
Author POV
Pagi yang cerah setelah pertempuran hebat semalam. Ana mondar-mandir sambil menimang puteri kecilnya. Bayi cantik berusia tiga bulan itu diberi nama Gwen. Sebuah nama khusus dari opa Yoshi.
Kakek yang telah melewati masa koma tahunannya itu, kini telah sehat dan bisa beraktifitas dengan normal, meskipun ia masih menetap di London, tetapi komunikasinya dengan keluarga di tanah air tidak pernah terputus.
Ponsel Ana berdering..
"Ya, halo.. " Sapa Ana.
"Haloo, cucu mantu. Apa kabar? Bagaimana keadaan kalian semua?" tanya opa.
"Ahh opa menelepon," Ana pun mengalihkan panggilan tersebut menjadi panggilan video.
"Haloo Gwen, my little princess. Apa kau nakal? ataukah papamu yang nakal?" ucap kakek itu sambil tersenyum menatap bayi gendut berbibir mungil itu.
Yoshi terbangun mendengar suara yang tak asing. Dan seketika menutupi Shian dengan selimut, sejak dini hari tadi, dua malaikat kecil itu berpindah dari kamar nanny ke kamar orang tuanya. Untung saja, saat permainan pasutri itu baru saja usai.
"Hai Opa tampan. Hey, lihatlah, kenapa kerutanmu semakin menjadi-jadi Opa? apa skincaremu tidak cocok hm?" sapa Yoshi kepada kakek kesayangannya itu.
"Diam kau cucu tengik!"
"Hahaha, katakan tumben sekali opa menelepon? Apa opa sedang berbunga-bunga saat ini? Apa opa telah menemukan seorang gadis yang cocok untuk opa?" Yoshi senang sekali menggoda kakeknya.
"Dasar cucu tidak sopan! Dimana pangeran kecil itu? Aku ingin mengobrol dengannya."
"Oh, Shian masih tidur Opa," ucap Ana.
"Opa, bukankah aku adalah pangeranmu selama ini?" tanya Yoshi ingin menggoda kakeknya lagi.
"Tidak, posisimu telah lengser setelah kehadiran Shian, dialah putra mahkota Luby sekarang! dan Gwen adalah putri kerajaannya," kata opa membalas ucapan Yoshi.
"Ah, Opa.. jangan memanggil putri kami dengan nama itu. Karena namanya adalah Shiana, bukan Gwen, yang benar saja," ucap Yoshi kesal, ia selalu mempermasalahkan nama anak-anaknya.
"Hey, Gweneth itu artinya berkat dan jauh lebih baik dari pada Shiana. Ah, kau ini papa yang tidak kreatif Ricko!!"
Mereka terus saja berargumen, sementara Ana mulai mengantuk. Sejak semalam ia belum tidur sama sekali, karena putra-putrinya itu ingin terus dibacakan dongeng olehnya.
Author POV End
Ana POV
Aku lelah sekali, rasanya ini bukan seperti sedang berlibur melainkan hanya berpindah tempat dalam mengasuh bayi dan melayani suami. Yoshi sangat tidak peka, ia tetap saja tertidur saat aku sedang sibuk mengurus dua bayi gembul ini.
"Momny sayang," Yoshi memelukku dari belakang.
"Apa opa sudah menutup teleponnya?"
"Sudah, ia ingin bertemu dengan anak-anak. Mungkin setelah ini kita bisa terbang ke Londong sayang," ucap Yoshi masih dengan mengeratkan pelukannya pada pinggangku.
"Mas, aku sangat mengantuk. Bisakah kau menjaga anak-anak?"
"Berikan saja dua gendut ini pada para nanny dan kita bisa melanjutkan kegiatan semalam, hm?" Yoshi mulai mengecupi telingaku dengan lembut dan berhasil membuat bulu kudukku meremang menerima rangsangaan.
"Mas, hentikan. Aku sangat lelah. Aku ingin istirahat, bukankah nanti malam adalah Gala Night?"
"Iya sayang, kita akan mengikuti Gala dinner dan menyaksikan show di mainstage. Berdandanlah seanggun mungkin, tetapi jangan terlalu cantik. Atau aku akan mengurungmu di kabin hingga esok pagi."
"An..."
"Sayang.."
Samar-samar terdengar suara Yoshi memanggilku tetapi mataku sudah sangat berat untuk terbuka. Rasa kantuk ini begitu membawaku ke dalam tidur yang nyaman.
Ana POV End
Yoshi POV
Aku pun membawa dua gemas ini ke luar kabin dan menyerahkannya pada nanny, kasihan sekali istriku sejak semalam ia tidak tidur karena ulahku dan anak-anak.
Aku berjalan menuju restoran untuk sarapan. Sebab layanan room service terlalu memakan waktu, sepanjang koridor beberapa kali kru menyapa diriku.
Ternyata mereka masih mengingatku juga, hingga aku pun beretemu dengan sosok-sosok yang tak asing lagi di area elevator.
"Selamat pagi Chief," sapa Evelyn.
"Selamat pagi Chief Yoshi yang tampan." Jenny mengikuti Evelyn.
"Selamat pagi. Kalian sedang in charge dimana?" tanyaku, sambil melirik Jenny. Ah, menjijikan jika mengingatnya menyentuh daguku kemarin.
"Kami sedang break, bolehkah kami bertemu Ana dan dua babies gemas itu Chief?"
"Boleh, tetapi dia sedang istirahat sekarang, mungkin nanti malam saja saat Gala Night."
"Ah, baiklah Chief," kata Evelyn.
"Chief, apa anda membuat Ana kelelahan? Atau Ana sendiri yang membuat dirinya kelelahan?Hihi," bisik banci kaleng ini.
"Kau?!! " Aku semakin terpancing emosi.
"Chief, I love you 3000!" ucap Jenny dari kejauhan. Astaga, banci itu mulai meresahkan. Bukankah Reza yang selama ini menjadi sasarannya.
***
Malam pun tiba.
Aku dan Ana bersiap untuk menghadiri perhelatan malam Gala. Dia membantuku memasangkan dasi. Setelah selesai mengurus bayi-bayi kami.
"Wah suamiku sangat tampan ternyata ya."
Ana meletakkan dagunya pada pundakku dan kini wajah kami sejajar pada cermin. Kupandangi wajah ayu itu. Dia terus saja tersenyum, betapa mendamaikan hatiku.
"Apa kau tidak ingin bersiap?" tanyaku.
"Ah iya Mas, baiklah. "
Ana pergi ke ruang ganti dan kembali dengan gaun hitam selutut dan berlengan rample, warna itu sangat cocok dengan kulit putihnya. Dia berjalan ke arahku dan berputar.
"Mas, lihatlah apa aku cantik?"
"Ya, sangat. Bahkan bintang-bintang saja akan bersembunyi. Jika mereka melihatmu."
"Ayolah jangan menggombaliku Mas, itu basi!" ucap Ana sambil memoles make up pada wajahnya.
"Aku tidak sedang menggombalimu sayang,"
"Tetapi, kata-kata itu adalah gombalan termemuakkan jika kau tau," balas Ana, kini ia memoleskan lipstick merah pada bibir seksinya.
Astaga Yoshi, ada apa denganmu? Istrimu hanya sedang memoleskan lipstik pada bibir sensualnya, tidak seharusnya pikiran liarmu berkelana , ucapku dalam hati saat Ana terlihat seperti sengaja memainkan lipstik itu pada bibirnya
"Hentikan An! kau membuatku tegang!" ucapku.
"Apa Mas? apanya yang menegangkan ha?" Ana bertanya padaku sambil menggigit bibir bawahnya.
"Lihatlah, kau bahkan sengaja melakukannya! jangan menggodaku An. Ini bukan waktu yang tepat!"
"Baiklah, aku akan menggodamu jika saatnya sudah tepat. Haha!" Dia pun berlari menuju pintu keluar.
****
Kami menikmati makan malam bernuansa elegan, di restoran bergaya Italian di lantai empat kapal ini. Ana dengan anggurnya menyantap makan malam itu. Sementara baby Shian dan Shiana bersama para nanny.
"Yoshi sayang, aku akan menunggumu di Bow," bisik Ana pada telingaku.
Astaga, wanita ini benar-benar menggodaku sejak tadi. Baiklah, mari kita membuat adegan Rose And Jack di Bow, Sayang!
Aku pun menyusul istriku itu ke lantai lima kapal ini. Kubuka Shield-door dan benar sosoknya sedang berpegangan pada handrails menatap laut lepas.
Sepertinya ia ingin mengenang masa lalu.
"Ingin membuat adegan Titanic denganku, future wife?" Inilah kata-kata yang terlontar dari mulutku saat itu.
"Kau masih mengingatnya Mas?"
"Tentu saja, ingatanku sangat bagus. Tidak seperti dirimu yang sama sekali tidak mengenali diriku waktu itu."
"Maafkan aku Mas, aku hanya terlalu terbebani oleh rentenir mesum saat itu!" ucapnya tersenyum tipis.
"Kau menyindirku?"
"Tidak, aku tidak menyindirmu tetapi mencintaimu, Mas.."
"Ayoo lakukan!!" ucap Ana.
"Lakukan apa?"
"Adegan itu tentu saja Mas!"
"Rose n Jack? Yang mana? yang di dalam ruang mesin atau yang di Bow?"
"Terserah!"
"Aku tidak yakin An. Ini Area terbuka, CCTV ada dimana-mana," ucapku ragu.
"Mas, cepatlahh! mereka sudah menunggu sejak tadi," Ana menunjuk ke arah balkon di atas Bow.
"Halooo Ana!!"
"Hallooooo Chief!! ayo bergayalah seperti Jack Dawson. Kami akan memfoto kalian!!! seperti Jack n Rose di film titanic," teriak genk rempong Ana itu dari atas sambil melambai-lambaikan tangannya ke arahku.
Astaga.. jebakan Batman apa lagi ini??