My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Yoshi POV - Ingin memakanmu



Flashback on.


Malam itu juga aku dan David tiba di Amsterdam, Belanda. Aku memutuskan untuk beristirahat di Nov Hotel Amsterdam yang letaknya tak jauh dari kapal yang akan kukunjungi besok sekaligus kapal tempat Ana bekerja.


Tak sabar untuk melihat ekspresi terkaget-kagetnya saat melihatku. Membayangkannya saja sudah membuatku tersenyum-senyum sendiri.


Aku pun menyiapkan segala keperluan untuk besok termasuk beberapa materi untuk meeting degan para staf IT di sana. Sekilas ada rasa berdebar di dadaku. Bagamana pun Ana adalah gadis yang sangat kuinginkan sejak dulu terlepas dari segala permasalahan yang ada.


Entah bagaimana nantinya kehidupan kami yang jelas saat ini aku hanya ingin bersamanya dan mengesampingkan segala rencana balas dendam yang kususun sebelumnya.


Kehilangan Ana dalam beberapa bulan terakhir ini membuatku sangat frustrasi, dan aku mulai berfikir untuk menikahinya secara benar bukan karena dendam atau apa pun itu.


Biarlah urusanku dan ayahnya menjadi urusan kami saja. Setelah mimpi itu, aku sangat memikirkan Ana. Papa benar, tidak seharusnya aku menyakiti Ana untuk kesalahan Ayahnya.


Ini sangat aneh, bagaimana mungkin aku mencintai calon istriku sedangkan di sisi lain aku sangat membenci ayahnya, yaitu mertuaku sendiri.


Pagi pun datang, aku dan David check out dari hotel itu dan langsung menuju Pier atau pelabuhan tempat kapal pesiar itu bersandar.


Seorang staf crew office datang menjemput kami untuk masuk ke kapal.


"Good morning Mr .Yoshi. Saya Reza, staf dari kru office yang akan menjadi guide anda selama di kapal ini." Katanya dengan ramah.


Aku kembali teringat dengan kata-kata David kemarin, bahwa ada seorang staf dari crew office yang mencoba mendekati Ana. Sial, pasti ini lah orang itu dan namanya pun sama dengan yang dikatakan olah David.


Benar kata David jika dia memang cukup tampan untuk bersaing denganku namun tak akan kubiarkan Ana jatuh pada pelukan pria bersetrip cacing ini.


Akhirnya tibalah aku di kamar VVIP berjenis penthouse. Karena aku harus segera mengadakan meeting dengan para kru dari departemen IT, akhirnya David lah yang mengurus segala keperluanku termasuk memesankan makan siang untukku.


"Tuan, apa yang ingin anda pesan untuk makan siang nanti?" tanya David dengan mengambil sebuah kertas khusus untuk room service.


"Terserah kau saja. Aku tidak begitu berselera untuk makan." Jawabku singkat, sebab aku harus cepat-cepat pergi ke meeting room.


"Baik Tuan, saya akan memesan lebih dari satu menu makanan agar anda bisa memilih." Ucap David sambil berjalan ke arah resepsionis.


Meeting pun berjalan dengan lancar. Dan aku berhasil meyakinkan First President bahwa produk software ku memang layak untuk digunakan pada sistem IT di kapal ini.


Presiden utama itu sangat puas dengan hasil presentasi dariku dan mulai merencanakan untuk memasang produk perangkat lunak lainnya ke kapal-kapalnya yang lain juga.


****


Meeting pun usai dan aku keluar dari ruangan itu untuk menuju ke kamarku. Sepanjang koridor deck 7 itu aku terus memikirkan Ana, di mana dia dan sedang apa dirinya saat ini.


Namun aku baru menyadarinya jika di ujung koridor itu, terlihat siluet gadis mengenakan seragam. Pasti dia adalah kru. Semakin lama kuperhatikan mengapa postur tubuhnya sangat mirip dengan Ana.


Aku mempercepat langkahku untuk mengejarnya. Semakin dekat sosok ini semakin mirip dengan Ana dengan tray besar di tangannya.


Jarak langkahku semakin dekat dengannya dan sesekali dia membetulkan tray di tangannya itu. Aku yakin itu Ana, bahkan dari pantulan kaca di sepanjang koridor ini menunjukkan bahwa itu adalah dirinya.


Aku bersorak dalam hati, bagaimana ini bisa terjadi. Akhirnya aku tertarik untuk mengerjainya.


"Jadi Lanthana Aditama, kapan kita akan menikah?" kataku sambil mendahului langkahnya.


Seperti dugaanku, dia sangat terkejut hingga menghentikan langkahnya. Aku menatapnya dalam-dalam. Betapa wajah ini adalah wajah yang sangat kurindukan selama ini.


Seperti biasa, dia dengan make up naturalnya. Dengan lipstik nude kesukaannya. Ana tak pernah berubah. Masih saja cantik tanpa sapuan make up yang berlebihan.


Inginku memeluk tubuh rampingnya dan mengecup bibir tipis itu saat itu juga namun aku sadar diri. Ana bisa terkena serangan jantung jika aku melakukannya.


"Baik, jika kau tak mau menjawab. Maka aku akan menikahmu sekarang juga." Kataku. Tentu saja aku hanya mengerjainya saja. Ana masih saja tak bergeming karena ulahku.


Dia sangat shock saat itu hingga tak mampu berkata-kata dengan benar. Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkannya saja. Aku sengaja memberinya waktu untuk bernafas.


"Tuan, apakah tuan tau jika stewardess yang akan mengantar makan siang tuan adalah Nona Ana? " Tanya David kepadaku.


Jadi, tadi Ana sedang menuju ke kamar ini. Oh betapa kebetulan yang menguntungkanku.


"Benarkah? Bagaimana itu bisa terjadi? " Tanyaku pada David pura-pura tidak tahu.


"Ya, tadi staf FO memberitahukan bahwa Nona lah yang bertugas di lantai ini sebagai room service stewardess." Ucap David.


"Baiklah. Kau boleh pergi." Kataku padanya, aku tak ingin David mengganggu waktuku bersama Ana. Mengingat ini akan menjadi pertemuan pertama kami setelah sekian purnama tak bertemu.


"Tuan, sepertinya Nona belum makan siang karena waktu istirahatnya yang bertepatan dengan waktu saya memesan makanan untuk Tuan." Kata David sambil keluar kamarku.


"Baiklah sayang. Kita akan makan siang bersama jika begitu." Kataku dalam hati.


Tak berapa lama kemudian, suara indah Ana terdengar dari luar pintu kabin ini. Dia menyebut-nyebut nama David. Sepertinya dia belum sadar jika David lah yang memesan makannya di tray nya itu untukku.


Aku sengaja tidak membukakan pintu agar dia masuk dengan sendirinya dengan menggunakan kunci master .


Sesuai harapan. Dia masuk ke dalam sarangku. Tanpa tau bahwa serigala yang kelaparan ini sedang bersiap untuk menerkam dirinya.


"Sedang bersiap untuk menyiapkan makanan untuk suamimu? " tanyaku dari arah balkoni.


Sementara dirinya masih saja terdiam seakan mengabaikan suaraku, sibuk menata makanan yang ia bawa. Sepertinya dia belum juga sadar akan keberadaanku di kamar ini.


Akhinya aku mendekatinya, tentu saja dengan sejuta pertanyaan yang menghujamnya. Kuraih pergelangan tanganya dengan kuat hingga membuat tangan itu membiru. Aku sungguh takut bila harus kehilangan dirinya lagi. Entah bagaimana aku bisa sekasar ini padanya.


Lagi-lagi mataku tertuju pada kaki jenjang Ana, lekuk indah kaki itu begitu menarikku. Mengapa Ana harus menggunakan rok pendek seperti ini. Ini sangat menggoda. Besok aku akan menemui kepala departemennya agar mengganti desain seragam untuk para room service stewardess.


Agar tak ada mata mesum yang akan melihat salah satu bagian tubuh indahnya itu. Meskipun aku tau mungkin diriku lah yang terlalu berlebihan.


Setelah melalui beberapa kali paksaan akhirnya Ana mau memakan makanan itu. Aku sungguh akan memakan dirinya jika dia masih saja berontak.


Aku masih saja menggodanya dalam posisi tenangnya itu. Akhirnya Ana memilih nasi goreng seafood untuk mengisi perutnya.


Dia makan dengan sangat lahap seperti sangat kelaparan membuatku gemas melihatnya. Pipi bersemu pink itu mengembung karena terlalu banyak muatan di dalamnya.


Ingin sekali aku menguyel-nguyel pipi chubby itu. Apa lagi bibir tipisnya yang sekali-kali terbuka untuk menerima suapan nasi, itu sangat seksi dan menyebabkan pikiran liarku berkelana kemana-mana.


Sehebat ini pesona Ana untukku bahkan tanpa melakukan apa pun, dia dapat membangunkan sesuatu di bawah sana yang telah lama terkulai lemas.


Akhirnya kuraih es krim vanilla yang juga dipesan oleh David itu, untuk melampiaskan pikiran liarku pada Ana yang masih tetap makan.


Setelah itu dia meminum segelas air mineral sebagai tanda bahwa ia telah selesai makan. Aku senang melihatnya seperti itu. Dia mau menuruti perintahku meskipun dengan terpaksa.


Bibir itu terus mengoceh padaku, membuatku semakin tergoda saja, apa lagi dengan sisa air yang membasahinya. Tidak, aku sudah tidak sanggup lagi menahannya. Segera kuletakkan es krim di tanganku.


Aku mendekatinya, terduduk di sampingnya persis dan kudekatkan wajahku pada wajah Ana. Bahkan bibir kami semakin dekat. Tak ada penolakan dari Ana. Sehingga aku terus melanjutkan aksiku itu.


Aku menahan kedua lengan Ana agar nantinya dia tidak berontak. Hembusan nafanya mulai terasa hangat menyentuh kulitku. Aku yakin pasti kali ini bibir itu akan bisa aku kuasai. Dan mungkin ini akan menjadi first kiss untuk kami.


Namun tiba-tiba suara ponselku membuyarkan adegan yang sejak lama kunantikan itu. Aku sangat kesal. Susah payah aku berhasil menguasai dirinya. Namun sejurus kemudian gangguan datang.


Kulihat layar ponselku dan ternyata mama lah yang menelepon. Kekesalanku pun menghilang seketika.


Muncul ide brilian di benakku. Aku akan membiarkan Ana untuk mengobrol dengan mama untuk membuat ibuku bahagia. Namun ketika aku mencoba menyambungkannya dengan mama. Tanpa kusadari Ana telah menghilang.


Sial, Ana berhasil melarikan diri lagi.