My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Jangan Mengacuhkanku



Hari ini aku sangat kesal pada Yoshi, dia benar-benar mengurungku di kamar dan menguncinya dari luar sebelum akhirnya berangkat ke kantor.


"Yoshi !!" teriakku, kudengar langkah kakinya semakin menjauh.


"Yosh, jangan kunci pintunya!" kataku dari dalam kamar.


"Yoshi!!" astaga, aku mulai kehabisan suara. Kemudian kudengar langkah kakinya mendekati pintu lagi.


"Sayang, istirahatlah. Aku akan segera pulang setelah meeting hari ini." Jawab Yoshi tetap saja tidak memperdulikanku.


"Yoshi, tunggu! buka pintunya!" Ucapku kesal sambil menggedor pintu itu.


"Sabar sayang. Aku mencintaimu." Katanya, oh dia ingin membalasku rupanya.


"Kau ingin membalasku ya?" tanyaku.


"Tidak sayang, aku hanya tidak mau ada drama kabur-kaburan seperti saat itu." Ucapnya, suaranya mulai menjauh.


"Yosh! tunggu, aku berjanji tidak akan kabur lagi! buka pintunya!" ucapku, aku tak ingin berada di kamar seharian.


"Bye mama dan baby sayang, papa kerja dulu ya. I love you 3000." Ucapnya, mulai menghilang, Yoshi sangat menyebalkan.


Akhirnya aku benar-benar terkurung di sini. Apa yang ada di otak Yoshi sebenarnya, bisa-bisanya dia berfikir jika aku akan kabur lagi. Bukankah selama ini aksi kaburku selalu beralasan karena ulahnya.


***


Hari mulai siang, sementara aku sudah sangat bosan. Berada di ruangan ini tanpa aktifitas apa pun membuatku stres.


"Niluh, bukankan pintunya." Akhirnya aku menelepon Niluh.


"Mohon maaf Nyonya, saya tidak berani. Saya takut pada tuan." Ucapnya.


"Aku yang akan bertanggung jawab jika tuan memarahimu. Tenang saja" kataku, aku berusaha meyakinkannya.


"Maaf nyonya, terakhir kali anda pergi, tuan sangat marah dan hampir memecat saya." Ucapnya, aku pun terdiam mengingat-ingat saat aku berusaha kabur dari mansion dan mengabaikan nasib para pelayan ini.


"Ah ya sudah, maafkan aku Niluh." Kataku merasa bersalah pada mereka. Meskipun tak bisa kupungkiri luka di hari itu belum cukup sembuh hingga saat ini.


Tak ada yang bisa kulakukan, sesekali Niluh masuk ke kamar hanya untuk memastikan keadaanku, mengantar makanan, vitamin dan segala keperluan lain. Aku merasa seperti seorang jompo yang sedang dirawat oleh suster sekarang.


"Nyonya, tolong minum susunya juga." Kata Niluh sambil menyodorkan segelas susu khusus ibu hamil itu.


"Aku sudah sangat kenyang. Nanti saja ya." Kataku, yang benar saja sejak tadi Niluh sudah memintaku makan nasi, sayur, buah, biskuit. Dan sekarang susu, ini benar-benar empat sehat lima tepar kekenyangan.


"Nyonya tolong minumlah, saya mendengar jika kesehatan nyonya menurun sejak kehamilan ini. Tuan sudah meminta saya untuk mengatur porsi makan anda, jangan khawatir nyonya, saya tau tentang ilmu gizi." Ucapnya meyakinkanku.


Akhirnya aku menurutinya meskipun sekarang perutku sudah seperti Nyonya Puff saat sedang terancam.


***


Hari mulai sore tetapi Yoshi belum pulang juga. Kulihat layar ponselku tak ada notifikasi sama sekali, lalu aku memeriksa whatsapp.


Yoshi online tetapi tidak memulai obrolan denganku. Haruskah aku memulai chat terlebih dulu. Ah, tidak usah biarkan saja, setelah ini dia pasti akan pulang.


Kulihat grup whatsappku. Di sana semua orang sedang asik mengobrol. Ada Evelyn, Dian, Jenny dan Reza. Akhirnya akupun bergabung.


Lathana Aditama : Halo semuanya πŸ€—


Princess Evelyn : Anaa!! baru muncul ih🀧🀧


Jenny cans : Cyiinn yey kemana aja gak pernah nongol? 😍


Ida Ayu Dianna : Tenggelam dalam lautan cinta IT manager ya An? 🀣😍


Princess Evelyn : An, udah ada benih-benih yang sedang berkembang belom? 🀭🀭


Ida Ayu Dianna : Tau tuh lama bener bikin ponakan buat genk rumpi ini. Haha πŸ€”πŸ€©


Lanthana Aditama : Kalian selalu aja gitu πŸ˜‚. Bikin kangen aja 😘😘


Jenny Cans : Cyin, buruan bikin bayi yang gemas. Ntar eyke kasih nama Little Jenny🐣🐣


Ida Ayu Dianna : ihh jyjiikkk. Jangan mau An, ntar anak lu mirip JenongπŸ™ˆ


Princess Evelyn : An, emang udah isi belom sih?


Lanthana Aditama : Udah nih jalan dua bulan πŸ˜„


Jenny, Evelyn dan Dianna : Yeiyy Goal!! πŸŒΉπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ˜‡πŸ‘―β€β™€πŸ‘―β€β™‚


Pahlevi Reza : Selamat ya An. Semoga lu sm baby sehat terus. Jaga kesehatan An! ❀πŸ’ͺ


Jenny cans : Ezaa seyeng baru muncul πŸ˜‚


Princess Evelyn : tau tuh padahal sebelum Ana online dia nyerocoss terus. 🀣


Ida Ayu Dianna : Tega kalian ya gangguin sad boy ini πŸ’”πŸ’”


Lanthana Aditama : Makasih ya semuanya πŸ€—. Memangnya Reza kenapa?


Pahlevi Reza : Gak ada apa An. Jan dengerin gembel-gembel ini 😀


Jenny cans : Dia anu padamu Cyin.. 🀭


Lanthana Aditama : Kenapa Jen? Kamu baik-baik aja kan Za?


Pahlevi Reza : Eh iya An. So far so good πŸ‘Œ


Jen, gue japri..!


Jenny cans : Waddaow ampun Eza seyengπŸ™‰


πŸ™‰


****


Aku pun menutup obrolan itu. Dan kudengar seseorang sedang mengobrol dengan Niluh di luar kamar. Aku tau itu pasti Yoshi.


Ceklek


Pintu terbuka. Aku pun segera menghampiri suamiku yang baru pulang itu.


"Benarkah?" tanyanya dengan raut wajah datar.


"Benar, katamu kau akan segera pulang setelah meeting. Tetapi kenapa sangat lama?" tanyaku.


"An, aku sangat lelah." Jawabnya sambil berjalan ke kamar mandi.


Akhirnya pintu kamar ini terbuka, aku pun turun ke bawah untuk membuatkannya minuman.


***


"Yosh, minumlah coklat hangat ini." Ucapku sambil meletakkannya di atas meja.


"Iya, terimakasih. Lain kali jangan naik turun tangga sendiri." Jawabnya, entah mengapa aku merasa ada yang aneh dengan dirinya.


"Yoshi, ada apa?" tanyaku. Tetapi dia tetap terdiam.


"Yoshi, kenapa diam saja?" tanyaku.


"Aku lelah An, aku ingin istirahat. Jangan ganggu aku dulu." Ucapnya sambil berbaring dan memunggungiku.


"Yoshi..." Ucapku lirih, entah kenapa rasanya Yoshi seperti mengacuhkanku, padahal aku sudah menunggunya pulang hari ini. Aku ingin mengobrol dengannya sepulang kerja.


Dia tak seperti biasanya, rasanya aku ingin menangis. Aku tak terbiasa diacuhkan olehnya seperti ini. Bahkan untuk mengucapkan selamat malam dan mengelus perutku pun sama sekali tidak ia lakukan padahal biasanya itu menjadi kegiatan rutin untuknya.


Sepanjang malam aku terus terjaga memikirkan Yoshi, aku tak bisa memejamkan mataku sama sekali. Hingga terasa kram di perutku. Tidak terlalu sakit tetapi frekuensinya sering.


Aku terus saja berfikir ada apa dengan Yoshi. Hingga pagi pun datang. Yoshi terbangun dari tidurnya dan langsung menuju kamar mandi masih tanpa menyapaku.


Astaga, ada apa ini. Mengapa dia terlihat seperti sedang marah padaku. Setelah selesai bersiap aku pun memakaikan dasi untuknya. Bahkan dalam posisi sedekat ini pun dia tetap diam saja, biasanya dia akan terus menggodaku sebelum berangkat ke kantor tidak seperti ini.


"Yosh, katakan ada apa? kau hanya diam saja sejak kemarin." Tanyaku, namun bukannya menjawab dia malah langsung pergi meninggalkanku.


"Yoshi!" Aku terus berusaha untuk mencoba mencari tau apa yang terjadi. Namun sepertinya Yoshi sangat marah padaku. Hingga mengabaikan panggilanku.


Kulihat tubuh suamiku itu menuruni anak tangga, menjauh dan keluar menuju pintu. Aku teringat saat SMA dulu. Aku sering sekali menatap punggung Yoshi setelah melewati kelasku dan berlalu begitu saja tanpa melihatku seperti saat ini.


Oh Mas Ikauku, ada apa dengan dirimu sebenarnya.


Aku pun kembali ke kamar tak terasa air mata mulai menetes, sejak semalam aku terus saja menangis. Aku memang kesal saat Yoshi sangat cerewet padaku tetapi untuk didiamkan olehnya seperti sekarang, ini sungguh menyakitkan.


Tiba-tiba saja perutku mulai kram lagi, kali ini lebih kencang dan sangat nyeri. Aku hampir saja terjatuh saat berusaha menahan rasa sakit itu.


"Nyonya.. Kenapa?" tanya Niluh panik dan membawaku ke tempat tidur. Segera ia meraih ponselnya dan menelepon Yoshi.


"Halo, tuan. Nyonya kesakitan sepertinya mengalami kontraksi !" ucap Niluh dengan memegangi perutku.


Sementara aku mulai tak bisa menahan rasa ngilu dan tercengkeram di area perut bawahku.


Tak berapa lama Yoshi datang dengan wajah paniknya dan berlari ke ke arahku dan Niluh.


"Sayang, ada apa? Mana yang sakit?" ucapnya seperti sangat khawatir padaku.


"Yosh, sakit.. Perutku sakit sekali.. "Ucapku mulai lemas.


"Astaga sayang, apa yang terjadi?" Yoshi sangat panik dan mengacak rambutnya.


"Tuan, cepat bawa nyonya ke rumah sakit! Cepat tuan!!" ucap Niluh dan aku mulai lemas karena sejak tadi menahan rasa sakit dan rasa takut, aku takut terjadi sesuatu pada bayiku.


"Sayang, bertahanlah! bertahan ya. Aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikitpun." Kata Yoshi sambil mengangkat tubuhku menuju ke luar kamar.


Dengan berlari dia menuruni tangga sambil menggendongku.


"David, cepat siapkan mobilnya !" teriak Yoshi.


"Baik tuan, nyonya kenapa tuan?" Tanya David, ikut panik.


"Sudah cepat jalan jangan banyak tanya!!" Yoshi membentak David.


"Astaga bagaimana ini.. Sayang, bertahan ya. Maafkan aku.. " Ucap Yoshi masih dengan mendekaapku erat.


"Yoshi, sakit. Aku takut terjadi sesuatu pada baby." Ucapku lirih sambil memegangi perutku yang masih terasa sakit.


"Noo sayang, tidak akan terjadi apa-apa padamu dan baby . Maafkan aku. Baby, maafkan Papa sayang." Kata Yoshi mulai panik lagi.


"Yoshi.. Jangan marah padaku.. " Kataku, sungguh rasa sakit ini semakin menyiksaku hingga membuatku merasa lemas dan ingin memejamkan mata.


"Tidak sayang, aku tidak marah padamu. An, maafkan aku.. Jangan tutup matamu sayang, tetaplah terjaga. Kita akan segera sampai di rumah sakit!"


"David cepatlah!! Kau ini kenapa lelet sekali!! " teriak Yoshi.


"Baik tuan." Jawab David dan mobil semakin melaju dengan kencang.


"Yosh, rasa sakitnya berkurang tetapi aku merasa ada yang mengalir dari dalam.. !!" kataku, aku sangat panik. Astaga apakah ini darah atau apa kenapa sangat terasa alirannya.


"Sayang, bertahanlah. Aku tak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu dan baby. " Ucap Yoshi mulai panik merasa bajuku mulai basah karena cairan itu.


"Ya Tuhan, tolong.. Astaga, tanganku mulai basah, kenapa ini?" ucapnya semakin kacau.


"Sayang, bertahanlah! maafkan aku, maafkan aku... " Yoshi terus saja berbicara sendiri.


Akhirnya tiba di Rumah sakit. Aku masih sadar tetapi aku sangat lemas hingga tak dapat berkata apa-apa.


"Dok tolong selamatka istri dan anak saya! "


"Dok, lakukan yang terbaik, mereka harus selamat, saya mohon dokter!" Yoshi terus saja berbicara pada dokter.


Dokter pun membawaku masuk ke dalam ruangan dan Yoshi menunggu di luar, aku hanya bisa pasrah dan menangis, aku tak mengkhawatirkan diriku, aku hanya ingin bayiku selamat.



Yoshi bodoh kenapa kau mengacuhkankuπŸ˜”



Halo semuanya, boleh kok kalo mau kasih Like, vote, hadiah atau apapun itu untuk mendukung Author tak tau diri ini. wkwk.


Dukungan dari kalian bagaikan booster untukku yang sedang dilanda flu batuk meriang hareudang. EhhπŸ™Š


Terimakasih salam sayang dariku. Lady MeilinaπŸ™πŸ™πŸ™