My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Yoshi POV - Bersiaplah



Aku tahu keputusan ini akan sangat melukai Ana. Tetapi apa boleh buat, sepertinya takdir sedang berpihak kepadaku. Setelah bertahun-tahun lamanya aku berusaha untuk mengejar Ana, akhirnya atas restu ibunya lagi, kami akan benar-benar bisa bersatu dalam ikatan pernikahan.


Awalnya aku sangat panik ketika mendapati David, asisten pribadiku memberikan informasi tentang keadaan Pramuja.


"Tuan, keadaan Pram sudah membaik dilihat dari laporan kesehatannya beberapa minggu lalu." Ucap David di ruanganku.


"Lalu? Apa tindakan polisi selanjutnya?"tanyaku tak sabar. Ada sedikit rasa takut di hatiku bagaimana jika setelah pulih dari sakitnya Pram akan mengetahui segalanya.


"Kemungkinan Negara akan mengembalikan jabatan Pramuja, mengingat kasus pencemaran nama baik yang kita ajukan beberapa waktu lalu masih juga belum menemukan titik terang." Jawab David, jujur itu membuatku sangat khawatir. Jangan sampai Pram mengetahui segalanya sebelum aku berhasil menikahi Ana.


"Apa yang bisa kita lakukan sekarang?" ucapku mulai frustasi, aku bukan takut gagal dalam misi balas dendamku kepada ayah Ana, melainkan kehilangan Ana adalah ketakutan terbesarku saat ini.


"Saya rasa tidak ada yang bisa kita lakukan lagi Tuan. Negara juga sudah sangat membutuhkan tenaga Pramuja saat ini." Jawab David yang membuatku semakin kacau.


***


Namun, dua minggu setelah itu Ibu Ana mengatakan bahwa Laluna adik Ana tiba-tiba saja jatuh sakit hingga harus di operasi, menurut diagnosis dokter Luna mengalami infeksi usus buntu.


Mendengar berita itu tentu saja aku sebagai calon menantu yang baik segera memberikan bantuan materi secara cuma-cuma tanpa niat buruk ataupun memanfaatkan keadaan mereka.


Dan yang lebih mengejutkan Lagi pada saat bersamaan, Ayah Ana juga kembali mengalami serangan jantung, penyebabnya adalah dia sangat shock melihat anak bungsunya kesakitan dan pingsan.


Bagaikan mendapat angin segar, berita buruk untuk Ana dan keluarganya ini menjadi berita yang sangat menggembirakan untukku. Saat itu juga aku kembali memberikan bantuan untuk Ibu Ana.


Beliau sangat berterima kasih kepadaku untuk semua yang telah kulakukan untuk mereka. Tanpa pikir panjang, wanita itu menulis surat pernyataan untukku agar segera menikahi Ana.


Sungguh aku tak sanggup berkata lagi karena terlalu bahagianya, bagaimana mungkin hal ini terjadi begitu saja bahkan tanpa campur tangan dariku. Ibu Ana dengan mudahnya melakukan hal itu.


"Bu, Ibu tidak perlu melakukan hal itu untuk saya." Uacapku padanya di telepon, tentu saja aku hanya berpura-pura.


"Nak, tidak apa. Ibu tau Nak Yoshi sangat menyayangi Ana, dan lagi usia ibu dan bapak sudah tidak muda lagi, Ibu takut Ana belum menemukan pendamping juga." Katanya dengan penuh keseriusan.


"Apa ini tidak akan menyakiti Ana nantinya Bu? mengingat Ana tidak pernah mau menerima saya selama ini." Ucapku dengan nada memelas. Jujur aku sangat bahagia saat ini.


"Tidak Nak, Ibu yang akan mengatur semuanya. Tenang saja, Nak Yoshi cukup mempersiapkan diri saja. Ibu takut usia Bapak tidak akan lama lagi." Ucapnya, aku tak tahu lagi harus menunjukkan ekspresi kegembiraanku lewat apa.


Yang jelas aku akan segera menemui Ana dan mengatakan padanya tentang hal ini. Hari itu aku mencari-cari dimana keberadaan calon istriku itu. Namun tak juga kutemukan hingga akhirnya David melapor bahwa Ana sudah berpindah station kerja.


Dari laporan David, saat ini Ana berjaga di lantai 11 yang berjarak cukup jauh dari kantorku di lantai satu. Tak masalah aku pun segera pergi ke Restoran Asian Food tempat Ana berada itu.


***


Tiba di tempat, kulihat gadisku itu sedang berjalan mondar-mandir menata meja, dia semakin cantik dengan balutan uniform barunya.


Tetapi, jujur aku tak suka dengan seragam itu, desainnya sangat membentuk lekuk tubuh Ana yang indah. Tapi tak masalah setelah ini aku akan membawanya pulang ke indonesia sebagai istriku jadi dia tak perlu bekerja lagi seperti ini.


Dalam diam aku memperhatikannya, hingga seorang pria bernama Reza itu datang menemuinya.


"Sial, si cacing itu masih saja mengganggu Ana." kataku dalam hati. Sebenarnya aku ingin pergi ke sana dan menghajar si brengsek itu tetapi kuurungkan niatku.


Hingga jam off pun tiba dan Ana keluar dari Restoran itu untuk pulang. Tanpa sepengetahuannya, aku mengikutinya dari belakang. Ternyata Ana tidak pulang ke kabinnya dan malah pergi ke arah Bow.


Kulihat dia merentangkan kedua tangannya dan sangat menikmati hembusan angin yang menerbangkan rambut panjangnya di sana, ingin kumemeluknya dari belakang dan membuat adegan seperti Rose dan Jack di film Titanic.


Sebelum akhirnya Ibu Ana meneleponku dan mengatakan bahwa Luna sudah membaik pasca operasi sementara Ayahnya masih dalam penanganan intensif. Aku bersyukur untuk keadaan Pramuja. Sepertinya Tuhan sedang menghukumnya saat ini.


Aku berjalan ke arah Ana sambil tetap berbicara kepada ibunya, Ana pun menoleh ke arahku, menunjukkan keterkejutannya. Segera kututup telepon dan mendekat kepadanya.


"Hai future wife. Sedang apa di sini? Apa kau Ingin membuat adegan Titanic denganku?" Tanyaku.


Tentu saja dia sangat emosi mengetahui keberadaanku di sana, apa lagi sejak pelajaran berharga yang telah kuberikan padanya malam itu. Aku mengukir indah tanda kepemilikan di punggung Ana yang terbuka, bukan tanpa sebab kulakukan itu agar Ana lebih berhati-hati lagi dalam memilih pakaian.


Meskipun harus kuakui sapuan dan hisapan bibirku di kulit mulusnya itu sangat tidak bisa kulupakan. Untung saja aku tidak khilaf, aku tau diriku mungkin berengsek tetapi aku masih mampu menunggu hingga pernikahan kami tiba. Itu pun dengan izin dari Ana.


Beberapa kali, aku menggodanya dan itu berhasil membuatnya semakin kesal, entah mengapa melihat Ana marah dan menghentak-hentakkan kakinya itu membuatku sangat gemas, hingga terus ingin mengerjainya.


Hal yang sangat kutakutkan hampir saja terjadi saat Ana menemukan dompetku yang terjatuh saat aku menerima telepon tadi.


Di dompet itu terdapat fotoku dan foto Ana pada sekat ketiga, saat kami masih duduk di bangku SMA dulu. Dengan sigap kuraih dompet itu sebelum Ana melihat dengan jelas wajah kami pada foto tersebut.


Greepp ..


"Nooo Ana! Jangan! " kataku dengan ketakutan, dan keringat yang sudah membasahi dahiku.


Ana terlihat bingung dengan aksiku namun tak berlangsung lama dan akhirnya dia pun pergi dari hadapanku meninggalkanku yang masih terdiam untuk mestabilkan detak jantungku.


***


Beberapa hari kemuadian, sebuah notif dari m-banking masuk ke ponselku. Aku terkejut melihat nominal yang telah masuk ke saldoku atas nama Ana tersebut.


Aku tersenyum melihat ini. Ana benar-benar telah melunasi hutangnya karena jabatannya yang telah naik.


"Lihat saja An, kau belum tau saja tentang apa yang sebenarnya terjadi." gumamku dalam hati.


Sesuai dugaanku, akhirnya Ana datang ke ruanganku dan menunjukkan bukti bahwa hutangnya padaku telah lunas.


Aku pun menanggapinya dengan santai tanpa rasa khawatir sedikitpun mengingat aku sudah tidak membutuhkan surat perjanjian yang telah berhasil mengekang Ana selama ini.


Dengan mudahnya kuberikan surat tersebut, dan Ana terlihat sangat bahagia. Berulang kali dia menyatakan agar aku segera menikahi gadis idamanku di masa SMA itu, yang sebenarnya gadis itu adalah dirinya sendiri .


"Kaulah gadis itu An, dan aku akan segera menikahimu." ucapku dalam hati sambil menatap kedua mata cantiknya. Ana pun berlalu dan aku segera kembali ke kamarku mengingat ini sudah pukul 11 malam.


Sampai di kamar VVIP milikku.


"Tuan, apa rencana Tuan selanjutnya?" tanya David.


"Menikahi Ana tentu saja, sebelum si brengsek Pramuja itu sadar dari sakitnya." Ucapku pada David sambil memintannya untuk mempersiapkan segala keperluanku dan Ana pulang ke Indonesia.