
Pagi itu di Bandara, sambil menunggu boarding. Aku mencoba menelepon Ibu Ana, untuk menanyakan bagaimana persiapan acara pernikahan kami besok. Dan aku menjauh dari Ana agar ia tidak mendengar percakapanku dengan ibunya.
"Ya Nak Yoshi, apakah sudah dalam perjalanan pulang?" Tanya ibu Ana dari seberang sana.
"Iya Bu, sebentar lagi. Bagaimana dengan persiapannya?" tanyaku.
"Sudah beres Nak, mungkin tinggal undangan untuk rekan bisnis Nak Yoshi saja yang belum." Jawab calon ibu mertuaku itu.
"Soal itu biar saya yang mengaturnya Bu. Oh iya bisakah saya berbicara dengan Bapak?" tanyaku sejak kemarin aku memang sangat ingin berbicara pada Pramuja, yaitu calon ayah mertua sekaligus musuh bebuyutan keluargaku.
"Tentu bisa Nak, sejak kemarin Bapak juga tidak sabar ingin berbicara dengan calon menantunya." Jelas Ibu Ana.
Bagus, ini adalah kali pertamaku untuk berinteraksi langsung dengannya. Dengan pria yang menyebabkan kekacauan di dalam hidupku.
Kita lihat, akankah dia mengenaliku atau tidak. Sudah kuputuskan jika dia tahu siapa diriku yang sebenarnya, aku akan siap. Aku siap untuk bertempur dengannya saat ini juga karena beberapa jam lagi putrinya akan menjadi milikku seutuhnya.
"Selamat pagi" sapa laki-laki berusia 50 tahunan itu, dengan masih terbaring lemah dan berbagai peralatan medis terpasang di tubuhnya meskipun sedang sakit, dia tetap tidak kehilangan karismanya sebagai anggota abdi Negara.
"Selamat pagi Bapak, sebelumnya maaf jika saya mengganggu istirahat Bapak, mungkin ini tidak sopan untuk berbicara dengan Ayah mertua hanya melalui ponsel. Bagaimana keadaan Bapak saat ini?" Kataku, mencoba berbasa-basi, jujur saja wajah itu sangat mengingatkanku pada kejadian kelam yang menimpa ayahku beberapa tahun yang lalu.
"Nak Yoshi, ibu sudah banyak bercerita tentang anda kepada Bapak. Bapak ingin tahu, apakah anda benar-benar serius dengan Ana?" ucapnya dengan sangat to the point.
"Tentu Pak, bolehkah saya meminang putri Bapak, menghalalkannya dan menjadikannya satu-satunya wanita yang paling saya cintai di muka bumi ini?" ucapku penuh penekanan tulus dari dalam lubuk hatiku.
"Bapak sebenarnya setuju-setuju saja, meskipun sebenarnya Bapak sangat ingin bertemu denganmu." Jawab Pramuja, tentu saja dia tidak akan semudah itu untuk melepaskan Ana, putri kesayangannya.
Pembicaraan pun terus berlanjut, aku terus meyakinkannya. Beberapa kali dia menanyakan di mana keberadaan orang tuaku, dengan jujur aku mengatakan bahwa ayahku sudah meninggal, sementara Ibuku sedang merawat Kakekku yang tengah sakit saat ini, di London. Aku berjanji padanya jika kesehatan kakekku sudah membaik aku akan mempertemukan dua keluarga ini.
Aku terus berusaha membawa obrolan kami ke percakapan yang lebih serius lagi, dan kabar baiknya adalah dia sama sekali tidak mengenali siapa diriku yang sebenarnya.
"Baik Nak Yoshi, bapak berharap anda bisa menjadi Imam yang baik untuk Ana nantinya. Dan bapak minta maaf atas ketidakhadiran bapak di acara besok pagi." Ucapnya sebelum menutup telepon.
Aku pun bersorak dalam hati. Ternyata cukup sulit juga untuk meyakinkan Ayah Ana itu, untung saja kondisi kesehatannya saat ini sedang drop, coba saja jika dia sehat pasti semua usahaku akan gagal dan sia-sia. Mana mungkin seorang ayah akan rela melepas putrinya untuk orang yang tak jelas sepertiku.
Soal materi memang tak ada yang perlu diragukan, namun soal asal usul keluarga jelas dia sangat meragukanku, mengingat tak satupun identitas dari keluargaku yang aku katakan padanya.
*****
Hari pernikahan.
Kulihat Ana berjalan ke arahku, dengan kebaya putih yang menghiasi tubuh indanya, kebaya itu sangat sempurna menempel di tubuh rampingnya.
Meskipun dengan riasan sederhana namun sama sekali tetap tidak menutupi kecantikannya. Seharusnya dia pantas untuk mendapatkan pesta yang lebih megah dari ini. Tetapi apa daya waktu yang tersisa tak banyak. Aku harus segera mengikatnya sebelum ayahnya merebutnya dariku.
Persetan dengan dendam di masa lalu, yang aku inginkan saat ini hanyalah Ana, aku tak ingin kehilangan dirinya lagi.
Mataku terus memandanganya, rasanya ini seperti mimpi. Akhirnya gadis idamanku sejak SMA itu akan menjadi milikku selama-lamanya di hari ini, aku tak perduli dengan bagaimana perasaannya kepadaku. Bukankah cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu.
Kuucapkan namanya pada saat ijab kabul dengan mantap. Entah mengapa ada perasaan bersalah di hatiku saat itu. Aku tau Ana sangat terluka dengan semua ini.
Setelah mencoba mencarinya di sekeliling area hotel, aku bernafas lega, ternyata Ana tidak mencoba melarikan diri, kulihat dia sedang memandang laut lepas sambil berpegangan pada wooden rails. Aku pun menghampirinya dan kuraih pinggang ramping itu dan membawanya dalam dekapanku.
Tak ada penolakan darinya, itu bagus sepertinya Ana sudah sadar bahwa mulai detik ini aku berhak atas jiwa dan raganya. Aku pun membawanya ke kamar honeymoon yang sudah kusiapkan sebelumnya.
Aku menahan gejolak yang ada, sebab Ana terus saja menghindar dan mencoba memberiku pertanyaan-pertanyaan konyol. Tidak sadarkah dia bahwa aku sudah sangat menginginkannya.
Bahkan dia berfikir bahwa aku sudah menikah sebelumnya, yang benar saja. Selama bertahun-tahun ini aku sibuk mengejar dirinya mana mungkin aku sempat untuk melirik gadis lain atau bahkan menikah dengan gadis lain.
Hingga pada saat aku ingin memulai adegan panas itu tiba-tiba Ana muntah dan hampir mengeluarkan seluruh isi perutnya. Awalnya aku berpikir dia hanya berpura-pura untuk menghindari serangan birahiku.
Tetapi setelah kulihat wajahnya. Aku sadar dia tidak berbohong. Dia bukan tipe orang yang pandai berbohong sepertiku. Wajah cantik itu semakin pucat pasi bahkan tubuhnya mulai lunglai tak berdaya.
Bugghh..
Ana jatuh pingsan, aku sangat panik.Kucoba untuk membangunkannya. Tetapi tetap tak berhasil. Ya ampun, ini sudah kesekian kalinya kejadian seperti ini terjadi. Dan akulah yang selalu menyelamatkan dirinya, tanpa sepengetahuannya tentunya.
Aku berteriak memanggil nama David,
"David! .. David ..!" Kataku dari dalam kamar, bahkan sampai di ujung pintu pun David tetap tidak mendengarku.
Sial, pasti dia sudah pergi ke suatu tempat karena mengira aku sedang menikmati malam pertamaku dengan Ana dan merasa tidak kubutuhkan lagi.
Kuangkat tubuh lemah Ana, dengan masih menggunakan baju pengantin aku pun membawanya ke rumah sakit terdekat.
Sampai di ruang UGD
Dokter langsung memeriksa Ana, memeriksa detak jantung dan tekanan darah. Semuanya masih normal. Diagnosis awal Ana sedang mengalami GERD atau naiknya asam lambung ke kerongkongan.
Yang menyebabkan mual dan muntah secara terus menerus, saat itu juga ibu mertua datang dan menanyakan kondisi Ana pada dokter. Sementara aku terus berada di samping Ana.
Sesekali kucium tangan lemasnya itu, aku sangat takut. Bahkan untuk makan saja aku tak mampu. Aku hanya ingin Ana tersadar.
Setelah lama menunggu akhirnya istriku itu sadar, ia mulai membuka matanya perlahan. Tiba-tiba muncul ide gila untuk mengerjainya. Ini adalah hukuman untuknya karena sudah mengacaukan malam pengantin kami.
Menghabiskan malam pertama di rumah sakit, bukankah ini sangat konyol. Rasakan Ana, berpanik-paniklah sekarang. Dasar polos, dengan mudahnya dia percaya dengan ucapanku.
Bagaimana mungkin dia bisa hamil bahkan aku belum melakukan apa-apa padanya. Tentu saja dia sangat kesal dengan ulahku itu, hingga berkali-kali melempar bantal ke arahku.
Usai berdebat dengannya aku pun menyuapinya bubur, aku senang Ana mau menuruti perintahku, hingga akhirnya aku berhasil mencuri satu kecupan di bibir tipisnya itu.
Aku bergegas pergi ke ruangan dokter untuk menanyakan kapan Ana bisa pulang.
"Pak Yoshi, sebenarnya kondisi Ibu Ana sudah sangat membaik. Jadi siang ini sudah bisa pulang, tapi ingat makan teratur dan istirahat cukup harus diutamakan ya Pak." Ucap dokter itu.
Tentu saja aku sangat bahagia, aku akan membawanya pulang ke mansion. Hunian yang memang sudah kusiapkan sejak dulu.
"Mari kita lanjutkan adegan yang tertunda kemarin An." Gumamku sambil berjalan menyusuri koridor pavilion menuju kamar Ana.