My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Yoshi POV - Terjadi Sesuatu



Haruskah aku menyalakan sign 21+ 18+ pada Episode ini? Hehe. 😂


Satu yang pasti. Harap bijak dalam membaca ya genk dan terimakasih karena masih mengikuti cerita ini. 😘😘


Rasa lelah yang menggila karena perjalanan jauh dari London ke Jakarta lalu kembali lagi ke London dalam dua hari ini, membuatku tertidur pulas sesampainya di kota dengan julukan the smoke itu.


Tak masalah semuanya kulakulan demi cinta. Aku ingin memulai semuanya dari awal. Memperbaiki hubunganku dengan Ana yang berawal dari cinta lalu menjadi dendam yang sekarang kembali menjadi cinta lagi. Aku ingin melupakan masa lalu. Sungguh takdir ini membuatku merasa begitu dipermainkan.


Baiklah ....


Aku berjanji akan menceritakan semuanya pada Ana bila waktunya sudah tepat. Untuk saat ini biarlah seperti ini dulu, aku tak ingin membuatnya kacau, mengingat Ana sudah mulai menurut padaku.


Dalam tidur, kurasakan suhu dingin menyentuh kulitku hingga akhirnya aku membuka mata. Dan kulihat Ana berjalan mondar-mandir dengan mengenakan dress tipis yang lebih mirip dengan lingerie itu. Itu cukup menggodaku. Tumben sekali Ana seberani ini.


Aku memintanya untuk mematikan AC tetapi dia menolaknya dan malah menambahkan selimut pada tubuhku, aku menyukai ini. Ana memberiku perhatian kecil.


Dia nampak panik dan terus mengibas-ngibaskan tangannya seperti sedang kegerahan. Aku pun memintanya untuk tenang. Dan saat kulihat wajahnya, wajah itu memerah seperti menahan sesuatu.


Ana terus saja mendekatkan wajahnya padaku. Dan bahkan dia memelukku dengan sangat erat. Astaga aku ini sedang bermimpi atau apa. Bisa-bisanya Ana berbuat ini padaku, aku pun membalas dekapan itu dengan senang hati.


Sekian menit, Ana terus saja memelukku, bahkan pelukan itu semakin erat bahkan jari-jemarinya lentiknya mulai bermain-main di pundak dan punggungku dan membuat pola abstrak di sana.


Aku semakin yakin, ada yang tidak beres pada Ana. Mungkinkah dia mabuk wine lagi, tetapi rasanya itu tidak mungkin. Kucoba mengingat-ingat bukankah tadi di bawah sana mama sedang membuatkan minuman untuk Ana.


Ya, aku yakin mama yang telah membuatkan minuman herbal untuk Ana. Mungkinkah ini efek yang ditimbulkannya. Rasanya ini cukup aneh, aku bisa menebak bahwa saat ini Ana sedang terangsang karena minuman itu.


Aku mengacak rambutku kasar. Apa yang harus aku lakukan. Sementara Ana semakin tidak karuan, bahkan dia mulai menciumi wajahku, membelai dadaku yang masih berbalut kemeja. Haruskah aku melakukannya sekarang. Aku mencoba menahan diriku. Sementara di sisi lain, aku adalah pria normal, selama ini aku cukup kuat untuk menahan segala hasrat yang ada.


Akhirnya aku pun menutup pintu dan menguncinya, aku tak dapat menjamin jika malam ini tidak akan terjadi apa-apa. Setelah itu segera kuhampiri istriku yang terbaring di bed dengan kondisi acak-acakan karena menahan sesuatu itu.


Beberapa kali dia menggeliat sambil meremas dada ranumnya, sementara wajahnya semakin memerah. Aku tau Ana sangat tersiksa dengan ulah ibuku itu. Apa yang bisa kulakukan, aku tak mungkin memarahi mama. Sebab mama memang sudah sangat menginginkan kehadiran cucu saat ini.


"Sayang, apa kau merasa ada yang sangat ingin dikeluarkan saat ini?" Ucapku lirih pada telinganya. Jujur saja sejak tadi senjataku di bawah sana sudah sangat sesak meminta dilepaskan.


Ana tak dapat menjawab pertanyaanku. Tetapi dia mengangguk tanpa ragu.


Aku pun bertanya lagi padanya "An, apa kau yakin akan menginjinkanku melakukannya sekarang?" tanyaku pelan sambil menatap matanya. Aku tau saat ini Ana sedang sadar hanya saja dia tak mampu menahan segala gejolak yang ada.


"Yoshi... " Ucapnya lirih, suara itu serak dan mengandung *******.


"Ya sayang." Jawabku, kini aku yang mulai tak dapat mengontrol diriku. Aku mulai menghujaninya dengan ciuman lembut hingga kasar.


Kulihat responnya cukup bagus. Tak ada penolakan hingga aku pun melanjutkannya dengan mengeksplorasi setiap inci dari tubuh indahnya.


"Apakah bisa dilanjutkan sayang?" Tanyaku sambil beberapa kali memberinya kecupan kecupan kecil.


"Yosh... " ucap Ana, kali ini mata itu terbuka dan terus menatap mataku. Ada rasa ragu dalam bola mata itu tetapi pada akhirnya dia menganggukan kepalanya lagi meskipun dengan malu-malu.


Aku anggap ini sebagai lampu hijau darinya. Dengan perlahan aku mengarahkan milikku. Aku tak yakin ini akan mudah, tetapi aku terus mencobanya.


Percobaan pertama membuat Ana meringis kesakitan, aku tau ini akan mungkin akan membuatnya menangis.


Percobaan kedua masih belum berhasil. Aku mulai ragu karena melihat matanya mulai berkaca-kaca menahan seranganku.


Percobaan ketiga akhirnya aku berhasil. Segera kulihat wajah Ana lagi, tentu saja dia sedang menahan rasa sakit, hingga buliran bening benar-benar keluar dari sudut matanya. Membasahi pipi bersemu merah itu.


"Yoshi.... Sakit... " Ucap Ana sambil mendorong tubuhku. Tentu saja aku tak memperdulikan ucapan itu karena aku mulai terbang, mengikuti insting kelelakianku.


"Sayang, tenang ya." Kataku dan kulihat Ana mulai menghentikan tangisannya, sepertinya ia mulai larut dalam permainan ini.


Beberapa menit berlalu, kami masih saja terlarut dalam kegiatan itu. Kulihat peluh membasahi wajah dan tubuh mulusnya. Aku tak tau mengapa tubuh ini bagaikan candu untukku.


Hingga akhirnya aku mencapai puncak dan begitu pun dengan Ana, beberapa kali aku mengulangi kegiatan itu meskipun dengan tubuh Ana yang sudah sangat melemah.


Sebenarnya aku tidak tega untuk melakukan itu tetapi lagi-lagi tubuh dan wajah cantik Ana seakan-akan terus memanggilku meskipun sang empunya sudah tertidur pulas.


"Aku mencintaimu Ana, akhirnya detik ini aku telah memilikimu seutuhnya." Bisikku lembut pada telinganya sebelum akhirnya aku tertidur dengan Ana berada dalam pelukanku.


***


Keesokan harinya.


Aku bangun dari tidurku, kulihat Ana masih terlelap. Aku tau pasti dia akan sangat kesulitan untuk melakukan aktifitasnya hari ini, mengingat bagaimana ulahku semalam. Dan noda darah pada bed cover semakin membuatku bukan hanya merasa bersalah tetapi juga merasa bangga.


Aku keluar kamar untuk mengambil air hangat dan waslap. Kulihat mama sedang sibuk di dapur.


"Ma.... " Ucapku sambil menghampirinya.


"Yosh!! Bagaimana? Apakah berhasil?" tanya mama kepadaku. Astaga dia bahkan terlalu girang untuk hal semacam ini.


"Iya Ma.. " Jawabku lirih, aku takut Ana akan terbangun dan mendengar obrolan kami.


"Bagus Yosh! Begitu saja tidak bisa!" Kata mama lagi, aku ingat tempo hari memang sudah kuceritakan kepadanya bahwa belum terjadi sesuatu antara aku dan Ana, tentu saja hal itu sangat membuat mama kesal dan menganggapku tidak becus.


Aku bukannya tidak becus, melainkah aku hanya menunggu Ana siap saja. Mengapa harus dipermasalahkan sedemikian rupa. Memangnya gampang menahan hasrat untuk tidak menyentuh tubuh indah istriku itu. Kataku dalam hati.


"Ma, Yoshi kembali ke kamar ya." Kataku sambil menaikki anak tangga.


"Iya sudah sana. Lakukan lagi!" kata mama masih dengan kesibukannya di dapur. Dan apa katanya? Lakukan lagi? Jika aku melakukannya lagi bisa-bisa Ana akan pingsan.


***


Di kamar kulihat dia sudah mulai terbangun. Wajah itu sangat menunjukkan bahwa dia sedang kebingungan, akhirnya kutawarkan untuk membantunya membersihkan diri.


Awalnya dia menolaknya tetapi setelah sadar bahwa untuk bergerak saja tak mampu dilakukannya. Akhirnya Ana menurutiku untuk menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi.


Tak ada kata yang terucap, akhirnya kuberanikan diri untuk menanyakan kejadian semalam. Sungguh Ana sangat tenang, sama sekali tidak memberontak dan memicu keributan di antara kami, ini cukup berbeda dari biasanya.


"An, apa kau ingat dengan apa yang kita lakukan semalam?" Kataku sambil merangkup wajah yang sejak tadi tertunduk.


"Ya, aku ingat.. " Ucapnya dengan jelas dengan wajah yang mulai memerah lagi.