My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Aku belum siap



"Selamat siang Tuan dan Nyonya." Ucap seorang pelayan yang sedari tadi mengikuti kami langkah dari belakang.


"Pagi, cepat bukakan pintunya!" Perintah Yoshi pada pelayan perempuan yang kira-kira usianya lebih muda dariku itu.


"Baik Tuan," jawab gadis itu sambil tersenyum ke arahku juga sebelum Yoshi membawaku memasuki kamar kami.


Sekilas kulihat kamar ini hampir sama seperti kamar VVIP milik Yoshi di kapal, bedanya ruangan ini lebih luas, ornamen-ornamen bergaya shabby tertata rapi di sini meskipun cat dasarnya bukan berwarna pink melainkan tosca muda.


Yoshi merebahkan tubuhku pada kasurnya yang berukuran king size. dilengkapi dengan tirai fancy di sekelilingnya.


"Bagaimana? apa kau suka kamar ini?" Tanyanya sambil mendekatkan wajahnya pada wajahku. Aku merasa hal yang tertunda kemarin akan terjadi sekarang.


"Ya, ini sangat nyaman. Tak kusangka kau bisa mendesainnya seindah ini." Ucapku dengan jujur sambil menepis belaian tangannya.


"Tentu saja itu sangat mudah bagiku sayang, tak semudah mendapatkanmu." Ucapnya, lagi-lagi dia mengatakan hal yang menjurus pada kegiatan itu.


"Yosh, bolehkah aku mandi sekarang?" tanyaku, astaga aku sangat gugup. Aku tak tau caranya menghentikan kegugupan ini. Tak ada jawaban darinya. Dia terlihat seperti orang yang sedang mabuk, menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku merasa seperti sedang ditelanjangi oleh tatapan itu padahal jelas-jelas aku masih mengenakan pakaian lengkap.


Beberapa menit berlalu Yoshi sudah tidak terlihat seperti Yoshi yang kukenal, dia lebih seperti seekor serigala yang sedang kelaparan dan ingin untuk segera memangsaku.


"Apa kita akan melakukannya di kamar mandi?" tanyanya masih dengan posisi yang tidak berubah bahkan wajah itu kian mendekat dan bibir merah itu semakin bersiap untuk menyentuh bibirku.


"Apa maksudmu, yang benar saja ini masih terlalu siang untuk melakukan itu bukan?" kataku sambil mencoba untuk bangkit dari pembaringan. Akankah hal itu benar-benar terjadi sekarang. Jujur saja aku masih belum siap.


"Kalau begitu kita bisa memulainya dari sekarang sambil menunggu malam tiba." Ucapnya dengan suara yang mulai parau. Aku bisa merasakan Yoshi sudah mulai tidak dapat menahan terjangan birahi itu.


"Yosh, tunggu... " Ucapku tak kalah parau karena debaran kuat di jantungku.


"Tunggu apa lagi sayang hemm? " Jawab Yoshi dengan bibir yang mulai mengecupi pipiku, keningku bahkan seluruh wajahku tak satupun yang luput dari sapuan bibirnya.


Awalnya itu hanyalah sapuan dan kecupan kecil hingga aku mulai merasa bukan lagi kecupan yang ia lakukan melainkan sebuah hisapan.


Sensasi geli mulai menjalar ke seluruh tubuhku, bahkan aku merasa dua gundukan kembarku itu mulai mengeras. Aku sungguh tak dapat mengontrol ini.


Sesekali Yoshi menghentikan aksinya dan melihat bagaimana ekspresiku, dan itu sangat membuatku malu. Bagaimana pun aku tidak melakukan penolakan apapun untuk ulahnya, aku mulai terbuai dengan semua ini.


Kemudian bibir hangat itu mulai menyentuh bibirku. Ini pertama kalinya aku mengalami ini. Sementara kulihat rona wajah Yoshi semakin memerah seperti seseorang yang sedang mabuk kepayang.


"Yosh, aku ingin.. " Kataku menggantung.


"Diamlah Ana, jangan menggangguku, biarkan aku menikmati semua ini. Aku berhak atas dirimu sekarang. " Ucapnya masih dengan suara parau.


Aku pun terdiam dan hanya mengikutinya saja. Dia benar, dia adalah pemilikku sekarang, bahkan diriku sendiripun sudah tidak berhak atas tubuhku. Yoshi telah mengambil alih semuanya saat mengucapkan jab kabul kemarin.


Dia mulai mengecup bibir tipisku secara bergantian, kecupan-kecupan kecil itu kini berubah menjadi lebih liar. Dia menghis*pnya lebih dalam dan tidak memberiku celah untuk melawan.


Bahkan lidahnya mulai masuk ke dalam rongga mulutku. Menuntut lidahku untuk membalasnya. Aku masih bingung dengan semua ini. Akhirnya aku hanya bisa diam saja dan menjadi pemain pasif.


Sejenak Yoshi menghentikan aksinya. Dan berbisik sambil menatapku dalam-dalam.


"Yosh, aku......" kataku masih menggantung karena Yoshi kembali melanjutkan aksinya yaitu bermain-main dengan bibirku. Dia sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk melawan.


Hingga tangan itu mulai turun menyusuri leherku lalu bermuara di dadaku. Aku tak dapat lagi mengontrol diri, aku masih terlarut dalam kegiatan ini, hingga dia merem*s kedua bukitku itu dengan lembut, sesekali memelintir pucuk bukit itu meskipun masih tertutup dengan dress berkancing.


Merasa kain itu sangat menghalanginya akhirnya dia pun melepskan kancing pada dress ku. Satu-persatu kancing mulai terlepaskan hingga aku mulai merasa jari-jemari Yoshi mulai menelusup ke dalam bajuku dan mengelus kedua bukit itu.


Beberapa kali dia mencoba menerobos masuk ke dalam bra yang kukenakan, hingga akhirnya dia membangunkan tubuhku dan kembali melum*at bibirku yang sejak tadi mulai membengkak.


"An, aku sudah tidak mampu menahannya." Ucapnya lirih sambil melepaskan dress yang sejak tadi sudah terbuka bagian depannya hingga menampakkan bagian depanku dengan sangat jelas.


"Yosh, aku malu. Aku belum siap untuk ini." Ucapku lirih. Namun bagaikan kesia-siaan, Yoshi tetap saja tidak mendengarkan ucapanku. Sementara rona di wajahnya semakin bersemu merah. Aku bisa mendengar hembusan nafasnya yang mulai tidak beraturan.


Dengan cekatan tangan itu meraih pengait braku lalu melepasnya dan membuang pembukus itu ke sembarang arah. Sebelum akhirnya dia kembali merebahkan tubuhku ke pembaringan lagi.


Aku yang sangat malu dengan tatapan matanya mencoba mnutupi dadaku dengan kedua tanganku.


"Jangan menutupinya sayang. Yang akan terjadi biarkan terjadi." Ucapnya lirih sambil menepis kedua tanganku. Aku mencoba mempertahankan posisiku tetapi tenaga Yoshi cukup kuat, hingga dia mampu melihat tubuhku yang terpampang jelas saat ini.


Tanpa aba-aba dia pun segera mengarahkan wajahnya di antara kedua belahan buah itu, hingga membuatku merasa sangat kegelian. Tangannya sibuk bermain-main, sesekali meremasnya. Dan itu membuatku memekik menahan rasa geli.


"Yosh, aku belum siap untuk ini. Kumohon berikan aku waktu." Kataku penuh penekanan.


Jujur aku sangat takut saat ini, aku tahu ini adalah kewajibanku sebagai istri Yoshi tetapi bagaimana dengan perasaan di antara kami. Aku sangat mengkhawatirkan hubungan ini.


Aku perlu waktu, mudah saja memberikan kesucianku padanya mengingat dia adalah suamiku tetapi yang menjadi permasalahannya adalah aku belum yakin dengan perasaannya saat ini.


Aku masih teringat tentang gadis itu, gadis yang pernah diceritakan oleh Yoshi. Dia bilang dia sangat mencintainya, bahkan akan menikahinya juga.


Lalu bagaimana denganku, bagaimana jika dari hubungan ini akan tumbuh benihnya di rahimku. Dan jika itu terjadi lalu tiba-tiba saja Yoshi menghilang dan meninggalkanku untuk cinta pertamanya.


Bagaimana dengan nasibku dan anaknya kelak. Sungguh dia sangat misterius. Sampai saat ini pun aku belum bertemu dengan keluarganya. Dia juga tak ingin mengenalkanku dengan Ayah ibunya.


Pantaskah aku tidak curiga dengan semua ini, lalu bagaimana jika benar Yoshi sudah menikah, berbagai spekulasi itu lagi-lagi sangat menggangguku dan membuatku meneteskan air mata.


"Sayang, kenapa menangis?" tanya Yoshi dan menghentikan aksinya. Padahal saat itu bibirnya sudah mulai menempel pada ujung buah ranumku.


"Maafkan aku Yosh, mungkin ini tidak adil untukmu. Tetapi aku benar-benar belum siap." Ucapku lirih dan kembali menutup tubuhku yang sejak tadi dieksplorasi olehnya.


"Jangan menagis An, kau benar-benar merusak adegan romantis kita jika kau tau." Kata Yoshi sambil tersenyum. Aku pun semakin menangis karena pikiran-pikiranku sendiri.


"Aku merasa takut Yosh." Jawabku sambil terisak.


"Jangan takut An, tidak akan sesakit itu. Aku akan pelan." Katanya dengan serius. Aku tau mata itu mulai merasa iba terhadapku.


"Bu-bukan itu yang aku takutkan," kataku sambil beranjak duduk dan melepaskan diri dari kungkungannya.