah sang penyelamat itu. Kaulah malaikat kecil utusan Tuhan yang telah menyatukan papa dan mama. Tanpamu, sungguh mama tidak akan pernah memaafkan kesalahan besar yang sudah papa lakukan selama ini. Meskipun pada akhirnya, semua itu hanyalah kesalahpahaman saja," ucapku sambil menatap paras cantik bayi itu.


Wajah bulat, bibir merah dan hidung mungilnya. itu adalah perpaduan yang pas. Putriku begitu cantik. Kurasa wajahnya sangat mirip dengan Ana.


"Selamat ya Pak Yoshi, bayinya laki-laki dan tampan sekali," ucap dokter itu yang tentu saja membuatku terkejut bukan main.


"Laki-laki, Dok?" tanyaku.


"Ya, benar Pak. It's a baby boy," tegas dokter itu lagi.


Astaga, sepertinya kepanikan telah kembali membuat mataku tidak berfungsi dengan benar.


"Mas, lihatlah anak kita tampan sekali," ucap Ana dengan baby yang kini sedang dalam dekapannya. Kulit mereka saling bersentuhan.


"Ya, sayang. Sangat tampan seperti papanya," ucapku menahan sensasi geli di perutku. Karena sejak tadi aku mengira jika baby itu perempuan.



Payah banget Yoshi. Tidur aja Yosh, biar bener dulu matamu yang siwer itu 🤣🤣🤣


Haloo genk, makasih ya masih mengikuti ceritaku ini. Dan makasih juga untuk supportnya 😍😍


Rekomendasi novel untukmu hari ini judul scarlet (in the snow) karya kak Dyoka. Happy reading ya😍😍



Mawar menunggu bertemu kembali dengan penyelamatnya di masa kecil. Namun, apa yang akan dilakukan Mawar ketika tahu di mana orang itu berada, tetapi tidak bisa bertemu.


Janji koyol yang mereka buat pada pertemuan pertama, membuat mawar tidak bisa semudah itu menemui sang penyelamat. Dekat, tetapi tidak bisa dijangkau.


Brandon, pemuda tampan yang menjadi idola banyak perempuan di Inggris. Menjadi penyanyi bukanlah impiannya. Jika saja bukan karena janji itu, maka Brandon tidak akan pernah berjuang untuk mewujudkan mimpinya.


Apakah yang akan terjadi ketika mereka berhasil bertemu kembali? Apakah mereka hanya menjadi teman saja? Ataukah akan ada benih-benih cinta di antara keduanya?


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Scarlet (In The Snow), di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1725857&\_language\=id&\_app\_id\=2