
Ana POV
Aku berlari menuju stateroom VVIP itu, meninggalkan suamiku yang masih berjalan di koridor, kamar dengan nomor keemasan itu, kini berada di hadapanku.
Kumasukki kamar penuh kenangan itu. Ornamen khas kabin penthouse masih begitu kental. Sofa fancy, rails berbahan dasar kuningan dan balcony menuju hamparan laut lepas.
Ah, rasanya seperti sebuah Deja Vu, kuhirup aroma cinnamon bercampur mint yang berasal pengharum ruangan, aku sangat merindukan tempat ini. Sungguh gila, bahkan seorang CEO seperti Yoshi rela mengikutiku kemari dan ikut bekerja sebagai IT Manager demi pembalasan dendamnya pada keluargaku. Ah, bodohnya Yoshi.
Aku berjalan mengelilingi ruangan ini, bahkan karpet berbahan beludru cokelat ini pun masih sama seperti dulu, kaki ini seperti sedang menginjak tanah di kampung halaman.
Kubuka pintu kaca menuju balcony. Dan mataku seketika termanjakan oleh pemandangan kota Vancouver dari atas kapal. Kudengar langkah kaki memasukki stateroom ini, aku pun mengintipnya.
Meskipun hanya terlihat dari belakang tapi aku yakin jika itu suamiku, memangnya siapa lagi yang bisa memasukki ruangan ini tanpa ijin, selain tamu itu sendiri.
Sudah kuduga, dialah yang datang. Mari kita bersenang-senang Yoshi, aku sudah merasa seperti serigala yang sedang kelaparan.
Aku menangkap punggung bidang itu dan memeluknya tanpa aba-aba.
"Sedang menyiapkan sesuatu untuk istrimu, sayang?" ucapku, sambil memeluk tubuh itu tanpa membuka mata.
"Mas, akhirnya kau datang juga. Kenapa lama sekali, aku sudah tidak sabar tau!"
"Mari membuat bed itu berantakan!!" Aku semakin mengeratkan pelukanku pada pinggangnya, aroma parfumnya selalu berhasil membuatku terlena.
Yoshi masih tidak berkutik sementara tanganku yang berada pada dadanya bisa merasakan detak jantung suamiku yang menggebu, begitu juga dengan deru nafasnya yang tak beraturan.
Apa kau gugup Yoshi Aricko Luby? Hahah, beginilah rasanya diterkam rentenir penghisap masa depanku dulu.
"Mas, kenapa diam saja? Apa kau gugup? Atau sedang pura-pura gugup?"
Hening..
"Yoshi!! jawab aku, ayolah aku tau ini bukan gayamu!"
Astaga, ada apa dengan Yoshi, kenapa dia kaku sekali, apa dia benar-benar sedang mendalami perannya saat ini, aku yakin ia masih mengingat adegan di kamar ini saat itu.
Tiba-tiba saja, telingaku mendengar suara dari arah pintu.
"Sayang, apa yang kau lakukan?"
Aku pun menoleh, dan saat itu juga mataku menangkap seorang pria tengah berdiri di ambang pintu dengan raut wajah meradang menahan amarah menatapku.
"Mas, Kau di situ ??" aku pun terkejut bukan main, jika Yoshi ada di sana, lalu siapa yang sedang kupeluk ini.
Astagaa, matilah aku. Niat hati ingin mengerjai Yoshi tetapi sekarang malah diriku yang berada dalam fase terancam. Aku pun segera melepaskan pelukanku pada pria ini.
"Kau siapa?" Dan dia pun segera berbalik badan.
"Cyinn.. Yey agresif sekali sekarang. Hihi.. Tapi eyke suka !!"
"Jen-Jenny??" aku terbata, bisa-bisanya aku mengira jika Jenny adalah Yoshi.
Sementara Yoshi sudah memasang ancang-ancang untuk memukul Jenny.
"Kuraang ajar! aku tau sejak awal jika dirimu bukanlah banci sungguhan!"
"Kau apakan istriku ha?"
Bugghh
"Ma-mass, jangan memukulnya. Akulah yang bersalah. Kukira itu dirimu!" Aku menahan Yoshi agar menjauh dari Jenny.
"An, apa kau gila? Kau samakan aku dengan banci kaleng ini?"
"Sungguh Mas, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak sadar dengan apa yang kulakukan. Aku hanya terlalu antusias bisa kembali ke kapal penuh memory kita dulu.
"Jen, kau ini! kenapa diam saja saat aku memelukmu, ha? "
"Bukannya menghindar. Ah, kau ini Jen!" Aku kesal sekali pada Jenny.
"Tentu saja, dia akan diam saja. Kerena kutau jika banci ini gadungan! Kau pria normal kan? Kau hanya memanfaatkan keadaan selama ini!"
Yoshi bersiap untuk memberinya pukulan lagi, tetapi aku tetap menghalanginya.
"Ampun Chief, sebenarnya saya hanya berniat mengantarkan makan siang saja hari ini. Tetapi, karena saya tau bahwa kalianlah tamu VVIP itu, saya sangat bahagia."
"Hingga saat Ana memelukku, saya pun terlarut karena rasa rindu pada sahabat lama." Jenny mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi Yoshi seakan belum terima akan hal ini.
"Kau sungguh menantangku Jenn!" Yoshi semakin terpacu untuk menghajarnya tetapi dengan sigap Jenny berlari.
"An, toloong...! Selamatkan eyke dari laki hot lu ini!!" Jenny berlindung di belakangku.
"Mas, sudah. Jangan mempermasalahkan hal tak penting ini," ucapku sambil menahan suamiku.
"Iya deh cyiin, eyke pergi dulu deh. Entar meet up sama genk kita yaa!!"
Jenny pun berlalu menuju pintu.
"Byee!! Chief Yoshi yang hot," ucap Jenny sambil membelai dagu Yoshi dengan gemulai.
"Kau benar-benar cari mati rupanya!!" Yoshi hampir saja berhasil menangkap Jenny jika aku melepaskan dekapanku.
"Mas, please! aku yang bersalah. Tolonglah."
"Apa ini An? Kau samakan aku dengan ladyboy terkutuk itu?"
"Kau menyamakanku dengan banci kaleng krupuk itu? Yang benar saja." Yoshi menggelengkan kepalanya. l
"Bu-bukan begitu Mas, aku hanya sedang tidak fokus saja, lagi pula aroma parfum kalian benar-benar mirip."
"Jadi, banci itu meniru parfum favoritku? keterlaluan! aku akan benar-benar menghajarnya setelah ini." Yoshi masih saja kesal.
"Jangan Mas, jangan menghajarnya lagi,"
"Aku akan mengganti parfumku kalau begitu!"
"Padahal aku sangat menyukai aroma itu Mas."
"Sungguh?! apa itu menggairahkan?" bisiknya pada telingaku.
"Sangat sayang."
Sebuah sapuan hangat dari bibir merah itu mulai menempel sempurna pada bibirku, kemudian menjalar ke leherku. Membuatku mendesaah kecil. Cukup lama kecupan memanjakan itu menghangatkan tubuhku. Aku mulai membalasnya dengan penuh kasih sayang.
Stateroom mewah ini menjadi saksi biksu adegan tak terkendali kami, sejak dulu kamar inilah yang menjadi saksi kenanganku dan Yoshi, entah saat sedang kesal ataupun saat sedang senang.
Ah, bukan senang, aku tak pernah merasa senang berada di dekatnya bahkan hingga pernikahan kami berlangsung.
Canada dengan udara dinginnya tak mampu mendinginkan keromantisan kami, demi apa pun. Aku selalu jatuh dalam perlakuan lembut Yoshi, satu hal yang sangat kusukai darinya. Meskipun dia brengseek dan selalu membuatku kesusahan.
Dia tak pernah menyentuhku sebelum kami benar-benar menikah. Meskipun perkataannya selalu menjurus kesana, meskipun tubuhnya sering menghimpit tubuhmu di saat-saat tertentu.
Tapi, untuk 'hal yang satu ini'. Dia benar-benar menunggu atas dariku ijinku. Padahal jika dia mau, dia bisa saja melakukannya dengan paksaan.
"Mas, kenapa kau tak memperkoosaku saja waktu itu?"
(Astaga, pertanyaan macam ini An? Kau membuat authormu malu saja 😴)
"Hah? Apa sayang?" Yoshi mengernyitkan dahinya di tengah-tengah gerakan bertempo pelan.
"Ya, waktu itu. Waktu aku sedang mabuk dan kau membawaku ke kabin ini. Mengapa kau tidak melakukan itu padaku, bukanlah itu kesempatan bagus?"
"An, apa kau sadar? Ah, pertanyaan ini membuat perutku geli saja." Dia tertawa, tetapi sambil merengkuh tubuhku untuk berganti posisi, aku lah yang berada di atas sekarang.
"Jawablah Mas," aku pun memulai gerakanku. Pelan namun pasti, membuat pipinya merona karena menahan rasa tak terlukiskan.
"Hmm." Yoshi hanya memejamkan matanya dan mengikuti ritme yang disuguhkan.
"Mas! jawablah!"
"Iya sayang, karena aku Mas Ikau. Bukan Yoshi yang mesum seperti yang selalu kau tuduhkan!Haha!"
"Menyebalkan sekali. Itu bukan jawaban!" Aku masih saja memegang kendali permainan.
"Jawabannya adalah.. "
"Apa?" Aku masih saja ingin membahas hal tidak bermutu ini.
"Tambahkan durasinya dan kau akan mendapatkan jawabanmu," ucapnya seraya memberikan kecupan.
"Tidak mau. Aku harus segera melihat baby dan little."
"Katakan apa jawabannya?" Posisi kembali berubah, kini aku yang tertindih olehnya.
"Jawabannya, karena aku mencintaimu dan aku tidak seberengsek itu, aku bisa menyiksamu dengan bekerja keras tapi tidak untuk merenggut kesucianmu,"
"Cintaku terlalu mahal untuk sesuatu yang hanya dinilai sebagai 'nafsu'."
"Aku mampu menahan rasa sakit selama bertahun-tahun itu, lalu mengapa aku harus terkalahkan dengan hawa nafsu yang berujung hanya akan membuatmu semakin benci pada monster seperti diriku, An."
Visual pas lagi 'bertempur' wkwk
Haloo genk, kangen kalian selaluu. 😘😘😘😘