
Kami tiba di Bali dan Devi membawaku ke penginapannya. Sebuah losmen kecil yang terletak di dekat pantai Sanur.
"An, lu nggak apa-apa kan tinggal di tempat kayak gini?" tanya Devi sambil menata barang-barang.
"Ya gak apa-apalah Dev, udah bagus kamu mau nolongin aku." Ucapku, mulai ingin menangis lagi.
"Yaelah.. mewek lagi ni bocah. Coba-coba cerita ke gue kenapa?" tanya Devi kepadaku.
"Dev, kenapa sih WA mu gak aktif selama ini?" tanyaku, entah mengapa tiba-tiba aku ingin menanyakan ini padanya.
"Nah itu dia An, gue lupa gak ngasih tau lu kalo nomer gue ganti." Kata Devi.
"Dev, aku pengen di sini dulu boleh gak?" tanyaku.
"Boleh dong, malah seneng gue. Tapi sebenarnya ada apa sih An?" tanya Devi.
"Aku udah nikah... " Kataku, lirih.
"What? nikah sama siapa? gue kirain lu udah cinta mati sama Mas Ikau wkwk?" tanya Devi, mengungkit masa lalu.
"Ceritanya panjang Dev.. "
"Cerita dong biar lega An.. " Ucap Devi sambil menatap mataku, sejak kecil hanya Devi lah sahabatku, hingga akhirnya dia harus pindah ke Bekasi setelah lulus SMA dan kami pun hilang kontak sejak saat itu.
Aku pun menceritakan semuanya pada Devi, dari awal mula Bapak jatuh sakit, lalu pertemuanku dengan Yoshi, terjerat hutang, bekerja kesana-kemari.
Kabur dari Yoshi dan akhirnya menikah lalu aku mulai jatuh hati padanya hingga kini rasa cinta itu berubah menjadi benci.
Devi sangat terkejut dengan semua itu, terutama saat mengetahui jika ayahku ternyata adalah seorang BIN. Dia juga sempat menunjukkan kekesalannya pada Yoshi.
Dan penasaran dengan sosok Yoshi, tetapi sayangnya saat aku ingin menunjukkan foto Yoshi padanya aku lupa bahwa ponselku tertinggal di kamar. Bukan tertinggal tetapi aku memang sengaja meninggalkannya. Agar Yoshi tidak bisa menghubungiku.
***
Satu bulan berlalu
Kini aku mulai bekerja di salah satu hotel di kawasan Sanur. Letaknya cukup dekat dengan penginapanku. Aku bekerja sebagai roomboy di tempat ini. Meskipun penghasilan tidak seberapa tetapi ini cukup membantu dalam memenuhi kebutuhanku.
Suatu hari sepulang bekerja, Devi mengajakku untuk bertemu dengan kekasihnya. Dia berkata jika pacarnya tersebut adalah kakak kelas kami di SMA dulu, tentu saja aku sangat penasaran. Jika memang kita satu sekolah tentu saja aku juga mengenalnya.
"Sayang.. " ucap Devi kepada seorang pria yang tengah duduk di kursi café.
"Hai Sayang.. " balas pria itu.
Kemudian Devi mengenalkan pria itu kepadaku. Saat kami akan berjabat tangan, tiba-tiba pacar Devi ini saat terkejut saat melihatku.
"Lanthana?? Kamu Ana kan?" Tanya pria itu.
"Kamu kenal sama Ana sayang?" tanya Devi pada kekasihnya sementara aku sangat bingung aku tak tau siapa pria ini sebenarnya.
"Ana.. Lu kenal Dion?" Tanya Devi padaku, sungguh aku tak kenal dengan pria bernama Dion ini.
"Maaf anda siapa ya?" tanyaku kepadanya.
"Oh pasti lu gak tau ya kalo gue itu temennya Ricko." Jawab pria itu, dan Ricko? Apakah yang dimaksudnya adalah Mas Ikau.
"Oh iya An, gue lupa bilang sama lu. Jadi Dion ini tuh temen deketnya Mas Ricko atau Mas ikau demenan lu waktu SMA itu. Hehe" kata Devi, sontak pernyataan Devi itu membuatku terpaku tak percaya. Jadi, Dion ini adalah sahabatnya Mas Ikau. Ah dia terlambat mengapa baru datang sekarang saat aku sudah menikah dengan Yoshi. Jika saja dia datang sejak dulu tentu aku akan menanyakan keberadaan Mas ikauku itu.
"Baik mas." Ucapku, aku memanggilnya dengan mas karena dia lebih tua dariku.
"Gue lama sih gak kontekan sama Ikau, tetapi lu tau gak An, kalo Ricko itu dulu ngefans banget sama lu?" Ucap Dion, sungguh kata-kata itu membuatku sangat ingin melambung ke udara saat itu juga.
"Telat Sayang, sekarang Ana udah nikah." Kata Devi kepada Dion.
"Lah? Beneran An? Wah bisa mampus ini si Ikau kalo tau cintanya udah nikah. Haha. Entar deh gue kabarin si bego itu." Ucap Dion dengan semangat
Aku yang masih tak mengerti dengan obrolan dua kekasih ini mencoba untuk tetap mengikuti mereka. Tapi benarkah jika Mas Ikau juga menyukaiku saat itu. Begitu banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan pada Dion namun aku tak punya nyali aku tau statusku saat ini sudah menjadi istri Yoshi.
Apapun yang telah terjadi, aku masih bestatus istrinya. Aku masih mampu menjaga harga diriku.
Hingga akhirnya Dion menelepon seseorang.
Aku dan Devi hanya mampu melihat tingkahnya itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Haloo tuan muda... " Ucap Dion sambil mengarahkan wajahnya pada layar ponselnya. Dia sedang melakukan video call dengan seseorang di seberang sana.
"Halo Di, tumben nelpon?" ucap seorang pria di telepon itu. Aku seperti tak asing dengan suaranya.
"Ricko.. Lu kayak orang habis digebukin massa, acak-acakan gitu kenapa woy?" tanya Dion kepada pria yang ternyata adalah Mas Ikau, sungguh jantungku berdegup dengan sangat kencang saat mengetahui ini.
"Di cepetan mau ngomong apa? Gue lagi sibuk.." Ucap Mas ikau, rasanya aku ingin sekali melihat wajahnya melalui kamera Dion.
"Sibuk apa sih Tuan muda ini ha?" tanya Dion.
"Bini gue ilang Dii.. " kata Mas Ikau, jadi dia juga sudah menikah ternyata. Sungguh kami benar-benar tidak berjodoh.
"Lah lu udah nikah? Bro, lu tau nggak gue ketemu Ana di sini." Ucap Dion menyebut namaku, sementara Devi ikut melihat ke arah layar Dion.
"Ana? Lanthana? " kata Mas ikau, hey dia benar-benar menyebut namaku.
"Di, dimana lu sekarang?" tanya mas ikau. Aku masih saja menguping pembicaraan dua sahabat ini.
"Di Sanur. Nih coba deh lu liat demenan lu waktu SMA dulu, tapi dia sekarang udah nikah broo!" Ucap Dion pada Mas ikau sambil mengarahkan kameranya ke wajahku.
Sungguh aku sangat gugup saat itu, aku tak berani menatap layar ponsel Dion, namun aku bisa merasakan jika Mas Ikau sedang menatapku dari sana.
Sejenak kemudian sambungan video itu terputus, sepertinya Mas Ikau yang memutuskannya. Aku masih terngiang-ngiang dengan suara itu. Mengapa aku merasa suara Mas Ricko sangat mirip dengan suara Yoshi.
Atau mungkin aku sedang merindukan Yoshi sehingga suaranya tedengar dimana-mana. Bahkan perutku pun terasa kram saat aku sedang memikirkan si penipu itu.
****
"An, lu tadi harusnya liat mukanya Mas ikau di ponselnya Dion.. " Kata Devi sambil memasukki kamar.
"Apaan sih Dev, aku udah nikah, Dia juga udah nikah. Mau apa lagi coba?" kataku sambil berbaring di kasur.
"Dih seriusan, dia tambah ganteng tau An. Sekarang badannya bagus gak kerempeng kayak dulu. Gue aja hampir pangling pas lihat dia." Kata Devi masih saja ingin membahasnya.
"Dev, udah deh ah.." Sejujurnya aku juga penasaran dengan wujud Mas Ikau sekarang.
"An, laki lu kayak apa sih tampangnya? Gantengan mana sama Mas ikau?" tanya Devi.
"Biasa aja... " Jawabku malas.