My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Kaulah Segalanya



Yoshi POV


Flashback


Aku terduduk di ruang kerjaku, memandangi foto papa. Ingatan tentang masa lalu yang begitu ingin kulupakan, kini telah muncul kembali. Awalnya aku bisa mengatasinya namun saat kemarin melihat keadaan Ana yang begitu terancam membuat pertahananku goyah.


Anehnya dia terlihat sangat biasa saja saat Albert mengancamnya. Istriku itu dengan mudah melawan Albert dan berhasil membawa aset perusahaanku kembali.


Kekhawatiran dan kemarahan bergemuruh di dalam dadaku. Jika saja hari ini Ana tidak selamat, apa yang bisa kulakukan dan bagaimana dengan Shian.


Sungguh, Ana sangat egois. Dia pikir apa aku sebodoh itu. Seorang pengusaha tidak akan sembarangan dalam menyimpan aset berharganya. Lagipula apa yang Ana bawa itu hanyalah sebagian kecil milik perusahaan Luby


Ini sangatlah konyol, istriku mencuri hartaku, sedangkan dia sendiri tak tau apa hartaku yang sesungguhnya. Baik itu harta yang kasat mata maupun tak kasat mata.


Ana, Kau adalah pencuri terlucu yang pernah kutemui, hanya ada satu hal yang berhasil kau rampas dari diriku. Bukan hati, bukan perasaanku, melainkan udara di sekitarku.


Sebab sejak pertama kali mata ini melihatmu. Aku tau ada yang tak beres pada paru-paruku. Merasa sesak jika tidak melihatmu, dan seketika bernafas tersengal-sengal ketika bertemu denganmu.


Hingga untuk menyatakan rasaku padamu saja aku tak mampu, awalnya aku takut mungkinkah ini penyakit astma? Sempat berfikir aku sedang jatuh cinta padamu. Tetapi bukankah cinta menyerang ritme jantung?


Lalu mengapa kau malah menyerang pernafasanku? Kau curang An, tetapi terimakasih kau telah memberiku kehidupan baru. Terima kasih telah membawa separuh nafasku bersamamu hingga aku harus berpura-pura menjadi rentenir bertopeng dendam hanya untuk mengikuti kemana oksigenku berlari dariku.


Jaga dirimu cinta pertamaku. Jaga dirimu kesayangan Mas Ikau karena aku tak akan mampu jika harus hidup dan bernafas tanpamu karena kaulah nafasku.


Yoshi Aricko Luby



(Gombal banget kamu Mas ikau!!)


Hingga pagi ini pun aku masih belum kembali ke kamar kami. Rasanya aku masih malas bertemu dengan Ana, entah bagaimana lagi harus menjelaskan padanya arti dirinya di hidupku.


Tetapi, jujur saja aku sangat merindukannya, terutama saat kemarin ia berpura-pura menjadi penggodaku. Ah, aku harus menuntutnya untuk itu. Tetapi, biarkan saja dia merenungi kesalahannya dulu.


Aku pun memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor dan memantau keadaan via online. Ana memasukki ruanganku dengan membawa sarapan. Aku masih berpura-pura tidak menggubrisnya padahal dress pendek selutut yang ia kenakan itu cukup membuat mataku yang tadinya mengantuk menjadi terbuka lebar.


Walaupun aku tidak sedang memarahinya tetapi dengan sendirinya ia merasa canggung saat aku menanyakan baby, saat itu juga Ana langsung berinisiatif untuk pergi dari sini.


Aku pun meraih pengelangan tangannya dan menariknya hingga ia benar-benar terjatuh di pelukanku. Aroma lembut bercampur manis itu lagi-lagi berhasil menaikkan keinginanku yang tertunda kemarin.


Ana terdiam dan matanya berkaca saat aku mengatakan bahwa dirinya sangat berharga di hidupku. Aku sangat tertekan mengingat sebilah pisau yang hampir saja memutus urat nadi di lehernya kemarin.


Ana memelukku dan meletakkan kepalaku di dadanya, terasa air mata jatuh membasahi kulitku. Mungkin ini adegan mengharukan tetapi entah mengapa aku malah bergair*h.


"Mas, aku minta maaf ya. Sebenarnya aku sangat takut saat kau berbohong padaku tentang Sarah waktu itu," ucapnya.


"Sayang, bukannya aku ingin membohongimu, aku hanya menunda untuk mengatakannya saja,"


"Tetapi kenapa kau tidak jujur saja Mas? Apa aku tidak berhak tau?" tanya Ana.


"Bukan begitu sayang, aku khawatir kau akan mengatakannya pada bapak. Kau ingat waktu terakhir kali BIN ingin menangkap Nathan? Bukankah mereka menggunakan kita sebagai umpan?"


"Aku tak ingin hal itu terjadi lagi An, untuk itu aku berusaha untuk menjebak Albert dengan caraku," ucapkan dan Ana mulai bisa menerima.


"Mas, apa kau menyukai Sarah?"


"Sshh... Sayang, itu hanya acting saja. Lagi pula kau lebih indah darinya," ucapku sambil mencium pipinya.


"Kapan kau akan mengulangi peranmu yang kemarin, hem?" tanyaku, menggodanya.


"Mas, itu ulah Mama," ucapnya tersipu malu.


"Iya sayang, tapi aku menyukainya," bisikku pada telinganya.


Ana seperti sedang menghindar dariku dan melepaskan diri dari cengkramanku dengan alasan ia mendengar tangisan baby. Aku pun melepaskannya.


Beberapa menit kemudian Ana kembali sambil membawa baby di gendongannya.


"Shian, lihat papamu sudah tidak marah lagi pada mama," ucap Ana sambil membawa si gendut yang usianya sudah enam bulan saat ini.


"Baby sayang, ikut papa yuk," ucapku sambil meraih bayi tampan itu.


"Tidak sayang, hari ini family quality time," ucapku tersenyum.


"Apa kita akan jalan-jalan hari ini?" tanya Ana.


"Emm boleh jika kau mau."


"Baiklah aku akan bersiap dulu ya Mas," Ana pun berlalu sementara aku dan baby menunggu.


Yoshi POV End


***


Ana POV


Aku bahagia, akhirnya Yoshiku sudah kembali seperti semula, demi apapun aku tak ingin kehilangan dirinya. Bagiku dia telah menjadi bagian dari tubuhku yang akan membuatku kehilangan keseimbangan jika terpisah dari organ tersebut.


Mas, tahukah kau. Dirimu bagaikan sebuah virus yang awalnya sangat menyakitiku tetapi seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa dan bahkan menjadi candu untuk selalu berdekatan denganmu hingga kini virus itu telah menjadi sebuah vaksin yang akan menguatkan jiwa dan ragaku.


Kau datang sebagai pengusik hidupku. Tetapi entah bagaimana aku menganggapnya dengan mengusikku adalah caramu mencintaiku.


Sejak pertama kali mata ini melihatmu, aku telah memutuskan untuk menulis namamu di hatiku. Lalu mengaitkannya pada seutas benang yang tersambung di hatimu.


Tetapi karena suatu kesalahan sepertinya aku salah mengaitkan benang tersebut. Hingga membuatnya tersangkut di saluran pernafasanmu.


Oh Mas, maafkan aku jika terkadang benang itu membuatmu sesak nafas. Ikutilah aku kemanapun kakiku melangkah jika kau tak ingin kehilangan oksigenmu untuk bertahan hidup.


Kaulah bagian dari hidupku Mas Ikau. Kau juga bagian dari jiwa dan ragaku. Terimakasih telah menjaga hidupku demi hidup kita bersama.


Lanthana Aditama


"Mas, dimana baby?" tanyaku sambil melihat ke sekeliling.


"Sayang, baby ikut omanya. Aku sudah menahannya tetapi sepertinya ia sudah terlalu dekat dengan omanya," ucap Yoshi.


"Benarkah mas? Lalu kita tidak jadi jalan-jalan?" tanyaku pada suamiku yang malah berbaring di tempat tidur.


"Ya, mama bilang dia akan pergi arisan sayang. Mungkin satu jam lagi baru pulang. Apa mau ditinggal saja?" tawar Yoshi, aku pun memeriksa ke luar dan ternyata bebar, mama membawa baby pergi.


"Ya sudahlah Mas, kita tunggu mereka kembali saja," ucapku. Namun, dengan tiba-tiba Yoshi membawaku ke ruang ganti.


Perasaanku mulai tidak enak, aku tau kemana arah otaknya berfikir.


"Mas, mau apa?" tanyaku.


"Bukankah sangat sayang jika kita menunggu tanpa melakukan apapun?" tanyanya tersenyum jahil. Yoshi benar-benar sudah kembali menjadi dirinya sepenuhnya.


"Haruskah aku berganti kostum seperti kemarin ?"


"Terserah, tetapi aku hanya ingin kau menyelesaikan apa yang kau mulai kemarin," kata Yoshi.


"Baiklah, apa yang kau inginkan? Sekretaris candu? Godaan umbrella girl? Atau Pesona janda muda?" tanyaku menggodanya.


"Hahaha. Sejak kapan kau mengetahui hal-hal seperti itu sayang?" tanuanya tertawa terbahak.


"Sejak aku mencintaimu, CEO mesuumku," jawabku lirih. Yoshi semakin tertawa terbahak-bahak.


Apa kau tau Mas, tawamu itu membuat bintang-bintang kehilangan cahayanya.


(Gombal banget kamu An!. Bintang saja bersinar karena cahaya matahari. )


Berisik banget kamu Thor! Yoshi adalah matahariku! tau!!


(iya deh iya.. 🤧🤧🤧*)



Caveek kali aku nulis gombal-gombalan hari ini. Makasih ya yang sudah support Yoshana sampai episode ke 147. I love you to the moon and back. 😘


Silent reader boleh meningglkan jejak ya kalau berkenan. Hihi.😘