
Aku dan mama meninggalkan opa yang sedang terbaring di ICU untuk mengurus pemakaman papa, aku sangat tersiksa dengan keadaan ini, aku bisa menahan dukaku tetapi bagaimana dengan mama, kehilangan suami yang sangat dicintainya adalah bagaikan menahan tamparan yang keras di hatinya.
Ritual pemakaman berjalan dengan lancar dan kami kembali ke apartemen, kami juga sudah mengabari semua sanak keluarga via telepon dan video call. Sebagian dari mereka menyatakan turut berduka citanya melalui virtual karena memang jarak yang memisahkan.
Terlebih lagi sebagian besar saudara dan sanak keluarga kami tinggal di luar negeri karena urusan bisnis untuk itu kami sangat memaklumi ketidakhadiran mereka hari ini.
Mama yang masih berlarut larut dalam kesedihan tidak ingin menemui orang sama sekali, berdiam diri di kamar adalah caranya menenangkan jiwa dan menumpahkan segala air matanya
Sementara aku juga sangat mengkhawatirkan kondisi opa saat ini, setelah memastikan keadaan mama baik-baik saja, aku pun memutuskan untuk kembali ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan opa.
Dalam perjalanan, pikiranku sangat kacau aku masih belum percaya jika papa telah tiada, aku ingin mengetahui bagaimana itu bisa terjadi, bagaimana kronologi dari kejadian sebelum papa mengalami kecelakaan tempo hari.
Aku ingin David menyelidiki semua ini tetapi ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan itu. Sekarang yang terpenting adalah memulihkan keadaan opa dan mama.
***
Sesampainya di Rumah Sakit aku langsung bergegas menuju Ruang ICU, kulihat opa dari balik kaca terbaring di sana, kondisinya masih sama seperti terakhir kali aku meninggalkannya, aku ingin masuk tetapi perawat tidak mengizinkanku.
Lihatlah ini, baru tadi pagi ayahku terbaring di ruangan itu dan sekarang kakekku yang terbaring di sana, di tempat yang sama. Sempat berfikir opa juga akan pergi meninggalkanku tetapi aku berusaha menyangkal semua itu.
Tidak akan kubiarkan opa pergi dariku secepat ini. Aku akan memastikan kesembuhan opa. Berbagai alat bantu terpasang di tubuh opa, persis seperti keadaan papa sebelum meninggal.
Dalam diam aku berdo'a, aku berjanji pada diriku sendiri untuk menggantikan posisi papa dalam menjaga mama dan opa.
Aku akan berjuang, aku akan belajar dengan tekun demi meneruskan bisnis ayahku, tanpa kusadari seorang dokter mendekatiku. Ada perasaan takut di hati, takut akan berita duka yang kudengar tadi pagi terulang kembali.
Dalam sekejap aku melihat ke arah opa, kondisinya masih sama layar monitor masih menampakkan detak jantung opa masih stabil. Ada sedikit rasa tenang di dadaku, ternyata Opa masih hidup.
"Permisi apakah Anda keluarga dari Bapak Darmawan?" tanya dokter paruh baya tersebut.
"Iya Dok, Saya cucunya." Jawabku dengan cepat, agar dokter itu segera memberikan penjelasannya tentang kondisi Opa.
"Apa anda bisa ke ruangan saya sebentar, ada yang ingin saya bicarakan," kata Dokter tersebut yang kubalas dengan anggukan.
Aku mengikutinya sampai ke ruangan dengan papan nama Dr. Philip itu.
"Silahkan duduk," kata dokter itu sambil duduk di kursinya.
"Uya dok, jadi bagaimana keadaan Opa saya? " tanyaku sambil membetulkan tempat dudukku.
"Begini Nak, ada masalah serius akibat benturan keras di kepala kakek anda, ini mengakibatkan beberapa syaraf di otak terganggu dan menyebabkan kinerja otak berkurang drastis," kata Dokter sambil menghela nafas panjang.
Aku masih bingung dengan penjelasan itu.
"Apa maksud dokter? jangan bilang bahwa opa saya tidak akan tertolong." Kataku dengan intonasi tinggi. Aku tau ini tidak benar tetapi aku begitu terbawa suasana
"Bukan begitu, Kakek anda masih bisa diselamatkan, hanya saja.. " kata dokter itu terpotong, ini begitu bertele-tele dan membuatku kesal .
"Hanya saja apa Dok? tolong bicara yang heals. " Kataku mulai emosi.
"Hanya saja membutuhkan proses lama untuk bangun dari koma seperti saat ini, " kata Dokter itu ,aku cukup kaget mendengarnya jadi status kesehatan opa saat ini adalah koma.
Opa memang belum mati tetapi hidupnya seperti ini, diam di tempat tidur hanya mengandalkan selang dan alat alat ini untuk bertahan hidup.
"Jadi Opa saya koma dok? apakah masih mungkin untuk bisa sembuh seperti dulu? " tanyaku berharap dokter akan memberikan jawaban yang melegakan.
"Tentu Nak, kami sebagai tim medis akan berusaha semaksimal mungkin, tetapi semua ini juga kembali kepada diri pasien itu sendiri, jika memang kemauannya untuk tetap hidup masih kuat, maka kesembuhannya pun akan cepat." Kata Dokter itu.
***
Aku kembali ke ICU dan meminta izin kepada perawat untuk masuk.
Awalnya dia tidak mengizinkan tetapi setelah aku meminta izin kepada Dokter Philip, perawat itu pun memperbolehkanku untuk masuk menemui opa, dengan mengenakan pakaian steril dari Rumah Sakit tentunya.
"Opa, bangunlah please, Ricko masih membutuhkan Opa ." Kataku lirih yang tentu saja tidak dijawab oleh Opa
Opa mungkin bisa mendengar perkataanku tetapi dia tak bisa meresponnya, aku terus mengajak opa berbicara meskipun tak ada tanda tanda opa merespon setiap ucapanku.
Aku sadar, mungkin jika mama baik-baik saja saat ini pasti akulah yang sudah tumbang menerima kenyataan ini. Aku kuat karena mamaku sedang lemah saat ini.
Aku juga butuh sandaran, tetapi tidak ada satu pun tempat untukku bersandar. Sambil terus menyemangati opa aku juga terus menyemangati diriku sendiri.
****
Tak terasa hari demi hari kulewati, aku berada di Apartemen hanya bersama mama sekarang. Sementara opa masih tetap dengan status komanya di Rumah Sakit.
Astaga aku baru ingat, bukankah jaket itu sudah dicuci beberapa hari yang lalu. Aku segera memanggil pelayan kami untuk mencarikan jaket itu.
"Bi, di mana jaket denimku yang kau cuci kemarin?" tanyaku kepada salah satu pelayan di apartmen kami.
"Sudah berada di lemari Tuan," jawab pelayanku itu.
Aku segera naik ke lantai atas dan berlari ke kamarku dan mongobrak abrik seluruh isi lemariku itu.
Namun jaket itu tak juga kutemukan,
"Biiii, di mana jaketnya?" aku berteriak sambil tetap mengacak-acak pakaian-pakaianku itu.
"Maaf Tuan, maksud saya jaket tuan ada di lemari di kamar Nyonya," kata pelayanku. Itu sungguh membuatku kesal, bagaimana bisa dia meletakkan pakaianku di kamar mama.
"Ambilkan. Cepat!! " kataku kasar menahan emosiku .
"Baik Tuan, " jawab pelayanku dengan ketakutan.
***
Selang beberapa menit kemudian dia pun kembali dengan membawa jaketku.
"Ini Tuan" katanya sambil menyerahkan jaket itu . Segera kuraih barang yang paling kucari itu dari tangannya.
"Kau boleh pergi," kataku menyuruhnya untuk keluar kamar.
Secepat kilat aku merogoh setiap saku dari jaket itu.
"Duh di mana sih kertas itu, jangan-jangan sudah hancur karena tercuci," kataku sambil tetap memeriksa setiap saku yang ada.
Aku tetap memeriksa saku-saku itu sambil sesekali aku mengibas-ngibaskan jaket itu agar semua isi dari saku bisa jatuh keluar.
Tiba-tiba selembar kertas dengan kondisi koyak dan agak hancur terjatuh ke lantai.
Segera kupungut kertas itu, aku bersorak gembira kertas itu berhasil kutemukan
Kubuka perlahan setiap lipatannya, aku sangat takut membuatnya semakin hancur.
Samar-samar masih bisa kulihat deretan angka tulisan tangan Devi saat itu, meskipun sudah sangat sulit untuk dibaca tetapi mataku tetap dapat melihatnya.
081347661xxx. ( Ana )
Setalah berhasil mengeja nomor itu, segera kuraih ponselku lalu ku dial nomor tersebut.
.......
.......
Tersambung tetapi tidak diangkat, "Ayo Ana, please angkat telepon dariku." Kataku sambil tetap menunggu.
.......
.......
Akhirnya seseorang mengangkat teleponku, aku sangat bahagia sekaligus gugup, ini akan menjadi kali pertama aku berbicara dengan Ana via telepon
"Ya, halo selamat siang dengan Laundry Jandi ada yang bisa dibantu?" kata seorang wanita di seberang sana.
Aku sangat kaget, mengapa yang tersambung adalah sebuah Laundry bukan Ana. Apakah mungkin Ana membuka usaha Laundry sekarang.
"Maaf apa saya bisa bicara dengan Ana?" kataku menanyakan mungkin saja ini memang nomor Ana yang juga terdaftar sebagai nomor usaha Laundry miliknya.
"Tapi gak ada yang namanya Ana di sini Mas, adanya Sinta dan Yeni, sepertinya anda salah sambung," kata wanita itu sebelum menutup teleponnya.
Apa? tidak ada yang bernama Ana di sana, ternyata benar ini salah sambung.
Ya ampun pantas saja waktu itu aku ragu ketika melihat Devi saat sedang menulis nomor ini.
Sesuai dugaanku Devi salah menulis nomor Ana saat itu, terlihat dari ekspresi wajahnya yang ragu, Ah aku sangat kesal, ingin memarahinya tetapi tentu saja tidak bisa, aku bingung apa yang harus kulakukan sekarang
"An, kenapa waktu tak pernah berpihak kepada kita? " kataku sambil menatap selembar foto kami berdua yang kusimpan di dompetku.