My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Shian playboy ?



Tiba di rumah sakit, dokter langsung membawa remaja itu ke ruang tindakan. Yoshi dan Ana menunggu di luar ruangan IGD.


“Pa, sampai kapan Shian akan terus seperti ini?” tanya Ana pada suaminya.


“Sampai ia bisa mengalahkan rasa traumanya Ma,” jawab Yoshi, memijat keningnya.


Dia ingat saat tragedi itu terjadi, kejadian naas yang yang membuat opanya meninggal dunia, saat itu Shian begitu histeris saat mengetahui kakeknya buyut kesayangannya telah pergi untuk selama-lamanya.


“Hingga kini aku masih sangat bingung kemana harus membuang sampah, sebab Shian sangat takut pada truk sampah,” Ana ikut memijat keningnya, sambil mengelus perutnya yang kian membesar.


“Bagaimanapun truk sampah ikut berperan penting dalam tragedi itu Ma,” Yoshi ikut mengelus perut istrinya.


“Jangan terlalu stress, kau bisa membahayakan si bungsu ini,”


“Apa kau yakin, dia akan menjadi anak bungsu, Pa?” Ana tersenyum, mengejek, ia tak percaya pada suaminya. Dia masih kesal saat tujuh bulan yang lalu, hasil tespek mengatakan positif.


“Yakin sayang, jika tidak lupa, hehe,”ucap Yoshi terkekeh, ia tak pernah mengijinkan Ana untuk memasang kb, sebab beberapa kasus dampak dari pemakaian kb sangat meresahkan akhir-akhir ini.


“Kau ini! Selalu saja, tidak pernah berubah,” ucap Ana, mereka tak pernah merasa benar-benar menua, baginya Yoshi tetaplah menjadi Mas Ikau yang sangat ia sayangi dan kagumi begitupun sebaliknya.


“An, apa kau pernah mengira jika kita akan memiliki tiga anak?”


“Tidak, aku mengira hanya Shian yang akan menjadi satu-satunya,” bahkan hingga saat ini pun Ana masih belum menyangka jika Gwen telah hadir di tengah-tengah kehidupan mereka.


“Shian adalah berkah terbaik, tetapi Gwen tak kalah baiknya, dan begitupun dengan si kecil ini,” Yoshi kembali menciumi bayi yang masih dalam kandungan istrinya itu.


“Dan Gweneth tak pernah bisa terpisah darimu, kau ingat saat kau mengajaknya seharian di kantor? Hingga ikut meeting bersama klienmu?”


“Ya, gadis kecil itu bahkan hampir membuatku kehilangan tender yang cukup menggiurkan,” Yoshi tampak mengingat-ingat masa lalu.


“Dan sekarang ia tumbuh dewasa, cantik dan manja, sama sepertimu,” bisik Yoshi.


“Dia mungkin memang cantik sepertiku, tetapi dia manja sepertimu!”


Tak berapa lama kemdian dokter datang, dan menghampiri sepasang suami istri itu.


“Dok, bagaimana keadaan putra saya?” tanya Yoshi.


“Putra bapak mengalami shock berat Pak, seperti yang sudah-sudah, kondisi ini dipicu karena kondisi psikisnya yang terkadang tidak seimbang dan labil,”


“Lalu apa yang perlu kami lakukan Dok?” tanya Ana sambil bangkit dari tempat duduknya dengan sulit.


“Saya sarankan bapak dan ibu Yoshi membawa Shian ke pskiater, agar traumanya bisa tertangani,” ucap dokter itu, kemudian berlalu.


“Bagaimana ini Pa? sudah berapa psikolog yang menangani Shian, tetapi tetap saja seperti itu,” Ana tampak khawatir.


“Sudahlah Ma, nanti kita pikirkan ini lagi, sekarang kita lihat dulu keadaan baby,” ucap Yoshi kemudian masuk ke ruangan itu.


Shian terbaring tak berdaya di atas bed rumah sakit itu, wajahnya memucat meskipun matanya terbuka.


“Nak, bagaimana keadaanmu?” tanya Ana.


“Ma, jangan biarkan little makan tanah lagi, atau dia akan berakhir seperti opa buyut..” ucapnya lirih, sepertinya ia masih belum bisa melepas kepergian Darmawan Luby padahal kematiannya tak ada sangkut pautnya dengan tanah, ataupun segala macam hal kotor seperti yang Shian pikirkan.


“Nak, jangan memikirkan hal yang membuatmu stress ya,” Yoshi membelai puncak kepala Shian.


“Dimana little Pa? Apa papa sudah mengambil pot tanah itu dari tangannya?”


“Sudah sayang, sudah itu hanya es krim pot, dengan serpihan brownis dan permen cacing di atasnya, kau tau kan jika adikmu sangat menyukai hal yang unik?” jelas Yoshi, tetapi sepertinya anak itu masih belum bisa menerima penjelasan itu.


“Baby, apa kau perlu sesuatu?” tanya Ana.


“Tidak Ma, kapan mama akan berhenti memanggilku baby? Berikan saja panggilan itu pada adik bayi, Ma,” ucap Shian sambil memegangi perut ibunya.


Keesokan harinya.


Tok


Tok


Tok


“Masuk,” ucap Shian yang saat itu hanya ditemani oleh David.


“Baby bos, ada apa denganmu? Astaga!” Janeth terkejut saat melihat Shian harus kembali dirawat di rumah sakit.


“Janeth, apa kau sudah mencuci tanganmu? Apa kau sudah memakai hand sanitizer? Apa flu-mu sudah sembuh?” Shian terus memberikan berjuta pertanyaan, ia benar-benar terancam dengan kehadiran gadis itu.


“Sudah, aku sudah mandi dengan clorine sebelum datang kemari!” jawab Janeth ketus.


Akhirnya Shian bisa bernafas lega padahal tentu saja Janeth hanya berbohong padanya.


“Shian, apa ponselmu mati?” tanya gadis berkacamata tebal itu.


“Ponselku ketinggalan di rumah, kemarin aku pingsan!” ucap Shian.


“Aih, pantas saja, para kekasihmu itu sangat menggangguku sejak kemarin!” Janeth menunjukkan layar ponselnya dan terlihat ratusan, bahkan ribuan panggilan dan chat masuk dari pacar-pacar Shian, mereka menghubungi Janeth dan menanyakan dimana keberadaan pemuda tampan itu.


“Apa yang mereka katakan?” tanya Shian datar.


“Dimana kekasihku? Dimana pangeran impianku? Dimana dia Janeth? Apa kau menyembunyikan babyku?” ucap Janeth menirukan gaya para gadis itu.


“Hahaha! Aku pun sebenarnya sangat merindukan mereka, tetapi mereka sangat tidak higyne, Janeth!”


“Lalu, mengapa kau memacari merekan semua?” dengus Janeth kesal. Sebab, selama berteman dengan Shian, ia selalu saja harus mengurusi para gadis itu agar tampak bersih di hadapan Shian.


“Karena aku ingin saja,” jawab Shian santai.


“Kau tau itu sangat tidak hygine Shian! Memiliki hubungan lebih dari satu itu tidak sehat!” ucap Janeth.


“Bilang saja kau iri kan Janeth? Kau juga mau jadi kekasihku bukan?”


“Cihh, sangat narsistik sekali! Aku hanya lelah harus menemani acara kencanmu dan menjadi mesin sanitizer di antara kalian. Janeth adalah sahabat sekaligus asisten bagi Shian, ia bahkan mengurusi kebutuhan pemuda itu. Bukan tanpa sebab, Shian menggajinya dengan nominal yang cukup besar, sebab gadis itu memerlukan biaya untuk pengobatan ayahnya yang sedang dirawat di rumah sakit selama berbulan-bulan.


Penghasilan dari café hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari gadis itu saja, sekaligus biaya kuliahnya. Janeth mengambil jurusan sosiologi di kampusnya, sedang Shian mengambil business management.


Pertemuan pertama mereka pun cukup unik, saat itu Yoshi membawa seorang pskiater ke rumahnya untuk memberikan perawatan pada Shian, tanpa diduga, pskilog tersebut membawa seorang asisten dan dialah Janetha Anjani.


Gadis yang ternyata satu kampus dengan Shian, awalnya Shian sangat tidak menyukai penampilan gadis itu, tetapi karakter Janeth mampu membuatnya merasa nyaman, dari sekian gadis yang mendekatinya hanya satu yang tak pernah menyatakan ketertarikannya pada pemuda itu.


“Shian, apa kau sudah makan?” tanya gadis itu sambil membetulkan kacamatanya.


“Belum, aku tidak suka makanan rumah sakit!” jawab Shian acuh.


“Apa aku harus ke rumahmu dan mengambil makanan dari Ibu Ana? Lalu kembali lagi kemari? Yang benar saja!”


“Kau benar Janeth, pergilah ke rumahku dan ambil makanan dari mama,” ucap Shian.


“Sial, benar saja dia pasti akan mengatakannya! Padahal aku hanya menyindir,” gerutu Janeth.


“Janeth, sudah kubilang ganti kacamatamu itu!”


“Diam kau! Dasar Mr.hygine!


“Aku akan memacarimu jika kau mau mengganti kacamatamu,haha,” ejek Shian.


“Bisakah kau tutup mulut rempongmu itu Shian? atau aku akan membawakanmu cacing hidup!” Shian bergidik ngeri mendengar ucapan Janeth.