
Warning !!
21+ 18+
Malam ini aku tidur di kamar tamu bersama mama, sementara Yoshi berada di kamar kami seorang diri. Sejak tadi siang dia terus saja merengek pada mama agar mengijinkanku untuk tidur bersamanya seperti biasa.
"Ma, mama serius akan membawa Ana bersama mama?" tanyanya.
"Ya, tentu saja. Kenapa? tidak suka?"
"Ma, tolonglah. Yoshi tidak akan berbuat apa-apa pada Ana, percayalah ma." Kali ini dia seperti seorang anak kecil yang meminta mainan pada ibunya.
"Kau tidak dapat dipercaya Yosh!"
"Sungguh ma, hanya memeluk Ana saja, kenapa tidak boleh?" kata Yoshi, masih saja mencoba merayu ibunya.
"Tidak Yoshi, kau itu kasar. Memangnya mama tidak tau tadi pagi saja kancing baju Ana sampai tercecer di mana-mana karena ulahmu, belum lagi masalah bra yang terdampar di ambang pintu. Kau pikir mama ini bodoh?"
Astaga, mereka membuatku semakin malu saja, bisa-bisanya membahas hal seperti ini di hadapanku.
"Ma, jangan salah paham. Itu hanya foreplay saja," ucap Yoshi sambil melirikku. Ah, dasar si bodoh ini.
"Pokoknya mama bilang tidak ya tidak! Mama semakin kesal pada Yoshi.
"Ma, Yoshi tidak bisa tidur tanpa memeluk Ana, bahkan mengobrol dengan baby di malam hari sudah menjadi kebiasaan Yoshi, cucu mama itu akan mencari-cari ayahnya nanti malam ma!"
"Mama yang akan mengobrol dengan baby malam ini, biarkan dia mengenal omanya juga, sudah sana kembali ke kamarmu!"
"Ma tunggu!"
"Sayang, apa kau tega pada suamimu ini?" Ucap Yoshi padaku, namun mama sudah menarikku ke kamar dan menutup pintunya.
***
"Ana sayang, apa yang kau rasakan akhir-akhir ini?" tanya mama sambil memberiku segelas susu ibu hamil.
"Tidak ada masalah ma, hanya saja terkadang Ana sangat sensitif hingga mudah marah dan menangis."
"Benarkah? Apa Yoshi mengganggumu?"
"Tidak, ma. Sama sekali tidak. Dia bahkan selalu memasakkan sesuatu untuk Ana."
"Benarkah? Yoshi bisa memasak?" tanya mama sambil tertawa terbahak.
"Bisa ma, Ana sangat menyukai masakan Yoshi itu."
"Sungguh hebat, anak itu bahkan tidak pernah masuk ke dapur selama ini. Apa sejauh ini cucuku baik-baik saja sayang?" tanya mama sambil mengelus perutku.
"Baik-baik saja ma, tidak pernah ada keluhan lagi, berat badan, detak jantung dan organ-organ lainnya mulai terbentuk sesuai perkembangan janin normal."
"Oh cucu oma, baik-baik ya di dalam perut mama, oma menyayangimu." Bisik Mama pada perutku. Aku sungguh bahagia memiliki mertua sepertinya.
Kami pun memutuskan untuk tidur dan mama mematikan lampunya. Beberapa menit kemudian, kulihat mama sudah terlelap dan aku pun mulai mengantuk, hingga tiba-tiba terdengar suara seseorang memasukki kamar, dia memegang tubuhku hampir saja membuatku berteriak histeris.
"Sayang ini aku.. " Bisiknya pada telingaku, astaga ternyata ini Yoshi, suamiku sendiri.
"Yosh, kenapa belum tidur? Ucapku lirih takut Mama terbangun.
"Sayang diamlah! aku akan menculikmu." Ucap Yoshi tersenyum dan membopong tubuhku keluar dari kamar ini menuju ke kamar kami.
"Yosh,apa kau gila?"
"Yoshi!!"
"Sudah, tenanglah sayang atau nenek tua itu akan terbangun." Ucap Yoshi sambil menaikki tangga.
***
Tiba di kamar dan Yoshi seketika mengunci pintu kamar kami.
"Yoshi, apa yang kau lakukan?" tanyaku.
"Haruskah aku menjelaskannya sayang?" jawab Yoshi sambil mendekatkan wajahnya pada wajahku.
"Yosh, aku takut mama!"
"Sudah, tenanglah. Mama tidak akan tau."
"Tapi Yoshi, aku takut mama marah." Ucapku, menghindari bibirnya yang semakin mendekat.
"Sshh, An aku merindukanmu sayang." Ucapnya, suara itu agak serak. Aku tau apa artinya ini.
"Yoshi, aku juga rindu padamu. Tetapi.. " Jawabku mengganntung, aku tak bisa berkata apapun. Astaga kenapa aku sangat tegang saat ini. Padahal ini bukan yang pertama kalinya.
"Tetapi apa sayang hmm?" Yoshi terus saja menatapku dengan penuh nafsu seakan tidak ingin kehilangan kesempatan ini.
"Yosh, jangan menatapku seperti itu, aku malu." Aku pun memalingkan wajahku darinya.
"Malu kenapa? Kau sangat cantik sayang, aku ingin terus menatapmu." Kata Yoshi sambil menciumi wajahku.
"Gugup? bagaimana bisa An? ini bukan yang pertama kalinya untuk kita, bahkan saat malam pertama aja kau tak segugup ini sayang. Kau sangat agresif." Ucap Yoshi sambil tertawa seketika mengingat obat perangsang itu.
"Yoshi! jangan membuatku malu." Aku pun memutupi tubuhku dengan bantal.
"Tidak sayang, jangan malu. Jangan menutupi tubuh indahmu ini." Dia menarik bantal itu dan membuangnya ke sembarang arah.
Yoshi pun melepaskan pakaiannya, sungguh dada bidang dan perut sixpact berhasil menghipnotisku. Setelah itu dia mulai meraba tubuhku, melepasksn satu persatu kain yang menempel pada tubuhku hingga kini kami berdua sama-sama dalam keadaan polos.
"Yoshi, jangan memandangiku seperti itu!" ucapku sambil menutupi dada dan bagian bawahku.
"Sempurna sayang, tubuhmu semakin seksi dan mulus." Yoshi masih saja memberiku tatapan tajam.
"Yosh aku malu padamu."
"Kenapa harus malu sayang hmm?" kini tangannya mulai berputar-putar di area dadaku.
"Masalahnya, ini pertama kalinya kita melakukannya setelah aku mengetahui jika dirimu adalah Mas Ikau." Aku pun menutup wajahku dengan telapak tanganku, akibat tak dapat menahan malu lagi.
"Jadi kau malu dengan mas ikaumu ini sekarang?" Kata Yoshi sambil membuka tanganku dan menguncinya dengan tangan kekarnya hingga membuatku tak dapat bergerak.
"An, mulai sekarang panggil aku Mas," Ucapnya sambil memperdalam ciuman kami. Aku masih belum bisa mengimbangi ciuman itu, hingga kini bibir merah itu berpindah ke area dada hingga sampai di kedua bukitku.
Lidah itu terus bermain di sana dan sesekali menghisaapnya dengan dalam, hingga membuatku tidak tahan menahan serangan geli bercampur nikkmat ini.
"Yosh!! aku tidak tahan, hentikan itu." Ucapku meracauu tidak karuan.
"Aku tidak akan menghentikannya sebelum kau memanggilku dengan sebutan Mas,"
"Yoshi, berhenti!" Aku semakin tidak karuan saat tangannya bermain pada milikku di bawah sana.
"Masih tidak mau menurutiku sayang?"
"Ya, iya. Baiklah aku akan memanggilmu dengan Mas, mulai sekarang." Ucapku lirih, aku mulai lemas, sepertinya aku baru saja mengalami pelepasan.
"Bagus sayang. Bagaimana rasanya nikmaat bukan?" aku tak mampu menjawabnya, lagi-lagi aku harus menutupi wajahku.
"Sayang, jangan menutupinya. Aku ingin melihat wajah cantikmu." Ucapnya sambil menyingkirkan kedua tanganku.
Dia terus saja menghujaniku dengan kecupan hingga hisapaan lembut. Membuatku lagi-lagi mendesaah.
"Aku senang mendengar desaahanmu sayang, bersiaplah An, mungkin ini akan terasa nyeri tetapi hanya sebentar." Aku pun memejamkan mataku.
Yoshi mulai memssukkan miliknya, perlahan dan sangat hati-hati. Tetapi, ada rasa ngilu juga saat benda itu mulai menerobos masuk ke intiku. Perlahan ia mulai memaju mundurkan gerakannya.
Rasa nyeri dan ngilu itu mulai menghilang hingga membuatku merasa terbang ke awan. Selama hampir satu jam kegiatan itu berlsngsung dan Yoshi belum juga mencapai klimakss.
Sedangkan aku sudah sangat lemas karena entah sudah berapa kali mengalami pelepasan.
"Yosh, aku lemas.."
"Sebentar sayang, panggil aku Mas.. " Ucapnya dengan suara parau, terlihat wajah tampan itu sudah sangat memerah. Hingga ia mempercepat gerakannya.
Seketika tubuhku bergetar lagi, tetapi kali ini lebih hebat getarannya.
"Maasss!!" teriakku semakin tak karuan.
"Iya sayangku. Terus panggil aku dengan kata itu!" Dia juga semakin tidak karuan.
"Mass! aku sudah tidak kuat menahannya." Hingga akhirnya kurasaksn tubuhku mulai terbang dan lemas.
"Sayang jangan ditahan. Keluarkan!" Kata Yoshi sambil memelukku tetapi pergerakkan dibawah sana semakin kuat dan tak terkontrol, sepertinya ia akan mencapai puncaknya.
"Akhh sayang, I love you," bisik Yoshi dan kurasakan semburan cairan hangat memenuhi area sensitifku.
Aku yang sejak tadi sudah kehilangan tenaga hanya bisa menatap wajahnya. Beberapa kali dia mencium dan menghapus keringat pada wajah dan tubuhku.
"Beristirahatlah sayang, maafkan aku jika terlalu kasar." Bisiknya pada telingaku.
"Mas, aku akan kembali ke kamar Mama ya." Ucapku sambil beranjak dari tempat tidur.
"Sayang, mau kemana? Sudahlah biarkan mama tidur sendiri." Ucapnya sambil menarikku lagi ke tempat tidur.
"Mas, aku tidak enak pada mama. Bukankah kita sudah selesai?"
"Siapa bilang? Aku masih ingin sayang, lihatlah dia mulai mengeras lagi saat mendengarmu memanggilku dengan sebutan mas seperti itu." Yoshi mengarahkan tanganku pada miliknya.
"Astaga Mas, aku sudah sangat lelah. Baby pun juga!" dengusku kesal.
"Baby, maafkan papa ya sayang, Papa pinjam mama dulu ya. Maaf mungkin ini akan mengusik tidurmu sebentar Nak," kata Yoshi sambil menciumi perutku.
Kagiatan pun kembali terulang setelah istirahat selama 30 menit dan terus terulang hingga aku mengancam Yoshi akan mengadukannya pada mama jika dia tetap tidak mau berhenti. Akhirnya setelah itu serigala ini baru membiarkanku untuk tidur dengan tenang.
Halo genk, capek kali aku nulis part ini 🤧🤧🤣maaf ya kira-kira seperti itulah adanya, pokonya bisa ditambahi sendiri kalau kurang. wkwk