
Sejak hari itu Yoshi mulai terlihat lebih sering diam, seperti sedang menahan banyak beban. Bahkan segala kata penyemangat dariku pun tak pernah didengar olehnya.
Aku sering sekali meneleponnya saat sedang berada di kantor, entah kenapa melihat Yoshi yang pendiam seperti ini membuatku khawatir. Dia akan kehilangan fokus dalam bekerja atau hal yang lainnya.
Setiap jam istirahat di kantornya aku selalu mencoba menelepon atau hanya sekedar mengirim pesan, agar dia tau jika aku sangat peduli padanya.
Aku : Sayang.. Sudah makan?
Yoshi : Belum.
Aku : Makan dong, papa sayang๐
Yoshi : Ya, mama sayang.
Lihatlah, dia bahkan tidak bertanya apakah aku sudah makan atau belum, sangat menyebalkan.
Aku : Yosh, apa kau tidak ingin bertanya padaku? Apa aku sudah makan atau belum, apa aku sudah mandi atau belum. Kau tak ingin tau?
Sepersekian detik, tidak ada balasan.
Aku : Yosh, lama sekali membalasnya. Bukankah ini masih jam istirahat?๐ช
Yoshi : Maaf sayang,
Aku : Hanya maaf? Ah menyebalkan.๐ค
Akhirnya Yoshi meneleponku tetapi aku sengaja tidak mengangkatnya. Aku hanya ingin bermain-main dengan Yoshi saja, setidaknya itu bisa mengurangi beban pikirannya.
Yoshi : Sayang, angkat teleponnya.
Aku : Tidak mau..
Yoshi : Astaga, aku minta maaf yang..
Aku : Terserah!
Sebenarnya aku ingin tertawa melihat tingkahku sendiri.
Yoshi : Sayang.. Apa aku harus pulang sekarang juga?
Aku : Tidak usah! ๐
Yoshi : Sungguh?
Aku : Ya!
Yoshi : Baiklah, aku akan ada meeting setelah ini dan mungkin akan pulang terlambat. Ingat ya, jangan keluar mansions apa pun alasannya! I love you istriku โค
Tanpa membalasnya aku pun melanjutkan rutinitasku, aku berjalan ke taman. Memasukki usia kehamilan hampir enam bulan membuatku sedikit kesulitan untuk berjalan karena perutku yang semakin membesar.
Niluh sudah seperti bayanganku, dia selalu menemani dan mengikuti kemanapun aku pergi. Kini kami berdua duduk di bangku taman.
"Nyonya, apa anda tau saat anda pergi dari rumah kala itu, bunga-bunga ini sangat tidak terurus." Ucap Niluh menunjuk bunga-bunga di sekitar kami.
"Benarkah? Bukankah tuan bilang beberapa pelayan sudah mengurusnya saat aku tidak ada?"
"Tidak nyonya, tuan bahkan melarang semua orang untuk menyentuh bunga-bunga ini." Tegas Niluh yang membuatku terkejut.
"Kenapa Niluh?"
"Tuan bilang, hanya nyonya yang boleh mengurus dan menyentuh bunga-bunga ini. Tuan sangat depresi saat anda menghilang saat itu nyonya."
"Astaga, si bodoh Yoshi, begitukah?" padahal dulu Yoshi bilang jika bunga-bunga ini sudah terurus tetapi tetap saja mati jika bukan aku yang merawatnya tapi ternyata tak satupun orang yang mengurus taman ini saat aku tak ada. Dasar tukang gombal.
"Nyonya, saya izin untuk ke kamar kecil dulu." Ucap Niluh.
"Ya Niluh, pergilah."
Aku pun hanya sendiri sekarang, sementara mama sedang sibuk bersama chef di dapur. Sesekali kulihat layar ponselku, khawatir jika Yoshi memberikan kabar.
Ddrrrrttt Drrrrtttt
Ponselku bergetar. Kulihat kontak Jenny yang menelepon. Aku pun segera mengangkatnya.
"Halohaaa cyinn!" ucapnya dari seberang sana.
"Jenny, tumben menelepon." Jawabku.
"Cyinn eyke lagi ada di dekat rumah yey ini. Di jalan raya."
"Lah ngapain? Main sini dong." Balasku.
"Lagi beli rujak ini, mau gak cyinn?" Mendengar kata rujak sepertinya air liurku mulai menetes.
"Mau Jen, aku kesitu sekarang ya!"
"Ya, cyinn. Eyke tunggu tapi ati-ati yaa!" Ucap Jenny dan sambungan terputus.
Aku pun berjalan ke gerbang dan melewati beberapa penjaga. Awalnya mereka melarangku untuk pergi ke luar, tetapi aku memaksa dan akhirnya mereka memberiku ijin tentu saja dengan beberapa orang penjaga mengawalku.
Sungguh lucu, aku dikawal para bodyguard hanya untuk ke seberang jalan dan hanya untuk membeli rujak. Biarlah, dari pada mereka semua terkena amukan Yoshi, lebih baik aku menurut saja.
"Hai Jenn!" sapaku.
"Aku mau dong," Ucapku.
"Abang ganteng, rujaknya satu lagi ya buat bumil ini tapi jangan pedes-pedes." Ucapnya pada pedagang rujak itu.
Setelah beberapa menit pesanan kami pun siap, aku dan Jenny makan bersama di tempat itu sementara para penjaga menunggu di seberang jalan.
Kami asyik makan sambil mengobrol dan sesekali membicarakan Dian, Evelyn dan Reza. Namun tiba-tiba saja sekelompok orang datang ke arah kami.
Jumlah mereka lumayan banyak, dengan sigap mereka menarik tanganku. Aku berteriak dan Jenny pun berusaha menarik tubuhku dengan sekuat tenaga.
"Akhh siapa kalian? Lepaskan aku!" teriakku hingga para penjaga datang menolong.
Para penjahat itu terus mencoba membawaku lari tetapi penjaga mencoba menarik tubuhku lagi, sungguh rasanya aku ingin pingsan. Adegan ini sangat dramatis.
"Ikut kami !" ucap salah satu penjahat.
"Tidak! suamiku akan datang menolongku." Ucapku.
"Kau terlalu menganggap remeh kami nyonya Luby."
"Akhh sakit !" pekikku menahan tarikan pada pergelangan tanganku.
"Sudah, menurut saja! kami hanya ingin memancing suamimu saja!"
"A-apa maksud kalian?" tanyaku, sementara pertarungan antar penjaga dan pengawal terus berlangsung. Jenny dan tukang rujak itu juga ikut berperan dalam menyelamatkan diriku.
"Bos besar ingin bertemu dengan suamimu." Kata penjahat itu.
"Untuk apa? Apa yang kalian semua inginkan sebenarnya?" Aku mulai ketakutan.
"Kebebasan !" Ucapnya, kini aku dan pria berkulit gelap ini sudah hampir tiba di mobil. Ketika ia hendak memasukkanku ke dalam,
Tiba-tiba tangan seorang pria menarik kerah bajunya hingga tangannya pun melepaskanku.
"Reza?" ucapku saat melihat Reza yang mulai menghajar penjahat itu.
"Jenny, bawa Ana pergi !" ucapnya pada Jenny sambil terus melawan penjahat-penjahat itu.
"Cyiinn! ayo kita balik ke mansion!" Ucap Jenny meraih tanganku dan meninggalkan Reza bersama para pengawal melawan penjahat-penjahat itu.
Aku terus berlari hingga tiba di mansions. Para penjaga lain dengan sigap membantuku.
"Kalian, cepat bantu teman-teman kalian melawan penjahat di ujung jalan sana, Cepatt !!" ucapku, entah kenapa sekarang tubuhku mulai lemas dan perutku sedikit nyeri.
"Cyinn yey gak apa-apa kan?" tanya Jenny.
"Jenn, perut sakit !" ucapku menahan rasa keram di perut.
"Ya ampun gimana ini?" Jenny pun panik.
"Jenny, panggilkan Niluh!"
"Nilaaaa, cepetan kemari !" teriak Jenny.
"Niluh Jen, bukan Nila.." Ucapku lirih kini aku mulai lemas lagi dan akhirnya aku pun pingsan.
****
Kuhirup aroma minyak kayu putih. Dan aku pun mulai membuka mataku perlahan.
"Sayang, akhirnya sadar juga." Kulihat Yoshi masih dengan pakaian kantornya sudah berada di kamar dan duduk di sampingku.
"Yoshi, aku takut.." Ucapku lirih dan dia pun memelukku.
"Ssh ada aku, tenanglah." Aku bisa merasakan detak jantungnya sangat tidak beraturan saat ini.
"Yosh, maafkan aku. Tadi aku hanya ingin membeli rujak saja, aku tak menyangka semua akan seperti ini jadinya."
"Sayang, yang penting kau selamat. Aku sangat takut saat mama menelepon dan memberitahu jika kau akan diculik." Ucapnya sambi menatap wajahku.
"Maafkan aku Yosh, aku ceroboh" aku pun mulai menangis menyesal.
"Tidak sayang, aku yang kurang memperhatikanmu."
"Besok kita periksa ke dokter ya, aku takut terjadi sesuatu pada baby." Ucapnya sambil mengelus perutku.
"Iya sayang" balasku.
"Yosh, bagaimana dengan para penjahat itu?"
"Polisi sudah menangkap mereka sayang, tetapi otak dalam kasus ini masih belum tertangkap. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja,"
"Yosh, jaga dirimu. Mereka sedang mengincarmu. Aku takut.." Ucapku dan kembali memeluknya.
"Benarkah? Aku siap jika harus berhadapan dengan si brengsek itu!"
"Aku tidak takut, mereka sungguh telah mencari masalah denganku dengan mencoba untuk menculikmu. Aku tidak akan terima!"
"Yoshi, please jangan membahayakan dirimu. Aku takut kehilanganmu.."