
Ana POV
Ini minggu kedua Yoshi berada di Jakarta, jujur saja aku sangat merindukannya. Meskipun hampir setiap hari kami berkomunikasi tetapi tetap saja aku ingin sekali bertemu dengannya. Untung saja di rumah ini ada Luna yang selalu hadir untuk memecah kesunyian.
"Lun, sadang apa?" tanyaku sambil memasukki kamaranya.
"Eh Mbak, ini lagi ngobatin luka," balasnya.
"Oh masih sakit ya? Mau Mbak bantu?" aku pun duduk di samping Luna terlihat luka itu masih tertutup perban.
"Nggak sakit kok Mbak, cuma ngilu aja gitu pas mau melepas perbannya."
"Ya udah sini, biar Mbak aja yang ngobatin," ucapku sambil meraih kotak P3K dari tangan Luna.
"Ah jangan Mbak, Mbak bawa badan aja sudah susah apa lagi mau ngurusin kaki aku,"
"Lihat tuh, ponakan aku udah melembung gitu. Harusnya udah mau lahir kan Mbak?"
"Iya gak apa-apa, udah biasa kok, sini mana kaki kamu."
"Iya, minggu ini hpl-nya, tapi kok Mbak belum merasakan apa-apa ya," ucapku sambil mulai melepas kain kasa pada kaki Luna.
"Wah Mbak, cepetan periksa dong!" perintah Luna sambil sesekali meringis saat aku mengoleskan alkohol pada lukanya.
"Mbak udah periksa Lun, bahkan setiap saat dokternya selalu memantau via online."
"Wah, siaga banget itu dokter ya," ucap Luna.
"Iya, kan Kak Yoshi yang mencarikan dokter itu."
"Wah sudah kuduga ternyata Kak Yoshi yang siaga. Wkwk,"
"Eh, kamu udah servisin vespanya bapak belum?" tanyaku.
"Udah kok Mbak, tapi ampun deh karena saking tuanya vespa itu. Luna harus bawa ke komunitas vespa jadul dulu. Baru nemu bengkelnya," ucap adikku sambil menggelengkan kepalanya.
"Lagian, kamu sih! gak hati-hati."
"Aku udah hati-hati tau Mbak, tapi si om-om itu yang ngawur," kata Luna kembali kesal.
"Memang dia udah tua Lun?"
"Belum sih Mbak, cuma dia panggil aku bocil, jadi ya udah aku panggil dia om-om aja,"
"Terus?"
"Kemarin dia mau kasih ganti rugi, tapi aku tolak aja Mbak."
"Lhah kok ditolak? Harusnya terima aja kan lumayan tuh buat biaya pengobatan kamu sama servis motor."
"Nggak Mbak, aku kesel sama orang itu. Makanya gak aku terima," ucap Luna.
"Kesel kenapa sih? memang sebelumnya udah pernah ketemu?"
"Ih Mbak tau gak. Dia itu cowok yang sama yang nabrak aku pas di bandara kemarin itu!"
"Astaga Luna!" ucapku kaget.
"Jadi dia cowok bule yang bapak sebut-sebut itu? benar dia orangnya ?"
"Ho'oh Mbak, orang yang sama. Aku inget gaya rambut sama suaranya."
"Wah kamu kok inget banget Lun? Jangan bilang kamu naksir sama cowok itu ya!" ucapku sambil tertawa.
"Dih ogah! Mbak ada-ada aja ih, jail banget kayak bapak."
"Lah kamu, pake nolak segala pas dikasih uang ganti rugi. Apa lagi coba namanya, kalo bukan jatuh cinta," ucapku menggoda Luna.
"Nggak gitu Mbak! aku cuma kesel aja, aku jadi males terima duit dari bule itu," ucap Luna kesal.
"Eh ganteng gak Lun, orangnya?"
"Ih apaan sih Mbak."
"Serius Mbak tanya, ganteng gak orangnya?"
"Dih, aku bilangin Kak Yosh nih. Kalo Mbak udah berani kepoin cowok lain!"
"Dih, dia mengancamku. Haha!" aku pun tertawa.
"Haha, bisa langsung terbang ke sini tuh Kak Yosh kalo dengar aku bilang gitu Mbak!" ucap Luna begitu seru.
"Tapi Mbak, jujur aja aku gak bisa lihat muka bule itu," ucap Luna lagi sambil mengingat-ingat.
"Loh kok bisa? Bukannya ini udah kedua kalinya kalian bertemu."
"Dia selalu pake masker Mbak, jadi yang terlihat cuma mata birunya aja,"
"Wah tapi, dia lihat muka kamu gak Lun?"
"Nggak sih Mbak, aku kan juga pake masker. Haha!"
"Yah, sayang banget dong. Harusnya kamu kenalan Lun," ucapku.
"Ogah ah, songong banget orangnya Mbak. Luna kan sukanya sama cowok dewasa dan matang.Haha,"
"Kali aja tu orang entar jadi dewasa dan matang di masa depan Lun!" ucapku masih saja ingin menggoda adikku yang menggemaskan itu.
"Eh Mbak, denger gak?" tiba-tiba Luna tampak seperti mendengar sesuatu.
"Denger apa?" tanyaku penasaran.
"Denger gak sih Mbak?"
"Mbak gak denger apa-apa sayang," ucapku karena memang tak ada yang kudengar.
"Ini Mbak !"
"Ini apa Luna?" aku semakin tak mengerti.
"Ini suara perut aku. Haha!" astaga, lagi-lagi Luna bercanda.
"Oh kamu laper ya aunty?" tanyaku sambil menirukan suara anak kecil.
"Iya nih baby, aunty lapar. Yuk kita ajak mamamu cari makan," ucap Luna besemangat.
"Kemana Lun?" tanyaku.
"Kemana gitu kek Mbak," jawab Luna.
"Oh iya juga ya. Aku sih gak masalah kalo kena marah. Tapi kesian Mbak aja, aku ajakin naik motor sambil bawa-bawa balon segede gaban gitu."
"Ah kamu, ya udahlah kita ke depan aja. Biasanya kan ada penjual makanan lewat tuh," ucapku.
"Ah ya boleh Mbak, yuk kita ke depan."
Kami pun pergi ke teras dan duduk di sana tak lupa aku membawa ponselku. Karena tentu saja Yoshi akan menngamuk lagi jika sampai ponsel ini terlepas dari tanganku. Sungguh berlebihan.
Tak berapa lama kemudian, seorang ibu-ibu melintasi rumah kami dengan gerobak di belakang sepedanya. Melihat itu Luna langsung berseru memanggilnya.
"Buuk, beliiii!!" teriak Luna dan seketika penjual pecel itu pun berhenti.
"Mbak, mau pecel? Aku pesenin ya yang gak pedes ya," ucapnya sambil berlari menuju ibu-ibu itu.
Tak lama kemudian, Luna pun datang dengan dua pecel di tangannya, mencium aroma sambal kacangnya saja sudah membuat air liurku hampir menetes.
"Mbak, ini punya mbak ya. Gak pedes sama sekali," dan aku pun meraih makanan berbungkus daun pisang itu.
"Makasih ya," ucapku lalu bergegas mencuci tangan dan bersiap untuk makan.
Baru saja aku hampir menyuapkan sayuran berbumbu kacang itu ke mulutku tiba-tiba ponselku bergetar. Dan saat mataku meliriknya, ternyata Yoshi sedang melakukan panggilan video call.
"Eh Mbak, Kak Yoshi telepon ya. Biar Luna saja yang angkat ya. Mbak lanjutin makannya," ucap Luna sambil meraih ponselku. Dia pun mengangkat telepon dari kakak iparnya itu.
"Halo Luna, kok kamu yang angkat?" terdengar suara Yoshi dari seberang sana.
"Halo Kak, ini Mbak Ana lagi makan pecel dan tangannya kotor jadi aku yang angkat," balas Luna.
"Oh begitu, Mbak Ana lagi makan apa tadi kamu bilang?" tanya Yoshi, sekilas aku bisa melihat wajahnya dari samping.
"Lagi makan pecel Kak, yang sayuran direbus terus di kasih sambal dikasih itu!"
"Oh, ibu yang membuatkannya ya?" tanya Yoshi masih sibuk membahas makananku dengan Luna.
"Bukan Kak, tadi beli di depan rumah,"
"Apa?!" ucap Yoshi tampak terkejut.
"Luna. coba berikan ponselnya pada Mbak Ana ya." Akhirnya Luna memberikan ponsel itu padaku.
"Sayang, kenapa beli makanan di luar?" tanyanya.
"Iya Mas, tadi ada pedagang keliling lewat sih," jawabku sambil mengunyah makananku.
"Sayang, apa itu higienis?" tanyanya.
"Ya, kelihatannya Mas, enak kok. Mau?" tanyaku.
"Lihatlah kau bahkan dengan mudahnya memasukkan makanan tidak jelas ke mulutmu seperti itu. Mana mama? aku akan bicara."
"Mas, makanan ini jelas kok. Mama sama ibu lagi keluar," ucapku.
"Sayang, hentikan makan pecel itu. Aku tidak mau kalau nanti kau sakit perut atau bahkan baby pun terkena dampaknya."
"Tapi Mas, kan sayang," ucapku.
"Dengar, kita tidak tau apakah sayuran itu bersih atau tidak, sudah direbus dengan suhu yang tepat atau belum. Bagaimana jika ada bakteri yang belum mati. Beberapa bakteri bisa menembus plasenta sayang. Sudah ya, jangan memakannya lagi. Aku hanya ingin kau lebih bisa menjaga dirimu dan baby," ucap Yoshi.
Setelah kupikir ternyata apa yang dikatakan Yoshi itu ada benarnya, dan aku pun pergi ke kamar meninggalkan Luna yang masih asik dengan pecelnya itu.
***
Dua hari kemudian.
Seperti biasa setiap pagi aku selalu berendam air hangat untuk merelaksasi tubuhku yang sangat mengembang ini. Setelah selesai mandi. Aku pun memilih baju ganti.
Kuletakkan pakaian itu di atas tempat tidur, tak sengaja kulihat selimutku bergerak-gerak, aku pun mencoba memperhatikannya. Bukankah ini terlalu besar untuk ukuran guling.
"Sayang !!" terdengar suara dari balik selimut dan seketika selimut itu berhambur ke lantai.
"Ah Mas, kau mengagetkanku !" ucapku, hampir saja jantungku terlepas saat melihat Yoshi menampakkan dirinya dari balik selimut.
"Sayang, aku sudah kembali," ucapnya sambil merentangkan tangannya dan aku pun memeluknya. Tubuh hangat ini, aroma parfum ini sangatlah kurindukan.
"Mas, aku merindukanmu," ucapku.
"Sayang, aku juga sangat merindukanmu dan baby," ucapnya sambil menarik handukku.
"Kenapa kau tidak mengatakan jika akan pulang hari ini?"
"Kan biar surprise sayang," ucapnya sambil mencubit pipiku.
"Mas, jangan ditarik. Aku belum pakai baju," ucapku.
"Lalu kenapa? Aku akan memakaikan baju untukmu, istriku."
"Jangan Mas, aku pakai sendiri saja!"
"Sayang, tenang saja. Aku tidak akan macam-macam,"
"Kemarilah, ayo kemari. Kenapa kaku sekali!" ucap Yoshi mulai mengeringkan tubuhku dengan perlahan.
"Mas beneran ya, pakaikan bajuku saja. Jangan yang lain-lain," 😪😪
Halo genk mau promo lagi dong, karya temanku yang keren ini. Mampir yuk, semoga suka ya ❤❤
Adam dan Hawa karya Kak Lavinka.
Jika kalian suka berhalu bisa bersanding dengan sang idola. Ini adalah tempatnya, kalian bisa berhalu ria bersama Adam & Hawa.
Hawa adalah seorang karyawan biasa di sebuah Redaksi majalah, sebagai pekerja lepas. Dia harus berjibaku dengan panasnya matahari yang bisa membakar kulitnya hanya untuk bisa mendapatkan berita terbaru.
Disela-sela kesibukannya, hawa selalu menyempatkan diri untuk Stalking sang idola. Ia juga menjabat sebagi ketua fansclub Adam Alditri.
Adam sendiri cukup familiar dengan Hawa Karena di setiap kegiatannya, ia selalu melihat ke arah gadis berbaju hitam lengkap dengan masker serta topi yang menutup wajahnya.
Jika kalian penasaran dengan kelanjutannya, kalian bisa cek langsung di link nya. Selamat membaca.
Dan jangan lupa like, komen, favorit. Dan berikan komen yang membangun untuk ku. Terima kasih.
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Adam & Hawa, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1482697&\_language\=id&\_app\_id\=2.
Terimakasih ❤❤