
Sejak kemarin Ana terus saja meracau dalam tidurnya. Entah apa yang ia rasakan tetapi yang jelas dia masih belum pulih betul. Aku tak akan memaksanya untuk lekas bangun sebab Ana benar-benar butuh istirahat saat ini.
"Yoshi.. " Ucapnya lirih sambil menggenggam erat tanganku.
"Iya sayang, mana yang sakit?" tanyaku mencoba menebak raut wajahnya.
"Tidak ada yang sakit lagi," katanya lirih sambil tersenyum kepadaku.
"Sungguh?" tanyaku. Aku masih sangat ketakutan mengingat saat Ana kesakitan kemarin.
"Sungguh, sudah tidak sakit lagi Yoshi." Ucapnya masih dengan menggenggam tanganku.
"Tidak sayang, aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu. Aku yakin kau masih sangat kesakitan kan?" tanyaku.
"Tidak Yosh, aku baik-baik saja sekarang. Rasa sakitnya sudah hilang." Jawab Ana.
"Apa kau yakin sayang? bagaimana dengan perutmu?" tanyaku sambil mengelus perutnya dengan lembut.
"Mungkin perutku memang masih sedikit nyeri tetapi hatiku sudah jauh lebih baik karena Mas Ikauku sudah kembali bersamaku." Ucap Ana lirih.
Degg..
Ternyata sikapku kemarin sungguh telah menyakiti hatinya, hingga membuat istriku ini sangat memikirkan sikap childish ku itu. Aku sangat menyesali semuanya.
"Sayaangg.. Jangan berkata seperti itu." Ucapku sambil memeluknya.
"Yoshi, apa kau sudah tidak marah lagi padaku?"
"Sshh.. Aku tak pernah marah padamu Sayang. " Kataku sambil membelai rambut panjangnnya.
"Tapi kenapa kau mendiamkanku kemarin?"
"Maafkan aku sayang, aku tak akan mengulanginya lagi. Aku janji, mas Ikaumu ini akan selalu menyanyangimu Ana." Ucapku dan kulihat senyum di bibir tipisnya itu mulai mengembang.
"Tapi kenapa kau mendiamkanku kemarin mas? Aku sangat takut. Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Ana.
"Tidak, kau tak pernah salah sayang. Jika ada orang yang bersalah maka akulah orangnya."
"Mas, katakan ada apa kemarin? Kau tak pernah seperti itu sebelumnya." Ana masih saja ingin mengetahui apa yang terjadi padaku dua hari yang lalu.
"Tidak ada apa-apa sayang. Hey, apa aku salah dengar? sejak tadi sayangku ini terus memanggilku dengan sebutan Mas. Hehe," jujur saja aku merasa sangat bahagia.
"Ah Yoshi! jangan membuatku malu seperti itu." Ucap Ana sambil melepaskan pelukanku. Ah, aku mennyesal telah mengingatkannya baru saja. Sekarang dia sudah kembali memanggilku dengan Yash Yosh lagi.
"Aku terus memimpikanmu semalam, aku bermimpi kita kembali ke masa lalu dimana aku sedang berlari ke jembatan biru untuk menemuimu tetapi kau tak ada di sana Mas Ikau." Ucap Ana sambil kembali memelukku. Sungguh saat itu aku juga tengah menunggunya tetapi takdir berkata lain.
"Aku takut kehilangan dirimu seperti saat itu, aku sangat sedih mengingatnya." Ucap Ana sambil menangis, tak kusangka dia benar-benar takut kehilangan diriku.
"Sshhh sayang, berhentilah berfikir seperti itu. Sudah, jangan menangis lagi, atau baby akan ngambek seperti kemarin karena mamanya terus saja menangis,"
"Ya, kemarin mama menangis karena ulah papanya." Ucap Ana kesal.
"Iya-iya, maafkan papa ya mama sayang." Ucapku dan mencium keningnya.
"Yoshi, kenapa kau mengabaikanku kemarin?" tanyanya akhirnya aku mencoba menjelaskannya.
"An, aku tidak suka melihatmu masih berhubungan dengan Reza."
"Reza? apa maksudmu Yosh?" tanya Ana.
"Kemarin dia mengirim SMS ke nomormu tanpa sepengetahuanmu."
"Lalu? Apa yang dia katakan? Aku sama sekali tidak tau tentang itu Yoshi." Ucap Ana mulai menunjukkan ekspresi pembelaannya, ini sungguh tak baik bisa-bisa dia akan kembali stres seperti kemarin.
"Iya aku tau itu An, sudah ya jangan membahasnya, ini salahku. Aku terlalu kekanak-kanakan." Ucapku mencoba menghentikan perbincangan ini.
"Tidak Yosh, coba katakan yang sebenarnya." Akhirnya aku pun menanyakan hal yang menggangguku sejak kemarin. Semoga saja Ana dan baby akan baik-baik saja.
"An, Reza mengatakan bahwa dia telah menerima paket darimu melalui Evelyn. Dan aku penasaran, benda apa yang telah kau berikan untuk Reza itu." Kataku pelan.
"Paket? untuk Reza dariku? umm mungkin saja kotak itu Yosh, kotak berisi Swarovski dari Reza yang kukembalikan melalui Eve. Apa kau ingat itu?" kata Ana, sambil berfikir.
Seketika aku menutup mataku dengan kedua tanganku. Astaga bodohnya aku ini, bukankah saat itu Ana telah mencoba menjelaskannya padaku. Mengapa aku begitu lupa.
"Ya sayang, aku ingat. Aku ingat di hari itu aku juga memarahimu habis-habisan. Maafkan aku sayang." Ucapku sambil mencium tangan Ana.
"Jadi itu masalahnya? Yoshi, mengapa tidak menanyakannya padaku langsung? Aku sangat sesak jika kau mendiamkanku seperti kemarin. Lebih baik marahi saja aku dari pada harus mengabaikanku seperti kemarin." Dan Ana pun menangis lagi, astaga bagaimana ini.
"Maafkan aku sayang.. Maaf aku terlalu mementingkan egoku, aku cemburu pada Reza, apa lagi saat membaca obrolanmu di grup whatsapp dengannya."
"Yoshi, aku dan Reza hanya berteman, tolonglah... Hentikan semua ini." Ucap Ana masih terisak membuatku semakin merasa bersalah saja.
"Maaf sayang, aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Kataku, berusaha membuatnya tenang.
"Ya sayang, baiklah aku akan bertanya pada dokter dulu. Sabar ya, kita pasti akan pulang." Ucapku sambil mencium puncak kepala Ana.
Akhirnya setelah meminta izin pada dokter, Ana diperbolehkan untuk pulang dengan catatan harus menjalani bed rest hingga waktu yang ditentukan.
Aku berjanji akan menjaga Ana dan baby dengan baik.
Mulai saat ini, apapun yang terjadi aku berjanji tak akan terpancing lagi dengan si setrip cacing Reza itu. Aku sangat percaya pada Ana.
***
Tiba di mansions.
"Sayang ingin makan apa? Kau sama sekali belum makan hari ini?" tanyaku pada Ana yang sedang berbaring di tempat tidur.
"Yosh, aku tidak lapar." Ucapnya.
"Sayang, jangan begitu. Kau harus makan meskipun hanya sedikit, tak apa. Ingat kesehatanmu dan baby " tanyaku.
"Tapi aku belum lapar, aku tidak bisa makan jika belum merasa lapar." Jawabnya masih saja tidak menurutiku.
"Hey, apa baby sangat rewel di dalam sana, hingga membuat mama tidak mau makan?" ucapku sambil menempelkan kepalaku pada perut Ana.
"Yoshi, apa kau bisa memasak?" tanya Ana antusias.
"Apa? memasak?" jawabku, jangankan memasak, masuk dapur saja aku tidak pernah.
"Iya, aku ingin makan masakkanmu." Ucap Ana manja, aku sangat tidak tega melihatnya.
"Baiklah. Tuan putri ingin makan apa? Chef Yoshi akan mengabulkan segala keinginanmu."Ucapku serampangan, aku tak ingin membuat Ana tertekan lagi.
"Aku ingin sate bekicot." Jawab Ana.
"What?? yang benar saja An, itu tidak bagus untuk ibu hamil, yang lain saja ya." Kataku, hah ada-ada saja dimana mencari bekicot siang-siang begini.
"Tapi aku ingin itu Yoshi." Ucap Ana dengan mata yang mulai ingin menangis, astaga ini bahaya.
"Ya, ya baiklah sayang. Baiklah aku akan mencarinya dan memasaknya untukmu. Tunggu ya, jangan menangis." Aku pun keluar dari kamar.
Menuju dapur, kulihat chef sedang berada di area itu. Bagus, aku akan bertanya padanya tentang bekicot. Chef pun mengajariku untuk membuat olahan dari hewan bercangkang itu, tentu saja sebelumnya aku telah meminta David berkeliling mencarinya hingga ke pasar-pasar dan kebun-kebun orang.
Dalam sekejap sate bekicot ala chef Yoshi itu siap, aku pun segera naik ke atas. Sungguh hari ini adalah kali pertamaku memegang pisau dapur. Andai Mama melihat ini beliau pasti sangat girang untuk mengejekku.
"Sayangg, pesanan ready," ucapku pada Ana.
"Wah, benarkah kau berhasil membuatnya?"
"Tentu saja, apa pun untukmu sayang," kataku dan Ana pun terlihat sangat bahagia.
Dan dia tidak memakan seluruhnya, mungkin hanya beberapa gigitan, sungguh bumil ini ingin mengerjaiku sepertinya. Selesai makan aku pun membetulkan selimut Ana dan memintanya untuk segera tidur.
***
Pukul 23.00 tiba-tiba Ana terbangun dan memintaku untuk membelikannya sesuatu.
"Yosh, bangunlah aku ingin es campur." Ucapnya sambil memelukku. Astaga ini hampir tengah malam, dimana aku bisa menemukan es campur.
"Tapi, ini sudah malam sayang. Besok saja ya, aku akan membelikanmu es campur beserta gerobaknya jika kau mau." Kataku, berusaha membujuknya.
"Aku pengennya sekarang Yoshi." Ucapnya, astaga mata indah itu sudah mulai berair lagi. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku pun segera menelepon David.
***
"Ada tuan, di pasar malam! Saya tau tempatnya." Kata David, oh sungguh asistenku ini sebenarnya malaikat atau apa, mengapa dia sangat bisa diandalkan.
Malam itu juga aku dan David meluncur ke pasar malam. Lagi-lagi Ana memberiku pengalaman baru, yaitu membeli es campur tengah malam di pasar malam. Semoga ini benar pasar malam sungguhan, bukan settingan para goblin tak kasat mata.
Cepetan pulang Papa Yosh, takutnya itu semua pedangang dari dunia lain. wkwk
Visual Reza, si sad boy, si setrip cacing. Di novel sebelah udah jadi captain dia, yuk mampir di novelku yang satunya. I Love You Capt!!
***
Hey kamu, yang jauh di sana. Jika kamu membaca tulisan ini aku cuma mau bilang.
ik hou van je, ik haat je, ik mis je !! 🤧🤧