My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Malaikat Kecil



Flashback on


Setelah pertemuanku dengan Yoshi hari itu, aku semakin tak karuan bukan hanya hatiku tetapi juga ragaku. Rasa kram di perutku pun semakin terasa begitu juga dengan suhu tubuhku yang bertambah panas.


Berkali-kali aku memikirkan suamiku itu. Ya ampun, dunia ini sangat mempermainkan diriku bagaimana bisa Yoshi yang kini kubenci itu ternyata adalah Mas Ikauku, orang yang selama ini sangat kurindu. Dan dia juga menyukaiku seperti aku menyukainya sejak dulu. Aku menjerit dalam hati. Astaga jika saja kami bisa bersatu sejak dulu mungkin drama bertahun-tahun ini tidak akan terjadi.


Aku ingin mengambil keputusan yang tepat. Aku sangat jera untuk mempercayainya. Akhirnya dengan segenap hati. Kuputuskan untuk berpisah dengan Yoshi saja, aku akan melanjutkan hidupku, melupakan Yoshi, melupakan Mas Ikauku itu meskipun ini sakit tapi aku tak ingin lebih sakit lagi.


Tak ada jaminan jika suatu hari nanti dia tidak akan kembai menyakitiku lagi. Cukup, aku harus membahagiakan diri dan melupakan masa lalu.


"An, ya ampun.. Lu kenapa gak bilang kalo laki lu itu Mas Ricko?" ucap Devi memasukki kamar. Tapi aku tidak menjawabnya, kepalaku pening sekali.


"Ann!! diajak ngobrol juga. Diem aja." Ucap Devi kesal.


"Aku juga baru tau kalo Yoshi itu Mas Ikau, Dev." Jawabku lemas, rasa pusing mulai meyerangku.


"An, lu kenapa? Kayak mau pingsan gitu." Kata Devi sambil memeriksa tubuhku.


"Dev, aku lemes banget." Ucapku lirih.


"Yok, ke dokter yokk.. " Kata Devi sambil membantuku berdiri.


***


Tiba di klinik.


Setelah mendaftar kami pun duduk di ruang tunggu. Sebuah ruangan dengan kaca bening mengelilinginya. Kulihat seseorang dengan seragam petugas kebersihan sedang menyapu di seberang area ini.


Mungkin ini aneh, tetapi kenapa posturnya sangat mirip dengan Bapak. Tetapi bukankah bapak sedang dirawat di rumah sakit. Ah aku sangat merindukan ayahku itu, tetapi aku juga kecewa padanya saat mengetahui fakta yang ada.


Yoshi, bapak, ibu dan mungkin juga Luna telah membuatku kecewa. Entah mengapa beberapa minggu terakhir ini emosiku sangat naik turun. Aku sering sekali menangis tanpa sebab yang pasti.


***


"An, dipanggil tuh. Ayo aku temenin." Ucap Devi sambil memapahku berjalan.


Di ruangan dokter umum itu aku berbaring dan dokter mulai memeriksaku. Detak jantung dan denyut nadi, tensi darah dan suhu tubuhku.


"Ibu Ana, apa yang anda rasakan?"tanya dokter.


"Saya pusing, lemas, keram perut dan sepertinya mau flu dokter." Jawabku.


"Bu Ana, kapan terakhir kali anda mengalami menstruasi?"tanyanya lagi.


"Sepertinya dua bulan ini saya belum menstruasi, Dok." Ucapku aku mulai merasa tidak enak saat ini.


"Mual, muntah?"tanyanya.


"Tidak dok, hanya saya sering mengalami perubahan mood saja."Ucapku.


"Bu, mari lakukan pengecekan kehamilan." Katanya sambil menyerahkan tespek kepadaku.


Aku pun bergegas ke kamar mandi dan melakukan apa yang dokter perintahkan padaku. Setelah beberapa menit.


Hasilnya keluar. Ada dua garis merah. Ternyata aku hamil. Aku sangat shock melihat ini. Mengetahui ini, dokter pun memberiku selamat begitupun dengan Devi, padahal dia tidak tau saja jika aku sedang bahagia dan juga bingung.


"Yesss, akhirnya ada yang manggil gue Auntie Devi juga bentar lagi!!" ucapnya sambil memelukku.


"Dev, apa menurutmu aku harus memberitahu Mas Ikau tentang ini?" tanyaku.


"Ya iyalah! gimana sih lu An, dia kan bapaknya. Dia berhak tau An?"


"Tapi Dev.."


"Udah-udah, apa pun persoalan kalian berdua yang jelas mulai detik ini kalian harus bersatu lagi. Kalian udah gak berdua lagi sekarang, tetapi bertiga. Jangan egois An. Kasian si kecil di perut lu ini!" Ucap Devi dan itu merupakan pelajaran berharga untukku.


Baiklah Yoshi, kita akan bertemu sore ini juga.


Flashback off


***


Sore itu setelah Yoshi mengetahui kehamilanku, dia terus saja menempel padaku. Seakan takut aku akan kabur darinya lagi. Yang benar saja, memangnya apa yang bisa kulakukan dengan janin yang sedang tumbuh di tubuhku ini. Kabur lagi? tentu saja tidak mungkin.


Kami pun tiba di hotel. Malam ini aku berpamitan pada Devi untuk ikut bersama Yoshi. Awalnya dia sangat bersedih tetapi aku berjanji akan menemuinya lagi di lain waktu.


"Sayang, ceritakan.. " Ucap Yoshi,


"Cerita apa?" tanyaku.


"Bagaimana awalnya saat kau mengetahui bahwa dirimu sedang mengandung anakku?" tanya Yoshi sambil melingkarkan tangannya di pinggangku.


Sebenarnya aku cukup canggung dengan posisi ini. Aku masih tak percaya bahwa Yoshi adalah Mas Ikauku. Membayangkan seorang Mas Ikau sedang memelukku seperti ini, sungguh ini sepertinya mimpi.


Membayangkan masa lalu. Aku ingat saat aku menunggunya melintasi depan kelasku begitu saja tanpa melihat wajahku sedikitpun. Tetapi ternyata dia sengaja melakukannya. Ternyata dia juga ingin melihatku saat itu.


Dan sekarang sosok itu sedang bersamaku saat ini, menjadi suamiku dan akan menjadi ayah untuk bayi di kandunganku ini. Kejutan Tuhan ini terlalu mengejutkan.


"Kemarin aku pusing, demam dan kram perut, lalu Devi membawaku ke klinik." Ucapku.


"Apa kata dokter?" tanya Yoshi dengan semangat.


"Memintaku melakukan tes urin dan memberiku selamat atas kehamilan ini dan memintaku untuk menjaga kesehatan." Jawabku


"Hanya itu? kalau begitu kita akan ke obgyn besok pagi." Kata Yoshi sambil mengelus perutku.


"Tapi, kemarin dokter sudah memberiku vitamin Yosh."


"Terserah padamu." Ucapku sambil menarik selimut.


"An, aku tau mungkin kau belum memaafkanku dan mungkin juga tidak mencintaiku lagi. Tetapi saat ini ada anakku di dalam rahimu, aku tak peduli dengan anggapanmu padaku mulai sekarang kau harus menuruti perintahku. Aku suamimu dan melawan perintah suami itu dosa apa lagi untuk kabur-kaburan seperti kemarin." Ucap Yoshi, sambil berbaring di sampingku.


***


Keesokan paginya, aku terbangun dan kulihat Yoshi masih terlelap di atas perutku. Sepertinya semalaman dia terus saja mengobrol sendiri. Seperti sedang mengajak bicara anak kami yang bahkan belum lahir ini.


"Sayang kau sudah bangun?" tanyanya.


"Iya Yoshi, kepalamu sangat berat mengapa kau tidur di atas perutku?"


"Aku hanya ingin mengobrol dengan anak kita. Aku berterimakasih padanya karena telah membawa mamanya kembali kepadaku." Ucapnya sambil tersenyum.


"Kau sangat menyebalkan Mas Ikau.. " Kataku, entah mengapa tiba-tiba aku sangat ingin memanggilnya dengan nama itu.


"Aku senang dengan panggilan itu An. Apa lagi jika kau memanggilku dengan sebutan Papa." Ucapnya, tetapi aku malas untuk menanggapinya. Aku masih kesal pada Yoshi meskipun saat ini kami sudah kembali bersama.


"Apa kita akan pergi ke obgyn hari ini?" tanyaku.


"Tentu saja, aku tak sabar ingin melihat malaikat kecil ini pada layar USG." Kata Yoshi sebelum akhirnya dia bersiap.


***


"Apa ibu Ana sering melakukan aktifitas berat akhir-akhir ini?" tanya dokter kandungan itu di ruangan kerjanya.


"Tidak dokter tetapi saya masih bekerja saat ini." Jawabku,


"Bagaimana keadaan istri saya dan bayi kami dok?" tanya Yoshi dengan raut wajah khawatir.


"Begini pak, sejak kehamilan ibu Ana yang berusia dua bulan ini, ia sangat kurang nutrisi dan istirahat yang cukup."


"Sehingga mau tidak mau janin yang dikandungnya mengambil semua nutrisi dari tubuh istri anda, karena memang janin sangat membutuhkan asupan untuk perkembangannya." Ucap dokter itu dan Yoshi melihat ke arahku dengan raut wajah kesal. Memangnya apa salahku. Aku saja tidak tau jika usia kandungan ini sudah dua bulan.


"Apa yang harus kita lakukan dok?" tanya Yoshi.


"Ibu Ana harus berhenti bekerja dan memperhatikan asupan nutrisinya karena jika tidak dia akan mudah terserang penyakit, meskipun hanya flu batuk tetapi ibu hamil sangat tidak dianjurkan untuk meminum obat tertentu. Untuk keselamatan bayinya." Kata dokter itu sambil menuliskan resep untukku.


"Apa kondisi janinnya sehat dok?" tanya Yoshi Lihatlah dia bahkan sibuk bertanya pada dokter sejak tadi tanpa memberiku kesempatan bicara pada dokter itu.


"Sejauh ini masih baik-baik saja pak, saya sudah menuliskan resep vitamin untuk memenuhi nutrisi ibu dan bayinya pak." Jawab dokter wanita itu.


***


Author POV


Di kediaman keluarga Aditama. Larissa sedang melakukan panggilan video dengan suaminya.


"Pak, bagaimana? sudah ada kabar tentang Ana?" tanya Larissa dengan panik.


"Sudah bu," jawab Pramuja sambil membetulkan kacamatanya.


"Pak kenapa bawa-bawa gerobak seblak?"tanya Larissa heran dan ingin tertawa.


"Ibu seperti tidak tau profesi bapak saja. Bahkan kemarin bapak juga sempat menyamar sebagai OB di klinik." Ucap suaminya itu.


"Pak, ibu khawatir dengan Ana. Dimana dia sekarang, apa Yoshi sudah menemukannya atau belum." Ucap istri agen rahasia itu dan mulai menangis.


"Bu, jangan menangis. Ada kabar gembira untuk kita semua." Kata Pramuja dengan tersenyum bangga.


"Apa pak?"


"Kita akan menjadi kakek dan nenek sebentar lagi. Sudah hapus air matamu. Beri tahu Luna juga, "


"Apa pak? Ana hamil?" ucap Larissa dengan ekspresi yang tak dapat diuangkapkan.


"Bapak akan terus memantau keadaan Ana dan Yoshi, sebab saat ini penjahat itu sedang dalam perjalanan ke Indonesia untuk mengincar keluarga Luby." Ucap pria tampan yang usianya sudah tidak muda lagi itu.


Sambungan terputus.


Author POV end


***


"An, mulai saat ini kau harus terus berada di rumah, tidak usah bekerja lagi, jaga kesehatan dan jangan keras kepala."Ucap Yoshi padaku,


"Yoshi, memangnya apa yang bisa kulakukan? tentu saja aku akan berhenti bekerja." Ucapku.


"Aku tidak akan percaya padamu begitu saja. Setelah tiba di mansion besok aku akan mengurungmu sepanjang hari di kamar." Ucap Yoshi dengan sungguh-sungguh.



Bumil 😘😘



Yoshi be like "Mulai besok aku akan mengurungmu di kamar seharian An, jangan berharap bisa kabur dariku lagi."



"Dion bini gue ilang Di... 😭😭


Tapi sekarang udah balik lagi. Kemarin ilangnya sendiri eh sekarang baliknya berdua bawa oleh-oleh unch 😍 "