My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Pingsan



Seakan mendapat suntikan obat bius, aku tak bisa berkutik di dalam pelukannya. Pria ini adalah pria yang selama ini sangat kuhindari, bahkan aku terus berlari darinya.


Selama bertahun-tahun aku terus menjaga jarakku darinya. Selama itu pula seakan jarak yang telah kuciptakan tersebut tak pernah berarti apa-apa, bahkan semakin mendekatkanku padanya.


Apakah Tuhan telah menuliskan takdirku untuk bersamanya, aku tak tau. Jika memang dia adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan untukku apa lagi yang bisa kulakukan selain menerimanya.


"Anginnya terlalu kencang di sini. Kita masuk saja ya." Ucap Yoshi, melepaskan pelukannya dan merapikan rambutku yang terurai terkena angin.


"Yosh, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" ucapku sambil menatap matanya.


"Tentu saja, tapi jangan di sini ya, angin laut tak baik untuk kesehatanmu An," jawabnya yang kemudian menuntunku untuk pergi dari tempat itu. Entah mengapa rasanya Yoshi sangat berbeda dari biasanya. Dia sangat tenang dan tidak menyebalkan.


"Yoshi, aku ingin bertanya padamu." Kataku lagi sambil tetap berjalan. Terlihat tamu sudah mulai pergi meninggalkan tempat ini dan acara hari ini akhirnya selesai juga.


"Iya sayang, kita bicara di kamar saja ya." Ucapnya dengan nada datar, sempat terfikir olehku jika dia sedang mengerjaiku tetapi sepertinya aku salah. Aku tak melihat tatapan dan senyuman licik yang biasanya terlukis di wajahnya.


Kami pun terus berjalan menyusuri koridor. Kamar demi kamar terlewati.


"Capek? Mau kugendong ?" tanyanya, kali ini senyuman mesum itu kembali terlihat di wajahnya. Aku salah, Yoshi masih saja seperti biasanya.


"Tidak perlu." Kataku singkat.


Greeppp..


Sejurus kemudian tubuhku sudah berada dalam gendongannya. Astaga kenapa ritme jantungku terasa semakin tak beraturan seperti ini.


"Turunkan aku !" ucapku pelan karena aku cukup malu bila harus berteriak di tempat umum seperti ini.


"Diamlah An, jangan bergerak kau akan membangunkannya terlalu dini." Kata Yoshi sambil mengarahkan pandangannya ke bawah.


"A-apa?" tanyaku.


"Kau membuatnya terbangun karena gerakanmu An," ucap Yoshi sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Dasar mesum!"ucapku kesal.


Akhirnya kami tiba di kamar suite di lantai dua. Di pintu kamar itu terdapat tulisan Happy Wedding Mr. and Mrs. Luby.


Seorang Bellboy membukakan pintu kamar kami dan berlalu seraya membungkuk. Sementara Yoshi masih saja tidak menurunkan aku lalu membaringkan tubuhku di ranjang dengan pelan.


Kamar ini di hias dengan sedemikian rupa. Aku tak kaget dengan settingan honeymoon seperti ini, bagaimanapun aku juga pernah bekerja sebagai roomboy jika dulu aku pernah menata kamar seperti untuk pasangan pengantin. Maka sekarang aku lah pengantin itu.



Kupandangi sekeliling, entah mengapa Yoshi sangat menyukai mawar merah bahkan ribuan bunga mawar yang dikirimkannya dulu juga berwarna merah. Hanya di acara pernikahan kami saja yang semuanya serba putin.


"Yosh, bolehkah aku bertanya?" kataku lirih, saat ini posisinya berada di hadapanku, dia terduduk di pinggiran bed, dan sama sekali tak mengalihkan pandangannya dariku sejak tadi.


"Kau cantik Ana." Ucapnya lirih sambil mengusap pipiku. Aku bisa merasakan ada insting untuk segera memangsaku dari sorot matanya.


"Yoshi, aku ingin bertanya please." Kataku, kali ini aku mencoba mengalihkan pndanganku darinya.


"Katakan istriku." Hembusan nafasnya sangat terasa, dia mendekatkan wajahnya padaku seakan ingin menciumku.


"Yosh, kemana keluargamu? Apa mereka tidak datang?" tanyaku. Astaga, seakan tidak medengar pertanyaanku. Dia semakin mendekatkan wajahnya pada wajahku. Bahkan ujung hidungnya telah menyapu pipiku dengan lembut.


"Yoshi!" aku mendorong dadanya. Aku sangat terancam dengan posisi ini.


"Maaf Sayang. Aku terlalu larut dalam pesonamu. Aku tau mungkin ini terlalu membuatmu gugup. Baiklah, aku akan pelan-pelan." Bisiknya di telingaku.


"Yosh, ayolah kenapa sepertinya kau sangat menghindari pertanyaanku." Aku pun terbangun dari pembaringan.


"Bukan begitu An, aku sungguh-sungguh tidak bisa fokus pada hal lain saat ini selain tubuhmu." Ucap Yoshi. Aku tau dia sedang berkilah.


"Yosh, bisakah kita berbicara serius untuk saat ini saja?" ucapku penuh penekanan.


"Aku serius An. Baik, apa yang ingin kau tanyakan?" kata Yoshi masih terduduk sambil memalingkan wajahnya dariku.


"Dimana orang tuamu? Mengapa aku sama sekali tidak melihat keluargamu hari ini?" tanyaku.


"Mereka sedang di luar negeri." Jawabnya singkat seperti menyembunyikan sesuatu.


"Ya," ucapnya singkat.


"Mengapa kau seperti menyembunyikan sesuatu Yosh, aku semakin curiga kepadamu." Kataku, aku benar-benar penasaran tentang kehidupan Yoshi saat ini.


"Curiga kenapa An?" Tanyanya, aku bisa menangkap raut kekhawatiran di wajahnya.


"Bahwa sebenarnya kau sudah menikah Yoshi, dan aku adalah istri kesekianmu. Maka dari itu kau menyembunyikan pernikahan ini dari keluargamu." Ucapku, aku lega akhirnya apa ada benakku tersalurkan juga.


"A-apa?" Katanya, Yoshi sangat terkejut dengan pernyataanku.


"Ya, kau takut jika keluargamu mengetahui semua ini. Tentu saja kau takut pada istri-istrimu yang lain.


Kau sangat menyedihkan Yoshi." Kataku, aku mengatakan dirinya menyedihkan, padahal dirikulah yang menyedihkan di sini.


"Apa maksudmu An? Aku belum menikah. Aku masih perjaka jika kau tau." Katanya sambil memegang kedua lenganku.


"Kau bohong! Kau begitu banyak menyimpan misteri Yosh" Jawabku.


"Misteri apa sayang? jangan mengada-ada." Katanya.


"Misteri tentang istrimu yang lain." Jawabku, aku sangat kesal aku tak ingin menatap wajahnya.


"Astaga. Aku tak punya istri lain. Kaulah satu-satunya An?" Yoshi mengacak rambutnya kasar.


"Pembohong!" Kataku. Aku mulai muak dengan perdebatan ini.


"An, aku masih perjaka. Jika kau tak percaya mari kita buktikan." Katanya, atmosfer kemesumaannya mulai terasa lagi.


"Iya, aku percaya. Sudah jangan membahasnya lagi." Jawabku.


"Jadi dibuktikan atau tidak?" Tanyanya lagi.


"Yosh, perutku sangat mual." Kataku. Aku benar-benar mual sekarang, entah mengapa tiba-tiba perutku sangat bergejolak.


"Jangan pura-pura An. Aku tau kau sedang menghindar." Katanya, tak percaya.


"Aku serius Yosh." kataku aku pun pergi ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutku.


"An, kau serius?" Yoshi menyusulku yang sedang berjongkok di closet.


Aku tak dapat menjawab pertanyaannya dan tetap saja merasakan mual yang begitu hebatnya.


"An, apa kau baik-baik saja, minum ini." Kata Yoshi, membantuku berdiri dan memberikanku segelas air.


Aku meminum air itu tetapi sepertinya perutku menolaknya dan akhirnya


Byuur..


Aku menyemburkan air itu dan membasahi dada Yoshi.


"Ma-maaf Yosh." Ucapku lirih. Aku mulai pusing dan semua terasa berputar.


"An, wajahmu sangat pucat Sayang." Kata Yoshi, tetapi rasanya tubuhku sangat lemas.


Brugg..


"An, .. Ana.. !" Samar-samar aku mendengar suara Yoshi tetapi mataku tak bisa terbuka lagi. Aku pingsan.


****


Aku merasa tubuhku sangat ringan. Terasa tubuh hangat mendekapku dengan erat. Dan tak lama kemudian aroma obat-obatan menyeruak di hidungku.


Pelan-pelan kubuka mataku dan aku sadar ini bukan kamar honeymoon yang kutempati tadi . Ini kamar di rumah sakit, selang infus terpasang di tanganku.


"Sayang, kau sudah sadar?" terdengar suara pria yang statusnya telah menjadi suamiku sekarang.


"Yoshi, kita di rumah sakit sekarang?" Tanyaku masih dengan rasa pening di kepalaku.


"Ya, kau hamil sayang." Kata Yoshi sambil menggenggam erat tanganku.