My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Perang Usai



Ana terus saja menangis sejak kedatangan Celine ke rumah kami kemarin, bahkan dia tidak mau makan dan berbicara padaku sedikitpun.


"Sayang, jangan mengacuhkanku seperti ini." Ucapku. Ini mungkin sudah kali ke seratus aku mengucapkan kalimat ini secara berulang-ulang.


"Sayang, baiklah. Jika memang kau tak mau bicara padaku setidaknya makan ya, aku akan menyuapimu."


Bukannya menjawab tetapi Ana malah berlari ke arah balkon. Dan duduk di sana, aku ingin mengejarnya tetapi sepertinya mood Ana sangat buruk akhir-akhir ini.


Bayangan tentang hari kemarin membuatku sangat mengkhawatirkan kondisinya dan juga baby, aku tau Ana adalah tipe orang yang keras kepala tetapi lembut.


Tak kusangaka istriku itu bisa berkelahi juga meskipun dengan perut yang membuncit. Dia sangat marah melihat Celine datang kemari.


Hingga tangan kecilnya mencengkeram rambut Celine dan menariknya dengan kuat-kuat. Aku sempat bingung, benarkah ini Ana istriku atau makhluk apa. Mengapa dia sangat menakutkan saat marah kemarin.


Benarkah Ana sedang cemburu pada Celine.


Aku tak tau tetapi yang jelas Ana sangat menunjukkan kekuatannya hingga aku dan Niluh kelabakan dibuatnya.


"Yoshi, kau apakan istrimu?" tanya Mama menghampiriku.


"Tidak tau ma, sepertinya Ana salah paham."


"Dengar, apa pun masalahnya kau harus menjelaskan padanya." Kata mama dengan tegas.


"Andaikan saja mama tau, Ana sama sekali tidak mau mendengarkan Yoshi."


"Seharusnya kalian bisa membicarakan ini baik-baik. Coba Yosh, bujuk dia dan tanyakan apa yang diingkan Ana, dan kau harus peka! kepekaan itu penting Yoshi!" kata mama memberiku saran.


Akhirnya aku menyusul Ana ke balkon.


"Sayang, maafkan aku ya." Ucapku, padahal aku tidak tau kesalahanku di mana.


"Yosh, apa hubunganmu dengan Celine sebenarnya?"


"Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Celine sayang."


"Lagi pula aku juga tidak pernah berkomunikasi dengannya, semua yang terjadi hanya kebetulan saja," aku terus mengungkapkan apa saja yang mungkin bisa meyakinkan Ana.


"Yosh, tetapi dia masih menggunakan fotomu sebagai display picture di lovagram miliknya.


"Aku tak tau sayang, apa perlu aku menelepon Celine untuk menanyakan hal ini?"


"Tidak usah! dasar modus!"


"Jadi kau juga telah menyimpan nomor wanita itu?" tanya Ana, kini dia mulai menangis lagi.


"Tidak An, tetapi David bisa mencarikan nomor Celine jika kau mau!"


"Aku tak mau! Kau yang mau bukan?" astaga Ana masih saja marah dan terus menuduhku yang tidak-tidak.


"An, please sayang. Hentikan perdebatan ini. Aku akan melupakan Reza dan kau juga harus melupakan Celine. Lupakan tentang mereka." Ucapku.


"Aku bisa saja melupakan semua ini. Tetapi jika sampai kulihat dirimu masih berhubungan dengan Celine, aku benar-benar tidak akan tinggal diam!"


"An, lihatlah dirimu. Kau sangat posesif sekarang. Aku menyukainya." Ucapku sambil tersenyum jail.


"Tidak lucu Yosh, jangan tertawa."


"Kau bahkan lebih parah dariku,"


"Apa maksudmu?" tanyanya dengan wajah polos yang menggemaskan.


"Dengar, kemarin aku hanya memberikan dua pukulan pada Reza, dan kau? Kau bahkan telah membuat Celine hampir kehilangan separuh rambutnya. Kau keren sayang!" ucapku. Lagi-lagi aku tertawa mengingat aksi brutal istriku kemarin.


"Aku bahkan bisa membuatnya kehilangan kepalanya jika kau mau Yosh!" kata Ana.


"An, jangan bar-bar! Apa ini karena baby? Apa baby adalah reinkarnasi ironman?" ucapku semakin tertawa, jujur saja meskipun aku sangat khawatir pada tingakah Ana kemarin tetapi jauh di lubuk hatiku sangat bahagia setidaknya Ana merasa takut kehilangan diriku.


"Yosh, aku tau aku sangat kekanak-kanakan akhir-akhir ini. Dan entah kenapa aku sangat mudah tersulut amarah sekarang." Ucap Ana kembali terisak.


"Hey, jangan menangis sayang. Aku tau, hormon kehamilan sangat mempengaruhi dirimu saat ini."


"Tak masalah jika kau terus menerus memarahiku setiap hari tetapi jangan pernah mengacuhkanku An."


"Yoshi, .. " Ucap Ana lirih, dengan raut wajah tak biasa, sepeti sedang terkejut sambil memegangi perutnya.


"Ya sayang kenapa? Apa perutmu keram lagi?" Aku sedikit panik melihatnya seperti itu.


"Tidak."


"Yoshi, aku merasa baby sedang bergerak!" Ucap Ana sambil memegangi perutnya.


"Benarkah?" kataku, ikut memegangi perut Ana.


"Ya Yosh, coba rasakan. Sebelah sini!" Ucap Ana sambil mengarahkan tanganku.


"Apa kau merasakannya Yoshi?"


"Ya, sayang. Seperti ada denyutan." Aku pun terharu merasakan ini, ternyata anak kami mulai aktif.


"Hai baby sayang. Apa kabar? Apakah semakin sesak di dalam sana sehingga membuatmu ingin terus bergerak?" Ucapku sambil menempelkan telingaku pada perut Ana.


"Bahkan dia begitu kuat seperti ironman. Katakan, apakah itu karena dirimu Nak?" ucapku sambil melirik wajah Ana dan melihat ekspresinya.


"Tidak lucu Yosh!"


"Yoshi, jangan becanda terus." Ucap Ana sambil beranjak.


"Sayang, mau kemana?"


"Lagi romantis juga. Malah pergi." Ucapku.


"Aku lapar Yoshi."


"Mau makan apa sayang?" tanyaku, mengikutinya dari belakang.


"Memakanmu!" jawabnya ketus. Tetapi seketika membuatku membara dan langsung menyerangnya.


"An, tunggu!"


****


Di kamar.


"Jadi, apa masalah kita sudah selesai?" tanyaku sambil mendekapnya.


"Mmm belum. Aku belum seratus persen percaya padamu."


"Sayang, apa yang masih kau ragukan? Jangan menyiksaku terus-menerus!" Aku semakin mengeratkan pelukanku. Aku merindukan istriku yang manja seperti biasanya.


"Yosh, apa kau tidak ingin meminta maaf kepada Reza?" tanyanya sambil menatap wajahku.


"Memangnya apa salahku?" Sial, Ana sangat merusak momen romantis yang mulai terbentuk ini dengan menyebut nama itu.


"Kau memukulnya untuk sesuatu yang tidak jelas Yoshi! Kau harus minta maaf."


"An, aku tidak bisa minta maaf pada Reza." Jawabku, enak saja bisa besar kepala si cacing itu nanti.


"Aku tidak akan mau tidur denganmu jika kau tidak mau melakukannya." Ana mengancamku sekarang.


"Ya, baiklah. Aku akan minta maaf pada Reza." Kataku, akhirnya aku mengalah daripada tidak dapat jatah.


"Bagus Yosh, belajarlah untuk lebih dewasa lagi!"


"An, apa kau masih meragukan kedewasaanku? Apa kehadiran baby di perutmu ini bukan menjadi bukti yang akurat untuk menunjukkan bahwa aku ini pria dewasa?"


"Kau masih saja bercanda di saat serius seperti ini Yoshi!"


"An, aku merindukanmu. Aku lelah dengan keributan yang terjadi selama beberapa hari ini. Jadi boleh ya?" tanyaku mulai menjurus, aku sangat menginginkan Ana saat ini.


"Boleh apa?"


"Ayolah jangan pura-pura tidak tau sayang."


"Jangan gila Yosh, ini masih pagi dan aku ingin sarapan!" Ana pun berlalu dan meninggalkanku sendiri.


Jika tidak teringat bahwa baby butuh asupan pasti aku sudah mengurung Ana sepanjang hari mengingat ini adalah hari libur. Kami pun sarapan bersama.


Ana makan dengan lahapnya, pertanda emosinya sudah mulai stabil. Aku tidak akan berbicara apa pun untuk saat ini. Takut mengganggu nafsu makannya yang sedang bagus.


"Yosh, setelah ini apa yang akan kita lakukan?" tanya Ana di sela-sela makannya.


"Mmmm apa ya?" Jawabku sambil memberinya tatapan mesum.


"Apa Yoshi?" entah Ana ini sedang tidak konek atau apa.


"Mau makan yang lain sayang?"


"Apa Yosh? Aku sudah kenyang," Jawab Ana sambil meminum segelas air, tetesan air yang mengalir pada leher jenjangnya membuatku menelan salivaku.


"Hmm tetapi sepertinya aku ingin sesuatu," Ana tampak berfikir.


"Apa sayang? Katakan apa yang kau inginkan?" aku semakin bersemangat menananyainya.


"Ah tidak jadi. Apa rencanamu Yosh? Bukankah ini hari libur?"


"Jika kau bertanya tentang apa yang ingin kukerjakan setelah ini. Aku hanya ingin berada di kamar seharian denganmu sayang." Ucapku dan dia hanya tersenyum mendengarnya.


"Aku juga sedang merindukanmu mas." Ucap Ana tersipu. Sungguh bumil ini bisa berubah pikiran sewaktu-waktu. Maka aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


Beberapa detik kemudian saat kami akan berjalan menuju kamar tiba-tiba mama datang, sungguh membuat perasaanku jadi tidak enak saja.


"Sayang, mumpung Yoshi libur bagaimana jika kita belanja perlengkapan bayi?" tanya mama pada Ana. Benar saja, mama sungguh mengacaukan rencanaku.


"Ah mama nih mengganggu saja." Ucapku


"Mau ma! Ana mau!" Astaga, Ana benar-benar mau ikut dengan mama. Pupus sudah harapan bermesraan di kamar seharian.



Sudah baikan nih ye... 😍😍😍