
Aku terus saja mencari dimana keberadaan Ana. Bahkan seluruh ruangan dan taman sudah berhasil kuperiksa, namun istriku itu benar-benar tidak ada.
Sementara Niluh mengikuti dari belakang dan berkata.
"Tuan, saya khawatir terjadi sesuatu pada Nyonya." Kata Niluh.
"Kau ini, mengapa tidak meneleponku saat melihat Nyonya pergi. Katakan bagaimana awalnya?" Kataku sambil tetap berjalan hingga ke taman tempat kesukaan Ana menghabiskan waktu senggangnya selama ini.
"Saat itu Nyonya sedang berada di ruang kerja tuan. Lalu saya menghampirinya, nyonya terlihat seperti sangat terkejut saat membaca beberapa lembar arsip dari dalam laci meja kerja tuan." Ungkap Niluh.
"Arsip? Meja kerja? Astaga.. " kataku, aku pun berlari menuju ruang kerjaku.
Aku melihat beberapa kertas berserarakan di lantai. Ya, ini adalah laporan dari David tentang apa pun kegiatan kami dan apapun yang sudah kulakukan pada keluarga Ana sejak beberapa tahun terakhir ini.
Aku meremas kasar kertas-kertas itu.
"Bodoh Yoshi! Bodohnya kau Yosh!!" Kataku pada diriku sendiri.
Ana telah mengetahui semuanya sekarang. Aku pun terperosot ke lantai, kakiku sudah tak kuat menopang tubuhku lagi. Pikiranku sangat kacau. Kali ini aku terlambat.
Jika saja aku lebih cepat mengatakannya pada Ana mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Aku bisa membayangkan bagaimana perasaannya saat melihat semua bukti ini. Aku jahat. Aku sangat jahat padanya.
Selama ini yang Ana tau hanyalah, aku hanya seorang rentenir yang terus memerasnya dan mengejarnya. Dia tak pernah tau bahwa aku juga yang melaporkan Ayahnya, bahwa aku juga yang membakar tokonya, aku telah menyusun berbagai cara untuk menjeratnya.
Kini semua sudah diketahui olehnya. Aku bisa membayangkan betapa sakit hatinya saat mengetahui semua ini dengan mata kepalanya sendiri. Aku pun baru ingat saat terakhir kali bersama dengannya kemarin, Ana sedang tidak sehat.
Ana sedang sakit dan saat ini dia menghilang entah dengan raga yang masih sakit atau tidak. Argghh.. Aku frustrasi memikirkannya.
"Niluh, apa kau tau Nyonya pergi kemana?" tanyaku pada pelayan kepercayaanku itu.
"Tidak tau tuan, tetapi nyonya membawa kopernya." Kata Niluh dengan gugup.
"Bagaimana itu bisa terjadi ha? Bukankah aku memerintahkan dirimu untuk mengawasinya setiap saat, mengapa kau membiarkan istriku pergi begitu saja?" tanyaku. Sungguh aku mulai diselimuti ketakutan saat ini.
"Ma-maaf tuan, saya sudah berusaha menahan Nyonya bahkan semua pelayan di sini pun juga melakukan hal yang sama tetapi Nyonya terlihat begitu marah sehingga kami tak mampu untuk menahannya." Kata Niluh, begitu marahkah Ana saat itu hingga dia bisa melawan para pelayan di sini, aku bisa membayangkannya.
"Apa nyonya masih terlihat sakit saat meninggalkan mansion?" Tanyaku lagi. Kuharap Niluh benar-benar berkata jujur kepadaku.
"Saya rasa demikian tuan. Saat saya menyentuh tangan nyonya, masih terasa hangat. Sepertinya demamnya belum turun." Kata Niluh. Sungguh pernyataan itu membuat semakin kacau.
"Astaga Niluh.. Kau benar-benar tidak bisa diandalkan !" Kataku sambil berlari menuju kamar.
Kulihat kamar kami, mulai dari lemari. Ternyata benar Ana membawa beberapa pakaiannya, lalu kuperiksa meja. Di sana terlihat ada sebuah kotak merah, dan dua kartu kredit gold. Astaga Ana meninggalkan semua pemberianku di sini.
Kotak merah berisi kalung dan kartu gold yang dulu sengaja kuberikan padanya untuk memenuhi kebutuhannya saat aku tak berada di sampingnya itu sekarang kembali ke tanganku.
Astaga, lagi-lagi aku mengacak rambutku dengan kasar, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya, bagaimana jika dia masih dalam keadaan sakit saat ini. Sementara dia tidak membawa kartu ATM dariku sama sekali.
Aku pun mencoba menghubungi ponselnya dan tersambung tapi sialnya Ana tidak membawa ponsel itu. Astaga, ponselnya juga tergeletak di atas meja bersama barang-barang dariku lainnya.
"An, dimana dirimu sekarang sayang?" kataku sambil memegang ponsel itu. Sejak menyadari ketidakberadaannya di rumah ini. Aku sudah menugaskan beberapa bodyguard untuk mencari Ana, berharap robot-robot itu bisa menemukannya.
Kubuka ponsel itu dan berharap bisa menemukan sesuatu, namun tak ada yang bisa kutemukan. Ada satu yang menarik mataku, yaitu Ana sudah mengganti nama kontakku yang tadinya 'penagih hutang' dan sekarang menjadi 'suamiku sayang'. Aku tersenyum melihat ini. Ternyata Ana benar-benar sudah memiliki rasa padaku.
Sungguh bagaikan mendapat tamparan yang cukup keras, mengapa aku harus menghancurkan perasaannya saat dia mulai menyayangiku.
"Kau bodoh Yoshi! Bodoh! Bodoh! " Kataku, aku terus saja mengumpat diriku sendiri.
Aku mulai berfikir jernih, mungkinkah Ana pulang ke rumah orang tuanya. Ya, dia pasti pulang ke Surabaya, kemana lagi memangnya. Dia tidak punya keluarga lain selain Ayah ibunya di kota itu.
Aku pun bergegas ke bandara dan memesan penerbangan ke Surabaya saat itu juga. Dalam beberapa jam kemudian aku pun sampai di kota itu. Yaitu kota yang mempertemukanku dengannya dulu saat kami masih duduk di bangku SMA.
"An, akan kukatakan padamu yang sebenarnya. Setelah ini kau akan tau jika aku adalah Mas Ikaumu dulu." Gumamku sambil berjalan ke luar bandara untuk mencari taksi.
Aku yakin Ana akan memaafkanku jika tau siapa diriku yang sebenarnya. Dia telah mengembalikan barang-barang dariku tetapi dia masih membawa gelang Bali itu bersamanya. Tentu saja karena dia belum jika akulah yang telah memberikannya dulu.
Tok
Tok
Tok
Seseorang membuka pintu dan terlihat kaget saat melihatku.
"Lhoh Nak Yoshi datang? mengapa tidak mengabari dulu? Lalu dimana Ana? Apa tidak ikut?" tanya Larissa, ibu mertuaku sambil melihat ke sekelilingku mencari putrinya.
Deg.....
Bahkan Ana tidak ada di sini. Sungguh pergi kemana istriku itu sebenarnya.
Aku pun masuk ke dalam rumah dan aku mulai bingung harus mulai menceritakan semuanya dari mana dulu.
"Nak, ada masalah apa sebenarnya? Kenapa terlihat kalut seperti itu?" tanya ibu mertuaku.
Aku pun menceritakan semuanya pada Larissa, tentang bagaimana awalnya sebelum Ana menghilang, tentang opa yang tersadar dari koma dan telah menceritakan semuanya padanya.
Tentang apa pun yang sudah kulakukan pada Pramuja, suaminya. Dan tentang semua rencana-rencana yang telah kususun untuk menjerat Ana dulu.
Sungguh tak dapat kupercaya, ibu mertuaku ini tidak terlihat marah sama sekali. Seperti sudah mengetahui segalanya. Ya ampun kukira beliau akan menamparku atau bahkan memukul diriku setelah mengetahui semuanya.
"Nak Yoshi, ibu memaafkanmu. Tetapi ibu mohon tolong cari Ana, ibu sangat mengkhawatirkannya. Sampai detik ini pun Ana belum mengetahui jika Ayahnya adalah seorang BIN." Kata ibu mertua dan aku bisa melihat air mata mulai membasahi pipinya.
"Pasti Bu, Yoshi pasti akan menemukan Ana." Kataku mencoba meyakinkannya.
"Bu, saya ingin bertemu dengan Bapak. Bolehkan saya mengunjunginya di rumah sakit?" tanyaku. Namun belum sempat Ibu mertua menjawab, Luna datang menghampiri kami.
"Kak Yoshi, kapan datang? Dimana Mbak Ana?" tanya gadis remaja itu padaku.
Aku pun menceritakan semuanya padanya, Luna terlihat sangat terkejut namun Larissa seakan memberikannya kode untuk tetap tenang. Astaga, aku merasa mereka berdua ini sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kak, jadi Mbak Ana belum tau kalo Kak Yoshi itu adalah kakak kelasnya di masa SMA dulu?" tanya Ana dan aku pun menjawabnya hanya dengan anggukan.
"Kak, sebenarnya ada satu paket untuk Mbak Ana yang terbawa Luna sejak beberapa tahun yang lalu. Kakak mau coba lihat paket itu gak?" tanya Luna padaku.
"Paket apa Luna? Bisa kakak coba lihat?" tanyaku. Aku penasaran, sebuah paket untuk Ana dan bertahun-tahun belum diterimanya.
"Ini kak, coba kakak buka aja. Luna belum sempat ngasih ini ke Mbak Ana." Kata Luna sambil memberikan sebuah amplop coklat kepadaku.
Aku pun membukanya perlahan. Kuraih selembar foto di dalam amplop itu.
Degg....
Ini fotoku dan Ana saat SMA, aku ingat foto ini diambil saat acara pensi di sekolah. Aku ingat aku mencetak foto ini menjadi dua, satu untukku dan satu untuk Ana.
Namun saat aku ingin memberikannya padanya Ana tak datang menemuiku. Lalu aku menitipkannya pada Devi teman Ana saat kami bertemu di bandara.
Astaga, ternyata Ana benar-benar belum menerima paket yang telah dikiramkan Devi atas perintahku saat itu. Aku tertunduk lesu, lagi-lagi Ana tidak mengetahui jika aku sudah menyukainya sejak lama.
Anggap aja begini fotonya ya wkwk
Cute Ana 😍😍
Yoshi unch.. 😍😍