
Ana POV
Tiba di mansion.
Aku langsung menuju ke kamar Mama untuk melihat baby. Di sana mama sedang duduk sambil menyiapkan beberapa botol susu untuk anakku. Sementara baby tengah terlelap dengan memeluk guling kecilnya.
"Ma, maaf ya baru pulang. Apa baby rewel dan merepotkan mama?" tanyaku.
"Tidak sayang, Shian sama sekali tidak rewel. Bagaimana acaranya? lancar?" tanya mama mengulum senyum.
"Lancar Ma, akhirnya David dan Dianna menikah juga, mereka sangat bahagia."
"Dan Yoshi? apa dia juga bahagia hari ini?" tanya ibu mertuaku itu, sambil melirik ke arah putranya.
"Sangat bahagia Ma!" balas Yoshi sambil tertawa.
"Hmm Mama bisa melihatnya," balas mama sambil menatap leherku. Astaga, apa mama melihat kissmark itu. Sungguh, ini memalukan.
Aku pun meminta izin untuk membawa baby ke kamar kami. Sebab aku sangat merindukan si gembul ini. Tidurnya begitu lelap, beberapa kali aku mencium pipinya.
"Sayang, jangan terus menciumnya, atau si gendut itu akan bangun," ucap Yoshi.
"Biar saja, memangnya kenapa?" tanyaku. Aku masih kesal padanya sejak berada di mobil tadi.
"Dih ketus sekali. Masih marah yang?"
"Tidak, hanya kesal. Mengapa kau meninggalkan pompa asinya di hotel?"
"Aku tidak sengaja sayang, percayalah!"
"Kau selalu seperti itu Mas! tidak pernah mendengarkan perkataanku dengan serius!" ucapku. Kembali mengingat kejadian di mobil. tadi.
"Sudahlah, jangan marah-marah terus, untung saja tadi aku membantumu, jika tidak bagaimana?" tanya Yoshi masih ingin membela diri.
"Kau senang kan Mas?"
"Hmm.. " jawabnya singkat sambil mengedipkan matanya.
Ah kesal sekali rasanya, aku pun pergi keluar kamar untuk mengambil minum. Berada di dekat Yoshi selalu saja terasa panas.
"Mas, aku akan membuat minuman. Apa kau mau ?"
"Tidak sayang, aku sudah minum banyak tadi. Haha!" ucapnya, sudah kuduga pasti seperti itu jawabannya.
"Dasar!" ucapkan sambil memukulnya dengan bantal.
Aku pun turun ke bawah dan membuat jus, untuk pemulihan tenaga. Tanpa sengaja kulihat ponsel Yoshi tergeletak di atas meja. Kuraih benda pipih tersebut, dan berniat membawanya ke kamar.
Awalnya aku hanya meletakkannya di nakas, namun sebuah pesan masuk. Dan aku pun membukanya, sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
...Pak Ricko, apa kita jadi pergi ke Bandung besok siang?...
Begitulah bunyi pesan itu. Aku pun tak begitu mempermasalahkannya, mungkin saja ini dari karyawan Yoshi, atau rekan bisnisnya. Tetapi, mengapa dia tidak menyimpan nomor ini?
Dan Dia memanggil suamiku dengan nama Ricko, padahal hanya beberapa orang yang biasa memanggilnya Ricko. Tanpa sadar aku mulai bertanya-tanya, tetapi mataku sungguh terasa berat, lebih baik kutanyakan padanya besok pagi saja.
Aku pun tertidur, dengan baby yang berada di tengah-tengah kami. Wajah polosnya sangat memabukkan, aroma tubuhnya pun begitu menenangkan. Kupeluk bayi gendut itu dan membawaku ke alam mimpi.
***
Keesokan harinya, saat aku terbangun Yoshi sudah tidak berada di kamar, namun aroma parfumnya masih tertinggal, sepertinya ia baru saja keluar. Dengan tergesa-gesa aku pun menuruni anak tangga dan mengejarnya.
Hingga tiba di halaman depan mansion, mobil itu telah keluar dari gerbang, padahal aku ingin mengatakan jika semalam seseorang mengirimkan pesan dan aku telah membukanya.
Aku pun kembali ke dalam dan mengurus baby, hari ini dia sedikit rewel karena badannya demam. Mama memintaku untuk membawanya ke dokter tetapi, aku menolaknya sebab berada di lingkungan luar akhir-akhir ini begitu berbahaya, media memberitakan tentang sebuah virus baru yang menyebar melalui udara dengan sangat cepat.
Tentu saja aku tidak mau membahayakan baby, aku hanya mengompres dan berkonsultasi dengan dokter via telepon, hingga menjelang siang hari demamnya masih terasa tetapi sudah turun, tak apa setidaknya aku sudah memberikan penurun panas dan antibiotik.
Dokter pun datang dan memeriksanya, meskipun sedikit terlambat, paling tidak sekarang ia sudah datang. Setelah memeriksa keadaan baby, dokter itu mengatakan jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Demam akan turun seiring antibiotik dihabiskan. Aku pun bertanya mengenai kondisi baby.
"Oh baik Dok, apakah ada panduan untuk baby massage?"
"Tentu Bu, saya akan mengirimkan tuturialnya via whatsapp," jawab dokter itu sambil berpamitan.
Aku mengirim pesan kepada Yoshi, dan mengabarkan jika Shian demam, saat itu juga dia kembali dari kantor untuk pulang.
"Sayang, baby kenapa?" tanyanya sambil melihat keadaan baby.
"Kata dokter, Shian hanya kelelahan, Mas. Dan sepertinya butuh pijatan relaksasi."
"Tapi, sejak kapan baby demam, bukankah semalam baik-baik saja?" tanyanya.
"Iya, demamnya mulai tadi pagi, saat kau baru saja berangkat ke kantor, Mas."
"Tapi, kenapa kau baru mengatakannya sekarang?" tanyanya, aku merasa ada emosi dalam nada bicaranya.
"Maaf Mas, kukira aku bisa mengatasinya, tetapi ternyata demamnya berlanjut hingga siang hari," ucapku merasa bersalah.
"Berapa suhu badannya terakhir?"
"Tiga puluh sembilan derajat, Mas," jawabku terbata.
"Astaga An, kenapa tidak membawa baby langsung ke klinik ?" Yoshi benar-benar marah sekarang, dan aku ketakutan, aku tau aku salah. Tetapi aku senang karena dia sangat mengkhawatirkan anak kami.
"Mas, aku... "
Entah mengapa mulutku begitu kelu saat ingin menjelaskan apa yang terjadi.
"Apa kau tau? Di luar sana sedang ada virus berbahaya? Bagaimana jika baby sedang mengalami gejala itu? bagaimana jika demamnya disebabkan oleh virus itu? Kau terlalu lamban An!" ucapnya sambil memeluk baby.
"Mas, justru karena itu aku tidak membawa Shian ke klinik, aku memutuskan untuk memanggil dokter datang ke rumah. Aku sama sekali tidak berfikir jika baby mengalami gejala virus itu, justru aku tidak ingin ia terjangkit karena membawanya keluar rumah!"
Kini aku pun mulai terselimuti emosi, Yoshi mengira jika baby terpapar virus tetapi tidak denganku, aku malah akan melindunginya dari paparan virus tersebut.
"Baiklah, lupakan saja. Maaf aku telah membentakmu, Sayang."
"Mas, percayalah aku ibunya, aku tau baby baik-baik saja," ucapku tetapi sepertinya Yoshi masih menyimpan emosi untukku.
Dia pun berlalu dan meletakkan kembali baby pada boxnya.
"Mas, apa kau masih marah?" tanyaku, menahan tangannya yang sedang memegang gagang pintu untuk keluar.
"Tidak An, aku harus segera kembali ke kantor."
"Mas, maafkan aku.. "
"Iya sayang, siang ini akan ada meeting penting dan sepertinya aku akan pulang terlambat, aku akan meneleponmu nanti," ucap Yoshi dan berlalu.
Aku memandang tubuh itu berlalu, entah mengapa ada rasa mengganjal di hati. Bahkan biasanya ia selalu mencium keningku sebelum pergi. Tetapi tidak untuk kali ini.
Mungkin saja Yoshi masih marah padaku karena baby, ya aku memang salah. Aku terlalu menyepelekan segala sesuatunya.
Sungguh, aku tak menyangka dia akan semarah itu, Yoshi selalu bisa memaafkanku untuk segala hal kecuali kecemburuan, kini aku tau ia juga sangat strict tentang kesehatan Anak kami.
Waktu terus berlalu, hingga malam tiba. Tetapi Yoshi masih belum juga kembali. Aku mengirim pesan dan meneleponnya tetapi tidak tersambung, sungguh aku sangat mengkhawatirkan dirinya mengingat terakhir kali kami bertemu, ia masih begitu marah padaku.
Semalaman aku terus menunggu telepon darinya, hingga aku tak dapat memejamkan mataku. Aku terus mendekap baby yang demamnya sudah menghilang.
"Nak, Papa kemana ya? Do'akan Papa baik-baik saja ya Sayang," ucapku sambil menimang Shianku.
Tengah malam pun tiba, akhirnya Yoshi kembali dengan wajah lesu, rambut acak-acakan. Seperti sangat kelelahan.
"Mas, baru pulang? Kenapa larut sekali?" tanyaku sambil membantunya berganti baju.
"Aku baru kembali dari Bandung sayang, meeting dipindahkan kesana hari ini," ucapnya.
"Bandung??"
Haloo genk, makasih ya atas dukungannya buat Yoshana, maaf nih Up telat terus. Reviewnya juga lamaaa 🤗🤗