
Ana POV
Sebenarnya aku juga sangat merindukan bisa bercengkrama dengan suamiku seperti ini, merawatnya, mengurusnya dan memanjakannya dengan sepenuh hati, merasakan sentuhan dan belaian lembutnya yang terasa sangat mendebarkan di dada.
(tumben jujur An?🙄)
Tetapi, aku juga sadar sekarang kami bukan hanya berdua tetapi bertiga. Ada baby yang telah hadir di tengah-tengah kehidupan kami. Jadi, waktu untuk saling melepas keinginan masing-masing pun akan berkurang juga. Terlebih karena diriku yang masih harus belajar untuk mengurus Shian.
"Sayang, biarkan saja Mama yang mengurus baby!" rengek Yoshi, saat aku hendak membukakan pintu untuk mama dan baby.
"Tapi Mas, aku tidak enak, kasihan Mama!" ucapku.
"An, biarkan saja. Mama pasti mengerti kok!" pinta Yoshi dengan bibirnya yang mengerucut manja.
"Mas, nanti saja ya aku melanjutkan memijatnya," ucapku.
"Bukan masalah memijat, tetapi aku hanya ingin memiliki waktu hanya berdua denganmu, itu saja, sayang."
"Mas, please. Baby sedang kehausan, aku harus menyusuinya sekarang juga!"
"Biarkan saja, ada asi di freezer sayang!"
Astaga, Yoshi kenapa tidak mau mengerti juga, apa demamnya benar-benar membuatnya egois seperti ini.
"Dengar, apa kau mendengar tangisan baby?" tanya Yoshi.
"Tidak, sepertinya tidak Mas," ucapku.
"Nah kan? Berarti itu hanya akal-akalan mama saja yang sedang ingin mengerjai kita!"
"Tapi Mas.."
"Mama saja sudah tidak memanggil-manggil nama kita kan? Berarti semuanya sudah aman," kata Yoshi sambil menarikku dalam pangkuannya.
"Mas, apa aku lihat Shian dulu ya?"
"Jangan ah. Bisa-bisa nanti sekalinya dirimu keluar, kau tak kembali lagi?" ucap Yoshi sambil melingkarkan lengannya pada pinggangku.
"Aku gak tenang Mas," ucapku masih dengan berusaha melepaskan diri darinya.
"Sudahlah sayang, sekali-sekali seperti ini tidak apa, lagi pula kau sudah mendiamkanku selama dua bulan, kau tega yang!"
"Ya ampun Mas, kau ini bagaimana? Aku kan sedang dalam masa nifas sejak kelahiran baby."
"Iya aku tau. Aku hanya ingin bermanja-manja seperti ini saja, tidak ada yang lain."
(An, jangan percaya padanya please, kamu lupa kalo dia itu tukang kibul pro🙄)
Tanpa keraguan, aku pun kembali duduk bersamanya, kini mata kami saling bertemu. Tak ada kata yang terucap, bagaikan tersihir aku mulai mendekatkan bibirku pada si merah yang tadinya memucat itu.
Satu centi..
Dua centi...
Tiga centi...
Menempel dengan sempurna, kecupan, sesapan mulai terjadi, aku terlalu terbawa suasana, tangan Yoshi menahan tengkukku sedangkan tangan yang lain melingkar di pinggangku. Menguncinya agar aku tidak dapat bergerak.
Aku mulai melingkarkan tanganku pada lehernya, aroma mint ini sungguh sangat memabukkan hingga tanpa sadar tubuhku telah berada di pembaringan.
Sepertinya aku juga sangat merindukan dirinya, perlakuan suamiku yang sangat lembut ini membuatku terbang. Hingga aku tidak sadar jika ia mulai menanggalkan pakaian atasku, Mungkin dalam pikiran Yoshi, ia masih belum tau jika masa nifas telah berlalu.
"Sayang, kapan masa nifasmu usai?" tanyanya, menghentikan aksinya.
"Su-sudah usai Mas," ucapku jujur.
(Duh, bukannya dengerin kata-kata Author, kamu malah mengaku An! Jangan nanges ya kalo besok badanmu remuk redam🤧🤧)
"Benarkah?" tanya Yoshi, penuh harap dan aku hanya mengangguk.
"Aku akan menghangatkanmu sayang!" ucap Yoshi sambil menarik rokku.
Tok
Tok
Tok
"Yosh!!!" terdengar suara mama lagi. Yoshi pun memejamkan matanya menahan kekesalan.
"Sayang, mama memanggilmu," ucapku.
"Biarkan saja!"
Namun, kali ini terdengar suara baby menangis kencang. Aku pun segera mendorong tubuh suamiku itu, lalu kurapikan pakaianku yang acak-acakan.
(Untung bra-nya gak ilang lagi!🤧)
Yoshi tampak sangat kesal dan mengacak rambutnya dengan kasar dan aku hanya tersenyum melihatnya, sungguh dia sangat membuatku gemas jika sedang seperti itu.
"Sabar sayang," ucapku sambil mengecup bibirnya yang manyun itu.
"Nanti malam ya!" balasnya.
"Nanti malam kita akan pergi ke pesta pernikahan David dan Dianna kan?"
"Ah, sial. Iya sayang, aku hampir lupa."
Aku pun membuka pintu dan kulihat mama dan baby sudah berdiri di hadapanku. Wajah baby juga memerah seperti habis menangis.
"Oh sayang, babyku haus ya?" ucapku sambil meraih anakku dari mama.
"Kenapa mama tidak memberikan stok asi yang di kulkas saja?" tanya Yoshi.
"Sudah Yosh! kau pikir mama tidak memberikannya pada baby?"
"Tetapi kenapa baby masih saja menangis?"
"Dia merindukan ibunya, bukan hanya sekedar ingin menyusu Yoshi. Dasar kau ini papa macam apa?!"
Astaga, mereka masih saja meributkan hal itu, bahkan hingga menjelang sore. Aku pun mengatakan pada Yoshi jika Dian baru saja menghubungiku untuk segera datang ke tempatnya untuk bersiap-siap sebagai bridesmate bersama Evelyn dan Jenny.
"Mas, Dianna ingin aku menjadi bridesmatenya, bagaimana ini?" tanyaku pada Yoshi
"Aku harus segera pergi ke sana sekarang juga Mas,"
"Oh, begitu ya. Tetapi aku masih harus menunggu David sayang," jawab Yoshi.
"Apa aku naik taksi saja?"
"Jangan! enak saja! pengawal yang akan mengantarmu."
Akhirnya saat itu juga aku berangkat ke hotel tempat pesta pernikahan David dan Dianna akan digelar dengan diantar penjaga mansion, aku pun mengirim pesan kepada Yoshi jika aku akan menunggunya di sana.
Sesampainya di tempat Jenny, Evelyn dan Dianna tengah menungguku.
"Cyin cepetan ganti baju!" ucap Jenny.
"Lama bener, ngapain aja di rumah An?" sahut Evelyn.
"Dih kayak gak tau Chief aja kalian! suami Ana itu kan hot Bokk!" jawab Dian tertawa.
"Hot kayak asistennya?" tanyaku, menggoda Dian.
"Robot mah kaku, gak hot An!" balas Dian.
"Biar kaku juga tokcer Diii!" sahut Jenny.
"Haha, bener kata Jenny, lihat tuh baru sekali aja langsung jadi!" kata Eve menunjuk perut Dian yang mulai menyembul.
"Ah udahlah kenapa jadi gue sih yang dibully!"
"An, ayo siap-siap!" ajak mereka dan mulai meriasku.
Beberapa menit kemudian, aku pun siap. Kutatap diriku di cermin, rasanya gaun ini terlalu terbuka. Tetapi, aku tidak enak jika menolaknya mengingat Dian sudah sangat repot untuk mempersiapkan semua ini.
"An, lu cakep banget pake gaun itu!" ucap Evelyn yang juga mengenakan gaun serupa."
"Kamu juga cantik Eve, tapi aku takut.."
"Takut kenapa?"
"Takut suamiku marah kalo lihat aku pake baju ini, lihat deh Eve, ini kan persis kayak gaun yang kita pake di crew party dulu kan?" aku masih ingat saat Yoshi memberiku pelajaran berharga di malam itu.
"Udah, gak apa-apa. Chief pasti ngerti kok. Habis pemotretan entar lu langsung pakein scarf aja. Ada tuh di kamar. Aku taruh di lemari tadi."
Seakan mengerti pemikiranku, Eve benar-benar memberi solusi terbaik. Ah, jika Yoshi marah aku akan langsung merayunya saja. Itu bukan hal yang sulit untukku.
Kami pun berjalan mendampingi Dianna menuju altar. Semua mata tertuju pada pengantin perempuan dan juga kepada kami sebagai pengiringnya. Sungguh Dianna bagaikan seorang puteri yang berjalan menuju pangerannya.
Aku merasa ada beberapa mata sedang menatapku, terlebih pada bagian punggungku yang terbuka. Seandainya saja rambutku bisa kugerai tentu bagian tubuh ini bisa tertutupi.
Astaga, jangan-jangan Yoshi juga sedang menatapku saat ini tetapi entah dari sudut mana. Begitu banyak tamu yang hadir sedangkan aku harus tetap fokus mengiringi Dianna.
Di ujung sana, David tengah menunggu Dian bersama pendeta. Mulai saat ini Dian akan mengikuti keyakinan suaminya meskipun ia harus terasingkan dari keluarganya di Bali.
Aku bisa merasakan raut kesedihan itu. Tetapi, semuanya harus tetap berjalan, bukan? Dian dan David harus mengambil keputusan sebagai konsekuensi dari hasil tindakan mereka sebelumnya.
Kini mereka resmi menjadi sepasang suami istri yang sah di mata Tuhan. Aku, Evelyn dan Jenny bersorak untuk kebahagian sahabat kami itu. Tak berselang lama acara pemotretan pun tiba.
Beberapa teman Dian dari Bali berdatangan untuk memberikan ucapan selamat sekaligus berkenalan denganku dan juga teman-teman Dianna yang lain. Sungguh, aku ingin segera lari ke kamar dan mengambil scarf, aku sungguh tak nyaman sengan tatapan para lelaki ini.
Setelah acara usai, aku pun langsung menuju ke kamar yang telah disiapkan Dianna untukku. Sesuai perkataan Evelyn ada sebuah scarf di dalam lemari. Ah, untung saja ada benda ini di sini. Aku langsung meraih kain itu dan menutupkannya pada bagian tubuhku yang terbuka.
Ceklek
Terdengar suara seseorang membuka pintu. Aku pun langsung melihat ke arahnya.
"Mas, kau di sini?" tanyaku saat melihat Yoshi mengunci pintu dan berjalan ke arahku.
"Mas, mengapa tidak memberitahuku jika kau sudah datang?" Yoshi sama sekali tidak mendengarkan ucapanku dan terus berjalan mendekat, aku bisa melihat adanya aura kemarahan pada mata itu.
"Mas..." Aku berjalan memundurkan langkahku.
Yoshi masih saja terdiam dan semakin mendekat, aku seperti mencium aroma alkohol pada hembusan nafasnya. Mungkinkah suamiku ini sedang mabuk.
Sungguh aku sangat takut ia akan mengamuk karena melihat gaun yang tengah kukenakan ini.
"Mas, aku tahu kau tidak menyukai baju ini. Tetapi percayalah. Aku hanya tidak ingin membuat Dianna kecewa. Itu saja, aku tidak bermaksud membuatmu marah."
Yoshi menarik scarf yang menggantung di pundakku dan membuangnya, kini tubuhnya menghimpitku hingga ke tembok.
"Kau sudah sangat menguji kesabaranku seharian ini An," ucap Yoshi parau dengan kedua lengan yang mengunci tubuhku.
Rasain An, Author sudah mempetingatkanmu sejak tadi!! tapi kau tidak mau mendengarkan ! 🤧🤧🤧
Dahlah pasrah aja, terima nasib diterkam sama serigala gantengmu wkwk, mumpung di hotel gak ada bumer gak ada baby gendut 🤣
Halo genk, makasih ya atas dukungannya buat Yoshana 💖💖