
Hiruk pikuk Kota Jakarta, bahkan ini baru pukul 05.30 tetapi sudah se-macet ini. Aku tak ingin mengambil resiko, sangat takut kegagalan seperti kemarin terulang, dari pada harus menggunakan ponsel lebih baik aku mencari taksi di sekitar stasiun ini saja.
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Sebuah mobil taksi berwarna biru dan berlambang burung ada di depan mataku .
Seketika kuhampiri taksi tersebut .
"Permisi Pak, bisa tolong antarkan saya ke Menara Sudirman?" tanyaku pada supir yang sedang duduk di kursi kemudi .
"Bisa Kak, silahkan." Jawab supir itu sambil membukakan pintu untukku.
Seperti yang kuduga jarak dari stasiun pasar senen ke kantor yang terletak di dekat bundaran HI itu cukup jauh, ditambah lagi dengan kemacetan yang tak terhindarkan ini.
****
Sekitar satu jam kemudian aku tiba di Menara Sudirman. Aku memasuki area Lobby, setelah menjalani pemeriksaan barang bawaan dan mendapat kartu visitor, aku pun naik ke lantai 16B ke tempat Interview itu dilaksanakan.
Sebelum memasukki Ruangan tersebut aku pergi ke Restroom yang terletak di luar Ruangan itu untuk berganti pakaian.
Outfit yang kukenakan tak banyak yang berubah bila dibandingkan dengan yang kemarin, kemeja putih rok selutut dan kali ini aku juga memakai blazer hitam untuk membuatku lebih percaya diri.
Sepatu heels 5 cm yang kemarin sukses menyiksaku terpaksa kukenakan lagi. Huh, mengingat-ingat kejadian kemarin hanya membuat moodku anjlok saja.
"Lihat saja Yoshi, aku yakin kali ini aku akan berhasil, entah masalah apa yang kau punya denganku, aku tak perduli.
Kali ini aku lah yang akan memenangkan diriku untuk terbebas darimu." Kataku sambil menatap cermin di area *r*estroom itu.
***
Aku siap ...
Sebuah ruangan ber-AC dengan sekat di kanan kirinya, dan terdapat ornamen-ornamen tentang kapal pesiar terpasang di sekeliling dindingnya .
Aku pun berjalan ke meja resepsionis yang berada di ujung ruangan.
"Selamat pagi, apa benar akan ada walking interview hari ini? tanyaku pada staf resepsionis tersebut.
"Selamat pagi, benar Bu. Dengan Ibu siapa? " tanya staf itu?" Tanyanya kepadaku sambil tersenyum.
"Saya Lanthana Bu, ini CV dan surat lamaran saya." Kataku sambil menyodorkan map cokelat itu kepadanya.
Dia pun memeriksa dokumen tersebut. Setelah dirasa memenuhi kualifikasi. Akhirnya dia memintaku untuk menunggu di Ruang Tunggu.
"Silahkan untuk menunggu di ruangan sebelah ya Ibu Lanthana, tolong persiapkan diri untuk mengikuti interview test setelah ini." Ucap staf itu.
Seperti tes sebelumnya di kesempatan kali ini aku juga diharuskan mengikuti tes tulis dan skill.
Tiba giliranku .
Staf resepsionis itu memintaku untuk memasukki ruangan kedua,
Tok
Tok
Tok
"Come in ," terdengar suara seorang pria dari dalam. Aku pun masuk ke ruangan bertuliskan
Mr. Jose de Raat tersebut.
"Good morning Sir ," kataku menyapa pria bule berambut pirang tersebut.
"Morning, have a sit please." Katanya mempersilahkanku untuk duduk sambil memeriksa dokumenku.
Wawancara pun dimulai, dia memintaku untuk memperkenalkan diri, lalu menceritakan pengalaman kerjaku, background edukasi dan tentu saja yang paling penting adalah apa motifasi terbesarku untuk bergabung bersama Perusahaan ini.
Kurang lebih lima belas menit berlalu dan interview pun usai.
Demi Tuhan aku tak percaya dengan apa yang kudengar, mereka menerimaku. Mereka mempersilahkan aku untuk bekerja di salah satu Kapal pesiar mereka sebagai salah satu staf F&B.
Ini sangat mengharukan. Kutarik nafas dalam-dalam. Hingga seorang staf dari personalia memanggilku untuk mengurus beberapa dokumen lain.
Seperti paspor dan buku pelaut dan juga tes kesehatan. Aku pun mengikuti arahannya.
Selama beberapa hari sejak saat itu aku sangat sibuk. Mulai dari mengikuti BST, melamar visa ke Kedubes hingga dua bulan pelatihhan di Cikarang.
Aku sangat tidak punya waktu senggang. Bahkan hingga saat ini. Aku belum juga mengabari keluargaku. Aku sempat mengirim whatsapp ke nomor Luna melalui komputer di pusat pelatihanku.
Kukatakan padanya bahwa bulan depan aku sudah harus berangkat kerja ke luar Negeri. Dan meminta maaf karena belum bisa mengabari lebih lanjut.
Semoga Ibu bisa menerima ini. Aku sangat takut bila Ibu memberitahukan semua ini pada Yoshi. Sebab itu aku tak akan mengabari Ibu dulu.
Jujur saja aku sudah tidak memiliki uang untuk saat ini. Tetapi untungnya di pusat pelatihan yang bertipe asrama itu semua kebutuhan kami terpenuhi.
Mulai dari makan tiga kali sehari, Wi-Fi, tempat berolah raga atau Gym dan juga Lounge tempat peserta didik untuk bersantai menonton film atau sekedar duduk-duduk santai mengakrabkan diri antar sesama calon Kru.
Masa pelatihan pun berakhir dan Agency mulai mengurus keberangkatanku.
"Lanthana Aditama. Selamat anda lulus pelatihan, ini beberapa dokumen untuk keberangkatan. Mohon diperiksa kembali. " ucap Staf kepengurusan keberangkatan tersebut.
"Terima kasih Pak," jawabku sambil meraih beberapa dokumen dari tangannya.
Kuperiksa satu-persatu dari lembaran itu, ada kontrak kerja, informasi jumlah gaji dan tunjangan-tunjangan untkku saat bekerja nanti.
Setelah kupastikan tak ada kesalahan penulisan nama dan data diriku. Aku mengembalikan kertas-kertas penting itu kepadanya lagi.
"Sudah jelas Pak, tdak ada yang perlu dikoreksi lagi." Kataku kepadanya.
"Baik Lanthana, ini tiket pesawatnya ya. Keberangkatannya besok dini hari melalui Terminal tiga Internasional Bandara Soekarno Hatta." Kata bapak itu sambil menyerahkan 3 lembar tiket kelas ekonomi kepadaku.
"Terimakasih Pak." Jawabku. Aku besorak gembira. Akhirnya aku bisa mendapat pekerjaan juga.
Sepanjang hari hatiku berdebar membayangkan diriku yang receh ini besok akan terbang ke Amsterdam, Belanda secara gratis, bayangan kapal pesiar raksasa menyelinap di benakku, ada rasa takut di hati.
Mampukah aku bertahan selama sepuluh bulan kedepan, berada di penjara mewah seperti itu , dimana waktunya tak akan sama dengan hari-hariku di sini.
Ada rasa takut, bagaimana bila gulungan ombak mengombang-ambingkan kapal itu, dan aku harus mengalami mabuk laut hebat karenanya.
Aku berusaha menepis semua itu, bukankah kami semua para calon ABK sudah mendapat pelatihan kusus dari BST di Pertamina yaitu berupa pelatihan selama dua minggu untuk belajar tentang keselamatan di laut.
Segera kutepis pikiran-pikiran di otakku. Aku sudah berjuang sejauh ini, lagi pula gaji yang ditawarkan oleh Company Belanda itu cukup besar dengan uang itu pasti hutangku akan cepat lunas tanpa hambatan.
Kuperisa tiketku lagi. Nanti malam aku harus tiba di Bandara setidaknya enam jam sebelum boarding. Ada tiga tiket transit sebelum benar-benar tiba di Amsterdam.
Pikiranku terus berkelana bayangan tentang Negeri Belanda tempat noni-noni berpayung fancy dengan gaun indahnya. Negeri dengan sejuta Dam.
Negeri kincir angin impianku, tempat bunga-bunga tulip bermekaran indah. Oh sungguh aku tak sabar menunggu hari esok tiba.
Beberapa kali aku memeriksa kelengkapan dokumenku, sangat tidak lucu bila setibanya di sana ada tertinggal.
Sampai sekarang aku belum juga menyalakan ponselku. Biarkan saja Yoshi mencariku aku tak perduli. Entah apa yang dia lakukan setelah ini, tanpa ponsel yang menyala bukankah sistem sadap dan pengintain online darinya tidak akan berguna apa-apa.
Setelah ini aku akan benar-benar menghilang darimu Yoshi. Coba saja mencariku jika kau mampu, kataku dalam hati.
Hari yang kutunggu-tunggu pun tiba. Angkutan Bandara Damri mengantarku dari Cikarang ke Bandara Sorekarno Hatta.
Setelah melakukan briefing kebrangkatan dan boarding, aku pun menuju ke Gate yang tertulis di tiketku .
Pesawat dengan lambang burung khas Indonesia yang mengangkutku itu pun take off membawaku terbang jauh meraih mimpi dan masa depan yang lebih cerah.
Selamat tinggal bapak, ibuk, Luna sampai jumpa dalam sepuluh bulan ke depan.