
Hari ini kami tiba di mansion. David dan para pelayan menyambut kedatangan kami. Hal pertama yang kuperhatikan adalah taman. Mengapa bunga-bunganya layu dan banyak yang mati.
"Yosh, kenapa bunga-bunganya banyak yang mati?" tanyaku pada Yoshi.
"Hmm karena mereka merasa kehilangan sayang. Satu bulan lebih kau meninggalkan mereka dan juga aku." Ucap Yoshi, dengan wajah memelas.
"Memangnya para pelayan tidak ada yang merawat taman?" tanyaku.
"Ada, tapi lihatlah tetap saja bunga-bunga ini tidak mau hidup jika tidak dirimu yang merawatnya. Sama seperti diriku yang tak bisa bernafas tanpamu." Kata Yoshi, sungguh dia ini masih saja suka berbohong.
"Jangan menggombaliku Yoshi, aku tau siapa dirimu." Jawabku.
"Ampun sayang, aku berkata jujur." Ucapnya sambil membawaku naik ke kamar. Sepanjang menaiki tangga dia terus saja memapahku seakan takut aku akan jatuh.
"Yosh, jangan seperti ini. Aku bukan nenek-nenek yang selalu harus kau tuntun. Ini hanya tangga."Kataku.
"An, bukankah dokter bilang jika kau harus sangat berhati-hati dengan tangga. Aku tak mau anak kita terguncang-guncang." Jawabnya, jujur saja ini sangat berlebihan untukku tetapi sepertinya Yoshi sangat ketakutan sejak mengetahui hasil pemeriksaan kemarin.
***
Di kamar aku sangat terkejut dengan suasana kamar kami. Terakhir kondisinya tidak seperti ini. Ada banyak sekali hiasan dan ornamen-ornamen tentang baby shower. Tak kusangka Yoshi mempersiapkan segalanya dengan sangat lucu.
"Siapa yang menghiasnya?"tanyaku.
"Aku meminta David untuk menyiapkan semua ini. Kau menyukainya?" tanya Yoshi.
"Ya Yosh, ini sangat lucu. Dan David memiliki selera yang bagus." Ucapku sambil melirik ke arah keranjang bayi yang terletak di sudut ruangan.
"An, tentu saja aku yang memilih semua ini, David hanya menjalankan perintahku saja." Ucap Yoshi seakan tidak terima aku memuji David.
"Iya-iya aku menyukai seleramu ini Papa Yoshi." Jawabku sambil tertawa.
"Coba ulangi lagi." Katanya
"Apa?" tanyaku berpura-pura.
"Kau memanggilku dengan sebutan apa tadi?" tanyanya antusias.
"Tidak ada."
"An, bisakah mulai kau memanggilku dengan panggilan yang layak seperti tadi?" tanyanya.
"Memangnya selama ini aku memanggilmu dengan panggilan tidak layak?"jawabku, memangnya apa masalahnya.
"Yash Yosh.. Yash Yosh.. Memangnnya pantas seorang istri memanggil suaminya dengan hanya menyebut nama? Kau ini semakin tidak bisa dibiarkan. Setidaknya kau harus tau usiaku lebih tua darimu, paling tidak panggil aku Mas. Apa susahnya?" Ucap Yoshi, terlihat kesal.
Sejak pertama mengenalnya hingga menikah aku memang tidak pernah mengganti panggilanku untuknya, aku sudah sangat terbiasa dengan hanya memanggil namanya saja. Meskipun sekarang aku tau jika dia adalah Mas Ikau.
"Yosh kenapa kau sangat sensitif, ini hanya masalah kecil." Ucapku.
"An, aku akan benar-benar mengurungmu di kamar ini jika terus saja melawanku."Ucapnya serius.
"Aku tidak mau. Aku bosan, lagipula aku tidak akan kabur lagi." Jawabku.
"Tidak ada jaminan untuk itu. Aku harus lebih ketat lagi terhadapmu sekarang, apa lagi dengan kondisimu saat ini." Jawab Yoshi sambil bersimpuh dan mencium perutku.
"Yosh, kenapa kau memilih warna pink untuk ornamen-ornamen bayi itu, apa menurutmu anak kita perempuan?" tanyaku.
"Tidak tau, tetapi instingku mengatakan jika ini baby girl . " Ucapnya sambil terus saja menciumi perutku.
"Kau terlalu yakin Yoshi." Jawabku.
"Bukankah jika ibu hamil sedang mengandung bayi perempuan maka wajahnya akan berseri? Wajahmu begitu berseri An, sangat cantik." Jawabnya, lagi-lagi dia menggombaliku.
"Itu mitos Yosh, jangan mempercayainya." Jawabku.
"Sungguh sayang. Aku tidak bohong." Lagi-lagi Yoshi menciumi perutku bertubi-tubi.
"Jangan terus menciuminya, dia akan bosan padamu, Papa." Jawabku, aku sengaja ingin mengerjainya.
"Jika baby bosan dengan ciuman papa, apa boleh papa menciumi mamanya saja?" Ucap Yoshi sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.
"Dasar mesum." Ucapku singkat.
"Kau yang memulainya An." Ucapnya sambil menggendongku ke tempat tidur.
****
Yoshi mulai terlihat seperti biasanya, tatapan kelaparan itu mulai menghiasi wajahnya. Aku sangat mengenal ini. Dia mulai diselimuti gairah.
Aku mencoba mendorong tubuhnya tetapi seperti biasa, dia terlalu kuat untukku. Nafasnya mulai memburu dan tangannya mulai bergerilya menelusuri setiap lekuk tubuhku.
Awalnya dia hanya mengecup bibirku, namun lama-lama kecupan itu semakin brutal, menyesap,melumaat bibirku dengan penuh gairah. Sementara tangannya sibuk dengan kedua buah dadaaku yang masih tertutup pakaian.
"Sayang mas Ikaumu ini merindukanmu." Bisiknya pada telingaku. Seketika bulu romaku langsung berdiri mendengar bisikkan itu. Ya ampun, mas ikauku yang selama ini hanya hadir di mimpiku saat ini ia sedang mencuumbuku.
"Yosh, bisakah kita melakukan ini nanti saja?" tanyaku sambil berusaha menepis tangannya yang mulai melepaskan braku. Entah sejak kapan kemejaku terlepas, hingga hanya meninggalkan bra saja,
"Tapi, aku menginginkanmu saat ini juga sayang." Suara Yoshi mulai parau. Pertanda gairahnya mulai membara.
Tepisan tanganku tak mampu menahannya lagi, kini kedua bukit kembar itu telah terekspos di hadapannya. Rangsangan darinya membuatnya mengeras. Dan sepertinya Yoshi menyadari akan hal itu.
"Sayang, kau mulai terangsang.." Ucapnya lirih kemudian kurasakan sapuan hangat mulai menyerang area dadaku itu.
Menyesaapnya dengan lembut membuat beberapa tanda di sana. Aku merasa seperti sedang terbang terbawa suasana, sebelum kemudian kurasakan ada gigitan pada put*ngku.
"Auuw.. Sakit Yoshi!" ucapku, dan dia pun menghentikan aksinya,
"Maaf sayang, aku terlalu terbawa pesona akan sesuatu berwarna pink ini." Ucapnya sambil memaikannya membuatku geli.
"Baby, maafkan papa ya. Papa hanya meminjam milikmu sebentar." Ucapnya. Sungguh aku ingin tertawa mendengarnya.
"Sayang, kenapa tertawa? Apa kau menikmatinya?" tanyanya.
"Yosh, kau bahkan mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milik baby." Kataku sambil menutupi dadaku dengan selimut.
"Karena baby belum lahir biarkan papa menjadi baby dulu. An, kenapa menutupnya?" kata Yoshi sambil menarik selimutku.
"Jangan Yoshi.." Ucapku.
"Kenapa An? Jangan siksa aku lagi." Ucap Yoshi.
"Bukan begitu." Jawabku.
"Mungkin akan sedikit sakit karena memang sudah lama kita tidak melakukannya." Kata Yoshi masih berusaha.
"Bukan begitu Yoshi."
"Lalu? Apa karena kau belum memaafkanku?" tanyanya dengan wajah kecewa.
"Bukan, tetapi bukankah akan menimbulkan guncangan untuk baby?" ucapku, aku memang mengkhawatirkan hal itu sejak tadi.
"Astaga An, kau benar sayang." Ucap Yoshi sambil merangkum wajahnya menunjukkan penyesalan.
"Mungkin kita harus menunggu baby lahir dulu Yosh," kataku asal. Tetapi aku sedang ingin mengerjainya.
"Apa?! itu berarti harus menunggu 7 bulan lagi?" Kata Yoshi kembali frustasi.
"Sabar sayang, aku mencintaimu.. " Ucapku sambil bergelayut manja padanya, entah mengapa melihatnya galau seperti ini sangatlah seru.
"Kau menggodaku An.. " Ucapnya lirih.
"Menggodamu bagaimana sayang?" Ucapku pura-pura tidak tau. Aku masih saja bermanja-manja memeluknya.
"Lihat ini, kau sengaja memanggilku 'sayang' lalu bergelayut manja seperti ini, sedangkan kau tau aku tak bisa berbuat apa-apa pada tubuhmu." Ucapnya kesal.
"Kau salah paham Papa sayang, aku hanya ingin bersamamu saja." Ucapku sambil mencium pipinya. Astaga, kenapa ini sangat seru. Batinku.
"Ana!! Kau ini benar-benar menggodaku atau apa? Berhenti melakukan itu." Kata Yoshi.
"Sejak kapan kau jual mahal padaku Yosh? Aku sedih sekali." Ucapku sambil menciumnya lagi. Dan dia semakin kacau.
"An, hentikan kau telah membuatnya terbangun. Aku tak ingin khilaf dan membahayakan baby." Ucap Yoshi sambil menatapku dengan penuh nafsu. Sementara aku masih ingin terus mengerjainya.
"Sayang aku merindukanmu.." Ucapku sambil tetap memberinya ciuman. Sungguh aku merasa lebih mesum dari pada Yoshi saat ini bahkan sesekali aku menyentuh miliknya yang tegang itu.
"An, kau benar-benar tidak bisa dibiarkan! Jika saja tidak ingat tentang keselamatan baby , saat ini aku sudah menerkammu berkali-kali hingga tak berdaya" ucap Yoshi kesal.
"Aku menginginkanmu sayang." Ucapku lirih, sungguh ini sangat menyenangkan. Rasanya seperti sedang membalas perlakuan Yoshi selama ini.
"Besok kita akan konsultasi dengan dokter. Dan lihat apa jawabannya, jika memang tak ada masalah untuk melakukan itu di saat hamil muda, maka habislah dirimu An, tunggu pembalasanku!" Ucap Yoshi mengancamku.
Astaga mengapa aku tidak berfikir ke arah sana, aku menyesal telah menggoda serigala kelaparan ini.
Dasar Ana mesum. Awas aja besok abis konsul masih berani mesum apa gak ya?🤣🤣
Author agak deman juga sekarang, maaf ya teman-teman mungkin besok tidak Up dulu. Jangan lupa jaga kesehatan kalian 😍🤗
mampir di novelku yang ini juga kalo sempat. 😘😘