
Hari itu setelah kepergian Ana, aku masih saja terus mencarinya hingga memeriksa seluruh jadwal penerbangan di bandara tetapi hasilnya tetap saja nihil. Bahkan robot-robot penjaga sekalipun tak bisa kuandalkan.
Selama kurang lebih satu bulan aku juga berusaha untuk menemui ayah mertuaku yang sudah kubuat jatuh sakit itu. Sungguh aku menyesal telah melakukannya. Entah mengapa para perawat dan dokter di ruang ICU tidak pernah mengijinkanku untuk masuk ke dalam ruangan itu.
Aku ingin sekali meminta maaf kepada Pramuja meskipun nantinya mungkin ia akan membunuhku karena telah membuat putrinya menderita dan berjuang sendiri selama ini.
Beberapa minggu ini hidupku sungguh tak menentu, jangan tanyakan bagaimana penampilanku sekarang. Untuk mandi saja aku malas. Hingga pada suatu hari telepon masuk ke ponselku atas nama Dion.
"Haloo tuan muda... " Ucap Dion sambil mengarahkan wajahnya pada layar ponselnya. Tumben sekali sahabatku ini meneleponku.
"Halo Di, tumben nelpon?" tanyaku, sebab sudah lebih dari 6 tahun kami sama sekali tidak pernah bertukar kabar.
"Ricko.. Lu kayak orang habis digebukin massa, acak-acakan gitu kenapa woy?" tanya Dion kepadaku. Aku pun melihat wajahku di cermin, ternyata benar perkataan Dion.
"Di cepetan mau ngomong apa? Gue lagi sibuk.." Ucapku, saat itu aku sedang buru-buru pergi ke stasiun kereta, tentu saja untuk memeriksa barangkali jejak Ana ada di sana.
"Sibuk apa sih Tuan muda ini ha?" tanya Dion.
"Bini gue ilang Dii.. "Ucapku malas.
"Lah lu udah nikah? Bro, lu tau nggak gue ketemu Ana di sini." Kata Dion, ternyata sahabatku ini masih mengingat Ana. Tapi apa benar Dion melihat Ana di seberang sana.
"Ana? Lanthana?" tanyaku memastikan.
"Di, dimana lu sekarang?" aku langsung menanyakan keberadaannya detik itu juga.
"Di Sanur. Nih coba deh lu liat demenan lu waktu SMA dulu, tapi dia sekarang udah nikah broo!" Ucap Dion, astaga benar itu adalah wajah istriku yang sebulan ini telah kucari kemana-mana. Dan Dion tidak tau bahwa akulah suami Ana.
Secepat kilat aku pun langsung terbang ke Pulau dewata mengejar cintaku yang hilang itu.
***
Dini hari aku sampai di bandara Ngurah Rai, Bali. Segera kutelepon Dion dan dia pun datang saat itu juga bersama kekasihnya. Tapi tunggu, bukankah itu Devi? sahabat Ana dulu.
Awalnya Dion sangat terkejut saat mengetahui bahwa tujuanku kemari adalah untuk mencari istriku.
"What? Jadi bini lu itu si Ana? Astoge.. Gue gak nyangka Rick," ucap Dion menanggapi pengakuanku.
"Mas Ricko serius udah nikah sama Ana, tapi kenapa Ana bilang nikahnya sama Yoshi ya?" Ucap Dian. Astaga gadis ini ternyata sama saja dengan Ana.
Aku pun banyak bercerita dengan dua sejoli ini dan sesekali mereka menutup mulutnya yang menganga karena kaget akan ceritaku. Aku terus saja bercerita dan akhirnya pagi pun tiba. Setelah mengetahui dimana Ana tinggal, aku langsung menggunakan mobil yang dikendarai oleh David menuju penginapan itu.
***
Saat mobil ini tiba di tempat tujuan, mataku langsung tertuju pada perempuan yang sedang menunggu taksi di depan teras. Rambut panjang itu, tubuh ramping itu aku yakin itu adalah Ana. Meski terlihat agak pucat tetapi dia tetap saja cantik, sama seperti biasanya.
Segera kuraih tubuhnya dan memasukkannya ke dalam mobil. Kupeluk erat istriku itu tanpa memperdulikan penolakannya. Sesuai dugaanku, Ana sangat marah padaku, tetapi tak apa aku sudah mempersiapkan mentalku sebelumnya.
Beberapa kali Ana mengatakan jika aku jahat, penipu dan aku juga seperti monster katanya. Entah mengapa rasanya sangat sakit saat dia menamaiku dengan sebutan penipu.
Sejak aku mengganggunya dulu, dia telah memberikanku banyak julukan dari lintah darat, rentenir, pria mesum, penagih hutang, drakula, penghisap darah bahkan yang terakhir adalah lintah air sebab aku mengikutinya ke kapal itu. Apapun julukan yang diberikan oleh Ana saat itu aku sama sekali tidak menggubrisnya karena kutahu bahwa dia belum mengetahui kebenarannya.
Ana memintaku untuk melepaskannya. Aku sangat terluka oleh permintaannya itu. Sebesar itukah kesalahanku padanya hingga dia tak ingin bersamaku lagi.
Ana terus saja memaksa untuk berpisah dariku. Hingga akhirnya aku mengatakan yang sejujurnya padanya.
"Akulah mas Ikaumun An, akulah penganggum rahasiamu dan kini aku sudah menjadi suamimu." begitulahbkira-kira inti dari pernyataanku untuknya.
Ana sangat terkejut setelah mengetahui semuanya. Kukira dia akan langsung memaafkanku tetapi aku salah. Dia meminta waktu untuk berfikir sebelum akhirnya aku pergi meninggalkan penginapan itu dengan air mata yang mulai menetes.
Sungguh inilah hukuman untukku. Aku terima semua ini dengan lapang dada, aku sudah sangat jahat pada Ana selama ini. Berkali-kali menipunya. Dalam perjalanan aku terus merenung.
Mungkin inilah takdir Tuhan untuk kisahku dan Ana. Bahkan setelah mengetahui siapa aku sebenarnya Ana tetap saja tidak mau memaafkanku. Aku tak ingin menyiksanya lagi dalam hubungan ini.
Aku akan melepasmu Lanthana, aku tak akan mengganggu hidupmu lagi kau adalah cinta pertamaku dan cinta terakhirku meskipun ragamu tidak bersamaku, kau terlalu indah untuk hidup bersama monster sepertiku.
Selama dua hari, aku terus saja berfikir bahwa Ana tidak akan pernah menerimaku kembali, biarkan saja. Aku akan menuruti kemauannya termasuk bila harus berpisah sekalipun.
Sudah cukup Ana menderita karena ulahku selama ini. Setidaknya dia pernah mencintaiku walau hanya sebentar. Setidaknya aku beruntung karena sempat memilikinya.
..."Masihkah aku di sana...
...di relung hati dan mimpimu...
...andaikan engkau di sini...
...andaikan tetap denganku....
...Aku hancur kuterluka...
...kau cintaku meski aku...
...bukan di benakmu lagi...
...dan kuberuntung...
...sempat memilikimu"...
***
Sebuah pesan masuk ke ponselku.
*T**emui aku di pantai sanur sekarang*..
Kubaca sebuah pesan dari kontak dengan nama 'My Sunshine' itu. Inilah saatnya, saatnya untuk menghadapi kenyataan. Aku yakin Ana memintaku untuk menemuinya karena ingin segera berpisah dariku.
Tanganku gemetar menahan sesak di dada. Seandainya saja waktu bisa diputar kembali. Aku akan menghindari kesalahanku.
Aku pun pergi ke tempat itu untuk menemui istriku yang mungkin saja beberapa saat lagi statusnya sudah bukan istriku lagi.
***
"Yoshi.. " Ucapnya lirih memanggil namaku. Sungguh sepertinya tak ada kemarahan lagi dalam wajah itu tetapi aku tak ingin terlalu berharap.
"An, apa kau sudah membuat keputusan?" tanyaku sambil mendekatinya. Rasanya tangan ini ingin sekali menyentuhnya tetapi hatiku mengatakan untuk tidak melakukan itu.
Hening..
Deburan ombak dan sunset sungguh menjadi pemanis dalam adegan pilu ini. Tanpa kusadari mataku menangkap seperti ada seseorang yang sedang memperhatikan kami dari jauh.
Tetapi aku lega, karena ternyata seseorang itu hanyalah seorang penjual seblak yang kebetulan melewati kami. Sekilas kulihat tak ada yang mencurigakan darinya hanya saja tubuh atletis dan kacamata hitamnya itu membuatnya tak cukup pantas untuk berjualan seblak.
Sudahlah, lupakan ini. Sepertinya otakku sedang tidak seimbang sekarang.
Kulihat Ana masih saja terdiam dan sesekali meremas jarinya menunjukkan bahwa dia sedang memendam sesuatu.
"An, katakan. Apa keputusanmu?"tanyaku padanya.
Tetapi bukannya menjawab Ana malah menangis di hadapanku, apakah terlalu berat untuknya untuk mengatakan kata pisah itu.
"An, aku akan melepasmu. Jangan menangis lagi. Aku akan menuruti permintaanmu. Aku tak akan menyiksamu lagi dalam hubungan ini."
"An, sudahlah. Aku tau aku tak pantas untukmu. Monster ini akan menjauh dari kehidupanmu. Tenanglah, kau bebas sekarang.. "
Ucapku, sungguh rasanya aku ingin bunuh diri saja saat ini. Ini terlalu menyiksaku dan bisa membuatku mati perlahan.
"Yoshi, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku" ucap Ana.
"Apa An? coba katakan lagi.. " Sungguh apa aku tidak salah dengar.
"Kami membutuhkanmu Yoshi." Ucapnya lagi masih dengan air mata di wajahnya.
"Kami membutuhkanmu.. " Ucapnya. Sungguh aku tak mengerti mengapa Ana mengatakan 'kami'. Kami siapa maksudnya.
Dia berjalan ke arahku dan mengeluarkan sebuah benda dari dalam tasnya.
"Aku dan anak kita membutuhkanmu" Ucap Ana sambil memberikan alat pendeteksi kehamilan itu kepadaku. Ada dua garis di sana.
"An, apa aku sedang bermimpi saat ini?" Kataku, kuraih tespek itu dan memperhatikannya.
"Kau hamil Sayang?" ucapku, Ana masih saja menundukkan kepalanya.
"Sayang, kau benar sedang mengandung anakku?"
"Sungguh, aku akan memakanmu jika kau terus saja diam seperti Ini Ana!"!
"Ya, mas Ikau, aku tengah hamil anakmu." Ucapnya, segera kuraih tubuh ramping itu dan mengangkatnya.
Aku tak dapat menyembunyikan perasaanku saat ini. Beberapa kali kucium perut Ana yang masih rata itu.
"Terima kasih baby, kau hadir di saat yang tepat dan menyelamatkan Papamu ini dari kehancuran.. " Bisikku pada perut Ana yang tentu saja tidak didengar oleh bumil cantikku ini.
Pantas saja sejak kemarin perutnya mengalami keram, pantas saja tubuhnya melemah hingga mengalami demam ternyata bukan flu yang dialami Ana. Melainkan sedang mengandung buah cinta kami.