My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Yoshi POV - Minuman Ungu



Pagi itu hampir saja mama memberikan minuman berperangsang itu lagi kepada Ana, untung saja Ana menolaknya padahal jika dia menerimanya tentu akan sangat menyenangkan untukku.


Aku sempat berfikir jika diriku mengalami kehamilan simpatik tetapi aku salah. Ternyata Ana memang belum hamil. Tak apa aku akan terus berusaha, sekali lagi aku meminta mama untuk bersabar. Jika memang sudah rezeki tentu akan kami dapatkan.


Hari ini di ruang ICU, keadaan opa masih saja sama. Terbaring lemah hanya mengandalkan selang dan kabel untuk menunjang kehidupannya.


"Opa, kapan akan bangun dari tidur panjangmu? "ucapku sambil memperhatikan tubuh tua itu.


"Apa opa tau dengan siapa Yoshi datang hari ini? Cucumu ini sudah menikah sekarang dan pasti opa akan sangat terkejut jika tau dengan siapa Yoshi menikah?" aku terus saja berbicara meskipun tanpa respon dari opa.


"Bangunlah opa, Yoshi akan mengenalkan Ana istriku pada opa. Apakah opa ingat tentang princess misterius di masa SMAku dulu? Ya, dia orangnya opa. Yoshi sudah menikah dengannya, meskipun Ana tidak pernah tau jika Yoshi adalah pemuja rahasianya sejak dulu." Ucapku, aku terus bercerita tentang Ana pada opa.


"Tapi opa, ada satu hal yang sangat menyiksa batinku selama ini, Ana belum tau bahwa sebenarnya Ayahnya lah agen rahasia itu. Seorang BIN yang telah menyebabkan papa mengalami kecelakaan maut karena tuduhannya." Ucapku hingga air mataku mulai menetes mengingat peristiwa itu.


"Selama ini Yoshi sudah membuat Ana mengalami berbagi masalah karena aksi balas dendam yang sudah Yoshi susun. Hingga melupakan bahwa sebenarnya cintaku untuknya juga begitu dalam." Kataku sambil menghapus air mata.


Aku ingat saat aku berpura-pura menjadi seorang rentenir yang terus memeras Ana dan ibunya. Aku ingat saat Ana harus berjuang mencari pekerjaan demi melunasi hutangnya kepadaku. Dengan mudahnya berulang kali aku menggagalkan usahanya. Aku sungguh jahat tetapi Ana tetap memaafkanku hingga kini mungkin sudah timbul rasa cinta di hatinya untukku.


Aku telah membalaskan dendamku namun sampai detik ini kasus papa belum juga menemukan titik terang.


"Opa, siapa sebenarnya yang bersalah? Haruskah Yoshi meminta maaf kepada Pramuja yang sekarang sudah menjadi mertua Yoshi?"


"Lalu bagaimana dengan Ana jika Yoshi mengakui semuanya? Ana akan sangat terpukul dengan semua ini. Yoshi tidak akan pernah sanggup jika harus kehilangan Ana." Kataku lirih.


"Opa, bangunlah bantu Yoshi menyelesaikan semua ini... "


Aku pun keluar dari ruang ICU dan menawarkan Ana untuk menjenguk opa. Beberapa menit berlalu kemudian Ana memanggilku dengan panik. Kulihat opa mulai menunjukkan kesadaran. Aku bersorak dalam hati entah kata ajaib apa yang telah Ana katakan pada opa hingga membuatnya menunjukkan tanda-tanda kehidupan lagi.


Ataukah ada sesuatu yang ingin opa katakan kepada Ana. Hingga membuatnya ingin terbangun dari tidur menahunnya.


****


Sepulang dari rumah sakit, kami berjalan-jalan menikmati pemandangan kota bersalju itu, sesekali Ana mengajakku bercanda, aku tau dia sedang berusaha menghiburku, senyum dan tawanya itu sangat manis hingga membuatku heran apakah Disney World sedang dalam kekacauan saat ini hingga membuat salah satu princessnya kabur hingga ke sini dan menjadi istriku sekarang.


Tiba di sebuah taman, kami pun duduk berdua ini persis seperti mimpiku saat aku kelabakan mencari Ana yang ternyata tengah berada di Belanda dan bekerja di sebuah kapal pesiar. Hampir setiap malam aku memimpikannya hingga aku berhasil menyusulnya.


Tiba-tiba Ana menanyakan bagaimana awalnya opa bisa mengalami koma seperti itu. Akupun menjelaskan bagaimana kronologinya hingga kami juga membahas kecelakaan yang merenggut nyawa papa saat itu.


Tubuhku gemetar menahan amarah yang bergemuruh saat Ana menanyakan siapa Agen Rahasia yang kumaksud, yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Hampir saja aku mengungkapnya namun aku sadar ini bukan waktu yang tepat. Aku belum siap.


Amarahku semakin memuncak saat Ana bercerita jika ayahnya pernah mengatakan bahwa dirinya adalah seorang BIN yang sedang bertugas untuk menangkap hacker di kotanya.


Tentu saja, hacker yang dimaksud oleh Pramuja itu adalah Papa. Dengan gugup aku menanyakan apakah Ana percaya tetang perkataan ayahnya itu. Di luar dugaanku, Ana sama sekali tidak percaya, Pramuja benar-benar menjalankan perannya dengan epic dan mulus selama ini hingga putri kesayangannya ini tidak mengetahui apa pun tentang siapa dirinya yang sebenarnya.


Sepertinya Ana sangat mengkhawatirkan keadaanku hingga mengajakku untuk pulang ke apartemen. Sesampainya di apartemen David mengatakan bahwa lusa akan ada meeting penting di Jakarta dan aku harus menghadirinya.


Hari itu juga kami terbang ke jakarta. Mama sangat sedih saat kami berpamitan untuk pulang.


"Ma, Yoshi janji akan sering-sering datang ke mari." Ucapku pada mama.


"Bisakah Ana tetap di sini menemani mama?" tanya mama dengan mata berbinar.


"Tidak bisa ma." Jawabku.


"Ayolah Yosh.. " Ucap mama mengiba kepadaku.


"Bagaimana mungkin, jika Ana di sini dan Yoshi di Jakarta, lalu kapan cucu impian mama kan diproses?" kataku sambil tertawa.


"Kau benar Yosh, ya sudah pulanglah. Tapi ingat tepat janjimu itu!" ucap mama dengan nada mengancam.


"Mama sudah meminta Ana untuk membawa serbuk hijau itu di dalam kopernya. Selanjutnya sisanya menjadi tugasmu!" Ucap mama berbisik. Tetapi dia segera mendorongku untuk pergi sebelum aku menjawab pernyataannya. Ibuku ini benar-benar pemaksa sama sepertiku.


****


Setelah perjalanan panjang. Kami pun tiba di bandara Soetta. David membawa kami pulang ke mansion. Setibanya di mansion waktu menunjukkan pukul 8 malam.


Kulihat Ana sedang merapikan barang-barang sebelum akhirnya dia menawariku sesuatu.


"Yosh, apa kau butuh sesuatu?" tanyanya.


"Iya sayang." Jawabku.


"Apa? akan aku ambilkan.. " jawabnya.


"Aku butuh kehangatanmu An." Ucapku menggodanya.


"Kau ini. Aku akan membuat minuman di bawah, apa kau mau?" tanya Ana.


"Tidak. Sudah kubilang aku butuh kehangatan tubuhmu." Ucapku sambil mendekat ke arahnya.


"Yosh, aku akan membuatkanmu susu madu!" Kata Ana setengah berlari menuju pintu keluar.


"Ya sayang itu bagus untuk stamina pria. Haha" Kataku, namun Ana sudah menghilang dari pandangan, dia selalu saja berhasil lari dariku. Terkadang aku bingung apakah sebenarnya Ana itu atlet lari marathon hingga membuatnya terus saja berlari dariku selama beberapa dekade ini.


*****


Beberapa menit kemudian, Ana kembali ke kamar dengan satu gelas susu dan segelas minuman berwarna ungu. Aku cukup penasaran dengan si ungu itu sebenarnya.


"Yosh, minum susu madumu." Ucap Ana sambil memberikan minuman putih kekuningan itu kepadaku. Aku pun segera meneguknya. Rasa gurih susu dan manisnya madu bercampur membasahi rongga mulutku.


"An, itu apa?" tanyaku saat Ana hendak meminum minumanan ungu itu.


"Apakah enak?" tanyaku. Aku baru tau jika Ana menyukai jus sayur.


"Tidak enak tetapi ini jauh menyehatkan dari pada teh melatimu itu." Jawab Ana mengejekku.


"Kau mengejekku?" tanyaku menggodanya hingga dia belum sempat meminum jus itu karena sibuk denganku.


"Tidak, cobalah Yosh. Ini tidak terlalu buruk dan bagus untuk kesehatanmu yang sempat menurun beberapa hari ini." Jawab Ana.


"Aku akan meminumnya jika kau memaksa." Kataku, segera kuraih gelas itu dari tangannya.


Aku pun meminumnya, benar kata Ana ini tidak buruk, bahkan ada rasa gingseng, jahe, madu dan kurma juga di dalamnya hingga menutupi rasa sayuran dan buah bitnya.


"Waah Yoshi, kau bahkan menghabiskannya. Sungguh anak pintar!" Kata Ana sambil mengambil gelas dari tanganku.


"Aku menyukainya An, rasanya segar. Sesegar melihatmu." Jawabku asal.


"Kau ini ! aku akan segera kembali." Ucap Ana sambil membawa dua gelas kotor itu keluar. Berulang kali kukatakan bahwa dia tidak perlu repot-repot untuk mengerjakan semuanya sendiri. Cukup panggil saja Niluh atau pelayan lain untuk melakukan sesuatu untuknya.


Apa boleh buat, gadis itu sangat keras kepala. Tak pernah sekalipun mendengarkan ucapanku, namun aku sangat menyayanginya, bagiku dia sudah seperti udara yang membuatku tetap hidup. Dan akan mematikanku jika dirinya menghilang.


Beberapa menit kemudian, kurasakan hawa panas menyerangku. Berawal dari leher hingga turun ke area sensitifku. Hawa itu semakin terasa membakar naluri kelelakianku.


Aku mulai panik, sepertinya aku tau apa yang sedang terjadi padaku. Lalu aku ingat tentang minuman ungu tadi. Mungkinkah Ana mengerjaiku. Rasanya tidak mungkin dia terlalu polos untuk bertindak demikian.


Aku semakin tak karuan hingga kutatap cermin wajahku mulai memerah.


"Yoshi.. Ayo tidur! " Ucap Ana sambil membuka pintu. Aku tak mampu menjawabnya aku benar-benar tidak terkendali.


"Yosh, ada apa denganmu?" tanya Ana sambil menghampiriku. Seketika wajah cantik itu terkejut saat melihatku.


"An, aku kepanasan! " jawabku.


"Yosh, wajahmu merah sekali, hingga sekujur tubuhmu pun juga berwarna merah. Astaga!" Ucap Ana sambil memegangi tubuhku memperhatikannya lekat-lekat.


"An, minuman ungu tadi apa?" tanyaku, aku yakin ada sesuatu di dalam jus buah bit tadi.


"Sudah kubilang itu jus sayuran dan buah bit." Ucap Ana dengan yakin.


"Kau yakin tidak menambahkan apa-apa ke dalam minuman itu?" tanyaku kepadanya yang masih memeriksa tubuhku. Astaga sentuhan tangan halus itu semakin membuatku tertantang untuk segera menerkamnya.


"Ah iya Yosh, aku juga menambahkan serbuk hijau pemberian mama. Mama bilang aku harus selalu mencampurkan serbuk itu pada minumanku setiap malam sebelum tidur." Jawab Ana dengan wajah polosnya.


"APAA?!! Kau serius An?" tanyaku. Sungguh ternyata benar dugaanku. Dan ternyata semua ini ulah mama. Tentu saja Ana akan melakukan apapun perintahnya.


"Ya Yoshi, aku menambahkan serbuk itu. Memangnya kenapa? Bukankah itu bagus untuk daya tahan tubuh seperti kata Mama?" jawab Ana, tentu saja dia tidak tau apa sebenarnya serbuk hijau itu.


"Astaga Ana! Apa kau tau benda apa itu sebenarnya?" Ucapku sambil menahan gejolak dari dalam yang semakin menyiksa.


"Aku tidak tau. Memangnya ada apa?"jawab Ana.


"Itu serbuk perangsang! Itu juga yang membuatmu menyerahkan kesucianmu saat itu kepadaku jika kau tau." Jawabku menggebu-gebu karena dorongan hawa nafsu yang semakin tidak karuan.


"Apa Yosh? Apa kau serius?" tanya Ana tak percaya.


"Ya, mama sangat terobsesi untuk segera memiliki cucu hingga dia nekat melakukan itu padamu dan sekarang juga padaku." Jawabku dengan suaraku yang mulai parau.


"Ah mama! pantas saja saat itu aku sangat kepanasan dan sangat menginginkanya saat berada di dekatmu. Ternyata itu sebabnya." Kata Ana dengan jujur.


"Ya, dan sekarang hal itu juga terjadi padaku karenamu. Berapa dosis serbuk yang kau tuangkan pada jus tadi?" tanyaku menyelidik. Aku yakin Ana tidak tau aturan pakainya.


"Dua sendok makan. Ah bukan, tapi tiga sendok makan yang betul." Ucapnya tanpa ragu.


"Astaga Ana! pantas saja ini sangat menyiksa harusnya satu sendok teh saja itu sudah sangat cukup!" Kataku mulai menggila.


"Aku tidak tau Yosh, lalu sekarang bagaimana?"tanyanya sambil menggigit bibir bawahnya menunjukkan rasa bersalah. Sungguh itu terlihat sangat seksi.


"Bagaimana apanya? Kau harus bertanggung jawab!" Kataku tanpa menunggu persetujuan darinya aku pun langsung menerkam tubuh ramping itu.


"Yosh, tunggu.. " Kata Ana mencoba menghentikan aksiku.


"An, aku sudah membantumu saat itu dan sekarang giliranmu untuk membantuku.." bisikku pada telinganya.


Aku pun segera membungkam bibir tipis itu dengan bibirku, menikmati rasa manis yang disuguhkan. Hingga tanganku bergerilya menanggalkan satu persatu baju tidur dengan model kimono yang dikenakan oleh Ana.


Ana masih sangat kaku dalam menerima perlakuan dariku. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang mulai tak beraturan.


"Sayang, aku tau kau belum terbiasa, aku akan pelan-pelan.. " Ucapku sebelum melanjutkan permainan itu.



Ana waktu masih pakai kimono sebelum akhirnya diterkam sama Hulk yang mulai berwarna merah di malam itu.



Yoshi be like : Apa An? tiga sendok makan? Harusnya 1 sendok teh saja sudah lebih dari cukup!! wkwk



An Kau harus bertanggung jawab!!