My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Skip Saja..



Yoshi POV


Aku masih menunggu istriku yang belum juga keluar dari kamar mandi, kuraih ponselnya yang tergeletak di lantai karena ulahku. Aku membuka whatsapp dan daftar pesan, ternyata tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Aku pun mengirim pesan kepada mama, untuk menanyakan keadaan baby. Mama mengatakan jika si gendut itu sedang tertidur pulas sejak tadi sore.


Mama pun meneleponku dan aku segera mengangkatnya.


"Yoshi, mau pulang jam berapa?" tanya mama di seberang sana.


"Belum tau Ma, mungkin dua atau tiga jam lagi," jawabku.


"Ha? lama sekali apa acara masih belum selesai?"


"Belum Ma, bahkan baru akan dimulai," jawabku sambil menahan tawa.


"Apa? jadi sejak tadi apa yang kalian lakukan di sana?"


"Tentu saja menghadiri pernikahan David, memangnya apa lagi?"


"Astaga, lalu acara apa yang belum dimulai kalau begitu?" tanya mama masih saja belum menangkap maksudku.


"Acara berbuka puasa Ma!"


"Hahaha, astaga Yosh!" terdengar suara tawa mama meledak di ujung sana.


"Tolong jaga baby ya Ma," ucapku.


"Iya, selamat berbuka puasa ya! ingat, jangan terlalu kasar takut jahitannya lepas!" pesan mama lalu mengakhiri teleponnya. Apa maksudnya dengan jahitan lepas, ibuku sungguh tidak jelas.


Hampir lima belas menit berlalu tetapi Ana masih belum keluar dari ruang shower itu.


Aku pun mulai berfikir mungkinkah terjadi sesuatu padanya. Lalu kucoba memanggil namanya.


"Sayang.. "


"Sayang, kenapa lama sekali?" tanyaku, namun tidak ada sahutan dari dalam.


"An, kau baik-baik saja?" tanyaku lagi.


"Iya Mas, sebentar ya!" jawabnya.


"Sayang ini sudah hampir dua puluh menit! cepat keluar atau aku yang akan masuk ke dalam!" Sungguh, sepertinya Ana ingin mengujiku lagi.


"Iya Mas, sebentar!" jawabnya masih saja ingin mengulur waktu.


"Aku hitung sampai tiga ya!"


"Satu... "


"Dua... "


"Ti...... "


Akhirnya Ana keluar juga, dengan pelan ia berjalan ke arahku. Ia juga menundukkan kepalanya menahan malu. Tak bisa kupungkiri bagaikan seorang bidadari turun dari langit.


Ana bahkan terlihat lebih cantik dari sebelumnya, lingerie berwarna pink fanta itu melekat sempurna di tubuh istriku, menunjukkan bagian-bagian yang perlu untuk ditonjolkan.


Benar apa yang ia katakan, dia jauh lebih seksi setelah berganti baju, Aku sudah tidak tahan melihat pemandangan ini, segera kurang istriku dan memeluknya.


"Sayang kenapa lama sekali? Kau membuatku menunggu terlalu lama," ucapku sambil menatap wajahnya.


"Mas, aku takut.. " Mataku terus saja tertuju pada bibir ranumnya saat berbicara.


"Takut apa? bukankah nifasnya sudah selesai?" tanyaku sambil membawanya ke pembaringan. Aku merebahkan tubuh itu, dan memandangi setiap incinya. Ana tersipu malu seperti biasanya, ia menutupi bagian indah itu dengan kedua tangannya.


"Sudah selesai mas, aku hanya khawatir saja."


"Khawatir akan sakit?" tanyaku sambil menyingkirkan tangannya yang mengganggu itu. Kini aku menciuminya dengan lembut, hingga ke area dadanya sesekali menghisap kulit mulus itu dan meneguk madunya.


"Bukan itu Mas. Tetapi, karena aku belum memasang kb.. " ucapnya lirih sambil menatapku yang sedang menikmati dua buah miliknya.


Seketika kuhentikan aksiku.


"Oh sayang, jadi sejak tadi kau sedang memikirkan itu? Kenapa tidak bilang saja? Kau bahkan terlalu lama berada di kamar mandi karena memikirkan ini?"


"Iya.. "


"Astaga, memangnya kenapa jika belum pasang kb?" tanyaku menggodanya.


"Aku takut hamil Mas," jawab Ana lirih, membuatku gemas saja.


"Ya sudah, biarkan saja Shian mempunyai adik, bukankah itu bagus?"


"Jangan ah, kau pikir aku sudah lupa rasanya melahirkan? belum lagi jika harus merawat dua bayi sekaligus, aku masih belum mampu Mas!"


"Ya, kau benar sayang. Satu baby saja sudah sangat membuatku terlantar, apa lagi dua!" ucapku.


Ana terdiam dan berfikir, entah apa yang ada di otaknya, sepertinya ia begitu khawatir. Sementara di bawah sana, sesuatu milikku sudah sangat tegang.


Tanpa pikir panjang, segera kutarik saja, kain tipis itu hingga tak ada lagi yang menghalangiku. Ana masih tercengang dan terbesit keraguan pada wajahnya.


"Tenang sayang, biarkan aku yang mengaturnya. Jangan khawatir," bisikku.


(ngatur apa nih yosh? awas kebobolan 🤣)


Aku terus mencoba meyakinkannnya dan memberinya sentuhan yang memabukkan, hingga akhirnya ia pun terbawa dalam suasana. Aku pun memulai adegan inti yang sudah lama kutahan itu.


Awalnya sangat sulit, dan beberapa kali meleset, tetapi aku terus mencoba hingga dapat benar-benar menembus pertahanan istriku. Bukankah dua bulan merupakan waktu yang cukup lama untuk kembali merapatkan sesuatu yang sebelumnya selalu tersentuh olehku.


Aku mulai terbawa rasa hangat itu, hingga tak sadar jika istriku masih perlu waktu untuk beradaptasi, tanpa memikirkan rintihannya aku terus mengikuti insting kelelakianku.


Ana memekik menahan rasa ngilu, bagaimanapun ukuran yang cukup besar ini pasti akan membuatnya terkejut setelah lama tidak merasakan. Belum lagi rasa khawatir yang saat ini menguasai pikirannya. Akupun mencoba membuatnya senyaman mungkin agar dapat terlarut dalam permainan ini.


(🙄🙄🙄)


Waktu terus berjalan, seiring dengan gerakan kan desa*han. Ana mulai mengikutiku. Dia tak lagi merasakan sakit dan khawatir, aku tersenyum melihatnya lepas kendali seperti ini, setidaknya ia sudah mulai bisa mengimbangiku.


Ingin rasanya kuabadikan momen ini, dan kutunjukkan padanya saat permainan selesai, tapi aku tak kuasa, aku takut ia akan marah dan kembali menutup akses menuju surgawi miliknya, melihat ekspresi Ana yang sangat menggemaskan membuatku semakin tidak terkontrol.


Beberapa kali ia memanggil namaku, hingga tubuhnya melemas, begitu juga denganku, aku tak dapat lagi menahannya, akhirnya dengan gerakan yang semakin cepat aku pun mencapai tingkatan tertinggi.


Kemudian memuntahkan segala sesuatu yang tertahan selama ini hingga tak tersisa, sementara Ana masih mencengkeram pundakku dan sesekali menjambak rambutku tanpa sadar.


"Sayang, maafkan aku. Kukira aku bisa mengaturnya tetapi ternyata tidak. I love you," bisikku pada telinganya.


Ana masih memejamkan matanya. Sepertinya ia benar-benar kelelahan dan akhirnya tertidur. Aku tak kuasa melihat tubuh yang tadinya putih polos itu kini berubah menjadi kemerahan dan biru pada beberapa bagian.


Segera kutarik selimut dan menutupinya, lalu aku pun membersihkan diri. Bayangan tentang kegiatan tadi membuatku kembali tersenyum tak kusangka Ana benar-benar mempersiapkan dirinya untukku, bahkan ia membeli lingerie itu juga.


Sayang sekali, meskipun kain tipis itu kini sudah tidak dapat dipakai karena aku telah mengoyaknya tanpa sengaja, setidaknya ia telah membuatku merasa lega malam ini.


Aku pun keluar dari kamar mandi dan kudapati istriku sudah terbangun dari tidurnya. Dia duduk di pinggiran membelakangiku.


"Sayang, sudah bangun?" tanyaku dan mendekatinya.


"Mas, ayo kita pulang. Asi-ku kembali penuh, aku sangat khawatir pada baby," ucapnya.


"Astaga, bukankah tadi sudah berhasil kukosongkan?"


(🤣🤣🤣)


"Mas, ayo kita pulang!" Ana mulai merengek, membuatku tidak tega saja.


Yoshi POV End


***


Ana POV


Aku terbangun dari tidurku setelah melewati kegiatan panas bersama suamiku. Rasanya sangat lelah dan aku masih ingin kembali tidur. Tetapi rasa nyeri di dadaku sangat mengganggu, aku pun melihatnya dan ternyata dadaku membengkak karena Asi yang kembali menumpuk.


Aku pun segera bangun dan mengambil pakaianku. Sambil sesekali membersihkan air susu yang mulai menetes. Aku pun mengajak Yoshi untuk segera pulang agar baby bisa segera menyusu.


Yoshi menuruti kemauanku dan segera check out dari hotel. Waktu menunjukkan pukul tengah malam tetapi jalanan masih saja ramai. Ya ampun, bahkan area menuju kawasan Puncak ini macet di tengah malam.


"Mas, bagaimana ini aku sudah tidak tahan," ucapku pada Yoshi yang sedang mengemudi.


Dadaku semakin membengkak hingga terasa sakit sekali.


"Sabar sayang, macet mau bagaimana lagi?"


"Mas, ambilkan tolong pompa asiku, cepat!" pintaku pada Yoshi, dan dia pun keluar dari mobil untuk mencari barang tersebut.


Cukup lama aku menunggu sementara kemacetan masih terus berlangsung.


"Sayang, pompa asinya tertinggal di hotel," ucap Yoshi.


"APA?!!"



Aduh dah dibikin kecapekan, ngantuk. Sekarang mau diapain lagi An wkwk